Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Lin An


__ADS_3

Hari sudah terang tanah.


Saat ini Cakra Buana sedang berada di sebuah desa yang cukup ramai. Pendekar Tanpa Nama berjalan di tengah kerumunan para warga yang akan menjalankan aktivitas mereka masing-masing.


Pemuda itu berdesak-desakan di antara kerumunan tersebut.


Entah apa nama desa itu. Entah di mana pula dia saat ini. Baginya, berada di mana atau di desa apa, semuanya sama saja.


Pendekar Tanpa Nama kemudian memasuki sebuah kedai makan yang ada di sana. Dia ingin melangsungkan sarapan pagi. Sudah beberapa hari ini dirinya tidak bisa makan dengan nikmat.


Cakra Buana berjalan ke pojok meja yang masih kosong, tapi sebelum itu, sepasang matanya melihat satu sosok. Satu sosok yang telah dia kenali. Sebab satu sosok itu pernah bertemu dengannya. Bahkan sosok tersebut pernah menyelamatkan nyawanya.


Sosol itu adalah si gadis yang pernah memberikan obat penawar saat dirinya berada di Perguruan Bawah Tanah.


Pendekar Tanpa Nama memutuskan untuk menghampiri dirinya.


"Tidak perlu sungkan, duduklah," belum sempat Cakra Buana buka suara, gadis itu telah bicara lebih dulu.


Pendekar Tanpa Nama tersenyum, dia langsung duduk saat itu juga.


Seorang pelayan kemudian menghampiri dirinya. Pemuda itu segera memesan menu sarapan sekaligus satu guci arak wangi.


"Namaku Lin An," kata gadis tersebut tiba-tiba memperkenalkan diri.


Cakra Buana tersenyum lagi. Entah apa yang harus dia katakan, yang jelas dirinya baru bertemu dengan seorang gadis yang tidak pemalu seperti ini.


Padahal biasanya, gadis manapun itu, biasanya mereka mempunyai sifat yang sama, yaitu pemalu. Tapi gadis yang ada di hadapannya saat ini, dia tidak malu sama sekali.


Apakah itu artinya gadis tersebut sudah sering berhadapan dengan seorang pria asing?


"Namaku Cakra Buana, kenapa Nona Lin bisa berada di sini?" tanya Cakra Buana untuk menghilangkan keheningan.


"Aku sedang menunggumu," jawabnya sambil tersenyum lembut.


"Oh? Benarkah?"


"Tentu saja, karena aku tahu kau ingin bicara kepadaku,"


Cakra Buana mengangguk. Sebenarnya dia merasa sedikit kebingungan, tapi pemuda itu tidak ingin berpikir yang bukan-bukan.


"Aku memang ingin bicara. Aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada Nona Lin karena sudah menyelamatkanku saat berada di Perguruan Bawah Tanah. Kalau bukan karena pertolonganmu, mungkin sekarang aku sudah menjadi mayat. Entah dengan cara bagaimana aku bisa membalas budi baik ini," ujar Pendekar Tanpa Nama.

__ADS_1


Lin An tersenyum hangat. Meskipun kecantikannya masih berada di bawah Yiu Fang, tetapi senyumannya bisa di setarakan. Senyuman itu sungguh hangat, juga lembut.


Sekalipun seorang pria angkuh berada di hadapannya, bohong kalau pria itu tidak akan tergoda dengan senyuman tersebut. Senyuman itu benar-benar bisa menarik sukma seorang pria.


Senyuman seorang wanita memang berbahaya. Apalagi wanitanya sangat cantik. Jika kau pria sedang berhadapan dengan seorang wanita, lalu kau bisa bertahan dari senyumannya, berarti kau merupakan pria tangguh.


Dari dulu hingga sekarang, mungkin hanya sedikit kejadian di mana seorang pria yang mampu bertahan dari senyuman wanita cantik.


Senyuman wanita ibarat senjata paling berbahaya. Karena hanya dengan senyumannya, terkadang seorang wanita bisa mendapatkan segalanya.


Sebahaya itukah senyuman seorang wanita cantik?


"Kau tidak perlu membalas apapun. Hal itu sudah menjadi kewajibanku untuk menyelematkanmu,"


"Aku tidak mau seperti itu, bagaimanapun juga, aku harus membalas kebaikanmu,"


Lin An mendadak tersenyum genit. Sepasang matanya mengerling sekejap.


