Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Senyuman Perpisahan


__ADS_3

Ujung pedang itu lewat setengah buku jari di pinggir Cakra Buana. Pendekar Pedang Tanpa Bayangan sedikit terkejut, dia tidak pernah menyangka bahwa pemuda itu ternyata mampu menghindari serangannya yang terkenal mematikan.


Selama ini, dia sudah tidak menemukan lagi lawan setimpal. Permainan pedang yang sudah dia kuasai telah mencapai tahap sempurna. Alasan dirinya dijuluki Pendekar Pedang Tanpa Bayangan karena sesuai dengan kenyataannya.


Saat dia bergerak dengan pedangnya, siapa pun tidak ada yang sanggup untuk melihatnya. Saat orang tua tersebut menggerakan sebatang pedang, maka pedang yang dia pegang seolah tidak memiliki bayangan.


Meskipun hanya sebatang pedang biasa, namun jika sudah berada di tangannya, pedang tersebut bisa berubah menjadi sebilah pedang pusaka. Pedang pusaka yang dapat menghancurkan segalanya.


Jika seorang pendekar pedang memegang sebatang pedang, maka kedahsyatannya jangan ditanyakan lagi.


Pertarungan kedua tokoh kelas atas tersebut masih berlangsung. Semakin lama malah semakin sengit lagit.


Cakra Buana tidak lagi mengeluarkan 3 Jurus Pedang Kilat. Pendekar Tanpa Nama lebih memilih untuk mengeluarkan Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk.


Sebuah jurus dahsyat yang sangat mengerikan. Puncak dari ilmu pedang yang dia pelajari. Intisari dari tiga jurus berbahaya warisan Pendekar Tanpa Nama.


Kalau pemuda itu sudah mengeluarkan jurus mengerikan itu, apakah Pendekar Pedang Tanpa Bayangan masih mampu bertarung melawannya?


Pendekar Tanpa Nama kembali bergerak. Untuk yang kesekian kalinya, dia menerjang Pendekar Pedang Tanpa Bayangan dengan ganas.


Pedang Naga dan Harimau melesat memberikan satu tusukan yang amat cepat. Gerakannya tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Bahkan lawannya sendiri tidak sanggup melihatnya dengan jelas.


Kalau Pendekar Pedang Tanpa Bayangan yang merupakan pendekar pedang pilih tanding saja tidak sanggup melihat serangan tersebut, apalagi orang lain?


Sinar merah berkelebat seperti meteor yang jatuh ke bumi. Dentingan nyaring beberapa kali terdengar menggema. Selama perjalanannya di Tionggoan, baru kali ini saja Pendekar Tanpa Nama menemukan lawan yang sanggup menahan Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk untuk beberapa gebrakan.


Sembilan bagian tenaga dalam langsung dia kerahkan. Pedang Naga dan Harimau lenyap bagaikan ditelan bumi. Desiran angin tajam terasa merobek kulit.


Pendekar Pedang Tanpa Bayangan seperti orang kebingungan. Dia tidak sanggup menebak ke mana arah serangan Cakra Buana.


Benturan dua macam senjata tajam bertemu lagi. Namun hanya sesaat, hanya sekelebat, karena detik selanjutnya benturan itu tidak terlihat lagi. Sinar merah dan sinar hitam tidak nampak lagi.

__ADS_1


Semuanya menghilang. Semuanya lenyap ditelan kegelapan malam yang semakin menyelimuti bumi.


Darah segar mendadak menyembur. Ujung Pedang Naga dan Harimau telah menembus batok kepala Pendekar Pedang Tanpa Bayangan.


Seumur hidupnya, orang tua tersebut tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan mampus di tangan seorang pendekar muda.


Namun meskipun begitu, dia tidak menyesal sama sekali. Pendekar Pedang Tanpa Bayangan justru merasa bangga. Dia sangat-sangat bangga karena bisa tewas di tangan seorang pendekar yang satu aliran dengannya.


Sesama pendekar pedang, apalagi pendekar pendekar pedang pilih tanding, bisa tewas di tangannya adalah suatu kebanggaan tersendiri. Hal itu merupakan pencapaian yang belum tentu bisa dicapai oleh setiap pendekar pedang lainnya.


Akhirnya cita-cita awal dapat terwujud. Pendekar Pedang Tanpa Bayangan mempunyai mimpi agar bisa tewas di ujung pedang lawan yang setara dengannya, dan impian itu, sekarang benar-benar terjadi.


