
"Hahaha … sejak kapan kalian menjadi galak seperti harimau betina?" sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Suara itu tidak asing lagi bagi Cakra Buana dan Huang Pangcu. Andai kata mata mereka mendadak buta, keduanya tetap mengenal siapa pemilik suara tersebut.
Wushh!!!
Angin berdesir cukup kencang disusul kemudian satu sosok yang sudah berdiri di hadapan keduanya.
Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Pemuda itu masih tampan. Masih humoris dan masih tampak hangat.
Dia berjalan santai dengan guci arak yang harum di tangannya.
Cakra Buana dan Huang Pangcu diam di tempatnya berdiri. Mereka sama sekali tidak menyambut kedatangan sahabat baiknya tersebut. Jangankan begitu, tersenyum pun tidak.
Persahabatan mereka bertiga bisa dibilang unik. Saat tidak bertemu, mereka akan saling merindukan. Namun saat sudah berjumpa, biasanya masing-masing dari mereka akan tampak acuh seperti orang asing.
Itu bagi pandangan orang lain. Tapi bagi ketiganya, lain lagi ceritanya.
Li Guan duduk tepat di depan mereka bertiga. Dia asyik menenggak guci arak yang digenggam. Sedikitpun belum bersuara lagi.
Angin berhembus semakin kencang. Bunga bwee mulai gugur membawa bau harum yang khas. Keadaan semakin ramai seiring berjalannya waktu.
"Sejak kapan kau tiba di sini?" tanya Pendekar Tanpa Nama kepada si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Sebelum kalian tiba, aku lebih dulu tiba,"
"Kenapa kau tidak mencariku sejak beberapa hari lalu?"
"Aku tidak ingin berjumpa denganmu bila kau sendiri belum bertemu sengan Huang Pangcu,"
"Sekarang aku sudah bertemu,"
"Karena itulah aku menampakkan diri," jawab Li Guan singkat.
Huang Mei Lan memperhatikan pemuda yang baru datang itu. Dia seperti pernah berjumpa dengan orang itu. Dan memang benar, dia pernah melihatnya beberapa kali di markas cabang Kay Pang Pek. Hanya saja dirinya tidak terlalu akrab sehingga belum pernah bicara sepatah katapun.
"Bukankah ini Nona Mei Lan?" tanya Li Guan sambil melirik ke arah Mei Lan.
__ADS_1
"Benar, senang bisa bertemu dengan Tuan Li kembali," jawab gadis itu lemah lembut.
"Terimakasih, lama tidak berjumpa, Nona Mei Lan ternyata bertambah cantik saja," ujarnya sambil tersenyum menggoda.
Mei Lan tidak menjawab. Dia langsung menundukkan kepalanya karena merasa malu. Sepasang pipinya tampak memerah.
"Ehemm …" Cakra Buana tiba-tiba berdehem sangat keras. Matanya melirik tajam ke arah si Buta Yang Tahu Segalanya.
Pemuda yang merupakan keturunan Pendekar Tanpa Nama itu malah tertawa. Bahkan suara tawanya terdengar nyaring karena saking gembiranya. Setiap sahabat Cakra Buana, mereka pasti akan gembira kalau sudah mengerjai pemuda Tanah Pasundan itu.
Berbarengan dengan itu, Huang Pangcu juga tertawa lantang. Keduanya tertawa, sedangkan Cakra Buana hanya diam saja.
"Kalau sampai dia jatuh ke tanganmu, aku tidak akan segan untuk memenggal kepalamu," bisi pemuda kepada Li Guan.
"Kalau dia maunya kepadaku, memangnya apa yang dapat kau lakukan?" bisik kembali Li Guan tidak mau kalah.
"Hahaha, sudah, sudah. Setiap bertemu, kalian selalu bertengkar. Tapi kalau tidak brtemu, kalian selalu saling merindukan," ucap Huang Pangcu menengahi kedua pemuda tampan dan gagah itu.
Keduanya langsung terdiam. Mereka bersulang arak beberapa kali, sedangkan Mei Lan hanya duduk sambil memperhatikan keakraban ketiga pria tersebut.
Suasana di sana hening untuk sesaat. Orang-orang itu terdiam, entah apa yang sedang mereka pikirkan.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Huang Pangcu kepadanya.