"Baiklah kalau begitu, aku ingin senja nanti kau temani aku menikmati keindahan matahari terbenam," pinta Lin An.


"Baik, aku setuju," jawab Cakra Buana tanpa perlu berpikir panjang lagi.


Menemani seorang gadis cantik yang ingin menikmati matahari terbenam, apalagi yang harus dia pikirkan?


Pesanan Cakra Buana dan Lin An sudah datang. Keduanya segera menyantap makanan tersebut dengan lahap.


###


Sore hari telah tiba.


Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, sekarang Cakra Buana akan menemani Lin An menikmati keindahan matahari terbenam.


Gadis itu mengajak Pendekar Tanpa Nama naik ke sebuah bukit. Bukit yang indah dengan segala pemandangan alamnya. Bukit yang asri dengan segala kenyamanannya.


Lin An membawa Cakra Buana untuk duduk di sebuah batu hitam besar yang rata. Bentuknya hampir mirip seperti meja. Meskipun batu itu tidak benar-benar rata, namun setidaknya cukup nyaman jika digunakan untuk tidur.


Sinar kemerahan menyorot dua sosok manusia berlawanan jenis tersebut. Semilir angin berhembus membawa harum bunga mekar dari dalam hutan.


Keduanya duduk berdampingan. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang terbuai dengan keindahan yang ada.


"Pemandangan yang sangat indah," gumam Lin An sambil tetap memandangi keindahan matahari terbenam.

__ADS_1


"Benar-benar indah. Seperti juga dirimu. Kau seperti matahari terbenam, memberikan kehangatan, memberikan kenyamanan, dan memberikan keindahan," puji Cakra Buana sambil memandangi wajahnya sekilas.


Mendapat pujian seperti itu, tanpa terasa kedua pipi Lin An bersemu merah. Dia langsung meraba sepasang wajahnya dengan telapak tangan yang putih nan lembut.


"Ternyata kau pria penggoda," katanya gemas.


"Setiap pria pasti suka menggoda wanita,"


"Tapi tidak semua pria seperti itu,"


"Memang tidak semua. Tapi setiap pria hampir sama,"


"Dari mana kau tahu?"


"Karena aku seorang pria,"


Cakra Buana mendadak merangkul Lin An. Gadis itu sendiri tidak melawan. Dia malah membalas rangkulan hangat tersebut.


Keduanya berpelukan. Pelukan yang mesra, seperti sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa.


Detik selanjutnya, silahkan tebak menurut pikiran masing-masing.


Tanpa terasa, matahari hampir menghilang ditelan kegelapan. Keduanya berada dalam posisi telentang.


Lin An mendadak bangun dengan cepat. Wajahnya memperlihatkan kepanikan, keringat sebesar biji kacang kedelai mengucur dari keningnya. Dia merapikan rambut dan pakaian lali segera pergi dari sana.


Gadis itu pergi tanpa bicara sepatah kata pun. Dia sama sekali tidak pamit.


Cakra Buana sendiri dibuat terbengong. Namun pemuda itu juga tidak berkata apa-apa. Bibirnya terbungkam, tapi hatinya bertanya-tanya.


Apa yang sudah terjadi kepada Lin An? Kenapa gadis itu seperti sangat khawatir?


Pendekar Tanpa Nama langsung pergi dari sana. Gerakannya tidak kalah cepat dari seekor harimau yang berlari.


Hanya sesaat, dia telah tiba kembali di perkampungan warga. Cakra Buana kemudian bertanya kepada para warga. Dia menanyakan di mana tempat salah satu tokoh dunia persilatan.


Setelah dirinya berhasil mendapatkan alamat yang dicari, pemuda itu langsung pergi untuk menuju ke sana.


Tempat itu berada di pinggiran hutan. Satu buah bangunan tua berdiri di antara rimbunan pepohonan. Cakra Buana tiba di sana tepat setelah kegelapan menyelimuti bumi seluruhnya.


Di depan bangunan tua itu, ada sebuah halaman cukup luas. Seorang pria tua bertubuh sangat kurus terlihat sedang berlatih pedang.

__ADS_1


Cakra Buana berjalan dengan santai. Setelah jarak di antara keduanya cukup dekat, pemuda itu segera mengajukan tanya.


"Apakah kau si Pendekar Pedang Tanpa Bayangan?" tanya Cakra Buana.


__ADS_2