Darah segar telah memenuhi mulutnya. Rasa perih yang teramat sangat sudah menjalar ke seluruh tubuh tua renta itu. Kepalanya terasa mau pecah.


Tapi Pendekar Pedang Tanpa Bayangan tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan sedikitpun. Dia justru memperlihatkan ekspresi kebahagiaan.


Orang tua itu tersenyum. Senyuman hangat, seperti senyuman seorang sahabat kepada sahabatnya sendiri. Senyuman itu sangat berlawanan dengan senyuman yang dia berikan sebelumnya.


Cakra Buana tersenyum. Meskipun Pendekar Pedang Tanpa Bayangan tidak membicarakan dengan jelas, tapi pemuda itu sudah tahu alasan di balik perkataan tersebut.


"Karena itu, beristirahatlah dengan tenang," jawab Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum pula.


Pendekar Pedang Tanpa Bayangan membalas senyuman tersebut. Senyuman hangat, senyuman perpisahan.


Apakah senyuman perpisahan selalu menyedihkan? Apakah senyuman perpisahan selalu terasa menyesakkan?


Orang tua itu ambruk bersamaan dengan jatuhnya pedang yang digenggam di tangan kanan.


Jika seorang pendekar pedang telah menjatuhkan pedangnya, maka itu artinya dia telah tewas.


Pedang jatuh, maka nyawa pun melayang.

__ADS_1


Ungkapan ini terbukti sekarang. Saat suara jatuhnya pedang berhenti, saat itu juga Pendekar Pedang Tanpa Bayangan menghembuskan nafas terakhir.


Angin berhembus kembali. Jubah merah Pendekar Tanpa Nama tertiup semilir angin yang membawa hawa dingin tersebut.


Pemuda itu masih berdiri. Cakra Buana belum pergi dari sana. Sepasang matanya masih memandangi tubuh yang kini sudah tanpa nyawa itu.


Dia tidak ingin pergi. Dia juga tidak akan mau pergi. Apalagi jika di sana sudah cukup banyak orang yang hadir.


"Kalau kalian sudah datang, kenapa masih bersembunyi seperti itu? Kenapa tidak menunjukkan diri dan membuktikan bahwa kalian bukan pengecut?"


Suara Pendekar Tanpa Nama terdengar tegas dan berwibawa. Setiap kata yang diucapkan sedikit ditekan supaya menambah keseraman di dalamnya.


Baru saja ucapan Cakra Buana selesai, dari berbagai penjuru semak-semak mendadak keluar beberapa sosok tubuh.


Mereka berlompatan secara bergantian. Hanya sesaat, tempat yang sudah sepi itu mendadak ramai kembali.


Jumlah yang datang itu tidak kurang dari lima belas orang. Sekalipun terbilang sedikit, namun mereka yang datang merupakan tokoh kelas atas sungai telaga.


Bahkan beberapa orang di antara mereka merupakan ketua dari berbagai macam perguruan yang ada di sekitar tempat tersebut.


Cakra Buana sedikit terkejut. Ternyata sejak tadi sudah hadir banyak orang. Sayangnya karena terlalu fokus dengan pertarungan, Pendekar Tanpa Nama tidak dapat merasakan kehadiran para tokoh tersebut.


Baru setelah pertarungannya dengan Pendekar Pedang Tanpa Bayangan selesai, dirinya dapat merasakan kehadiran orang-orang itu.


Di antara lima belas tokoh yang hadir tersebut, ada satu orang tokoh yang membuat tubuh Pendekar Tanpa Nama bergetar hebat.


Tokoh itu adalah orang yang dia cari selama ini. Pendekar Tanpa Nama memang berniat mencarinya setelah menyelesaikan pertarungan dengan Pendekar Pedang Tanpa Bayangan. Tak disangka, sekarang orang tersebut malah datang sendiri tanpa harus susah payah mencari.


Lima belas tokoh itu berdiri dengan tenang. Untuk beberapa saat lamanya, belum ada yang bicara di antara mereka.


Lima belas pasang mata terus memperhatikan dirinya. Begitu juga dengan pemuda itu, dia sendiri tetap mengawasi orang-orang yang hadir tersebut.

__ADS_1


Sepasang mata Cakra Buana memancarkan satu sinar tajam. Sinar itu seolah dapat menembus batu besar sekalipun.


__ADS_2