Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pertarungan Maha Dahsyat


__ADS_3

Si Buta Yang Tahu Segalanya hanya mampu menghela nafas. Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini. Apakah dia senang? Bahagia? Atau justru sebaliknya?


Hal itu sangat sulit ditebak. Sebab wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Si Buta Yang Tahu Segalanya kemudian melangkah kembali barisannya. Di sana para sahabat sudah menunggu.


Pada saat dia berjalan, semua tokoh yang hadir memandang dirinya dengan tatapan tidak percaya. Kejadian terbunuhnya si Naga Terbang Keenam seperti sebuah mimpi.


Setiap insan yang ada di sana tahu bahwa Naga Terbang Keenam mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Pun, mereka juga tahu bahwa si Buta Yang Tahu Segalanya mempunyai kemampuan tidak terukur.


Mereka masih ingat dengan jelas beberapa saat yang lalu ketika pemuda buta itu membunuh Naga Terbang Kedua dengan menggunakan Jurus Tidak Berwujud.


Jurus itu sangat ampuh. Mereka yakin, kalau dirinya yang menjadi sasaran, maka diapun bakal mampus.


Tapi tidak disangka, setelah jurus ampuh tersebut, ternyata dirinya masih mempunyai jurus yang jauh lebih ampuh lagi. Menurut perkiraan para tokoh, setidaknya Jurus Antara Ada dan Tiada hampir empat atau lima kali lebih hebat dari Jurus Tidak Berwujud.


Kekagetan bukan hanya mendera para tokoh kelas atas, para tokoh pilih tanding pun merasakan hal yang sama.


Malam ini, di padang rumput Gunung Huq Sun, entah sudah berapa kali semua orang dibuat terkejut dan kagum. Terutama sekali oleh si Buta Yang Tahu Segalanya dan Pendekar Tanpa Nama. Satu lagi, mereka juga beberapa kali dikejutkan oleh Naga Terbang Ketiga alias Sian-li Bwee Hua.


Ternyata pertemuan para tokoh ini mendatangkan pengalaman tersendiri bagi mereka. Sekarang semuanya mengerti bahwa di atas sebuah ilmu dahsyat, masih terdapat ilmu yang jauh lebih dahsyat lagi.


Seperti pepatah yang mengatakan, di atas langit masih ada langit.


Li Guan sudah tiba di hadapan para sahabatnya. Mereka masih termangu, para tokoh pilih tanding itu masih saja memikirkan tentang bagaimana cara pemuda serba putih di hadapannya tersebut membunuh Naga Terbang Keenam.


"Kenapa kalian memandangi aku seperti itu?" tanyanya sambil menghentikan langkah tepat di hadapan mereka.


Suara itu ternyata membuyarkan orang-orang tersebut. Mereka langsung tergagap dibuatnya.


"Jurus yang terlampau bagus," puji Huang Pangcu dengan bola mata berbinar-binar.


"Huang Pangcu terlalu memuji," jawab Li Guan sedikit merasa malu.


"Aii, ternyata Tuan Li benar-benar hebat. Seumur hidupmu, belum pernah melihat jurus sedahsyat itu," puji Tiang Bengcu tidak mau ketinggalan.

__ADS_1


"Hampir mirip dengan jurus Pendekar Tanpa Nama di masa kejayaannya dulu," gumam Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma.


Orang tua itu langsung termenung. Dia seperti sedang mengenangkan masa mudanya dulu bersama saudara seperguruannya.


Li Guan kaget sesaat, dia tidak menyangka bahwa guru besar dari Perguruan Rajawali Sakti itu ternyata mengenali jurus yang dia gunakan.


Jurus Antara Ada dan Tiada memang merupakan jurus warisan Pendekar Tanpa Nama, leluhur si Buta Yang Tahu Segalanya. Jurus itu diwariskan khsuus untuk keturunannya yang memang sudah terpilih sebagai penerus. Sayang, dia belum seratus persen menguasai jurus tersebut.


Sekarang dirinya paling baru menguasai Jurus Antara Ada dan Tiasa sekitar delapan puluh persen saja.


Jika delapan puluh persen saja sudah sehebat dan sedahsyat itu, lantas bagaimana kalau Li Guan dapat menguasainya hingga mencapai tahap seratus persen?


