Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Jurus Pencabut Nyawa


__ADS_3

Tiga lawan si Buta Yang Tahu Segalanya terpaku sesaat. Bukan hanya mereka, bahkan Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi juga dibuat terpaku.


Kakek tua itu berdiri diam tidak bergerak. Sepasang matanya melotot ke arah Li Guan. Wajah tua itu menampilkan ekspresi cukup terkejut pada saat melihat kejadian yang baru saja terjadi.


Hatinya bergetar. Jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya pada saat menyaksikan Totokan Tanpa Tanding tewas secara mengenaskan.


Dia tokoh tua. Sebagai seorang tokoh tua, apalagi datuk sungai telaga, sudah pasti Tian Hoa mengetahui sampai di mana kemampuan rekannya tersebut.


Totokan orang itu sangat dahsyat. Di kolong langit ini, totokannya paling ampuh dan paling terkenal. Selama puluhan tahun belakangan, tidak banyak orang persilatan yang sanggup melepaskan diri dari serangan totokannya.


Jangankan tokoh kelas satu, tokoh kelas atas seperti dirinya pun belum tentu sanggup menghindarinya.


Selain kemampuannya yang mengerikan, si Totokan Tanpa Tanding juga mempunyai kelebihan lainnya. Serangannya sangat cepat. Lebih cepat dari sambaran elang pada saat mengincar mangsa.


Setiap serangannya dilakukan dengan perhitungan yang amat matang. Setiap totokannya dilancarkan dengan penuh ketepatan.


Tak disangka, seorang pemuda yang namanya bahkan belum amat terkenal, ternyata mampu menghindari serangan si Totokan Tanpa Tanding. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, pemuda itu mampu mendahului serangannya.


Kalau serangan tokoh pilih tanding itu sudah sangat cepat, lantas seberapa cepat serangan si Buta Yang Tahu Segalanya?


Angin berhembus membawa bau amis dari darah empat manusia yang telah terkapar di tanah lapang.


Pendekar Tanpa Nama berdiri di samping arena pertarungan. Pemuda itu memandang pertarungan sahabatnya dengan sangat serius. Tubuhnya tidak bergerak. Matanya juga tampak tidak berkedip.


"Serangan yang sangat cepat," kata si Manusia Kerbau.


"Memang cepat," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Tapi apakah bisa lebih cepat dari kepalan tanganku?"


"Kalau belum dicoba, bagaimana bisa tahu?"


"Baik. Aku akan mencobanya,"


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Tiga sosok manusia kembali bergerak seperti sukma gentayangan. Bayangan meraka tidak terlihat. Tubuh itu lenyap dalam satu lesatan yang amat cepat.


Tiga tokoh menyerang dari tiga sisi berbeda.


Pertarungan dahsyat antara para tokoh kelas atas kembali dilanjutkan.


Si Buta Yang Tahu Segalanya masih berdiri dengan tenang. Walaupun pemuda itu tahu bahwa dirinya telah dikurung oleh tiga serangan dahsyat, namun dirinya masih terlihat sangat tenang. Wajah itu masih kalem. Sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut ataupun ngeri.

__ADS_1


Si Manusia Kerbau menyerang dari arah depan. Sepasang tangan bertenaga sangat kuat itu telah mengepal keras. Saking kerasnya sampai-sampai urat hijau di tangan itu terlihat.


Tubuhnya merunduk ke depan dengan deras seperti luncuran anak panah. Orang itu sangat persis seperti seekor kerbau yang sedang marah besar.


Kalau seekor kerbau sedang marah, pasti wajahnya berubah bengis. Matanya melotot dan dia akan menyeruduk ke depan tanpa menoleh ke samping kiri ataupun kanan.


Begitu pula dengan lawan Li Guan sekarang. Orang itu sangat mirip dengan seekor kerbau yang sedang marah besar. Bahkan karena alasan itu juga dirinya dijuluki si Manusia Kerbau.


Wushh!!!


Angin tajam datang menderu menyambar sahabat dari Pendekar Tanpa Nama. Hawa panas menyelimuti tempat tersebut.


Si Buta Yang Tahu Segalanya bergerak.


Tubuhnya mendadak menghilang dari pandangan mata. Sosok berpakaian putih berkelebat seperti kilat yang menyambar di tengah hari.


Plakk!!! Pyarr!!!


