
"Tapi siapa yang bakal menjadi wasit di antara semua pertandingan nanti?" tanya Huang Pangcu setelah semuanya terdiam.
"Aku saja," Ming Tian Bao tiba-tiba melangkah ke depan. Dia menawarkan diri menjadi wasit.
Tujuh wakil dari Tionggoan memandangi lekat-lekat semua anggota Organisasi Naga Terbang. Dari tatapan matanya, seolah mereka sedang mempertanyakan apakah mereka setuju atau tidak.
"Baik, kami setuju. Karena selain dia, rasanya tidak ada yang pantas," ucap si Naga Terbang Kedua.
"Terimakasih," kata datuk dari Timur itu sambil menjura hormat.
Wushh!!! Wushh!!!
Tujuh orang dari kedua belah pihak sudah melompat ke arena yang sudah ditentukan sebelumnya. Mereka berdiri di tengah-tengah padang rumput Gunung Hua Sun yang sangat luas itu.
Jarak setiap pertarungan cukup jauh. Sehingga siapapun tidak akan khawatir kalau nanti pertarungannya bakal mengganggu pertarungan lainnya.
Para tokoh kelas atas yang hadir mengelilingi mereka dari pinggir arena pertarungan. Semua orang sedang menantikan pertarungan dahsyat yang sebentar lagi akan berlangsung.
Mereka tahu, pertarungan ini bakal lebih hebat, bahkan jauh lebih hebat lagi dari pertarungan sebelumnya.
Sebab setiap lawan yang bakal dihadapi merupakan lawan tangguh semua. Pertarungan nanti akan menjadi ajang pertempuran hebat yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi dalam dunia persilatan.
Suasana mencekam. Sepi. Sunyi. Menegangkan. Mendebarkan. Semuanya menyatu dalam satu suasana. Meskipun sekarang tampak tenang dan biasa saja, tapi sebenarnya setiap orang yang ada di sana sedang serius.
Yang menjadi wakil sedang mengumpulkan segenap kemampuan dan keyakinan bahwa dirinya akan menang. Setiap yang hadir dan melihat pertarungan sedang berdoa dalam hatinya masing-masing. Mereka berharap bahwa wakil pendekar Tionggoan bakal memenangkan pertempuran nanti.
Kalau sampai menang, maka dunia persilatan Tionggoan akan memiliki masa depan cerah. Tapi jika sampai kalah, maka habislah sudah.
Di arena pertarungan, masing-masing tokoh sedang mengamati setiap lawannya dari atas sampai bawah.
Tiang Bengcu mendapatkan lawan si Naga Terbang Pertama, Huang Pangcu melawan Naga Terbang Kedua, Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding melawan Naga Terbang Ketiga, si Buta Yang Tahu Segalanya melawan Naga Terbang Keempat, Tian Hoa melawan Dewi Cantik Tujuh Nyawa, dan Pendekar Tanpa Nama melawan Naga Terbang Kelima dan Cio Hong melawan Naga Terbang Keenam.
Semuanya sudah bersiap di posisinya masing-masing.
Mereka mulai menghimpun hawa murni dengan jumlah yang tiada tara. Hawa di sekitar arena pertarungan menjadi sangat mengerikan. Hawa kematian terasa pekat. Hawa pembunuhan sangat kental.
Apakah pertarungan ini hanya perlombaan biasa? Atau malah bakal menjadi medan pembunuhan?
Wushh!!! Wushh!!!
__ADS_1
Tujuh bayangan manusia sudah bergerak secara bersamaan. Mereka mulai melangsungkan sebuah pertarungan dahsyat yang sangat sulit untuk dibayangkan oleh siapapun juga.
Kilatan senjata tajam mulai tampak menyelimuti udara malam yang dingin ini. Bentakan nyaring dari masing-masing mulut para tokoh pilih tanding dan tanpa tanding terdengar menggelora.
Selapis hawa sakti menyelimuti seluruh padang rumput. Berbagai macam sinar tampak mempesona.
Semua yang melihat mulai menahan nafasnya masing-masing. Mereka memperhatikan setiap pertarungan dengan amat serius.
Tiang Bengcu sedang bertarung sengit melawan si Naga Terbang Pertama. Keduanya telah melancarkan berbagai macam jurus dan serangan dahsyat yang tiada tandingannya.
Mereka menggunakan pedang. Keduanya merupakan pedang pusaka yang terbuat dari bahan khusus. Bedanya, Tiang Bengcu menggunakan pedang lemas yang dapat dijadikan ikat pinggang, sedangkan si Naga Terbang Pertama menggunakan sebua pedang yang mempunyai dua ujung tajam.