Siapapun tidak akan ada yang dapat membayangkan bagaimana jadinya. Kecuali hanya Cio Hong yang dulu sempat menyaksikan bagaimana kehebatan Jurus Antara Ada dan Tiada yang telah mencapai tahap sempurna.


Li Guan tidak menanggapi perkataan Cio Hong, pemuda itu hanya tersenyum simpul ke arahnya.


Pemuda serba putih itu tahu bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas hal-hal seperti demikian. Sebab pertarungan yang lebih menantang dan mendebarkan jantung juga sedang berlangsung.


Di arena pertarungan itu ada Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua.


Menurut dugaan para tokoh yang hadir, tidak ada pendekar yang pantas untuk melawan wanita iblis itu kecuali hanya mereka berdua saja.


Oleh sebab itulah meskipun pertarungan sudah berjalan selama kurang lebih delapan puluh enam jurus dan belum tahu siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal kalah, dari pihak Tionggoan tetap tidak ada yang memberikan bantuannya.


Alasannya karena mereka tidak mau mengganggu konsentrasi dua tokoh muda yang sekarang sedang berjuang keras itu.


Puluh sebesar biji kacang kedelai sudah jatuh menetes. Seluruh tubuh mereka dibasahi oleh keringat. Nafas Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua sedikit tersengal-sengal.


Namun keduanya masih berusaha keras untuk mempertahankan posisinya masing-masing.


Sekarang yang sedang berada dalam posisi menyerang adalah dia si Dewi Cantik Tujuh Nyawa.


Kipas pusaka miliknya dikembangkan kembali. Setelah itu dia segera memberikan kibasan cukup kencang ke arah dua orang lawannya.

__ADS_1


Wushh!!!


Segulung angin dahsyat seperti angin puyuh menderu menerjang ke arah Cakra Buana dan Ling Ling.


Dua orang pendekar muda itu tersentak kaget karena merasakan betapa besarnya hembusan angin yang dihasilkan oleh kipas tersebut. Debu dan ranting pohon menggulung menyatu bersama angin tersebut.


Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua melompat tinggi ke atas. Tubuh keduanya berjumpalitan beberapa kali lalu segera turun melancarkan serangan begitu mereka berhasil menghindari sambaran angin tadi.


Sian-li Bwee Hua tidak menggunakan senjata. Lagi pula dia lebih ahli dalam menggunakan kedua tangannya dari pada menggunakan sebuah pusaka.


Wushh!!!


Kedua telapak tangannya di sentakkan ke depan. Segulung angin yang sama hebat seperti sebelumnya mendadak keluar begitu telapak tangan yang halus itu di sentak.


Hawa sakti bercampur dalam terjangan angin tersebut.


Dewi Cantik Tujuh Nyawa kaget, dia buru-buru menarik tubuhnya lalu segera melompat mundur ke belakang.


"Jangan harap bisa lari wanita iblis!!!" teriak Pendekar Tanpa Nama mulai marah.


Pedang Naga dan Harimau terhunus ke depan. Tubuhnya melesat sangat cepat ke arah pemimpin Organisasi Naga Terbang itu. Tubuh pemuda itu segera lenyap dari pandangan.


Sesaat kemudian, tahu-tahu ujung pedang pusaka miliknya telah tiba di hadapan Dewi Cantik Tujuh Nyawa.


Trakk!!!


Kipas sakti miliknya berhasil mematahkan serangan Pendekar Tanpa Nama.


Wushh!!!


Dewi Cantik Tujuh Nyawa mementalkan pemuda perkasa itu. Namun yang terjadi kemudian tidak sesuai harapan. Bukannya terlempar, Cakra Buana justru malah melejit ke atas lalu segera menukik sambil kembali melancarkan satu tusukan dahsyat seperti sebelumnya.


Kedua orang itu kembali terlibat dalam satu pertarungan sengit. Dentingan nyaring mulai terdengar meramaikan suasana.

__ADS_1


Padahal Pendekar Tanpa Nama sudah mengeluarkan Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Namun sungguh tak disangka, ternyata jurus dahsyat itu masih belum cukup juga untuk membinasakan wanita berjuluk Dewi Cantik Tujuh Nyawa itu.


__ADS_2