Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Informasi Cakra Buana


__ADS_3

Tiang Bengcu hanya bisa tersenyum saat melihat tingkat laku tiga orang yang ada di hadapannya tersebut. Melihat persahabatan mereka yang begitu istimewa, dirinya menjadi iri.


Kenapa selama ini dia belum mendapatkan atau bahkan menemukan sahabat seperti mereka bertiga? Apakah sahabat seperti itu tidak ada lagi? Jika dia bisa bersahabat dengan ketiganya, sudah pasti hidupnya akan lebih senang lagi.


Dalam hatinya, Tiang Bengcu merasa sangat kagum kepada tiga orang tersebut. Usia mereka berbeda, bahkan bedanya cukup jauh, tetapi perbedaan itu justru bisa membuat mereka bersatu.


Bersatu dalam perbedaan adalah sesuatu yang indah. Sesuatu yang sangat luar biasa dan patut untuk dibanggakan.


Baginya, persahabatan tiga orang itu sangat berbeda dari persahabatan lainnya. Persahabatan mereka begitu unik, begitu langka. Dan tentunya begitu luar biasa.


"Kenapa kau tidak segera pergi dari sini?" tanya Huang Pangcu kepada Cakra Buana.


"Aku akan pergi jika kau mengusirku pergi,"


"Tidak tahu malu," jengek Li Guan.


Cakra Buana malah tertawa mendengar perkataan dua orang sahabatnya. Dia menyukai saat-saat seperti ini. Di mana mereka bertengkar seolah-olah serius, padahal sebenarnya sedang bercanda.


Jika orang tidak mengerti melihat tingkah mereka bertiga, sudah pasti orang itu akan menganggapnya serius.


"Dari mana saja kau hingga terlambat selama tiga hari?" tanya Huang Pangcu dengan tatapan mata menyelidik.


"Aku ada urusan,"


"Urusan wanita? Wanita terus yang kau urus, jangan lupa janjimu kepada cucuku," kata Huang Pangcu yang menyangka bahwa keterlambatan Cakra Buana dikarenakan masalah wanita.


Pemuda itu sudah cukup berpengalaman dalam masalah seperti ini. Dia sudah dapat menduga alasan apa di balik Huang Pangcu berkata demikian.


Apakah itu artinya Huang Pangcu menginginkan Cakra Buana mempunyai hubungan lebih dengan cucunya?


Cakra Buana tidak mampu memberikan jawaban pasti. Dia hanya tertawa konyol saat orang tua itu berkata demikian.


"Kenapa jadi wanita? Kau pikir aku pria yang haus akan wanita? Masalah janjiku kepada Mei Lan, aku tidak akan melupakannya. Sepulang dari sini aku juga akan menjemputnya. Masalah keterlambatanku karena karena Perguruan Rajawali Sakti,"

__ADS_1


"Kau sudah menemukan perguruan itu?"


"Sudah, tapi yang lucu, aku menemukannya tanpa sengaja,"


"Maksudmu?" tanya Huang Pangcu kebingungan. Begitu juga dengan dua orang lainnya yang ada di sana.


"Maksudku, aku menemukan letak Perguruan Rajawali Sakti tanpa disengaja. Aku hanya ingat bahwa diriku sudah berjalan beberapa hari, saat itu aku sendiri merasa sedang kacau. Begitu aku tersadar, aku telah melihat satu bangunan tinggi yang ternyata memang bangunan Perguruan Rajawali Sakti,"


Cakra Buana kemudian menjelaskan secara singkat terkait dirinya bisa masuk ke sana.


Huang Pangcu, Si Buta Yang Tahu Segalanya dan Tiang Bengcu hanya mengangguk sambil tetap mendengarkan. Keduanya tidak bicara sama sekali.


"Terkadang memang seperti itu. Ada hal-hal yang jika disengaja akan menjauh, tidak disengaja justru akan mendekat. Dalam hidup ini kejadian seperti yang kau alami sering sekali terjadi,"


"Benar. Aku juga berpikir seperti itu, mungkin memang Thian sudah menuntunku ke sana,"


"Jadi, tugas utamamu sudah selesai?"


"Sudah. Hanya saja masih ada tugas lainnya,"


"Tepat sekali,"


Tiga orang yang ada dalam ruangan tersebut kembali menganggukkan kepalanya. Mereka adalah orang-orang dunia persilatan, sudah tentu tanpa diberitahu pun, ketiganya dapat memahami tugas Cakra Buana selanjutnya.


