
Pedang bercabang yang sudah lama menemani dirinya selama puluhan tahun, sekarang telah patah menjadi tiga bagian. Jangankan orang lain, bahkan semua anggota Organisasi Naga Terbang pun tidak percaya.
Kejadian barusan seperti mimpi. Mimpi yang sangat kelam, sangat kelabu, mimpi mengerikan dari mimpi paling mengerikan lainnya.
Plakk!!!
Naga Terbang Pertama tiba-tiba terlempar hingga puluhan tombak jauhnya. Sosok itu melayang seperti anak panah yang diluncurkan dengan segenap kemampuan.
Suara jeritan kesakitan tertahan berkumandang hingga menggema ke seluruh penjuru. Setelah lenyap suara tersebut, suara jatuhnya tubuh langsung terdengar pula.
Tapi tiada jeritan rasa sakit. Tiada pula teriakan kematian.
Sebab sebelum tubuh itu ambruk ke tanah, nyawa yang bersemayam di tubuhnya telah melayang keluar dari raga.
Naga Terbang Pertama telah mampus di tangan Sian-li Bwee Hua.
Yang lebih parah, tewasnya salah satu anggota Organisasi Naga Terbang itu hanya dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan tewasnya tanpa memberikan perlawanan apapun kepada lawannya.
Seorang tokoh pilih tanding, orang tua yang mempunyai banyak sekali pengalaman hidup, ternyata bisa mampus hanya beberapa gebrakan saja.
Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapapun pasti tidak akan ada yang percaya dengan kejadian tersebut.
Setiap pendekar yang sejak tadi melihat dengan seksama dibuat terpukau. Mereka sangat kagum melihat sepak terjang Sian-li Bwee Hua.
Jangankan mereka, bahkan Pendekar Tanpa Nama sendiri juga mengalami hal yang sama.
Baru sekarang pemuda serba merah itu mengetahui kemampuan Ling Ling si Dewi Bunga Bwee yang sebenarnya. Ternyata kekuatannya sudah mencapai tahap kesempurnaan.
Setelah menyaksikan kejadian barusan, Cakra Buana menjadi sangsi, kalau saja dirinya melangsungkan pertarungan dengan wanita itu, belum tentu dirinya dapat menang. Sekalipun menang, sudah pasti dia harus mengeluarkan seluruh kemampuanya yang sekarang.
Jumlah anggota Organisasi Naga Terbang telah berkurang kembali. Yang tersisa dari mereka hanya tinggal lima orang saja. Itupun yang satu sudah berada di pihak musuh.
Naga Terbang Pertama, Naga Terbang Kedua, kini mereka telah tewas. Tewas membawa rasa ketidakpercayaan.
__ADS_1
"Hebat, hebat, ternyata kau benar-benar sudah menguasai Kitab Tapak Pencabut Nyawa dengan sempurna," ucap Dewi Cantik Tujuh Nyawa sambil bertepuk tangan.
Ling Ling tersenyum sinis. Dia tahu, pujian yang dilontarkan oleh wanita itu, sebenarnya merupakan ejekan belaka. Karena itulah dia tidak merasa bangga.
"Memang benar, tapi aku sama sekali tidak membutuhkan pujianmu. Naga Terbang Pertama bisa tewas dengan mudah karena dia sedang dalam keadaan terkejut akibat senjata pusakanya aku patahkan. Kalau tidak berada dalam posisi seperti itu, rasanya tidak mungkin dia bisa mampus hanya dalam beberapa gebrakan saja," kata Sian-li Bwee Hua.
"Hahaha … tajam juga matamu. Lagi pula, dia adalah orang terlemah di antara kita. Perlu kau ketahui, setiap nomor urutan di Organisasi Naga Terbang sebenarnya tidak mewakili seberapa tinggi kemampuannya,"
"Aku sudah tahu, karena itulah aku tidak merasa bangga bisa membunuh Naga Terbang Pertama,"
"Bagus kalau begitu," sahut Naga Terbang Keempat dengan cepat.
Dewi Cantik Tujuh Nyawa tersenyum. Senyuman yang dingin. Kejam, sekaligus menakutkan.
"Semuanya sudah selesai. Sekarang permainan yang sebenarnya baru akan dimulai," kata wanita itu lalu segera tertawa dengan sangat lantang.
