
"Ka-kau … siapa kau sebenarnya?" tanya si Tosu Tangan Gledek sambil menunjuk Cakra Buana dengan jari telunjuknya.
Jari itu terlihat bergetar. Seperti tubuhnya yang masih bergetar hingga saat ini.
Siapapun yang mengalami kejadian ini, sudah pasti akan merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Tosu sesat tersebut.
Mereka tidak tahu bahwa Cakra Buana pernah berlatih sebuah kitab warisan gurunya dulu. Dalam kitab tersebut, dia belajar banyak bagaimana caranya menawarkan racun. Bagaimana menangkal racun dan mengobati racun. Bahkan dalam kitab tersebut di ajarkan pula bagaimana caranya mengubah racun menjadi hawa murni atau juga menjadi tenaga yang selanjutnya bisa kita gunakan.
Meskipun tidak semua jenis racun bisa dia pelajari dari kitab tersebut, namun apa yang dia dapatkan tentang racun tentu sudah cukup. Sangat lebih daripada cukup.
Mungkin Cakra Buana termasuk ke dalam daftar orang-orang yang paling beruntung di dunia ini.
Entah berapa banyak manusia yang ingin kitab seperti itu. Meraka rela mengeluarkan biaya yang sangat mahal, bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Sedangkan pemuda serba putih itu tidak mengeluarkan biaya mahal. Tidak pula harus mempertaruhkan nyawa.
Justru karena ketidaksengajaan itulah dia bisa mendapatkan nasib yang sangat mujur tersebut.
"Aku? Sudah aku katakan, namaku Cakra Buana. Orang-orang biasa memanggilku Pendekar Tanpa Nama," jawabnya santai. Bahkan bibirnya masih melemparkan senyuman yang sangat menarik baik bagi pria maupun wanita.
Padahal kalau orang lain mungkin tidak akan ada yang mampu memberikan senyumannya. Apalagi senyuman terbaik. Di hadapan tiga tokoh sesat pula.
Namun pemuda serba putih itu tidak peduli. Siapapun orang yang ada di hadapannya, dia tidak pernah peduli.
Kalau dia ingin tersenyum, maka dia pasti tersenyum. Dalam keadaan apapun.
Tiga Tosu terkejut lagi. Berarti memang pemuda ini yang beberapa waktu lalu banyak di bicarakan orang karena dia sangat royal sehingga selalu membagi sumbangan. Belum lagi dia pernah mempunyai masalah dengan Kay Pang Hek dan Tujuh Perampok Berhati Kejam.
Kebetulan sekali. Tujuh perampok itu masih rekan mereka. Walaupun bukan teman dekat, tetapi mereka kenal. Kalau saja bisa membunuh pemuda itu, bukan hanya kitab pusaka dan pedang yang akan mereka dapatkan, bahkan harta juga akan mereka dapatkan.
"Ternyata kau pemuda yang kemarin sempat membuat masalah," kata si Tosu Angin Badai.
"Betul. Memang aku orangnya,"
Dia tidak perlu menanyakan masalah apa dan masalah yang mana. Sebab Cakra Buana sendiri sudah tahu jawabannya.
"Bagus. Sekarang kau harus mampus untuk menebus kesalahanmu,"
"Dan kau juga harus mampus karena kesalahanmu," kata Pendekar Tanpa Nama kepda Tosu Tangan Gledek.
__ADS_1
"Karena aku sudah meracunimu?"
"Bukan,"
"Lalu?"
"Karena kau sudah menguping pembicaraanku,"
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku yang sudah menguping?"
"Hehe, di belakang pakaianmu ada bekas cat. Warnanya sangat mirip dengan cat di markas cabang Kay Pang Pek, kalau bukan kau, lantas siapa lagi?"
Dua Tosu rekannya langsung melihat ke belakang pakaian Tosu Tangan Gledek. Ternyata benar. Di sana ada bekas cat berwarna hijau muda.
Cat ini jelas sangat mirip dengan cat markas cabang Kay Pang Pek.
"Ternyata selain cerdas, kau pun merupakan pemuda yang bermata jeli," puji si Tosu Kaki Besi Tendangan Guntur.
"Terimakasih pujiannya. Aku sudah tahu itu," ucapnya sedikit menyombongkan diri.
"Pemuda sepertimu kalau terus dibiarkan hidup, tentu bakal membawa bencana bagi aliran kami. Maka lebih baik sekarang kau mati saja," kata si Tosu Angin Badai.
