Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Mempersiapkan Diri


__ADS_3

Malah menurut Selir Anjani, malah lebih mudah kalau disuruh untuk membunuh sepuluh atau bahkan dua puluh tokoh lain yang setara dengan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, daripada harus membunuh keduanya.


Meskipun pihaknya sekarang ini mempunyai kekuatan dan kemampuan yang tidak diragukan lagi, namun bagaimanapun juga mereka tetap manusia.


Selaku manusia, kematian akan tetap bisa menghampirinya. Mustahil kalau ada manusia yang tidak bisa mati.


Di sisi lain, di atas langit masih ada langit. Di bawah bumi, masih ada pula lapisan bumi lainnya lagi.


Mereka mungkin kuat. Tapi bukan hal mustahil ada pula orang yang jauh lebih kuat lagi.


Contohnya saja Pendekar Tanpa Nama. Kemampuannya yang sekarang sudah meningkat sangat tajam. Dia berbeda jauh dengan dirinya yang beberapa tahun lalu.


Kalau di ibaratkan lagi, mungkin Cakra Buana yang dulu, tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan Cakra Buana yang sekarang.


Hal itu bukan perumpamaan berlebihan. Justru perumpamaan yang sangat cocok. Sangat pas.


"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekatang?" tanya Prabu Katapangan sedikit menaikan nada suaranya.


"Masalah sudah terlanjur. Kenapa tidak kita buat gempar saja seluruh Istana Kerajaan?"


"Maksudmu?"


"Kita adakan perang terbuka antara pihak kita dan pihak lawan," ucap Selir Anjani.


"Apakah kau tidak salah bicara?"


"Sama sekali tidak,"


"Kalau perang diadakan, bukankah bakal banyak nyawa yang melayang?"


"Perduli setan. Kenapa kau jadi memikirkan orang lain? Mati atau tidak mati, apa urusannya dengan kita? Prajurit bisa dicari. Tapi seluruh harta kekayaan Kerajaan ini, mana bisa dicari lagi?"


Untuk kesekian kalinya, Prabu Katapangan terbungkam kembali. Dia tidak berani menjawab. Apalagi kalau melawan.


"Jadi kau sudah bulat dengan ucapanmu ini?" tanya Prabu Katapangan setelah berpikir beberapa lama.


"Tentu saja,"


"Baiklah. Semuanya aku serahkan kepadamu,"

__ADS_1


"Baik," jawab Selir Anjani sambil tersenyum simpul.


'Dulu dihancurkan, sekarang bakal menghancurkan,' batin wanita kejam itu.


###


Pendekar Tanpa Nama dan yang lainnya sudah selesai berunding. Mereka telah menyusun rencana lagi. Kali ini, orang-orang itu tidak mau berlaku sembunyi-sembunyi.


Mereka akan melakukannya dengan cara terang-terangan. Tekad semua orang itu sudah bulat. Mati, ya mati. Hidup, ya hidup.


Mati sekarang atau mati nanti, sama saja. Bahkan mati dengan, karena atau lewat cara apapun juga, mati tetaplah mati.


Orang-orang yang tergabung di dalamnya memang bukan manusia yang takut mati. Mereka bukan tipe manusia pengecut.


Apa yang akan mereka lakukan, sudah diperhitungkan dengan matang. Perduli nyawa melayang, selama tujuannya bisa tercapai, memangnya apa salahnya? Bukankah setiap perjuangan membutuhkan 'pengeluaran'? Kalau perjuangan kecil, maka pengeluarannya juga kecil. Tapi kalau perjuangan besar, maka tentunya pengeluaran yang diperlukan juga bakal besar, bukankah begitu?


Matahari sudah berada di atas kepala. Sinarnya sangat terang menyoroti alam semesta. Angin berhembus mengurangi efek panas darinya.


Pendekar Tanpa Nama sedang duduk di sebuah kedai makan. Dia baru saja selesai mengisi perutnya. Di hadapannya ada dua guci tuak. Pemuda itu duduk seorang diri.


Ke mana yang lainnya?


Siapapun yang menghalanginya, selama orang itu adalah musuhnya, maka dia akan membunuhnya. Setiap musuhnya harus mati.


Tekad itu sudah berakar dalam dirinya. Siapapun tidak ada yang bakal bisa mencabutnya.


