Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Perguruan Bawah Tanah


__ADS_3

"Sekarang, di mana dia?"


"Dia sudah dibawa oleh mereka. Sekarang pemuda itu masih tidur,"


"Baiklah. Jika sudah terang tanah, Ayah ingin melihatnya,"


Yiu Fang tidak menjawab lagi. Dia langsung pergi dari ruangan tersebut.


Waktu terus berjalan. Entah sejak kapan, Cakra Buana sudah terbangun dari tidurnya. Sekarang dia berada di sebuah kamar. Kamar yang cukup luas. Dalam kamar itu terdapat barang-barang antik. Beberapa macam lukisan dan ornamen lainnya terlihat sangat antik.


Sekali pandang saja siapapun dapat menduga bahwa kamar tersebut adalah sebuah kamar yang mewah.


Bau harum seperti bunga mekar tercium menusuk hidung.


Cakra Buana masih berbaring di tempat tidur yang empuk dan nyaman itu. Dia sudah betul-betul sadar dari tidurnya, bahkan matanya sudah bisa melihat dengan jelas.


Hanya saja yang menjadi masalah, seluruh tenaganya hilang. Tubuhnya terasa sangat lemas sekali. Pemuda tampan itu tidak berbeda jauh dengan pengemis yang belum makan selama beberapa hari.


Cakra Buana benar-benar tidak bisa bergerak. Kecuali menjelalatkan matanya ke seisi ruangan kamar, apalagi yang dapat dia lakukan?


Entah berapa lama dia hanya bosa berbaring seperti itu. Seorang pelayan wanita yang masih muda masuk ke kamarnya.


"Tuan, silahkan makan dulu,"


Tanpa menunggu jawaban, pelayan muda tersebut langsung menyuapi Cakra Buana. Karena kebetulan merasa lapar, akhirnya pemuda itu membuka mulutnya.


Tidak ada yang bicara di antara mereka berdua. Keduanya diam seribu bahasa. Hanya tatapan mata mereka yang selalu bertemu itu, seolah sedang berbicara.


"Minum obat ini, setelah itu coba Tuan himpun tenaga dalam. Tapi jangan berkata apapun jika nanti Nona atau siapapun ada yang bertanya," kata pelayan tersebut lalu memasukkan satu buah pil obat ke mulut Cakra Buana.


Pendekar Tanpa Nama tidak merasa curiga sama sekali. Dia langsung menuruti apa yang dikatakan oleh pelayan muda yang cantik jelita tersebut.


Pemuda itu segera memejamkan matanya lalu menghimpun tenaga dalam secara perlahan. Seiring berjalannya waktu, Cakra Buana mulai merasakan peredaran jalan darahnya berjalan normal kembali.


Hawa hangat langsung menerjang seluruh tubuhnya dengan deras seperti air bah. Segulung tenaga dan hawa sakti mulai memenuhi tubuh pemuda itu.


Tenaga luar dan dalamnya benar-benar kembali. Hawa saktinya juga kembali.


Cakra Buana sangat girang. Tanpa terasa dia bangun lalu memeluk tubuh pelayan muda tersebut.


"Terimakasih, entah obat apa yang kau berikan, yang jelas aku merasa berhutang budi sekali kepadamu,"


Gadis cantik yang merupakan pelayan itu langsung tersipu malu. Sepasang pipinya memerah seperti kepiting rebus. Dia menjadi gugup.


"Sa-sama-sama. Tapi tolong, Tuan jangan bicara apapun,"


Cakra Buana sedikit kebingungan. Namun karena dia merupakan pemuda yang cerdas, Pendekar Tanpa Nama langsung mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Baik, aku sudah mengerti dan sudah tahu apa yang harus aku lakukan,"

__ADS_1


Pelayan itu langsung keluar tanpa bicara sepatah katapun lagi. Cakra Buana juga kembali berbaring seperti sebelumnya.


Suara langkah kaki mendadak terdengar dari luar. Suara itu sangat pelan. Langkah kakinya juga sangat ringan.


Satu sosok mendadak masuk ke dalam kamar. Dia merupakan pria tua yang tadi bicara bersama Yiu Fang saat berada di sebuah ruangan.


Orang tua itu tersenyum saat melihat Cakra Buana berbaring tanpa daya. Dia kemudian menotok beberapa jalan darah Cakra Buana.


"Kau tahu di mana dirimu sekarang?" tanyanya dengan santai.


"Tidak, aku merasa sangat asing. Apakah kau bisa memberitahu di mana aku sekarang?" jawab Cakra Buana.