Dalam dunia persilatan, pertarungan akibat alasan balas dendam sudah bukan menjadi hal aneh. Bahkan alasan ini adalah alasan yang sering ditemui di tempat mana pun.


Dari dulu hingga sekarang, balas dendam biasanya menjadi modal paling utama untuk melakukan hal-hal tertentu. Karena itulah, jangan heran jika banyak kejadian luar biasa di dunia ini yang didasari hanya karena masalah dendam.


Apa sebenarnya keuntungan dari balas dendam itu? Apakah balas dendam akan menyelesaikan masalah? Apakah balas dendam bisa membuat seseorang bahagia?


Apapun alasan manusia melakukan pembalasan dendam, yang jelas setiap manusia mempunyai hak untuk melakukan apapun di dunia ini.


Kita tidak bisa menyalahkan seseorang yang membalaskan dendam. Kita juga tidak bisa menyalahkan seseorang yang membawa dendamnya hingga ke alam baka.

__ADS_1


Alasannya karena setiap manusia, mempunyai kewenangan untuk sesuatu apapun yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Manusia manapun itu.


"Kemarin aku mendapatkan informasi dari Nenek Tua Bungkuk," kata Cakra Buana memulai pembicaraan yang lebih serius lagi.


Tanpa diperintah sekalipun, orang-orang yang ada di sana langsung mendekat kepada Pendekar Tanpa Nama. Bahkan Tiang Bengcu sendiri turut menghampirinya.


Empat orang itu duduk menghadap satu meja cukup besar yang sama. Di sana sudah banyak sajian makanan yang tersedia. Tentunya termasuk arak dan daging.


Setiap cawan arak sudah terisi arak. Cawannya cukup mewah, terbuat dari batu giok yang sangat mahal. Begitu juga dengan guci arak. Bahkan termasuk anaknya sendiri. Semua yang ada di dalam ruangan Tiang Bengcu adalah sesuatu yang bernilai tinggi.


Cakra Buana baru tahu bahwa jika menjadi Bengcu dunia persilatan, ternyata bisa hidup mewah-mewahan.


"Informasi tentang apa?" tanya Li Guan Si Buta Yang Tahu Segalanya. Pemuda itu mulai penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Cakra Buana.


"Dunia persilatan,"


"Lanjutkan," kata Huang Pangcu menyuruh Cakra Buana melanjutkan ceritanya.


"Dunia persilatan mulai kacau. Kemarin Nenek Tua Bungkuk mengatakan bahwa hampir semua tokoh sesat sedang mengincar diriku. Mereka menginginkan nyawaku. Bahkan termasuk datuk dunia persilatan juga turut serta dalam hal ini. Para tokoh sesat mengerahkan segenap tenaga untuk terus berusaha membunuhku,"


"Apa alasan mereka ingin membunuhmu?"


"Apa lagi? Tentunya mereka menganggap bahwa aku bisa menjadi ancaman di masa depan nanti. Selain itu, mereka juga mengincar kitab yang sebelumnya ada padaku, sekaligus mereka menginginkan pedang yang selalu aku bawa,"


"Hehehe, ternyata manusia-manusia keparat itu sudah mulai berani sekarang. Hemm, belum saja aku pukul kepalanya hingga memar," ucap Huang Pangcu merasa cemas kepada orang-orang aliran sesat.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Tian Bengcu mulai merasa tertarik dengan masalah baru ini.


"Aku akan tetap menghadapi masalah apapun yang menghampiri. Toh mau tidak mau, aku juga tetap harus mau," tukas Cakra Buana menjawab pertanyaan Tiang Bengcu.


"Apakah Nenek Tua Bungkuk akan membantumu?" tanya Huang Pangcu kemudian.


"Benar, dia berkata seperti itu. Kebetulan Rajawali Petir Pengoyak Sukma, maha guru Perguruan Rajawali Sakti juga mengatakan akan membantuku dalam hal ini. Jadi, aku merasa sedikit bebanku terangkat. Aku ingin lihat sampai di mana mereka berani mencari masalah denganku,"

__ADS_1


"Bagus. Aku suka dengan informasi ini. Aku sendiri tidak akan tinggal diam, bahkan kalau perlu, aku bisa menyuruh seluruh anggota Kay Pang Pek untuk membunuh semua orang-orang aliran sesat yang ditemui,"


"Tidak bisa. Untuk masalah sebahaya ini, kau tidak bisa mengorbankan nyawa secara sia-sia," kata Li Guan mengingatkan.


__ADS_2