Pada saat suara tawa itu terdengar, hawa di sekitar tempat tersebut langsung berubah drastis. Hawa pembunuhan bertambah pekat. Hawa kematian bertambah kental. Seperti kentalnya darah. Bau busuk langsung tercium di segala penjuru. Asap hitam mendadak mengerubungi semua tokoh yang hadir di sana.
Apa arti semua ini?
Belum sempat terjawab pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak semua orang itu, beberapa teriakan dari para tokoh mendadak terdengar menggema.
Crashh!!! Crashh!!!
Sesuatu yang kental muncrat hingga mengenai pakaian para tokoh di dekatnya. Meskipun mereka tidak dapat melihat dengan jelas cairan apakah itu, namun semua orang sudah tahu bahwa itu adalah darah. Darah para tokoh pendekar Tionggoan.
Bau amis langsung bercampur dengan bau busuk. Semuanya menjadi satu.
Para tokoh kelas atas langsung panik. Asap hitam yang lebih mirip disebut kabut itu benar-benar merugikan mereka. Tiada yang dapat melakukan sesuatu, tiada juga yang bisa melihat dengan jelas.
Kecuali mereka yang merupakan tokoh pilih tanding.
"Keparat itu benar-benar membuat kita kerepotan," kata Tian Hoa menggerutu.
__ADS_1
"Kita hadapi saja mereka. Dengan kekuatan yang sekarang, rasanya mustahil kalau kita akan kalah," ucap Huang Pangcu menanggapi ucapan Iblis Tua Langit Bumi.
"Kita tunjukkan kepada mereka bahwa Tionggoan adalah tempatnya naga mendekam harimau bersembunyi," teriak Tiang Bengcu memberikan semangat kepada orang-orangnya.
Semantara itu, selama mereka melakukan pembicaraan sambil mempersiapkan diri, para tokoh kelas atas yang menjadi korban semakin banyak lagi.
Darah sekali membasahi rumput yang hijau. Bau amis semakin kentara dari waktu ke waktu.
Setelah lima belas menit kemudian, keadaan telah berubah total. Lebih dari sebagian tokoh kelas atas dunia persilatan Tionggoan telah menjadi korban. Semua tokoh yang tewas seperti tidak terima dengan kematiannya masing-masing.
Mereka tewas dengan mata melotot dan lidah terjulur. Setiap tokoh yang mampus, lehernya pasti hendak putus. Kalau tidak begitu, maka dipastikan dadanya hancur sehingga melesak ke dalam.
Rupanya hilangnya kabut hitam tersebut bukan merupkan akhir dari segalanya, namun justru awal. Awal dari kekuatan Organisasi Naga Terbang yang lebih dahsyat lagi.
Dewi Cantik Tujuh Nyawa bergerak. Tubuhnya melesat secepat petir lalu dengan sigap melemparkan puluhan senjata rahasia ke setiap tokoh yang berada di dekatnya.
Naga Terbang Keempat tidak mau kalah. Tombal merah pekat miliknya melancarkan puluhan tusukan maut yang tiada hentinya.
Naga Terbang Kelima pun demikian. Pedang bersarung hijau dengan gagang tengkorak itu turut serta menebarkan ancaman maut bagi tokoh persilatan Tionggoan.
Sepak terjang manusia iblis itu sungguh hebat. Hanya beberapa saat kemudian, jumlah tokoh Tionggoan yang tadinya puluhan, kini hanya belasan orang saja. Mungkin tidak akan lebih dari lima belas orang.
Para tokoh pilih tanding meningkatkan kemampuan mereka. Segenap kekuatan segera dikeluarkan sebelum semuanya terlambat.
Naga Terbang Keempat berhenti. Gerakannya tombaknya tertahan oleh sebuah tongkat kemala hijau milik Huang Pangcu.
Tanpa berkata apapun, kakek tua itu segera melawan Naga Terbang Keempat bersama dengan Ming Tian Bao si Raja Racun Tiada Obat.
Dua datuk dunia persilatan saat ini sudah menggempur salah satu anggota dari Organisasi Naga Terbang itu. Ming Tian Bao mulai melancarkan berbagai serangannya yang mengandung racun ganas.
Huang Pangcu pun telah melancarkan hantaman dan sodokan dengan tongkat kemala hijau miliknya.
Posisi Naga Terbang Keempat mulai terdesak. Tapi dia tidak merasa takut. Sebab kemampuan dia yang sebenarnya baru saja akan dimulai.
__ADS_1