
Lagi-lagi ketua cabang dibuat bengong. Dia sungguh penasaran atas jurus dahsyat itu. Yang tadi saja sudah aneh dan dahsyat. Tetapi yang sekarang jauh lebih aneh dan lebih dahsyat lagi.
"Jurus Tanpa Nama?" tanyanya sambil mengambil sikap waspada.
"Bukan," jawab Cakra Buana sedikit ketus.
"Lalu?"
"Jurus Tanpa Bentuk,"
Ketua cabang kembali dibuat bengong. Dua jurus yang diperlihatkan oleh si pemuda sangat dahsyat. Dia sendiri tidak yakin bisa menahan serangannya.
Apalagi gerakannya terlampau cepat. Mungkin secepat kilat menyambar bumi di kegelapan malam. Mendatangkan kesan mengerikan. Mendatangkan kesan keangkeran. Dan tentunya mendatangkan kematian.
Tanpa sadar seluruh tubuhnya sudah berkeringat dingin. Seumur hidupnya, dia baru mengalami kejadian seperti ini.
Dis mundur selangkah demi selangkah saat Cakra Buana melangkah untuk mendekati dirinya.
"Aku tanya sekali lagi, di mana Mei Lan?"
"A-aku ti-tidak tahu. Su-sungguh,"
"Katakan di mana Mei Lan!!" bentak Pendekar Tanpa Nama.
Amarahnya berkobar kembali. Sorot matanya benar-benar mirip seekor harimau buas.
"A-aku ti-tidak tahu,"
"Kalau begitu kau ingin mampus,"
Si ketua cabang semakin ketakutan. Tetapi dia mendadak berani setelah mengingat siapa dirinya dan apa posisinya di Kay Pang Hek.
"Kau berani? Apakah kau tidak takut akan bermusuhan dengan seluruh Kay Pang Hek? Kau bisa saja membunuhku, tapi kau mustahil jika dapat membunuh semua anggota Kay Pang Hek yang berjumlah ribuan. Apalagi Pangcu kami pasti tidak akan terima," katanya dengan senyuman mengejek.
Dia sangat percaya bahwa pemuda itu pasti tidak akan berani membunuhnya. Apalagi setelah dirinya menyebut nama Pangcu Kay Pang Hek.
Walaupun merupakan pecahan dari Kay Pang Pek, Kay Pang Hek ternyata sudah merekrut banyak sekali anggota. Bahkan jaringannya sama luas seperti Tujuh Perampok Berhati Kejam. Dan anggota yang mereka miliki juga lebih banyak.
Namun nampaknya Cakra Buana tidak merasa takut sedikitpun. Apalagi setelah dia mengingat bahwa dirinya bisa saja menggerakan anggota Kay Pang Pek yang ada di manapun dengan Lencana Harimau pemberian Huang Pangcu.
"Kau pikir aku tidak berani membunuhmu?"
"Tentu saja, karena kau baru sadar bahwa sekarang dirimu sudah menanam bibit dendam dengan Kay Pang Hek,"
__ADS_1
"Hemm, benar juga. Tapi, bukankah kalau sudah terlanjur tercebur ke kolam lumpur lebih baik diceburkan lebih dalam? Siapa tahu di dalamnya ada berlian,"
"Degg …"
Jantung si ketua cabang berdetak lebih kencang lagi. Dia tahu maksud si pemuda.
Sebelum dirinya dapat berkata lebih jauh lagi, mendadak segulung angin dahsyat telah menerjang tubuhnya. Belum sempat dia menghindar, serangan lain telah datang kembali.
Sinar pedang menggulung tiada henti mendatangkan bunyi mengerikan. Angin yang tercipta seperti pisau menyayat kulit. Terasa sangat tajam.
Tetapi selaku ketua, tentu dia tidak bisa dibandingkan dengan In Sin dan yang lainnya.
Kemampuan seorang ketua, meskipun hanya ketua cabang, tentu saja lebih tinggi daripada yang lainnya.
Ketua cabang itu berusaha membebaskan diri dari kurungan pedang Pendekar Tanpa Nama.
Cahaya putih menyilaukan semakin dahsyat. Tapi si ketua cabang sudah bisa menguasai diri. Dia berhasil memainkan ilmu tongkat yang memang khusus sebagai ciri khas Kay Pang.
Permainan tongkatnya tidak buruk. Justru terlihat sangat indah namun menakutkan.
Setiap kali tongkatnya bergerak, selalu mendatangkan gulungan angin dahsyat yang menyatu.
Namun Cakra Buana yang sekarang bukanlah Cakra Buana yang dulu.
