Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Membalaskan Dendam


__ADS_3

Jawaban Sian-li Bwee Hua singkat. Tapi ternyata jawaban itu sangat mengejutkan bagi pihak organisasi gelap tersebut.


Dewi Cantik Tujuh Nyawa, bahkan termasuk enam anggota lainnya, semuanya menatap tajam ke arah wanita yang tidak kalah cantiknya tersebut.


Enam pasang mata menatap dengan tatapan tajam penuh hawa pembunuhan. Namun walaupun ditatap oleh beberapa pasang mata yang tajamnya melebihi sambilu, Sian-li Bwee Hua masih terlihat tenang. Sedikitpun wajahnya tidak terlihat takut atau gentar.


"Di mana Naga Terbang Ketiga yang asli?" tanya Dewi Cantik Tujuh Nyawa lebih lanjut lagi.


"Dia sudah mati,"


Semua anggota Organisasi Naga Terbang kembali dibuat terkejut untuk yang kesekian kalinya. Tiga kata yang baru saja diucapkan oleh Sian-li Bwee Hua benar-benar membuat mereka kaget.


Satu orang anggota mereka mati? Kenapa dia bisa mati? Apa penyebabnya dan siapa pembunuhnya?


Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri di dalam benak mereka. Dewi Cantik Tujuh Nyawa marah, yang lainnya juga marah. Pun, mereka juga merasa penasaran.


"Kau tidak berbohong?"


"Kalau aku berbohong, bagaimana mungkin aku bisa menyamar dan masuk dalam anggota kalian?"


Benar juga, kalau wanita itu berbohong, bagaimana mungkin dia bisa menempati posisi Naga Terbang Ketiga? Tentunya tidak mungkin bukan?


"Hemm, siapa yang membunuh Naga Terbang Ketiga?"


"Aku,"


"Atas dasar apa kau membunuhnya?" tanya Dewi Cantik Tujuh Nyawa semakin penasaran.


Sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan, Sian-li Bwee Hua tampak menghela nafas beberapa kali. Seperti ada beban berat yang sedang dia tanggung di pundaknya. Beratnya mungkin melebihi batu besar.


"Karena ingin membalaskan dendam …" jawab Dewi Bunga Bwee dengan suara dalam.


Bibirnya bergetar. Kedua lengannya mengepan dengan kencang. Sepasang lengan yang halus itu terlihat mengeluarkan urat-urat hijau.


"Balas dendam? Apa maksudmu? Katakan yang sebenarnya sekarang juga agar semuanya menjadi jelas," perintah Dewi Cantik Tujuh Nyawa sedikit membentak.


Dia tidak suka terhadap orang yang bicara berliku-liku. Wanita pemimpin Organisasi Naga Terbang itu lebih suka kepada orang yang langsung bicara kepada inti persoalan.


"Kau masih ingat dengan orang bernama Huo Jin yang berjuluk Pendekar Baju Biru?" tanya Sian-li Bwee Hua.

__ADS_1


"Aku masih ingat,"


"Bagus, berarti kau juga masih ingat bukan saat dirimu dan orang-orangmu menyerang serta menyiksa Pendekar Baju Biru karena masalah Kitab Tapak Pencabut Nyawa. Tragedi itu terjadi enam tahun lalu ketika di sebuah kedai arak, kau ingat tidak?" tanyanya sedikit membentak.


"Masih ingat juga," jawab cepat Dewi Cantik Tujuh Nyawa.


"Kau tidak lupa dengan anak gadis yang pada saat itu dibawa oleh Pendekar Baju Biru?"


"Tidak, semua tentang kejadian itu aku masih mengingatnya dengan jelas. Katakan saja sekarang, siapa kau sebenarnya?" tanya Dewi Cantik Tujuh Nyawa mulai tidak sabar.


"Hahaha … rupanya kau orang yang tidak sabaran," ucap Dewi Bunga Bwee. Setelah menghela nafas, dia segera melanjutkan kembali ucapannya, "Ketahuilah, aku gadis kecil yang saat itu menangis melihat apa yang kalian lakukan di kedai arak tersebut. Aku juga gadis kecil yang sempat kalian lemparkan ke meja makan hingga pingsan. Asal kalian tahu, Pendekar Baju Biru itu adalah Ayahaku. Aku anak tunggalnya, beberapa tahun belakangan ini dia menderita di ruang bawah tanah Perkampungan Raja Harimau akibat kekejaman kalian dan si tua bangka Poh Kuan Tao," sampai sini Sian-li Bwee Hua berhenti sejenak.