Tepat, pedang bercabang.
Tiang Bengcu merasa asing dengan bentuk pedang seperti itu. Tapi terlepas bagaimanapun bentuknya, dia tetap akan menghadapinya tanpa rasa takut.
Jangankan memiliki dua cabang, bahkan jika pedang itu mempunyai seribu cabang sekalipun, Tiang Bengcu tidak akan gentar.
Wushh!!!
Bayangan manusia berkelebat dengan sangat cepat. Tiang Bengcu melancarkan serangan ganas dan keras. Serangan yang membawa kabar kematian dari neraka.
Trangg!!! Trangg!!!
Pedang Tiang Bengcu berhenti setelah berhasil ditahan oleh ujung pedang bercabang tersebut.
Bengcu segera menarik kembali pedangnya. Setelah itu dia segera melancarkan serangan lainnya.
Tebasan demi tebasan mulai dilancarkan kedua tokoh tersebut. Tusukan yang cepat dan hebat pun dilayangkan dengan penuh keyakinan.
Pertarungan semakin berjalan dengan seru. Tidak terasa, pertempuran keduanya sudah memasuki jurus kedua puluh lima.
Menyadari akan hal tersebut, Sang Bengcu mulai mengeluarkan jurus pedang simpanannya.
Dewa Naga Menggapai Langit Tinggi!!!
Wushh!!!
Permainan pedangnya berubah hebat. Kali ini Bengcu memainkan pedangnya dengan kecepatan diluar nalar manusia. Pedang lemas itu berputar mengelilingi tubuh lawan. Serangan dari atas ke bawah, serangan sebaliknya, terus dilancarkan oleh Naga Kebenaran Dari Nirwana.
__ADS_1
Clangg!!! Srett!!!
Patah!!!
Pedang si Naga Terbang Pertama patah menjadi tiga bagian. Setelah itu, pangkal lengan kanannya berhasil dilukai oleh pedang lemas milik Bengcu.
Si Naga Terbang Pertama melompat mundur ke belakang. Tanpa sadar pedangnya sudah terlepas dari genggaman. Darah merah yang amat kental mengucur deras dari luka yang menganga tersebut.
Tapi meskipun begitu, ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Sedikitpun tidak. Wajah itu masih kaku seperti mayat. Hanya sepasang matanya saja yang menatap dengan rasa tidak percaya.
Betapa kesal dan marahnya orang tersebut. Tapi untuk bertindak lebih lanjut, dia jelas tidak berani. Apalagi kalau sampai melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan kejadian hebat.
Bukan karena tidak berani. Melainkan karena belum ada perintah dari sang ketua.
Pertarungan keduanya seketika itu juga langsung berhenti. Tiang Bengcu menyarungkan pedang lemas mestika miliknya. Dia sendiri segera menjura kepada Naga Terbang Pertama.
"Terimakasih karena Tuan sudah sudi memberi muka kepadaku," katanya dengan sopan.
"Aku memang sengaja mengalah kepadamu," jawabnya sangat dingin.
Bengcu tidak bicara lagi. Dia segera kembali ke posisinya semula.
Sementara itu, Ming Tian Bao yang menjadi wasit segera mengumumkan terkait selesainya pertarungan di antara kedua orang tersebut.
Para tokoh kelas atas merasa gembira. Kalau tidak merasa malu, mungkin mereka sudah berjingkrak seperti anak kecil. Tapi mereka segera sadar bahwa kemenangan Tiang Bengcu bukanlah penentuan. Melainkan hanya langkah awal.
Langkah awal kekalahan, atau langkah awal kemenangan?
Wushh!!!
Bayangan manusia di arena pertarungan lain telah meluncur deras menyambut serangan dari lawannya saat ini.
Huang Pangcu melancarkan serangan hebat dengan tongkat kemala hijau miliknya. Tongkat pusaka itu persis seperti ular berbisa yang sedang memperlihatkan keganasannya.
Cahaya hijau membentuk garis meliuk-liuk ke segala arah. Cahaya itu sangat terang, juga sangat cepat.
Si Naga Terbang Kedua yang menjadi lawan Huang Pangcu segera mengeluarkan kemampuannya. Dia sendiri sadar bahwa kakek tua yang menjadi lawannya saat ini bukanlah orang sembarangan.
Dua bilah pisau belati berwarna hitam legam d tangannya mulai bergerak bebas. Dua bilah pisau tersebut mengikuti ke mana arah tongkat milik datuk dunia persilatan itu.
__ADS_1