Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Dipermainkan Balik


__ADS_3

"Oh, jadi kalian berdua sudah bekerja sama untuk mengerjai aku? Hemm, sungguh kejam. Tak kusangka kalian seperti itu," kata Cakra Buana lalu tiba-tiba muncul di hadapan Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap.


Kedua gadis maha cantik itu terperanjat kaget. Mimpi pun mereka tidak mengira bahwa Cakra Buana akan mendengarkan pembicaraan mereka secara diam-diam.


Terlebih lagi, mereka lupa bahwa Pendekar Tanpa Nama mempunyai pendengaran yang amat tajam.


Pada saat bahagia, apakah manusia selalu melupakan berbagai macam hal yang bahkan sangat penting?


Keduanya mengigit bibir. Ling Ling dan Sinta saling pandang. Untuk beberapa saat lamanya, dua gadis itu tidak mampu bicara apapun.


"I-ini …" Sinta ingin menjawab. Namun sayangnya dia mengalami apa yang pernah dialami oleh Cakra Buana sebelumnya.


Lidahnya seperti tidak bisa diajak bicara. Mulutnya tidak dapat diajak bekerja sama. Keduanya saat ini tidak lebih seperti dua maling kecil yang ketakutan karena ketahuan aksinya.


"Kami hanya ingin bercanda saja. Tidak kurang dan tidak lebih," jawab Sian-li Bwee Hua mencoba memberanikan diri untuk angkat bicara.


Cakra Buana sekarang bukan Cakra Buana yang sebelumnya. Kalau tadi dia terlihat mati kutu, maka sekarang sebaliknya. Pemuda itu tampak seperti seorang tua yang sedang marah kepada dua orang anaknya.


Wajahnya serius. Matanya memandang tajam. Sedikitpun tidak ada senyuman yang dia lemparkan kepada dua orang kekasihnya.


"A-apakah Kakang marah?" tanya Bidadari Tak Bersayap dengan gugup.


Cakra Buana menarik muka. Dia tersenyum dingin sambil menatap ke arahnya.


"Tak kusangka kau masih sanggup bertanya seperti itu. Coba bayangkan, kalau kau berada di posisiku tadi, kira-kira kau akan marah atau tidak?" tanya balik Cakra Buana kepada Sinta.


Gadis itu mengigit bibirnya cukup kencang. Mereka benar-benar tidak dapat bicara lagi.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, Cakra Buana tiba-tiba memegangi dadanya sendiri. Wajahnya memperlihatkan ekspresi menahan sakit yang teramat sangat.


Dia berjalan ke depan dengan susah payah. Selang berikutnya, pemuda itu roboh terkapar tepat di hadapan dua orang kekasihnya.


Sian-li Bwee Hua panik. Bidadari Tak Bersayap lebih panik lagi.


"Rai, apa yang terjadi dengan Kakang Cakra Buana?" tanya Bidadari Tak Bersayap semakin cemas.

__ADS_1


"Ak-aku tidak tahu Nyimas. Aku sendiri tidak mengerti," jawab Sian-li Bwee Hua dengan cemas pula.


Kedua wanita itu semakin cemas saat menyaksikan nafas Cakra Buana yang semakin terengah-engah. Denyut nadinya sangat pelan. Begitu juga dengan detak jantungnya.


Mereka kemudian membaringkan Cakra Buana. Sian-li Bwee Hua memeriksa keadaan tubuh kekasihnya. Ternyata kondisi tubuh pemuda itu benar-benar mengkhawatirkan.


Dia segera menyalurkan hawa murni untuk membantu meringankan rasa sakitnya. Setelah beberapa saat kemudian, Pendekar Tanpa Nama membuka mata.


"Arak, arak, aku ingin arak," katanya dengan suara perlahan.


Ling Ling bergerak cepat. Dia langsung mengambilkan seguci arak yang kebetulan sempat mereka bawa.


Gadis Tionggoan itu langsung memberikannya dengan perlahan. Dengan sepenuh hati Sian-li Bwee Hua menyuapi arak ke dalam mulut Cakra Buana.


"Ayam bakar, aku ingin ayam bakar," ucapnya dengan suara yang sama lemah.


Kali ini Bidadari Tak Bersayap yang ambil bagian. Dia segera mengambilkan ayam bakar yang kebetulan masih tersisa sedikit lagi.