Wanita cantik itu seperti sedang mengumpulkan kekuatan sebelum melanjutkan perkataannya.


Sedangkan di sisi lain, semua orang pendekar Tionggoan kini menatap tajam ke arah Harimau Sakti Tiada Tanding itu. Terlebih lagi mereka para sahabat Pendekar Tanpa Nama.


Ternyata orang tua itu ikut terseret dalam masalah sekarang.


"Dan sekarang dia telah mati, semua itu gara-gara kalian," teriak Sian-li Bwee Hua.


Suasana langsung hening. Tiada yang bicara walau satu orang sekalipun. Cerita Sian-li Bwee Hua belum sepenuhnya selesai. Tapi meskipun begitu, semua orang sedikit banyaknya sudah mengerti alasan wanita itu menyamar jadi anggota Organisasi Naga Terbang.


Karena alasan itulah dia membunuh Naga Terbang Ketiga lalu menyaru sebagai dirinya.


"Dia sudah mati?" tanya Dewi Cantik Tujuh Nyawa memastikan.


"Ya, dia sudah mati,"


"Kenapa?"


"Karena tugasnya sudah selesai,"


"Hemm, sekalipun kau ingin membalas dendam, kekuatanmu tetap belum cukup," ejek wanita itu.


"Benarkah?"


"Aku tidak berbohong. Dengan kekuatanmu yang sekarang, kau hanya akan mengantarkan nyawamu sendiri,"


"Meskipun aku sudah mendapatkan Kitab Tapak Pencabut Nyawa dan telah menguasainya dengan sempurna?"

__ADS_1


Semua anggota Organisasi Naga Terbang terbelalak kaget. Begitu juga dengan semua tokoh yang hadir di sana. Tidak ada yang tidak terkejut di antara mereka.


"Ja-jadi, kau sudah berhasil menemukan kitab itu dan telah selesai mempelajarinya?"


"Benar sekali," jawab Ling Ling tersenyum sinis.


Orang-orang yang ada di padang rumput Gunung Hua Sun membelalakan matanya. Nama Kitab Tapak Pencabut Nyawa pernah didengar oleh setiap pendekar. Kitab itu dikabarkan merupakan rangkaian jurus tapak yang tiada tanding.


Menurut cerita orang, kitab tersebut diciptakan oleh seorang pendekar ternama di masa lalu pada masa kejayaannya.


"Bahkan Ginseng Seribu Tahun pun sudah berhasil didapatkan," kata Ling Ling lebih lanjut lagi.


Suara para tokoh yang berbincang dengan rekannya sendiri segera terdengar riuh. Sekarang mereka percaya bahwa ucapan si Buta Yang Tahu Segalanya beberapa saat lalu ternyata benar.


"Keparat jahanam!!! Jangan bicara lagi!!! Lebih baik kau segera mampus saja!!!" teriak si Naga Terbang Pertama yang sudah tidak tahan lagi mendengar semua ucapan Sian-li Bwee Huaa.


Wushh!!!


Satu tusukan tajam yang sangat cepat langsung dilancarkan oleh orang tersebut. Angin bergemuruh membawa hawa kematian terasa begitu jelas oleh setiap insan yang ada di sana.


Tusukan si Naga Terbang Pertama bukan tusukan biasa. Sebab itulah jurus pamungkasnya yang jarang dikeluarkan.


Tusukan Maut Dari Kegelapan!!!


Sebuah jurus sesat yang mengandung perbawa iblis. Sebuah jurus dahsyat yang sulit mencari tandingannya.


Selama ini, Naga Terbang Pertama selalu mengandalkan jurus itu kalau posisinya benar-benar terdesak. Dan kalau jurus tersebut sudah dilancarkan, siapapun lawannya pasti akan mati di ujung pedangnya.


Lalu apakah hal tersebut akan berlaku sekarang ini?


Trangg!!!


Debu mendadak mengepul tinggi ke atas. Suara nyaring begitu menggelegar memekakkan telinga setiap orang yang menyaksikan kejadian tersebut.


Tiada seorangpun yang berani ikut campur. Bahkan si Dewi Cantik Tujuh Nyawa sekalipun hanya diam sambil memperhatikan dengan seksama.


Dentingan nyaring tidak terdengar lagi. Pertarungan pun tidak berlanjut.


Sian-Li Bwee Hua masih tetap diam di posisinya. Wajahnya sedikit terkejut, tapi dia tidak terlihat terluka. Sama sekali tidak.

__ADS_1


Yang terjadi justru sebaliknya. Seluruh tubuh si Naga Terbang Pertama bergetar hebat. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia alami saat ini.


__ADS_2