
Jika seorang sahabat berkata dengan sungguh-sungguh, jangan pernah kau meragukannya. Karena biasanya, apa yang mereka ucapkan bukan berasal dari mulutnya, tetapi dari hatinya.
Kau harus percaya. Karena perkataan yang keluar dari dasar hati bukanlah kebohongan. Mulut memang tempat berbohong, tetapi hati tidak akan bisa berbohong. Hati adalah tempat kejujuran.
Di dunia ini, memangnya siapa yang mampu membohongi hatinya sendiri?
"Sebenarnya apa tujuanmu kemari?" kata si Nenek Tua Bungkuk bertanya kembali kepada Pendekar Tanpa Nama.
Cakra Buana kebingungan untuk sesaat. Dia ingin berkata, tapi pemuda itu takut melukai hati Nenek Tua Bungkuk.
"Kalau ada sesuatu yang ingin kau katakan khusus kepada Kakak Cio, katakan saja. Jika memang tujuanmu kemari hanya untuk dirinya, aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan hal itu di depanku. Hanya saja aku ingin bertanya, apakah kau di suruh oleh gurumu?" tanyanya kembali.
"Tujuanku ke Tionggoan memang terkait hal ini,"
"Baiklah kalau begitu. Kalian lanjutkan saja bicaranya, aku akan pergi dulu sekaligus masih ada urusan lain yang harus aku selesaikan dengan segera,"
"Kau tidak mengapa?"
"Memangnya kenapa? Aku bukan bocah kemarin sore. Jangan khawatir, aku tidak papa," jawab Nenek Tua Bungkuk sambil menepuk pundak Pendekar Tanpa Nama.
"Baiklah kalau begitu,"
"Aku pergi dulu,"
Wanita tua itu mengambil satu guci arak yang masih utuh lalu segera pergi keluar ruangan tersebut. Cakra buana dan Cio Hong hanya menganggukkan kepalanya.
Kedua orang itu memandangi kepergian Nenek Tua Bungkuk hingga bayangan wanita tua itu benar-benar telah menghilang. Sekarang yang ada di ruangan tersebut hanya Cakra Buana dan maha guru Perguruan Rajawali Sakti, Cio Hong.
"Ternyata dia sangat doyan arak," kata Cakra Buana mengawali pembicaraan.
"Walaupun wanita, dia memang setan arak,"
"Oh?"
"Waktu kami masih muda dan selalu mengembara bersama, kami berdua sering bertanding minum arak,"
"Dan hasilnya?"
"Hasilnya aku selalu kalah. Aku hanya sanggup menghabiskan lima guci arak, sedangkan dia sanggup menghabiskan sepuluh guci arak, bahkan sepuluh guci itu masih belum sanggup membuatnya mabuk parah,"
Cakra Buana tertawa. Dia tidak pernah menyangka sama sekali bahwa wanita tua itu begitu rakus terhadap arak. Cakra Buana sendiri tidak yakin mampu mengalahkan 'keahlian' Nenek Tua Bungkuk dalam hal minum arak.
"Ternyata dia benar-benar setan arak,"
__ADS_1
"Mungkin leluhurnya setan arak," kata Cio Hong sambil bercanda.
Keduanya tertawa tergelak sehingga menggetarkan seisi ruangan. Jika dua orang tokoh kelas atas duduk bersama, pasti akan ada hal-hal yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh orang lain.
Cio Hong menuangkan arak ke cawan Cakra Buana. Setelah kakek tua itu selsai menuangkan, dia langsung menyuruhnya untuk segera minum.
"Minumlah,"
Cakra Buana mengangguk. Dia langsung meraih cawan tersebut. Kejadian berikutnya, pemuda itu dibuat terkejut. Ternyata Cio Hong bukan menuangkan arak biasa. Maha guru Perguruan Rajawali Sakti itu menyalurkan tenaga dalamnya ke cawan tersebut sehingga Cakra Buana tidak mampu mengangkatnya.
Pendekar Tanpa Nama tersenyum hangat. Dia tidak bicara apa-apa. Pemuda itu segera menyalurkan pula tenaga dalamnya, setelah itu dia segera meraih cawan arak kembali lalu mencoba mengangkatnya.
"Ahhh … arak yang benar-benar nikmat," ujarnya tertawa. "Apalagi ada kenikmatan di dalam kenikmatan," lanjutnya menyindir kakek tua itu.
"Hahaha," Cio Hong tertawa lantang. "Ternyata kau memang bukan pemuda sembarangan. Padahal tenaga dalam yang aku salurkan bukan tenaga biasa. Dengan ini aku menjadi yakin bahwa dirimu memang pantas disejajarkan dengan pendekar kelas atas," katanya memuji Pendekar Tanpa Nama dengan tulus.