Dua gadis itu menyuapi kekasihnya dengan segenap hati dan perasaan. Apa yang dikatakan oleh Cakra Buana, mereka pasti segera melakukannya. Cakra Buana ingin dipijit, keduanya lantas memijit.


"Kakang, apakah ada bagian tubuh yang masih sakit?" tanya Sinta dengan wajah sangat cemas.


"Ti-tidak, aku hanya mempunyai permohonan kepada kalian," katanya sambil terbatuk-batuk.


"Katakan, katakanlah Kakang. Kami pasti akan menyanggupi permohonanmu kalau memang sanggup," kata Sinta menjawab cepat.


Cakra Buana memaksakan untuk tersenyum. Wajahnya pucat. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya.


"Ka-kalau aku mati, aku mohon jangan lupakan aku. Simpan aku di hati kalian. Selain itu, hiduplah dengan baik, ja-jangan kecewakan aku …" katanya tersendat-sendat.


Tangis Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap langsung pecah saat itu juga. Suara isak tangis menggema di dalam goa.


"Ti-tidak, kau jangan mati Kakang. Aku tidak ingin kehilanganmu," kata Bidadari Tak Bersayap sambil menangis.


"Cakra, kau tidak boleh bicara seperti itu. Bukankah kau ingin menikahi kami berdua?" Sian-li Bwee Hua meratapi nasibnya yang amat menyedihkan.

__ADS_1


Tangis dua gadis maha cantik itu semakin lama semakin mengenaskan.


"A-aku punya permohonan lain," sambung Cakra Buana setelah mengumpulkan kekuatan.


Ling Ling dan Sinta diam mendengarkan. Keduanya tidak memberi jawaban kecuali hanya anggukan kepala saja.


"Kalian harus hidup rukun. Jangan bertengkar. Hadapi semua persoalan bersama-sama. Kalau aku hidup lagi, apakah kalian mau menurut kepada perintahku tanpa membantah?"


"Tentu, tentu saja kami mau. Kelak kau akan menjadi suami kami, sudah tentu kami harus menuruti semua perintahmu. Untuk sekarang dan ke depannya, kami berjanji tidak akan berbuat hal-hal gila lagi," kata Sinta segera menjawab.


"Benar atas apa yang dikatakan oleh Nyimas Sinta, kami pasti akan tunduk kepadamu," sambung Sian-li Bwee Hua.


Cakra Buana tersenyum sambil memejamkan sepasang matanya. Setelah beberapa saat kemudian, tiba-tiba dia tertawa. Tawa yang sangat lantang dan bahagia.


"Hahaha … akhirnya kalian tunduk kepadaku. Aii, betapa senangnya aku jika mempunyai dua istri seperti kalian ini. Sudah cantik, sakti, tunduk kepada suami pula …" kata pemuda itu sambil tertawa terbahak-bahak.


Betapa kesal dan geramnya Sian-li Bwee Hua serta Bidadari Tak Bersayap. Dua gadis itu benar-benar gemas kepada Cakra Buana. Mereka ingin memukul sampai memar, sayang, keduanya ingat akan janji yang baru saja mereka ucapkan.


Orang zaman dulu biasanya sangat menjunjung tinggi sumpah dan janji mereka. Sumpah janji orang terdahulu sangat bisa dipegang sebagai jaminan.


Tapi itu dulu.


Kalau sekarang, tentunya beda lagi. Pada zaman ini, sumpah dan janji hanya sebuah bualan belaka. Bahkan tanpa rasa takut, biasanya dari sebagian manusia itu justru malah "mempermainkan" Tuhan mereka.


Hal ini bukan hanya kabar kosong. Kita bisa melihatnya di kehidupan sehari-hari.


Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap hanya bisa menggertak gigi. Selain dari itu, memangnya apalagi yang bisa mereka lakukan saat ini?


Cakra Buana melompat ke arah dua kekasihnya. Kemudian dia segera merangkul mereka dengan kencang.


"Aku ingin arak, juga ingin ayam bakar," katanya sambil tertawa menggoda.


Dua kekasihnya mendelik. Tapi mereka tidak berkata apa-apa. Keduanya segera menyuapi pemuda itu, tapi caranya sekarang, berbeda dengan sebelumnya. Mereka menyuapi Cakra Buana sedikit kasar.


Tapi terlepas dari semua itu, mereka semua hanya bercanda. Bercanda untuk meluapkan perasaan bahagia mereka saat ini.

__ADS_1


__ADS_2