Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kerajaan Sunda Kahuripan


__ADS_3

Tanpa terasa, tujuh tahun sudah berlalu kembali. Cakra Buana atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa sudah mempunyai dua orang anak. Yang pertama seorang wanita, dia adalah puteri dari Ratu Sinta Wulansari. Namanya Dewi Anggraeni Buana.


Sedangkan yang kedua merupakan seorang pria, dia adalah putera dari Ling Ling atau yang sekarang bernama Ratu Sekar Pitaloka Sukmawati. Puteranya tersebut diberi nama Arya Manggadewata Buana.


Keduanya hanya selisih beberapa bulan saja. Kedua putera dan puteri tersebut tumbuh di lingkungan Istana Kerajaan. Meskipun begitu, namun mereka tidak terlihat sombong walau sedikit pun.


Dewi dan Arya tumbuh dewasa menjadi seorang anak yang sangat penurut kepada kedua orang tuanya. Sopan santun dan segala macam tatakrama, sudah mereka kuasa sejak kecil.


Semua orang-orang Kerajaan menyukai mereka berdua. Dua bocah itu mempunyai wajah yang cantik dan tampan. Semua yang ada pada kedua orang tuanya, seolah turun ke sang anak tanpa ada yang dibuang.


Sifat welas asihnya, sifat merendah dan tidak sombongnya, semuanya turun tanpa terkecuali.


Sejak dipimpin oleh Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa, Tanah Pasundan benar-benar berada dalam puncak kejayaannya. Ekonomi masyarakat selalu berada dalam kondisi stabil. Peradaban di sini juga mulai maju. Tidak kalah dengan negeri lainnya.


Selain daripada itu, kondisi Tanah Pasundan juga berada dalam sebuah keamanan yang tidak perlu diragukan lagi. Tiada lagi peperangan, tiada pula perselisihan besar antar pihak yang mempunyai latar belakang luar biasa.


Semuanya hidup rukun dan damai dalam satu tujuan yang sama. Yaitu membangun Tanah Pasundan hingga menjadi negeri yang adil dan makmur.


Kejahatan sudah tidak terlalu banyak. Kecuali hanya berupa kejahatan-kejahatan kecil yang menjadi warna-warni kehidupan semata. Itu pun masih bisa dihalau dan diberantas oleh pihak-pihak Kerajaan.


Setelah dua tahun menjadi pemimpin, Cakra Buana memutuskan untuk mengubah nama Kerajaannya.


Nama yang sekarang dipakai adalah Kerajaan Sunda Kahuripan.


Sunda melambangkan sebuah negeri yang besar. Adil dan kaya raya. Sedangkan Kahuripan berarti kehidupan.


Nama Kerajaan itu bisa diartikan Sunda sebagai sumber kehidupan bagi semua orang. Dengan peradabannya yang maju, dengan ekonominya yang selalu stabil, rakyat di sana tentunya bisa hidup rahayu sampai akhir hayatnya.

__ADS_1


Selama beberapa tahun belakangan ini, kebahagian seolah tidak pernah pergi dari lingkungan Kerajaan.


Prabu Katapangan Kresna bersama Ratu Ayu sekarang sudah menjadi sesepuh dalam Kerajaan bersama Sepasang Kakek dan Nenek Sakti serta yang lainnya.


Dari putera tunggalnya, yaitu Raden Kalacakra Mangkubumi, keduanya telah mendapatkan seorang cucu yang diberi nama Galih Panjalu Mangkubumi. Usianya sekarang mungkin baru sekitar empat tahun.


Selama banyak tahun ini, seluruh rakyat merasa puas dengan kepemimpinan Cakra Buana.


Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa tidak hanya dikenal baik kepada orang-orang Istana saja, malah kepada setiap rakyat pun dia memperlakukan hal yang sama.


Begitu juga kepada para Raja atau utusan Kerajaan yang menjadi tetangga Kerajaan Sunda Kahuripan.


Karena kebaikan itulah, banyak sekali Raja-raja di seluruh negeri lain yang ingin menjalin hubungan persahabatan dan politik dengan pihaknya.


Entah, apakah keadaan semacam ini akan berlangsung sementara? Atau selamanya? Apakah Sang Prabu akan selalu demikian, atau sewaktu-waktu bisa berubah?


Hari itu senja hari. Sang Prabu bersama dua orang isterinya sedang duduk di sebuah ruangan besar yang biasa dijadikan tempat rapat Kerajaan.