"Wushh …"
Belum selesai perkataannya, mendadak segulung angin keras datang menerjang ke wajah Cakra Buana.
Gerakan serangan tersebut sangat tiba-tiba sekali. Untungnya dia selalu siap dalam situasi apapun.
Cakra Buana melompat ke samping kiri untuk menghindari angin dahsyat tadi.
"Blarr …"
Ledakan terdengar cukup keras. Satu batang pohon hancur berkeping-keping.
Yang menyerang pertama ada si Tosu Angin Badai. Dia hanya perlu mengibaskan ujung lengan jubahnya yang longgar supaya bisa mengeluarkan segulung angin dahsyat seperti barusan.
Memang itulah kehebatannya. Dia mampu menciptakan angin badai hanya dengan kibasan tangannya saja.
__ADS_1
Tosu tua itu cukup terkejut melihat gerakan menghindar si pemuda cukup cepat dan tepat waktu. Padahal dia menyerang secara mendadak. Tak disangka dia mampu menghindarinya.
"Bagus. Sepertinya kau memang bukan pemuda sembarangan. Aku ingin lihat sampai di mana kemampuanmu," bentaknya lalu melancarkan serangan kembali.
Dua kali dia mengebutkan ujung lengan jubah, dua sembarangan angin menerjang Pendekar Tanpa Nama kembali.
Namun sama seperti sebelumnya, dia masih mampu menghindari serangan tersebut dengan mudah. Seluruh tubuhnya seolah bisa mengetahui bahwa lawannya akan menyerang secara tiba-tiba, sehingga dia bisa menghindar sesaat sebelum serangan lawan dilancarkan.
Melihat serangan kedua gagal, Tosu Angin Badai mulai naik pitam. Dia membentak nyaring lalu menerjang Pendekar Tanpa Nama. Dua tangannya segera melancarkan hantaman keras yang mengincar ke arah dada dan pundak.
Gerakannya secepat serigala menerkam. Begitu cekatan dan tepat sasaran.
Namun yang dia hadapi saat ini bukan seekor kelinci yang begitu mudah diterkam. Lawannya adalah seekor harimau. Sudah tentu tidak bisa dengan mudah melukai seekor harimau.
Pendekar Tanpa Nama mulai bergerak. Tanpa menunggu lama, setelah menangkis dua hantaman Tosu Angin Badai, Cakra Buana langsung melancarkan jurusnya.
"Naga Terbang di Angkasa …"
Mendadak dia mengelilingi si Tosu Angin Badai. Kakinya seolah tidak menapak ke tanah. Setelah beberapa kali mengelilinginya, dia langsung melancarkan hantaman keras berhawa panas dari arah depannya.
"Bukk …"
Pundak bagian kiri berhasil dihantam. Tosu Angin Badai terjengkang dua langkah. Untung bahwa kekuatannya sudah tidak diragukan lagi.
Dia hanya hilang keseimbangan untuk sesaat saja. Detik selanjutnya, jurus hebat segera keluar.
Dua tangannya melancarkan totokan ke segala titik penting. Gerakannya sangat lincah sekali. Untung bahwa Cakra Buana memiliki pandangan mata yang tajam, kalau tidak mungkin dia tidak mengetahui ke mana arah serangan lawan.
Tubuhnya bergerak menghindari setiap totokan. Sesekali kakinya memberikan tendangan supaya serangan lawan digagalkan.
Baru saja dia ingin membalas serangan, secara tiba-tiba sebuah tendangan dengan telak menghantam tulang rusuk sebelah kanannya.
"Bukk …"
Cakra Buana terlempar ke samping. Rasa sakit segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Tendangan tadi dilakukan oleh Tosu Kaki Besi Tendangan Guntur.
Sama seperti julukannya. Tosu tua itu mempunyai jurus tendangan yang sangat dahsyat. Bahkan terdengar ledakan seperti guntur begitu kakinya berhasil menendang target sasaran.
__ADS_1
Cakra Buana sudah bangkit berdiri. Dia segera menyalurkan hawa murni untuk mengurangi rasa sakit. Tulang rusuknya terasa remuk karena tendangan barusan.
Sekuat-kuatnya Cakra Buana, tetap dia masih manusia dan mempunyai rasa sakit. Pikirannya terlalu terfokus kepada si Tosu Angin Badai. Sehingga akhirnya dia tidak menyadari adanya serangan lain.