
Malam semakin larut. Kentongan kedua baru saja lewat. Hawa bertambah dingin. Suasana di tempat sana pun semakin sepi. Seolah kehidupan di dunia ini sudah tiada.
Rembulan muncul separuhnya saja. Warnanya putih pucat. Semua orang pun tahu, putih pucat adalah perlambang tanda kalau kematian sudah semakin dekat.
Kematian, bagi sebagian orang, kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Kematian adalah puncak kehampaan dan kesunyian dari seseorang.
Setiap manusia tidak ingin kesepian. Juga tidak ingin merasa hampa. Tapi apa daya? Selaku manusia, kita hanya bisa berusaha.
Pertempuran di hutan Kerajaan sudah memakan banyak korban nyawa. Beberapa tokoh tanpa tanding sudah tewas. Mereka menjadi korban dari tragedi berdarah ini.
Darah mereka menjadi saksi bisu. Tanah yang kering dan rumput yang basah oleh embun menjadi saksi akan keserakahan para manusia.
Suara dentingan beradunya senjata terus mewarnai malam ini. Lesatan anak panah terus dilepaskan dari tali busurnya. Suara berjatuhnya tubuh manusia dari atas pohon menggema bagaikan kelapa yang jatuh dari pangkal.
Pendekar Tanpa Nama berdiri mematung di hadapan mayat seseorang. Mayat itu bukan lain adalah si Tongkat Seribu Bayangan. Tokoh pilih tanding itu ternyata tewas di tangan Cakra Buana.
Kematiannya sungguh tragis. Kepalanya remuk. Dadanya hancur. Mungkin semua luka itu diakibatkan karena dahsyatnya Jurus Tanpa Bentuk miliknya.
Di dunia ini, yang sanggup bertahan jurus itu pasti tidak banyak. Mungkin hanya lima sampai seluruh orang saja yang sanggup bertahan. Itupun tidak ada jaminan apakah orang itu bakal baik-baik saja atau malah terluka.
Si Tongkat Seribu Bayangan sendiri tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan mampus di bawah sebuah jurus aneh yang tiada tanding. Kematiannya sungguh menyedihkan. Tapi di sisi lain, kematiannya itu terbilang sesuatu yang istimewa.
Mati di tangan seorang pendekar tanpa tanding dan mati di bawah jurus maha dahsyat adalah sebuah keistimewaan tersendiri bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia persilatan.
Dan si Tongkat Seribu Bayangan tentunya mengerti akan hal ini.
Di sisi sebelah sana, Sepasang Kakek dan Nenek Sakti juga sedang bertarung sengit melawan dua orang lawannya. Sekarang dua tokoh tua tersebut menggunakan pedang. Kebetulan, dua lawannya saat ini juga pendekar pedang.
Di dunia ini memang banyak sekali kebetulan yang sering terjadi. Salah satunya seperti yang terjadi malam ini.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti sekarang sedang berada di pihak penyerang. Keduanya melancarkan jurus-jurus pedang tingkat tinggi dengan pengerahan tenaga hingga titik maksimal.
Dua cahaya putih keperakan berkelebat. Dua cahaya itu kemudian bergulung-gulung menjadi satu bagian dalam satu serangan dahsyat.
Jurus pedang mereka saling melengkapi satu sama lain. Hal ini menjadikan setiap serangannya membawa kabar dari Malaikat Maut. Sedikit salah langkah, bisa dipastikan nyawa bakal melayang.
__ADS_1
Dua orang lawannnya terlihat keteteran. Walaupun mereka merupakan tokoh pilih tanding, tapi jika disuruh berhadapan dengan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, maka dua orang tua itu merasa sedikit jeri juga.
Pedang di tangan kanan Nenek Sakti bergerak menangkis tusukan lawan yang datang secara tiba-tiba. Setelah tangisannya berhasil, nenek tua itu segera melancarkan serangan balasan.
Pedangnya menusuk dengan sangat cepat. Sedangkan lawannya sudah siap untuk menangkis pula. Tapi sayang sekali, sekali ini perhitungannya meleset.
Begitu jaraknya sudah sangat dekat, secara tiba-tiba pedang di tangan nenek tua itu berubah arah. Yang tadinya menusuk, sekarang malah menyabet.
