Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Hasil Yang Mengejutkan


__ADS_3

Empat pertarungan kelas atas dunia persilatan telah selesai dilangsungkan. Semuanya sudah rampung. Keempatnya telah mencapai akhir.


Poh Kuan Tao masih tidak percaya dengan akhir dari pertarungan ini. Seumur hidupnya, dia tidak pernah membayangkan kalau dirinya bakal dikalahkan oleh seorang pemuda asing yang bahkan umurnya sangat jauh berbeda dengan dia sendiri.


Seluruh ilmunya sudah matang. Tenaga dalamnya pun telah mencapai kesempurnaan. Pengalaman hidupnya, jangan ditanyakan lagi. Dia pernah melangsungkan ratusan kali pertarungan antara hidup dan mati. Dan hasilnya, kalau tidak imbang, tentu dia yang menang.


Poh Kuan Tao jarang sekali kalah jika sedang bertarung. Setiap musuhnya pasti akan merasa gugup sebelum melangsungkan pertarungan dengannya. Apalagi kalau dia sudah mengeluarkan jurus Seribu Harimau Buas.


Kalau dia sudah melancarkan jurus pamungkas tersebut, dijamin dirinya tidak akan kalah. Kalau tidak terluka parah lebih dulu, tentu musuhnya bakal langsung tewas saat terkena jurus mengerikan itu.


Tak disangka dan tidak akan pernah menyangka, ternyata dia harus rela merasakan kebalikannya dari semua hal di atas.


Orang yang menjadi lawannya tidak mati ataupun terluka parah, justru sebaliknya, orang tersebut masih terlihat segar bugar. Malah dia sendiri yang merasa sedikit terluka dalam.


Meskipun lukanya tidak parah, tapi tetap saja hitungannya dia terluka. Dan untuk lukanya ini, jelas dia lebih parah dari Pendekar Tanpa Nama.


Dari hal tersebut, siapapun pasti mengetahui bahwa dialah yang kalah.


"Aku mengaku kalah," katanya dengan nada suara datar.


Setelah berkata demikian, Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding itu segera melompat lalu kembali ke barisannya semula.


Sementara itu, Pendekar Tanpa Nama tidak langsung menjawabnya. Pemuda itu menyalurkan hawa murni terlebih dahulu sebelum angkat bicara. Setelah dirasakan tubuhnya lebih baik, maka pemuda itu segera menjawabnya.


"Tuan Poh terlalu merendah. Terimakasih sudah memberikan kelonggaran kepadaku," kata Pendekar Tanpa Nama sambil menjura tulus kepadanya.


Sekarang keadaan di sana hening. Lebih hening dari sebelumnya. Lebih hening dari suasana di sebuah pekuburan.


Pendekar Tanpa Nama berjalan dengan santai ke barisannya di mana para sahabat berdiri. Mereka memperlihatkan ekspresi bahagia atas hasil dari akhir pertarungan ini.


Di sisi lain, para tokoh tersebut merasa sangat bangga sekaligus sangat dengan hasil akhirnya.

__ADS_1


Mereka bangga karena pihaknya bisa menang. Tapi mereka juga sangat terkejut karena baru sekarang orang-orang itu mengetahui bagaimana tingginya kemampuan Pendekar Tanpa Nama.


Manusia mana yang tidak kenal Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding? Siapa orangnya yang tidak tahu seberapa tinggi dan seberapa hebat pemilik Perkampungan Raja Harimau itu?


Siapapun pasti kenal dan tahu bagaimana hebatnya datuk sesat tersebut.


Sampai sekarang, setiap orang yang hadir di sana masih tidak percaya bahwa dia mampu dikalahkan oleh seorang pemuda bergelar Pendekar Tanpa Nama.


Meskipun hanya terpaut sedikit, tapi yang sedikit itu justru dapat menjadi sebuah penentu.


Kenapa Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding bisa kalah? Apakah karena dia tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya? Ataukah karena dia sedang memikirkan hal lain dalam benaknya?


"Hebat, kemampuanmu benar-benar meningkat pesat. Paman merasa sangat bangga kepadamu. Paman yakin, di sana, gurumu pasti merasakan hal yang sama," ucap Cio Hong sambil menepuk pundak Cakra Buana.