Dengan kekuatan tenaga dalam dari leburan seluruh ilmu yang dia miliki, tentu saja kini tenaga salamnya bertambah pesat dan sempurna.
Tubuhnya segera melesat melancarkan puluhan tusukan yang mencecar tanpa memberikan kata ampun.
Jurus kedua yaitu Kilat Mengejar Mangsa sudah keluar. Pedang pusaka Naga dan Harimau mengikuti ke mana lawannya bergerak.
Walaupun pada awalnya si ketua cabang dapat menghindar atau membalas serangan, tetapi setelah belasan jurus bertarung, pads akhirnya dia merasa keteteran juga.
Pemuda itu benar-benar hebat. Permainan pedangnya sangat cepat dsn berbahaya seperti sambaran kilat.
"Slebb …"
Pedang Naga dan Harimau menusuk tepat di tenggorokan si ketua cabang.
Darah segar muncrat. Mulutnya langsung penuh oleh darah. Dia ingin berkata, tapi sudah tidak sanggup.
Begitu pedang dicabut, tubuhnya langsung ambruk ke tanah dengan darah yang semakin menggenang.
Suasana di sana kembali sepi. Para pengemis termasuk asisten dan ketua cabang tewas di tangan Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Cakra Buana melangkahkan kakinya keluar. Langkanya mantap. Sama sekali tidak memusingkan masalah yang akan datang nantinya.
Yang terpenting untuknya saat ini adalah mencari jejak Huang Mei Lan.
Pendekar Tanpa Nama sudah berjalan cukup jauh. Tujuannya kali ini tentu ke markas cabang Kay Pang Pek untuk memberitahukan apakah benar cucunya menghilang atau tidak.
Namun saat di tengah jalan, dia melihat seorang wanita berpakaian ringkas seperti pendekar sedang dihajar habis-habisan oleh dua orang pria bertubuh tinggi. Keduanya memakai pakaian serba hitam.
Wanita tersebut sepertinya juga merupakan pendekar. Terlihat dari pakaiannya dan di pinggangnya terselip sebuah kipas.
Saat ini si wanita sudah tidak berdaya, sepertinya dia terkena racun. Terlihat seluruh tubuhnya mulai membiru. Wajahnya pucat.
Dua orang pria tersebut sedang berusaha untuk melakukan pelecehan.
Satu memegangi dua tangan si wanita. Satunya lagi berusaha untuk membuka seluruh pakaiannya. Namun si wanita terus meronta-ronta sambil berteriak minta tolong tidak berhenti.
Melihat kejadian seperti ini, jiwa kependekaraan Cakra Buana berontak. Secepat kilat dia langsung menerjang ke sana untuk menolong si wanita yang bernasib malang itu.
Begitu tiba di sana, dua buah pukulan dan tendangan langsung dilancarkan. Hanya sekali serangan, dua orang tersebut sudah terkapar tak sadarkan diri. Sepertinya tenaga Cakra Buana terlalu besar sehingga keduanya langsung sekarat.
"Nona tidak papa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Terimakasih Tuan, terimakasih," ucap wanita itu langsung memeluknya dengan erat.
Dia menangis sejadi-jadinya. Air matanya meleleh di dada bidang Cakra Buana.
"Entah bagaimana nasibku kalau tidak ada Tuan pendekar," katanya mempererat lagi pelukannya.
Cakra Buana kebingungan. Dia harus bagaimana? Melepaskan pelukannya? Atau menarik tubuhnya secara langsung lalu segera pergi dari sana?
Tidak, tidak mungkin. Dia bukan pria yang bisa berbuat kasar kepada seorang wanita.
Sambil sedikit ragu-ragu, dia mencoba untuk mengusap-usap kepala wanita itu dan berusaha menenangkannya.
"Sudahlah Nona, sekarang mereka tidak bisa lagi mengganggumu. Kau jangan takut lagi," ucap Cakra Buana tidak berhenti mengusap-usap kepala si wanita.
Saat seperti itu, tiba-tiba wanita tersebut berhenti menangis. Tapi dia bukan berhenti karena memang ketakutannya lenyap, ternyata karena wanita tersebut pingsan.
Tubuhnya basah oleh keringat.
Racun yang sudah ada di tubuhnya mulai menjalar ke seluruh tubuh.
Pemuda itu kebingungan, di tolong, atau tidak?
__ADS_1
Di tolong, tapi dia tak kenal. Tidak di tolong, di mana perikemanusiaannya?
Setelah beberapa kali berpikir, pada akhirnya dia memutuskan untuk menolong wanita tersebut.