Cakra Buana sedang menenggak tuak. Pada saat itu, tiba-tiba seorang pemuda berpakaian kuning yang usianya tidak berbeda jauh dengan dia sendiri melangkah masuk ke dalam kedai makan.


Langkahnya tenang. Tapi sepasang matanya amat tajam. Dia memandang berkeliling. Pandangan matanya berhenti tepat pada saat pemuda itu melihat ke arah Cakra Buana.


Entah disengaja atau tidak, namun tiba-tiba saja dua tatapan mata itu bentrok. Percikan api tak terlihat beradu. Darah dalam dada pemuda yang baru masuk itu terasa bergolak hebat.


Dia merasakan ada perbawa lain dari tatapan Pendekar Tanpa Nama. Seumur hidupnya, baru sekali ini saja sia mengalami hal seperti barusan.


Entah sejak kapan, tahu-tahu pemuda itu sudah berada di hadapan meja Cakra Buana. Dia tersenyum simpul sambil terus memandang matanya.


"Kau Pendekar Tanpa Nama, bukan?"


"Tidak salah. Apakah saudara ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadaku?" tanya Cakra Buana berusaha untuk tetap ramah.

__ADS_1


"Ah, tidak. Aku hanya ingin duduk bersama denganmu," jawab pemuda itu.


"Silahkan, dengan senang hati aku akan menerimamu,"


Pemuda itu langsung duduk. Cakra Buana menenggak tuaknya kembali. Akan tetapi baru saja guci tuak itu menempel di mulutnya, mendadak ada angin dingin dan tajam berhembus dengan kecepatan yang sulit dijelaskan.


Lima batang pisau beracun sudah dilemparkan secara tiba-tiba.


Jarak keduanya sangat berdekatan. Hanya terpaut oleh meja makan saja. Dengan kecepatan yang sangat luar biasa itu, seharusnya Pendekar Tanpa Nama tidak akan sanggup menghindarkan diri dari ancaman lima batang pisau terbang tersebut.


Tapi lagi-lagi sungguh disayangkan. Target sasaran pemuda itu adalah Cakra Buana, pemuda yang menyandang gelar Pendekar Tanpa Nama. Meskipun benar serangan itu sangat dekat dan sangat berbahaya, tapi kedua hal tersebut masih belum cukup untuk membunuhnya.


Crapp!!! Crapp!!! Crapp!!!


Lima batang pisau terbang itu tahu-tahu sudah menancap tepat di guci tuak miliknya. Seluruh batang pisau amblas ke dalam guci.


Kejadian ini diluar dugaan si pemuda asing tersebut. Semula dia menyangka kalau serangannya itu bakal berhasil. Rencananya bakal berjalan mulus. Tapi disangka, semua perkiraannya meleset jauh.


Sementara itu, Cakra Buana saat ini sedang memandangi wajah pemuda berpakaian kuning itu lekat-lekat. Tatapan matanya bertambah tajam. Kemarahan terlihat jelas pada seraut wajah tampannya.


"Siapa kau? Kenapa kau ingin membunuhku?" tanyanya dengan suara mendalam.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Saat ini yang perlu kau tahu hanyalah bahwa setiap orang menginginkan kematianmu," jawabnya sambil tersenyum dingin.


Sekalipun Cakra Buana sudah terlihat marah, namun nyatanya wajah pemuda itu masih tampak tenang. Sama sekali tidak memperlihatkan perasaan takut ataupun jeri.


"Pergilah," ucap Cakra Buana sambil melambaikan tangannya sebagai isyarat.


Pemuda berpakaian kuning itu langsung pergi begitu mendengar perintah tersebut. Dia tidak mengatakan apapun lagi. Hanya sekejap mata, bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi.


Suasana tegang dalam kedai makan sudah sirna. Para pengunjung yang mengetahui kejadian itu, sekarang dapat menghembuskan nafas lega kembali.


Kenapa Pendekar Tanpa Nama tidak membunuhnya? Kenapa dia membiarkan pemuda itu pergi begitu saja?


Alasannya hanya ada satu.


Cakra Buana tidak membunuhnya karena dia merasa tidak perlu turun tangan. Selain itu, diapun sedang menghemat tenaganya. Baik luar maupun dalam.


Sesuatu yang lebih penting sudah menunggu di depan mata. Tinggal tiga hari lagi, Cakra Buana akan kembali membuat sesuatu yang menggemparkan.

__ADS_1


__ADS_2