Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Sukma Pedang


__ADS_3

Robohnya dua orang anggota itu semakin membuat Formasi Tiga Puluh Hantu goyah. Formasi tersebut mulai kacau tidak karuan. Hal ini mendatangkan keuntungan bagi Pendekar Tanpa Nama.


Sebab itu artinya, cara yang dia gunakan terbukti sangat efektif. Dua puluh delapan anggota itu merasa sangat marah. Namun mereka tidak berani membuyarkan formasi. Sebab kalau menyerang satu persatu, orang-orang tersebut yakin bukan tandingannya si pemuda asing.


Pendekar Tanpa Nama bergerak lagi.


Kali ini gerakannya jauh lebih cepat dan jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya. Serangan yang dia lancarkan juga semakin dahsyat. Sebab lima bagian tenaga dalam atau setara sengan setengan kekuatannya telah dia keluarkan.


Cahaya merah yang membawa kabar dari neraka kembali terlihat. Gerakannya sungguh sukar diduga. Terdengar beberapa kali bunyi nyaring yang menggetarkan hati.


Tiga orang anggota kembali menemui ajal mereka. Ketiganya mendapatkan luka di bagian leher. Keadaan semakin kacau. Dua puluh lima orang yang tersisa bergidik ngeri saat melihat pemuda asing itu.


"Hujan Pedang Sejuta Kilat …"


Pendekar Tanpa Nama berteriak sekencang mungkin. Menurut kitab yang dia pelajari, jika mengeluarkan jurus sambil berteriak, maka hasilnya akan jauh lebih dahsyat.


Terbukti sekarang.


Gerakannya jauh lebih cepat dan mengerikan. Sambaran pedang yang dia keluarkan menerjang bagaikan harimau buas.


Cahaya merah terus memencar ke segala penjuru. Ribuan titik pedang berujung kematian sudah tergelar di depan mata. Dua puluh lima orang tersebut berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan selembar nyawa mereka.


Sayangnya semua itu hanya perbuatan sia-sia belaka. Sekalipun mereka memiliki sepuluh nyawa, tetap saja sia-sia.


Sebab yang mereka hadapi adalah Pendekar Tanpa Nama.


Jika seseorang mengganggu harimau yang sedang tertidur, apakah ada jaminan orang itu akan dilepaskan begitu saja? Tentu saja tidak.


Begitu pula dengan kejadian yang akan di alami oleh orang-orang tersebut. Pendekar Tanpa Nama sama sekali tidak akan membiarkan satu pun dari mereka lolos.


Lima nyawa kembali melayang percuma. Sepak terjangnya semakin lama semakin menakutkan. Seolah dia adalah wakil dari Malaikat Maut yang bisa kapan saja mencabut nyawa manusia.


Teriakan tertahan terus terdengar seiring berjalannya waktu. Benturan senjata beradu menimbulkan percikan bunga api yang kelam. Seperti kelamnya hati orang-orang itu.


Kematian sudah di depan mata. Apakah ada lagi sesuatu yang lebih menakutkan daripada ini?


Lima belas orang telah menjadi korban keganasan Pendekar Tanpa Nama hanya dalam waktu singkat. Tak kurang dari dua puluh jurus, lima belas orang yang berada dalam barisan formasi, berhasil dia cabut nyawanya.


Padahal siapapun tahu, kalau seseorang berada dalam sebuah barisan formasi, sudah pasti sangat sulit sekali untuk mencabut nyawanya.


Tetapi sepertinya hal tersebut hanya berlaku bagi orang lain saja. Sedangkan bagi Pendekar Tanpa Nama, tidak sama sekali.

__ADS_1


Bahkan bisa dibilang dia dapat mencabut nyawa orang-orang yang ada salam formasi itu dengan sangat mudah sekali. Hanya cukup melancarkan dua atau tiga kali tebasan, bisa dipastikan nyawa mereka melayang.


Baik jurus maupun pedangnya, memang tidak pernah mengecewakan pemiliknya. Bahkan pemiliknya juga tidak pernah mengecewakan jurus dan pedangnya.


Sebuah kombinasi yang unik.


Lima belas menit kemudian, gerakan Pendekar Tanpa Nama berubah. Dia berputar di hadapan semua musuh yang tersisa.


"Srettt …"


"Srettt …"


Bunyi kain robek terdengar sambung menyambung tiada hentinya. Dua belas anggota terkapar dengan mulut mengucurkan darah. Dada mereka robek dari sisi kanan ke sisi kiri.


