
Tuan Santeno Tanuwijaya sudah duduk bersama tiga orang tamunya. Di hadapan orang-orang itu ada sebuah meja bundar cukup besar yang dibuat dari kayu jati.
Seorang murid perguruan wanita datang membawa nampan berisi buah-buahan. Di belakangnya ada pula murid wanita lain yang membawa nampan berisi poci teh dan poci tuak.
Suasana di Perguruan Tunggal Sadewo sangat ramai. Hampir seratusan murid sedang berlatih silat di halaman luas sana. Perempuan dan pria tidak digabung. Mereka dipisah, tapi masih dalam halaman yang sama.
Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap melihat para murid latihan itu. Mata mereka bersinar terang. Mulutnya mengulum senyuman manis. Seolah kedua gadis cantik jelita itu merasa senang dan gembira karena melihat generasi muda berlatih dengan penuh semangat.
Tuan Santeno memenuhi cangkirnya dan cangkir Cakra Buana dengan tuak. Sedangkan dua cangkir sisanya diisi teh hingga penuh.
"Bagaimana kabarmu selama ini? Apakah kau sudah pulang sejak lama?" tanya Tuan Santeno membuka suara lebih dulu.
"Kabarku baik, Paman. Ah belum lama, kurang lebih baru sepuluh hari. Tapi aku tidak langsung kemari, lebih dulu aku menjemput Sinta di Gunung Tilu Dewa, kasihan, dia telah menungguku selama ini," jawabnya sambil tersenyum.
Gadis maha cantik itu memang selalu menunggu kepulangan kekasihnya, Cakra Buana. Meskipun dirinya sudah lama berhasil menyempurnakan ilmu warisan gurunya hingga ke tahap tertinggi, tapi Bidadari Tak Bersayap tetap berdiam di sana.
Dia tidak pernah keluar dari Gunung Tilu Dewa. Sehari-harinya Sinta hanya berkeliaran di gunung keramat itu. Itupun keluar kalau hanya untuk makan atau keperluan lainnya saja.
Oleh sebab itulah dirinya tidak terlalu tahu terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di negerinya belakangan waktu ini.
"Kau benar-benar beruntung bisa mendapatkan gadis sepertinya, Cakra. Kau jangan menyia-nyiakan dia," kata Tuan Santeno.
Sudah tentu Cakra Buana tidak akan menyia-nyiakannya. Selama ini, Bidadari Tak Bersayap telah dianggap pula sebagai jelmaan dari Ling Zhi, gadis maha cantik yang dia cintai dulu. Dia cinta setengah mati kepadanya. Sayang, Ling Zhi justru harus gugur di perang beberapa tahun lalu.
"Pasti Paman, aku akan menjaganya sepenuh hati. Aku akan menjaganya seperti nyawa sendiri," katanya penuh keyakinan.
"Bagus, itu baru Cakra Buana namanya,"
Sementara itu, dua orang kekasihnya tersebut pura-pura tidak mendengar. Sejak tadi mereka memilih untuk diam. Dan sekarang, keduanya memilih untuk pergi.
"Kakang, kami ingin berjalan-jalan, apakah boleh?" tanya Sian-li Bwee Hua.
"Aih, boleh-boleh. Silahkan Nyai, nanti akan ada seorang muridku yang menemani kalian berkeliling perguruan ini," kata Tuan Santeno menjawab dengan cepat.
Dia segera memanggil seorang murid perempuan, tidak berapa lama, benar juga, seorang murid perempuan sudah datang.
__ADS_1
Tiga gadis cantik segera pergi dari sana.
Sekarang yang ada di balairung itu hanyalah mereka berdua. Cakra Buana dan Tuan Santeno Tanuwijaya.
Setelah keadaan di tempat itu sepi, mimik wajah kedua orang itu berubah hebat. Sepertinya mereka akan memulai obrolan seriusnya.
"Siapa gadis yang barusan bicara?" tanya Tuan Santeno mendahului Cakra Buana.
"Dia kekasihku juga, Paman," jawabnya sedikit malu.
"Aii, kau sungguh benar-benar beruntung. Apakah dia asli Tionggoan?"
"Benar,"
"Beruntung, sungguh kau beruntung sekali. Dulu kehilangan satu gadis cantik, sekarang malah dapat dua yang bahkan lebih cantik lagi," ujarnya bercanda.
Cakra Buana menanggapi gurauan itu dengan senyuman nyaring. Tak bisa dipungkiri, sebenarnya pemuda itu mencintai tiga gadis sekaligus.