Dia adalah saudara seperguruan Pendekar Tanpa Nama. Sudah tentu di antara yang lainnya, Cio Hong adalah salah satu orang yang merasa paling bangga.


"Terimakasih Paman guru. Ini semua berkat doa restumu," kata Cakra Buana dengan penuh sopan santun.


Ucapan demi ucapan selamat dilontarkan oleh para sahabat Pendekar Tanpa Nama. Semuanya memuji, kecuali hanya satu orang saja yang tampak biasa saja.


"Kau masih kurang cepat. Kalau pertarungan barusan adalah pertarungan sungguhan, aku tidak yakin kau bisa menang secepat ini,"


Sebuah suara memasuki pikirannya. Suara itu tidak asing lagi bagi Cakra Buana.


Tentu saja, sebab suara tersebut berasal dari mulut orang terdekatnya.


Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.


Suara tadi memang suara pemuda serba putih itu. Meskipun dia berkata hanya lewat ilmu mengirimkan suara jarak jauh, tapi wajahnya menampilkan ekspresi yang sangat serius.


Cakra Buana tidak merasa marah, apalagi sampai benci. Dia justru malah membalas perkataan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kau benar. Aku pun merasakan demikian," jawab Cakra Buana sedikit menyesal.


Walaupun sahabat terdekatnya itu tidak dapat melihat seperti orang pada umumnya, tapi Cakra Buana tahu bahwa di antara semua orang yang ada, hanya si Buta Yang Tahu Segalanya saja lah yang mempunyai mata paling baik dan paling tajam.


Hal itu tidak perlu diragukan lagi. Sebab Pendekar Tanpa Nama mengetahui sendiri.


Tiang Bengcu mendadak melompat ke tengah bekas arena pertarungan. Sepasang matanya lebih dulu memandang ke sekeliling tempat tersebut. Senyuman hangat masih tetap dia lemparkan kepada semua orang.


"Terimakasih untuk orang-orang yang sudah berpartisipasi dalam pertarungan persahabatan ini. Semuanya hanyalah uji coba, bukan sungguhan. Siapa yang menang dan siapa yang kalah bukan menjadi persoalan paling utama. Semuanya hanya sekedar perkenalan saja," kata Tiang Bengcu dengan suaranya yang tegas dan lantang.


Setiap tokoh hanya mengangguk perlahan. Tidak ada yang bicara di antara mereka. Semuanya mengunci mulutnya serapat mungkin.


"Bengcu, bagaimana dengan pertemuan ini? Apakah pencarian dua benda pusaka bakal dilanjutkan atau hanya sampai di sini saja?" tanya si Pedang Kelam secara tiba-tiba.


Suara orang berbisik mulai kembali terdengar. Gara-gara ucapan orang berwajah angker tersebut, suasana yang sebelumnya hening mulai sedikit riuh kembali.


Kalau membicarakan benda pusaka, setiap pendekar pasti akan bergetar hatinya. Apalagi jika pusaka tersebut merupakan pusaka langka yang mempunyai keistimewaan tersendiri.


"Aku akan membicarakan satu hal, tapi sebelum itu, apakah saudara sekalian akan percaya dengan apa yang bakal aku katakan?" tanyanya sambil memandangi para tokoh kembali.


Untuk beberapa saat, tiada seorangpun yang berani menjawab pertanyaan tersebut. Semua orang-orang itu terdiam.


"Bengcu adalah Bengcu. Kau ibarat Kaisar, setiap ucapanmu bagaikan Dewa. Silahkan bicara dan katakan yang sebenarnya," kata Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding.


Suaranya barusan mendadak sedikit ramah. Kalau tadi nada bicara orang tua itu terdengar sangat sombong dan angkuh, maka sekarang suaranya malah terdengar penuh persahabatan.


Bahkan dia bicara dengan ekspresi sungguh-sungguh. Sedikitpun tidak terlihat ekspresi mengejek.


"Benar, jadi Bengcu tidak perlu khawatir. Selama Bengcu mengatakan yang sesungguhnya, niscaya dari kami semua akan percaya sepenuh hati," kata si Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi yang juga bicara dengan penuh keseriusan.


###

__ADS_1


Satu lagi nanti ya, masih ada urusan nii hehe …


__ADS_2