Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Walangga Dan Janggala


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama menepuk pundak kedua orang tersebut.


Tepukannya terlihat pelan sekali. Bahkan seperti tidak bertenaga. Tapi begitu tepukan tersebut mengenai sasaran, dua orang itu langsung jatuh berlutut. Mereka merasa sekujur tubuhnya lemas.


Senjata pusaka yang dipegang olehnya tiba-tiba jatuh ke tanah.


Sekarang mereka berdua ibarat kapas. Lemas. Tidak dapat melakukan apapun.


Keduanya memperlihatkan ekspresi kaget setengah mati. Seumur hidupnya, dua orang itu baru mengalami hal seperti sekarang ini.


Mereka adalah tokoh kelas atas. Pendekar kelas satu. Bagaimana mungkin orang sepertinya mampu dibuat seperti demikian hanya dalam waktu yang sangat-sangat singkat?


Hanya satu kali tepukan tangan, semua tenaganya tiba-tiba hilang tanpa jejak.


Jurus apa itu? Kenapa pemuda itu bisa melakukannya? Siapa dia sebenarnya?


Tanpa terasa dua orang itu langsung merasa jeri kepada Pendekar Tanpa Nama. Wajahnya mulai memucat. Keringat sebesar biji kacang kedelai mengucur dari kening ke wajahnya.


Cakra Buana sengaja melakukan hal itu. Dia telah menutup jalan darah dan menyumbat aliran tenaga dalam dua orang tersebut. Terkait bagaimana dia dapat melakukannya, rasanya siapapun tidak akan ada yang mengerti kecuali dirinya sendiri.


Tujuan Pendekar Tanpa Nama melakukan hal itu hanya satu. Dia ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya. Apalagi, sebelumnya dua orang tersebut telah mengatakan bahwa si resi tua tadi tak lain dan tak bukan adalah si Maling Tua Seribu Wajah.


Siapa sosok tua itu?


"Sekarang kalian tidak bisa melakukan apa-apa lagi," kata Cakra Buana sambil duduk dengan santai di hadapan keduanya.


"Apa yang akan kau lakukan? Apa yang kau inginkan?" tanya orang berbaju biru.


"Tidak ada," jawab Cakra Buana.


"Tidak ada?"


"Ya, tidak ada,"


"Jangan banyak bicara lagi bocah. Kalau kau memang ingin membunuh kami, bunuh saja sekarang. Terserah dengan cara apapun, kami akan menerimanya dengan tabah,"

__ADS_1


"Ya, benar. Dari pada kami harus bergabung dengan manusia jahanam seperti kalian, lebih baik kami mampus membela kebenaran," sambung orang berpakaian hijau tua.


Cakra Buana semakin tidak mengerti. Dia kebingungan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kejadian ini? Kenapa mereka menyebut manusia jahanam kepadanya?


Pemuda itu mengerutkan keningnya. "Sebenarnya apa yang telah terjadi? Coba kalian ceritakan semuanya, aku benar-benar tidak mengerti," pinta Cakra Buana.


Sekarang gantian, malah dua orang itu yang menatap dengan tatapan kebingungan kepadanya. Di lihat dari ekspresi wajah, dari caranya bicara, jelas bahwa pemuda itu tidak terlihat berbohong sedikitpun.


Apakah dia bicara yang sejujurnya?


"Kau benar-benar tidak tahu dan tidak mengerti?" tanya orang berpakaian biru untuk memastikan.


"Tidak. Sama sekali tidak," jawab Pendekar Tanpa Nama sambil menggelengkan kepalanya.


"Haishh, sepertinya kau pemuda yang baru terjun ke dunia persilatan," katanya sambil menghela nafas.


Sekarang nada bicaranya normal. Seperti seorang sahabat yang bicara dengan sahabatnya sendiri. Tidak ada lagi amarah, tidak ada pula dendam kebencian. Yang ada hanyalah kehangatan. Nada hangat yang biasa diberikan oleh seorang sahabat.


Pendekar Tanpa Nama merasa kejadian barusan tidak sesuai dengan apa yang di libatnya. Di balik semua ini, pasti ada hal lain.


Dia kembali menepuk pundak kedua orang itu. Sekali tepukan, semuanya telah kembali seperti semula. Sekarang mereka tidak merasa lemas, seluruh tenaganya sudah kembali normal seperti sedia kala.


"Jangan cerita di sini. Kita cari saja kedai yang masih buka," kata Cakra Buana sambil tersenyum.