"Aku sedang memikirkan pertemuan yang akan berlangsung beberapa hari lagi,"
"Kau memikirkan apa rencana Organisasi Naga Terbang?"
"Benar," Jawa Cakra Buana membenarkan ucapan Huang Pangcu.
Huang Pangcu mendadak bungkam. Dia pun tiba-tiba memikirkan hal yang sama. Datuk rimba hijau itu membayangkan sesuatu paling mengerikan. Kalau sampai rencana organisasi rahasia itu berhasil, dapat dibayangkan bagaimana hancurnya dunia persilatan.
Li Guan ingin bicara menjelaskan tentang informasi yang dia dapatkan terkait Organisasi Naga Terbang, namun sebelum keinginannya terlaksana, Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba berdiri siap siaga.
"Pergi dari sini sekarang. Tunggu aku di restoran terbesar, nanti aku akan kembali lagi," kata Cakra Buana dengan raut wajah serius.
Tepat pada saat itu, dirinya langsung menjejakkan kakinya ke tanah lalu meluncur ke depan dengan deras.
Wushh!!!
__ADS_1
Cahaya merah melesat ke depan dalam kecepatan sangat tinggi. Hanya beberapa saat saja tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.
Beberapa saat kemudian, Pendekar Tanpa Nama telah berhenti. Pemuda itu berdiri dengan gagah di tengah hutan belantara yang terdapat di sekitaran wilayah Gunung Hua Sun.
Jubah merahnya berkibar karena tertiup angin. Caping dari anyaman bambu yang belakangan ini selalu dia pakai telah dilepaskan.
Sekarang telah terlihat jelas sosoknya. Saat ini siapapun bakal tahu bahwa dialah Pendekar Tanpa Nama yang sedang dicari-cari oleh umat persilatan.
Sepasang matanya menatap tajam ke sekeliling tempat tersebut. Dia tidak bicara sepatah katapun. Pemuda itu tetap diam tanpa bergerak seperti sebuah patung.
"Hahaha … ternyata kau punya nyali," sebuah suara tiba-tiba terdengar.
Suara itu sangat jelas dan nyaring. Suara tersebut juga mengandung getaran tenaga dalam, seolah seisi hutan dipenuhi oleh suara itu.
"Siapapun tidak boleh mengganggu orang-orang yang ada di sekitarku. Sekarang aku telah datang kemari, kenapa kau tidak segera muncul?" jawab Pendekar Tanpa Nama dengan dingin.
"Hemm, baik, baik. Aku akan muncul sekarang,"
Wushh!!!
Semilir angin berhembus kencang. Suasana di sana mendadak riuh untuk beberapa saat. Selanjutnya, di sekeliling Pendekar Tanpa Nama sekarang tiba-tiba dipenuhi oleh tujuh tokoh kelas atas dunia persilatan. Satu sosok tua memimpin ketujuh sosok tersebut.
Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi.
Dialah yang memimpin beberapa orang tersebut. Mulutnya menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.
Untuk diketahui, alasan tadi Cakra Buana secara tiba-tiba melesat adalah karena dirinya mendapat tantangan sekaligus ancaman yang dikirimkan oleh Tian Hoa melalui ilmu mengirimkan suara jarak jauh.
Datuk dunia persilatan itu menantang Pendekar Tanpa Nama dengan alasan ingin bertarung dan membereskan masalah di antara keduanya yang terjadi beberapa waktu silam. Selain itu, Tian Hoa juga mengancam kalau dirinya tidak berani, maka Mei Lan akan menjadi gantinya.
Pendekar Tanpa Nama yang mengetahui sampai di mana kekuatan orang tua itu sedikit terkejut. Kalau yang bicara kepadanya tadi bukan si Iblis Tua Langit Bumi, mungkin dia tidak akan khawatir.
Tapi kalau dia yang bicara, maka ceritanya lain lagi.
Cakra Buana sangat yakin saat orang tua itu berani berkata, maka dia mampu membuktikannya.
Sebagai datuk dunia persilatan, tentunya Tian Hoa sanggup melakuka apapun. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, kakek tua itu sanggup melakukannya.
"Kau berusaha membunuhku dengan mengandalkan kekuatan orang-orang ini?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil menatap semua tokoh yang ada di sana.
__ADS_1