Kalau disuruh memilih, kira-kira siapa yang akan dipilih olehnya? Sian-li Bwee Hua? Bidadari Tak Bersayap? Atau Ling Zhi?
Tuan Santeno mengerutkan keningnya, dia merasa heran. Cakra Buana baru pulang ke Pulau Jawa belum lama ini, tapi kenapa dia langsung mengetahui nama besar itu?
"Tentu saja tahu. Hampir semua orang di sekitar Kotaraja tahu nama itu, memangnya kenapa?" tanyanya penasaran.
"Apakah dia orang yang sangat berpengaruh?"
"Sangat berpengaruh, orang itu bekas datuk dunia persilatan beberapa tahun lalu. Sebelumnya dia sempat mengundurkan diri dan bersembunyi di tempat yang sunyi, belakangan ini baru keluar lagi. Tak disangka, begitu keluar persembunyian ilmunya justru sudah mencapai tahap sempurna. Sehingga dia langsung mengangkat namanya kembali, kekuasaan yang dulu pernah diraihnya, sekarang telah digapai kembali,"
"Ternyata dia benar-benar orang yang luar biasa,"
"Memang demikian, sebenarnya kenapa?"
"Kebetulan aku mempunyai masalah dengannya," kata Cakra Buana dengan tenang.
Jika Pendekar Tanpa Nama kalem, Tuan Santeno malah sebaliknya. Kedua matamya melotot besar. Dia benar-benar tidak menyangka pemuda itu bisa mempunyai persoalan dengan orang tua yang luar biasa itu.
__ADS_1
Tanpa sadar guru besar tersebut merasa sedikit ngeri, bagaimanapun juga dia sudah tahu orang macam apakah Tuan Gandrung Kalapati itu. Sudah tentu pula kalau dia merasa takut kepadanya.
"Bagaimana kau bisa mempunyai persoalan dengan orang sepertinya?" tanyanya lebih lanjut lagi.
Pendekar Tanpa Nama kemudian menceritakan kejadian singkatnya pada saat di restoran hingga di penginapan. Selama dia bercerita, Tuan Santeno tidak bicara apa-apa. Dia mendengarkan dengan seksama.
"Aii, rumit, sungguh rumit. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Sudah pasti dia tidak akan melepaskanmu begitu saja. Apalagi kau berani membunuh beberapa orang-orang suruhannya," ucapnya mengkhawatirkan keselamatan Cakra Buana setelah pemuda itu selesai bercerita.
"Aku sudah tahu dia tidak akan melepaskan aku. Lagi pula dengan kekuasannya yang luar bisa, bagaimana mungkin aku bisa lepas dari jeratannya?"
"Lantas bagaimana?"
"Semuanya sudah terlanjur. Maka dengan senang hati aku akan menghadapinya,"
"Apakah kau gila?" tanya Tuan Santeno setengah berteriak. Dia tidak habis mengerti mengapa pemuda di hadapannya saat ini berani berkata demikian. Parahnya lagi, dia berkata seperti tidak mempunyai perasaan takut. Wajah Cakra Buana biasa saja. Sedikitpun tidak merasa jeri.
"Justru karena aku tidak gila maka aku akan menghadapinya,"
"Tapi hal itu sangat berbahaya, terutama bagi keselamatanmu sendiri,"
"Aku mengerti,"
"Lalu kenapa kau masih nekad ingin memperpanjang masalah ini?" teriak Tuan Santeno.
"Seorang pria sejati, selamanya tidak akan lari dari masalah yang menghampiri dirinya. Dan aku rasa, Paman sendiri tahu seperti apa diriku ini,"
Mulut Tuan Santeno langsung terkancing seketika. Dia tidak mampu bicara. Juga tidak bisa menjawab.
Orang tua itu sudah tentu tahu orang seperti apakah Cakra Buana itu. Walaupun masalah seberat gunung, meskipun persoalan di seluruh muka bumi ditumpahkan kepadanya, dia sangat yakin kalau pemuda yang sudah dianggapnya keluarga itu pasti tidak sudi untuk melarikan diri.
Pendekar Tanpa Nama lebih memilih mati daripada harus melarikan diri dari masalah.
Terlebih lagi, siapapun tahu wataknya. Kalau dia sudah berkata A, tiada seorangpun yang dapat mengubahnya menjadi B.
Sikap pria sejati selamanya takkan ragu meskipun dihadapi dengan segala macam sesuatu.
__ADS_1