"Baik, usul yang bagus," jawab orang berpakaian biru.


Ketiganya langsung pergi dari hutan tersebut. Hanya beberapa saat, bayangan mereka telah hilang di telan oleh gelapnya malam dan angkernya hutan.


###


Kedai itu tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Di dalamnya hanya ada dua belasan meja beserta bangkunya. Dindingnya terbuat dari bilik (anyaman bambu yang biasa digunakan oleh orang zaman dahulu), beberapa buah obor terpajang di setiap sudut.


Walaupun terlihat sederhana, tapi kedai tersebut cukup nyaman. Pasalnya karena setiap barang-barang yang ada di sana ditata dengan rapi dan sesuai pada tempatnya.


Dari dua belas meja makan, yang masih diduduki oleh pengunjung hanya sekitar lima meja saja, termasuk meja Cakra Buana.

__ADS_1


Di depan mereka sudah ada dua buah kopi hitam, satu guci arak dan beberapa buah ubi serta singkong rebus.


Pemuda itu sangat merindukan makanan seperti ini. Tanpa sadar Cakra Buana sudah menghabiskan cukup banyak ubi dan singkong rebus. Dua orang di hadapannya menatap kaget.


"Ternyata pemuda ini doyan sekali dengan ubi dan singkong rebus," bisik mereka.


"Bukan doyan. Tapi rakus,"


Cakra Buana tidak menghiraukan apa kaga orang lain. Jika sedang makan, dia selalu fokus. Tidak mau terganggu oleh hal apapun.


Setelah merasa kenyang, barulah pemuda itu memasang wajah serius kembali.


"Sebelumnya, bisakah kalian perkenalkan diri?"


"Aku Walanggga si Keris Delapan Luk, dan ini rekanku Janggala si Tangan Tombak," kata Walangga memperkenalkan diri.


"Nama dan julukan yang sangat cocok. Ah, apakah Kakang Walangga bisa menceritakan semua kejadian di hutan tadi?" tanya Pendekar Tanpa Nama.


"Orang tua tadi sebenarnya bukan resi. Dia seorang maling ulung yang belum lama ini melancarkan aksinya. Seperti yang aku bilang sebelumnya, julukannya si Maling Tua Seribu Wajah. Diberi julukan demikian karena dia bisa mengubah wajahnya menjadi wajah orang lain. Dia sangat ahli dalam bidang itu. Andai kata disuruh menyaru menjadi dirimu sekalipun, tua bangka itu sangat bisa. Malah akan sangat mirip sekali. Orang-orang pasti sukar membedakan mana yang asli dan mana yang palsu,"


"Sekitar dua bulan lalu, si Maling Tua Seribu Wajah kembali menggemparkan jagat persilatan Tanah Jawa. Dia sudah mencuri pusaka yang terdapat di salah satu kuburan Perguruan Tunggal Sadewo …"


Cakra Buana seketika tersentak sangat kaget. Sekalipun Walangga tidak bercerita seluruhnya karena mungkin tidak tahu, tapi Cakra Buana jelas tahu. Sangat tahu malah.


Dia pernah beberapa waktu berada di Perguruan Tunggal Sadewo. Bahkan guru besar di sana, Tuan Santeno Tanuwijaya, sudah menganggap dirinya sebagai keluarga.


Dan sekarang, Walangga juga menyebut-nyebut pusaka dari sebuah kuburan di perguruan itu, kalau bukan pusaka milik Giwangkara Baruga si Pendekar Pedang Kesetanan, siapa lagi?


Seperti diceritakan sebelumnya bahwa Pendekar Tanpa Nama menancapkan Pedang Haus Darah milik Pendekar Pedang Kesetanan tepat di atas kuburannya.


"Perguruan Tinggal Sadewo adalah perguruan terkenal, kemampuan murid-muridnya tidak diragukan lagi, selain itu, penjagaan di sana juga amat ketat. Kalau kau jadi dia, apakah benar dirimu bisa mencuri pusaka di atas kuburan itu?" tanya Janggala kepada Cakra Buana, menyusul ucapan Walangga.


"Tentu saja tidak mungkin. Kecuali aku bisa menghilang, atau setidaknya mempunyai kesaktian tinggi, maka aku baru bisa melakukannya," jawab Pendekar Tanpa Nama.


"Tepat, itu dia masalahnya. Maling Tua Seribu Wajah adalah tokoh sakti mandraguna …" kata Walangga dengan wajah serius.

__ADS_1


__ADS_2