Tangan kanan si Buta Yang Tahu Segalanya bergerak dengan kecepatan cahaya. Saking cepatnya sampai-sampai menciptakan satu gurat putih yang menawan.


Darah menyembur deras. Pecahan tengkorak manusia berhamburan ke segala arah. Darah yang menyembur itu membasahi sedikit pakaian si Buta Yang Tahu Segalanya.


Satu korban kembali jatuh. Si Manusia Kerbau menjadi korban paling utama.


Sebuah gerakan yang teramat sangat cepat. Sebuah serangan dahsyat yang mengerikan telah dilancarkan.


Jurus Langkah Dewa Naga dilancarkan. Sasaran serangannya sekarang adalah si Tua Bangka Langkah Petir.


Kalau orang tua itu mempunyai langkah kaki yang cepat bagaikan petir, maka Li Guan memiliki serangan secepat kedipan mata.


Kecepatan dilawan dengan kecepatan.


Dua bayangan manusia bertemu di tengah jalan. Sebuah tamparan keras dilayangkan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya. Tangan kanannya sangat kuat, lebih kuat dari apapun.


Kalau batu besar saja bisa hancur, bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau tamparan itu mengenai wajah manusia.


Duarr!!!


Keduanya terlempar ke belakang cukup jauh.


Si Cakar Beracun tiba tepat pada saat Li Guan terlempar. Dia langsung melayangkan jurus beracun miliknya yang jarang menemui tandingan. Dua tangan itu dilayangkan dengan gerakan kilat.


Si Buta Yang Tahu Segalanya berada dalam posisi yang tidak diuntungkan. Dia ingin menyerang kembali agar bisa mencabut nyawa si Tua Bangka Langkah Petir dengan segera, sayangnya serangan lawan yang satu lagi telah tiba.

__ADS_1


Oleh sebab itu, mau tak mau pemuda tersebut harus mengubah sasarannya.


Si Cakar Beracun menjadi sasarannya yang sekarang.


Li Guan menjejakkan kakinya ke udara. Tubuhnya melesat ke depan. Jurus pamungkas miliknya keluar.


Jarang sekali dia mengeluarkan jurus tersebut. Jurus itu sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari apapun.


Dia menamakannya Jurus Pencabut Nyawa.


Sesuai dengan namanya. Kalau jurus itu keluar, sudah pasti bakal ada nyawa yang melayang.


Wutt!!! Bukk!!!


Suara amat keras terdengar. Si Cakar Beracun terpental sepuluh langkah. Tubuh itu jatuh tersungkur ke tanah dengan posisi telungkup. Darah segar keluar dengan deras dari mulutnya.


Tubuhnya langsung diam tidak bergerak. Sedikitpun tidak bergerak.


Organ dalam si Cakar Beracun telah hancur. Pembuluh darahnya juga pecah. Dia tewas tanpa sempat mengeluarkan suara apapun.


Kejadian tersebut tidak terlepas dari pandangan mata si Tua Bangka Langkah Petir. Begitu melihat rekannya tewas dalam kondisi menyedihkan, nyalinya mendadak ciut saat itu juga.


Keinginan untuk bertarung mendadak lenyap entah ke mana. Tubuhnya bergetar cukup keras. Keringat dingin dan peluh sebesar biji kacang kedelai telah menetes beberapa kali dari kedua pelipisnya.


Dia mendadak memutar tubuhnya ke belakang. Si Tua Bangka Langkah Kilat berniat untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Dia masih ingin hidup lebih lama lagi. Orang tua itu belum mau mati.


Memangnya, siapa yang ingin mati sebelum tiba waktunya?


Tapi yang jadi pertanyaan, apakah benar dia sanggup melarikan diri dari kematian?


Wuttt!!!


Sekelebat bayangan putih melesat secepat kilat menyambar bumi.


Brakk!!!


Satu tubuh terlempar keras. Tubuh itu meluncur ke bawah menabrak sebatang pohon besar.


Pohonnya hancur, tubuh itu pun ikut hancur. Seluruh tulang ditubuhnya remuk. Nyawanya langsung melayang saat itu juga.


Tiga rangkaian kejadian ini berlangsung dengan cepat. Jangankan orang lain, si Iblis Tua Langit Bumi sendiri merasa sangat terpukau atas kejadian tersebut.


Orang tua itu sangat terperanjat saking kagetnya.

__ADS_1


__ADS_2