"Sekarang kau berada di Perguruan Bawah Tanah. Tiada seorang pun yang tahu tempat ini," katanya sambil tertawa bangga.


Cakra Buana tenang. Dia tidak merasa panik sama sekali.


"Aku baru mendengar nama perguruan ini,"


"Itu sudah pasti. Sebab kami selalu bergerak rahasia,"


"Lalu, di mana Yiu Fang?"


"Dia sedang berada di kamarnya bersama tunangannya,"


Pendekar Tanpa Nama sedikit terkejut. Ternyata wanita cantik itu sudah mempunyai tunangan. Untung bahwa dirinya tidak sampai jatuh hati kepada wanita tersebut.


Tapi bagaimanapun juga, Cakra Buana tidak dapat melupakan wajahnya serta senyumannya yang amat menggoda itu. Melupakan seorang wanita cantik, hampir sama susahnya dengan melupakan sebuah kenangan di masa lalu.


"Benar,"


"Sekarang, apa maumu?" tanya Cakra Buana.


"Aku hanya ingin nyawamu," jawab pria tua iti tanpa basa-basi lagi.


Cakra Buana tersenyum. Dia tidak perlu bertanya apa-apa lagi. Karena sekalipun bertanya, dia sudah tahu jawaban pastinya.


Kalau sudah tahu jawaban pasti, untuk apa menanyakan lagi?


"Kitab itu sudah berpindah tangan,"


"Berpindah tangan atau belum, aku tetap menginginkan kematianmu,"


"Aku tahu,"


"Bagus kalau kau sudah tahu,"


"Kalau begitu, kenapa kau tidak membunuhku sekarang?" tanya Cakra Buana sambil sedikit menantang.


Pria tua itu tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah percaya bahwa dirinya dapat membunuh Pendekar Tanpa Nama.

__ADS_1


"Tidak perlu buru-buru. Tengah malam nanti adalah waktu yang sangat tepat untuk melakukan pembunuhan. Apalagi nanti adalah malam purnama,"


"Kau berniat untuk membunuhku di depan umum?"


"Cerdas,"


"Hemm, aku hanya mengingatkan, jika tidak membunuhku sekarang, nanti kau akan menyesal sendiri,"


"Apa yang akan aku sesali? Kau sudah berada dalam genggaman tanganku, kau pikir kau bisa melakukan apa lagi?"


"Terserah, aku hanya mengingatkan saja,"


Orang tua yang mengaku ayah dari Yiu Fang itu tidak bicara lagi. Dia langsung pergi begitu saja.


Siapa sebenarnya orang tua itu?


###


Tengah malam telah tiba.


Malam ini benar-benar malam bulan purnama. Rembulan bersinar sempurna. Cahayanya menerangi jagat raya dan seisinya. Bau bunga mekar tercium sangat harum memberikan ketenangan jiwa.


Cakra Buana sudah berada di atas mimbar. Kedua tangannya diikat dalam tiang salib. Orang-orang Perguruan Bawah Tanah sedang berkumpul di bawah. Mereka menantikan dirinya di ekskusi mati.


Orang tua yang siang tadi menemuinya serta Yiu Fang, duduk di tempat yang telah di sediakan.


Wanita itu masih cantik seperti saat awal bertemu di kereta kuda mewah. Dia masih anggun, masih manis. Sayangnya, sekarang pandangan Cakra Buana tidak seperti awal berjumpa.


Jika pas awal dia mengira bahwa Yiu Fang merupakan wanita lemah lembut yang mempunyai hati bersih, sekarang pandangannya justru malah sebaliknya.


Apakah semakin cantik seorang wanita, semakin buruk juga hatinya?


Dua orang berpakaian serba hitam menghampiri dirinya. Di tangan kanannya masing-masing tergenggam sebatang pedang. Pedang yang sangat tajam.


Keduanya berdiri dari sisi kanan dan kiri.


"Lakukan sekarang," orang tua tadi memberikan perintah kepada kedua orang tersebut.


Dua batang pedang telah di ayunkan dengan kecepatan tinggi. Niat mereka tentunya ingin memenggal kepala Pendekar Tanpa Nama.


Wushh!!!


Trangg!!!


Dua kali bunyi yang sama terdengar dan hampir berbarengan. Semuanya mendadak berhenti. Dua tukang jagal juga terpaku di tempatnya masing-masing.


Pedang mereka patah. Tali yang mengikat kedua tangan Pendekar Tanpa Nama telah lepas.


Bagaimana pemuda itu melakukannya?

__ADS_1


Suasana menjadi menegangkan. Semua orang terkejut setengah mati.


__ADS_2