Cakra Buana tersipu malu. Tetapi dia tidak membawa apapun. Pemuda itu hanya tersenyum simpul kepada Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma.
Di luar, keadaan semakin sepi. Puluhan murid perguruan yang tadinya berkumpul di satu halaman, kini telah menghilang entah ke mana. Keadaan yang tadinya sedikit berantakan, sekarang justru sudah bersih seperti sebelum adanya kerusuhan.
"Sebenarnya apa tujuanmu kemari?" tanya Cio Hong mengulangi pertanyaan yang sebelumnya sempat diajukan oleh Nenek Tua Bungkuk.
"Aku datang kemari hanya ingin bertemu denganmu,"
"Atas dasar perintah dari guruku,"
"Siapa gurumu sebenarnya?"
Cakra Buana tidak mau menjawab langsung pertanyaan itu. Dia justru mengajukan tanya kembali.
"Kau pernah mendengar kebesaran Pendekar Tanpa Nama di masa lalu?"
"Tentu saja. Aku angkatan tua dunia persilatan, umurku dengannya tidak selisih banyak. Paling hanya selisih delapan tahun, sebentar lagi aku akan mengundurkan diri. Hanya saja masih ada satu hal penting yang belum tercapai,"
"Kau kenal siapa dia?"
"Sangat kenal sekali,"
"Kalau begitu, kau siapanya Pendekar Tanpa Nama? Aku harap kau mau menjawab dengan jujur karena hal ini sangat penting sekali," kata Cakra Buana dengan mimik wajah serius.
Cio Hong sedikit tersentak mendegar pertanyaan Cakra Buana. Seumur hidupnya, baru ada satu orang yang mengajukan pertanyaan tersebut.
"Untuk apa kau menanyakan hal ini?"
__ADS_1
"Karena aku yakin kau mempunyai hubungan yang istimewa dengannya,"
Meskipun Cio Hong tidak bicara, tetapi Cakra Buana tahu bahwa maha guru Pergueuan Rajawali Sakti itu mempunyai hubungan yang istimewa dengan gurunya, Pendekar Tanpa Nama.
Jika tidak, bagaimana mungkin gurunya menyuruh agar dirinya pergi ke Tionggoan hanya untuk bertemu sengan maha guru Perguruan Rajawali Sakti?
Hanya saja sampai sekarang, Cakra Buana tidak dapat mengetahui apa hubungan mereka sebenarnya.
"Tidak, aku sama sekali tidak punya hubungan istimewa dengannya. Aku hanya sebatas tahu dan pernah mendengar kebesaran namanya. Hanya itu saja, tidak lebih,"
"Tegakkah kau berbohong kepada sahabatmu sendiri?"
"Aku tidak sedang berbohong,"
"Tapi matamu dan anggota tubuh lainnya mengatakan bahwa kau sedang berbohong,"
Cio Hong mati kutu. Dia tidak bisa menjawab sama sekali. Orang tua itu hanya memandang Cakra Buana dengan tatapan penuh selidik. Matanya yang tenang mendadak tajam. Senyuman hangatnya berubah menjadi mimik wajah yang lebih serius.
"Siapa kau sebenarnya? Katakanlah sejujurnya,"
"Aku Cakra Buana,"
"Kau siapanya Pendekar Tanpa Nama?"
"Aku muridnya," jawab Cakra Buana dengan tenang.
Senyuman penuh percaya diri diperlihatkan oleh pemuda tersebut. Matanya masih tenang. Senyumannya masih hangat.
Tetapi Cio Hong berbeda. Maha guru Perguruan Rajawali Sakti itu justru semakin memandang tajam ke arah Cakra Buana.
Selapis hawa pembunuhan mendadak merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Matanya mencorong tajam seperti mata seekor harimau di kegelapan.
"Tutup mulutmu bocah!!!" bentak Rajawali Petir Pengoyak Sukma.
Dia langsung bangkit berdiri sambil menunjuk Cakra Buana dengan jari telunjuknya.
Di sisi lain, pemuda itu semakin curiga. Dia semakin yakin bahwa Cio Hong mempunyai hubungan yang sangat kental dengam gurunya.
"Ehmm, kalau kau tidak mempunyai hubungan istimewa, kenapa kau tiba-tiba marah kepadaku?" tanya Cakra Buana dengan santai.
###
Btw, maaf ya kalau belakangan ini PTN agak telat up-nya. Author lagi kejar target di novel yang satu lagi. Bulan berikutnya mungkin bakal kembali seperti dulu. Semoga saja.
__ADS_1
Minta doa dan pengertiannya yaa hehe🙏🙏semoga kakang dan nyai dapat mengerti. Sebisa mungkin author akan berusaha yang terbaik untuk kalian🙏