Di sana tidak ada para penasihat dan sesepuh yang biasa mengelilingi dirinya. Di ruangan tersebut hanya ada satu orang luar Kerjaan. Beliau bukan lain adalah Tuan Santeno Tanuwijaya. Seorang guru besar dari Perguruan Tunggal Sadewo. Dirinya datang kemari seorang diri. Tanpa pengawalan siapapun.


Kedatangannya kemari karena mempunyai sebuah permohonan kepada Raja yang sudah dianggap sebagai keponakannya tersebut.


"Hamba harap Prabu bisa mengabulkan permintaan terakhir saya ini," katanya dengan suara memelas.


"Paman, tolonglah. Jangan pakai tatakrama semacam itu jika di saat seperti ini. Kau tetap Pamanku, aku tetap Keponakanmu. Aku menjadi Raja jika berada diluar sana. Kalau sedang bersama kalian orang-orang terdekat, aku tetaplah aku," kata Prabu dengan wajah serius.


Tuan Santeno tidak bicara lagi. Pada saat ini, dia hanya berharap kalau Sang Raja mmengabulkan permohonannya.

__ADS_1


Perlu diketahui, kedatangan Tuan Santeno kemari bukan lain adalah untuk mengajak Cakra Buana berduel. Tetapi bukan duel karena dendam, bukan pula karena duel karena ada sebuah masalah rumit.


Guru besar itu ingin melangsungkan duel bukan lain adalah karena dirinya ingin mati secara terhormat. Dia ingin tewas di tangan seorang pendekar tanpa tanding.


Di Tanah Pasundan, yang disebut sebagai pendekar tanpa tanding, siapa lagi kalau bukan Prabu Maharaja Adiyaksa Jagatama Mangkudewa?


Bagi sebagian orang sepertinya, bisa tewas di tangan seorang tokoh besar adalah sebuah kebanggan tersendiri yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sebagai seorang pendekar sejati, mati di medan pertempuran tentunya menjadi cita-cita terbesar dalam hidupnya.


Siapa pun orangnya, selama dia seorang pendekar sejati, sudah tentu dirinya mempunyai sebuah cita-cita yang sama dengan Tuan Santeno.


Dan sekarang kedatangannya menyangkut hal tersebut. Apa yang harus dilakukan oleh Cakra Buana? Apakah dia harus mengabulkan permintaan pamannya tersebut? Ataukah harus menampik?


Jika menampik, hal itu sama saja bahwa dirinya telah melukai hati pamannya. Dia sudah mengubur harapan si Tangan Tanpa Belas Kasihan yang ingin tewas sebagai seorang pendekar.


Tapi jika dia mengabulkan, bukankah hal itu sama saja dengan dirinya yang membunuh Tuan Santeno?


"Cakra, kau tidak perlu khawatir. Bila perlu Paman akan mengumumkan kepada semua orang bahwa duel ini aku yang bersikeras menginginkannya. Kau tidak perlu takut disebut sebagai pembunuh. Aku jamin, hal seperti itu tidak akan terjadi," kata Tuan Santeno kepadanya.


Cakra Buana masih membungkam mulut. Entah sudah berapa lama dia hanya duduk tanpa angkat bicara. Kedua isteri yang berada di sisinya saling pandang. Mereka sendiri merasa bingung dalam menghadapi persoalan ini.


Cakra Buana yang sekarang menduduki posisi Raja, tidak takut disebut pembunuh. Dia pun tidak takut akan kesalahpahaman orang banyak. Dirinya cukup yakin bisa membereskan hal tersebut.


Tetapi yang menjadi pertanyaannya, benarkah dia akan tega membunuh Tuan Santeno?


"Ketahuilah, demi duel ini, aku rela melatih ilmu pedang selama enam tahun berselang. Siang malam aku berlatih tanpa kenal lelah, sekarang jika kau menolaknya, aku rasa lebih baik mati bunuh diri daripada harus mati diatas kasur," katanya dengan nada sedih.


Siapapun yang mendengar bicaranya, pasti akan merasa iba dan kasihan. Begitu juga dengan dia sendiri.

__ADS_1


Cakra Buana tahu, Tuan Santeno adalah orang yang ahli dalam pertarungan tangan kosong. Dia bukan seorang pendekar pedang. Dan sekarang, kalau dirinya rela berlatih menggunakan pedang, dapat dibayangkan betapa besarnya usaha orang tua itu?


__ADS_2