Semuanya tewas dalam rasa penasaran. Semuanya mati dalam rasa kekecewaan.


Kecewa dengan diri sendiri yang begitu lemah sehingga tidak bisa memberikan perlawanan apapun.


Tinggal tiga orang anggota yang tersisa. Pendekar Tanpa Nama melancarkan serangan terakhirnya.


Tetapi belum sempat serangan itu mengenai sasarannya, mendadak selarik sinar kuning keemasan mengarah kepadanya dengan kecepatan tinggi.


"Utsss …" Pendekar Tanpa Nama berjumpalitan ke belakang tiga kali supaya terhindar dari sinar tersebut.


"Kalian saudara Ou Lin?" tanya Pendekar Tanpa Nama secara tiba-tiba.


"Jeli juga matamu. Baru beberapa waktu di negeri orang, tetapi sudah bisa mengenali orang yang bahkan dia sendiri tidak kenal kepadamu," kata salah seorang. Sebenarnya secara tidak langsung dia menyindir bahwa Pendekar Tanpa Nama tidaklah terkenal seperti mereka sehingga tidak dikenali orang.


"Jadi ini yang kalian maksud pemimpin suci? Apakah mataku tidak salah lihat?" ujarnya balas mengejek.


"Keparat. Kau telah mencari masalah dengan Tujuh Perampok Berhati Kejam. Berarti sekarang kau sedang ada dalam masalah besar,"


"Aku sudah tahu,"


"Lalu kenapa kau tidak bersujud di bawah kakiku untuk meminta maaf?"


"Hemm, maaf. Seharusnya iblis yang bersujud di bawah kaki manusia,"


"Bangsat. Lancang sekali mulutmu," kata seorang pemimpin gusar.


"Sebelum berlanjut, aku ingin tahu dulu siapa nama kalian?" tanya Pendekar Tanpa Nama.

__ADS_1


"Aku adik keempat, namaku Ong Wi, ini adik kelima, namanya Pong Tofu, dan ini kakak kedua, namanya Lo Jin," kata orang yang mengaku bernama Ong Wi.


"Nah bagus, kalau sudah tahu nama begitu kan enak,"


"Enak apanya bocah?" tanya Lo Jin marah.


"Enak, jadi kalau kalian mati aku hanya perlu menggali lubang lalu memberikan batu nisan sesuai dengan nama-nama kalian," ejek Pendekar Tanpa Nama.


"Bocah tidak tahu aturan. Kalau hari ini kau tidak mampus, rasanya aku sungguh keterlaluan sekali,"


Selesai dia berkata seperti itu, Lo Jin sebagai orang tertua di antara mereka ingin segera bertindak. Namun perbuatannya lebih dulu dihalangi oleh Pong Tofu sebagai yang termuda.


"Kakak Lo Jin diam saja dulu. Biar Adik Pong mu ini yang membereskan pemuda bangsat itu," kata Pong Tofu sambil memainkan kepalan tangannya.


"Hemm, baiklah Adik Pong. Kuserahkan pemuda bajingan itu kepadamu," ujarnya lalu mencoba menguasai amarhnya kembali.


Pong Tofu segera membalikan badannya lalu menatap tajam ke arah Pendekar Tanpa Nama.


"Kau pendekar pedang?"


"Bukan,"


"Lalu?"


"Sukma pedang," jawab Cakra Buana penuh keyakinan.


"Bagus. Mulutmu memang tinggi, biar aku lihat sampai di mana kemahiranmu dalam memainkan pedang,"


Pong Tofu segera mencabut senjatanya juga yang merupakan sebatang pedang.


Pedang pusaka yang lumayan menyeramkan dengan warna hitam legam.


Entah kapan dia memulai gerakannya, mendadak saja pedang itu sudah berada satu langkah di hadapan Pendekar Tanpa Nama.


Serangan pertama berupa tusukan. Tetapi Pendekar Tanpa Nama masih terdiam. Dia belum bertindak.


Ketika jarak pedang lawan setengah langkah lagi darinya, barulah dia memulai aksi pertama.


"Trangg …"


Benturan pertama langsung terjadi. Pedang milik Pong Tofu bergetar hebat. Dia terdorong satu langkah ke belakang. Sedangkan Pendekar Tanpa Nama masih berdiri kokoh di tempatnya bagaikan sebuah gunung.

__ADS_1


Dari benturan awal saja, Carka Buana sudah tahu sampai di mana kemampuan lawannya tersebut.


__ADS_2