Perubahan itu terjadi dalam waktu sekejap mata. Siapapun tidak ada yang sanggup menduganya.
Srett!!!
"Ahh …"
Darah segar kemerahan muncrat. Leher tokoh tua itu tergorok oleh pedang milik Nenek Sakti. Suara seperti binatang disembelih terdengar menyayat hati. Pedang di tangannya terlepas tepat sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.
Hampir bersamaan dengan kejadian tersebut, di sisinya, si Kakek Sakti juga sedang bertarung sengit melawan tokoh tua di hadapannya.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Lawannya mengandalkan kekuatan kecepatan dan ketepatan. Sedangkan si Kakek Sakti memilih untuk melancarkan jurus ulet dan sederhana.
Jurusnya langsung keluar. Cahaya pedangnya menggulung. Tubuhnya ikut pula di dalamnya. Tokoh pilih tanding di hadapannya tidak mau kalah. Orang tersebut pun ikut pula mengeluarkan jurus pamungkas miliknya.
Trangg!!! Trangg!!!
Slebb!!!
Pertarungan berhenti. Jika sebuah pertempuran hebat berhenti, sudah pasti ada satu orang yang menjadi korban.
Sekarang pun tentunya ada. Tapi bukan si Kakek Sakti. Melainkan lawannya.
Pedang kakek tua itu menusuk tepat di tenggorokan lawan hingga tembus ke belakang.
Si Kakek Sakti menghela nafas berat. Dia merasa lega, sebab kalau saja sedikit terlambat, mungkin dirinya sendiri yang bakal menjadi korban.
__ADS_1
Hal itu disebabkan karena tepat pada saat tadi Kakek Sakti menusuk, senjata lawan malah sudah hampir tiba di dadanya. Sekarang pun pedang lawan berhenti setengah buku jari di depannya.
"Hahh … Sang Hyang Widhi ternyata masih mempercayaiku untuk meneruskan hidup," gumamnya sambil menyeka keringat di keningnya.
Seleas berkata, pedang lawan langsung jatuh ke tanah. Begitu juga dengan tubuh pemiliknya sendiri.
Sementara itu, di lain sisi, Jalak Putih dan Gagak Bodas juga sedang bertarung. Keduanya melawan musuh bertangan kosong. Karena itu pula mereka pun tidak mengeluarkan senjatanya masing-masing.
Dua tokoh angkatan tua sedang beradu pukulan dan tendangan. Hawa panas terasa kentara di sekitar pertarungan mereka.
Jalak Putih melawan pria berumur sekitar empat puluhan tahun. Wajahnya sangat jelek. Hidungnya besar. Mulutnya tidak bisa diam karena deretan giginya yang panjang-panjang.
Tapi terlepas dari penampilannya, kemampuannya dalam hal ilmu silat justru sangat berlawanan dengan bentuk tubuhnya.
Semua jurus yang dikeluarkan oleh orang itu merupakan jurus yang sudah sempurna.
Gerakannya seperti burung elang. Tangkas. Cekatan. Menakutkan.
Jari-jari tangannya membentuk cakar elang. Saat ini dia sedang menyerang si Jalak Putih.
Kedua tangan itu bergerak seperti burung elang yang sedang mencakar mangsa. Serangannya mematikan. Kecepatannya sangat luar biasa.
Si Jalak Putih tidak bisa tinggal diam. Kedua lengannya terkepal. Dengan keyakinan yang tidak bisa tergoyahkan, orang tua itu lantas memapak semua serangan yang dilancarkan oleh lawannya.
Bukk!!! Bukk!!! Bukk!!!
Benturan demi benturan terdengar. Dua tokoh tua pilih tanding sudah mengeluarkan kemampuannya masing-masing.
Pertarungan mereka telah mencapai lima belas jurus. Hingga detik ini, keduanya masih terlihat seimbang. Mereka saling pukul, saling tendang, bahkan saling lempar.
Tapi begitu memauski jurus ke dua puluh lima, pemandangan yang sulit dibayangkan mendadak terlihat.
Si Jalak Putih membentak nyaring. Tubuhnya kemudian melancarkan dua belas pukulan berantai yang mengincar titik penting di ditubuh lawannya.
Inilah jurus tangan kosong yang selalu dia andalkan selama ini.
__ADS_1
"Dua Belas Pukulan Burung Jalak Sutera …"