
Hanya dalam beberapa gebrakan, puluhan orang terkapar di tanah. Ada yang saling tindih dengan rekannya satu sama lain. Ada yang meraung menahan rasa sakit. Ada juga yang mengeluh karena dada mereka terasa sesak.
Semua anggota dari dua kelompok semuanya menahan rasa nyeri.
Cakra Buana hanya terdiam. Aura pembunuhan pekat terasa kental sekali keluar dari tubuhnya. Sedangan Li Guan si Buta Yang Tahu segalanya selalu tersenyum.
Senyuman yang hangat. Senyuman yang mendatangkan kenyamanan. Terutama bagi sahabatnya, Pendekar Tanpa Nama.
"Apakah kita harus pergi sekarang?" tanya Cakra Buana kepada Li Guan.
Semenjak dirinya selalu bersama dengan Li Guan, pemuda Tanah Pasundan itu memang tidak lagi berbuat gegabah. Bahkan dia senantiasa menanyakan apa tindakan selanjutnya.
Bukan karena dia tidak mempunyai pendirian lagi. Tetapi karena Cakra Buana selalu menimbang-nimbang. Apalagi situasi sekarang sangat berbahaya.
Setiap saat, bisa saja nyawanya melayang. Setiap saat, kematian selalu mengikuti dirinya. Seperti bayang-bayang yang selalu hadir di mana pun.
Sementara itu, malam semakin gelap. Rembulan mulai bergeser ke arah Barat. Bintang yang tadi bertaburan di angkasa raya, kini mulai lenyap tak berbekas.
Walaupun bintang lenyap tanpa bekas, tetapi kenangan tidak bisa lenyap begitu saja. Sampai kapan pun, kenangan akan selalu ada. Akan selalu hadir. Dia tidak akan bisa hilang dan tidak akan pernah lenyap dari kehidupan seseorang.
Pendekar Tanpa Nama termenung untuk sesaat. Dia menjadi teringat kepada wanita cantik, bahkan sangat cantik. Dia ingat saat menolong si wanita yang ternyata hanya pura-pura keracunan.
Dulu keduanya sempat adu mulut untuk beberapa saat. Si wanita pernah berkata akan memakai segala cara untuk mendapatkan kitab yang ada pada dirinya.
Tetapi yang teringat jelas oleh Cakra Buana bukan masalah itu.
Yang paling dia ingat adalah bagaimana saat wanita tersebut bicara. Bagaimana suaranya yang sangat lembut dan menggoda. Bentuk tubuhnya yang padat sempurna. Dan cara berjalannya yang mempesona.
Dia teringat jelas saat dirinya mencium pipi si wanita tersebut. Begitu lembut pipinya. Selembut belaian kekasih di saat sedang rindu. Selembut salju putih yang turun di pagi hari.
Apakah dia telah mencintainya? Ataukah dia merindukannya? Dan apakah si wanita juga sama dengan yang apa yang dia rasakan sekarang?
__ADS_1
Entahlah, semua itu tidak mampu dia jawab sekarang.
Tapi yang pasti, dia sangat yakin bahwa sedikit banyak, wanita itu juga sama mencintainya. Hanya saja, jika seorang wanita mencintai pria, maka dia lebih suka secara diam-diam.
Dia malu untuk mengatakannya. Tapi dia juga berat jika si pria bersikap dingin kepadanya.
Teringat akan semua hal tentangnya, Cakra Buana jadi bertanya-tanya. Siapakah dia sebenarnya? Bagaimana asal usulnya? Apakah dia dalang dari semua masalah yang menimpanya?
Semakin dipikir semakin memusingkan. Maka pada akhirnya Pendekar Tanpa Nama lebih memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Dia berniat untuk segera berlalu dari sana, karena kalau tidak segera berlalu pergi, memangnya apalagi yang akan dia lakukan? Menunggu orang-orang yang meraung itu terdiam membisu? Atau menunggu yang sekarat hingga mampus?
Tentu saja tidak mungkin. Dia bukan orang bodoh yang mau menunggu sesuatu hal sekonyol itu.
Bau amis tercium menyengat saat angin malam berhembus. Baru saja Pendekar Tanpa Nama melangkahkan kakinya, tiba-tiba si Buta Yang Tahu Segalanya telah bicara.
"Jangan pergi. Kita sudah terjebak. Akan banyak lagi orang-orang yang hadir di sini," ucapnya.
"Apakah yang kau katakan benar?"
"Bagaimana …"
Sebelum Cakra Buana menyelesaikan perkataannya, Li Guan lebih dahulu memotongnya. "Kau jangan lupa, aku si Buta Yang Tahu Segalanya," katanya sambil tersenyum.
"Kau benar. Mulai sekarang, aku akan selalu mengingat perkataan itu dalam pikiranku," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.
Tidak ada keraguan dalam wajahnya. Dia selalu yakin kepada sahabatnya ini.
"Apakah mereka masih lama?"
"Tidak. Coba kau lihat di sekeliling, mereka sudah muncul,"
__ADS_1
Begitu Pendekar Tanpa Nama membalikan badannya dan melihat ke sekeliling, ternyata benar.
Puluhan orang sudah ada di sana sini. Tak kurang dari lima puluh orang sedang berjalan secara bersamaan. Mereka memakai pakaian serba hitam.
Yang lainnya memakai pakaian penuh tambalan. Jelas, mereka adalah anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam dan Kay Pang Hek lainnya.
Tak lama, muncul juga tiga pemimpin dari Tujuh Perampok Berhati Kejam. Mata mereka memandang Cakra Buana secara bengis. Amarahnya sudah tidak bisa dilukiskan lagi. Apalagi ketika mereka melihat dua saudaranya telah tewas dalam keadaan mengenaskan.
Setelah mereka semua tiba, mendadak muncul lagi tokoh-tokoh kenamaan lainnya. Tiga Tosu Sesat, dan dua tokoh lainnya. Yang paling mengejutkan Cakra Buana adalah hadirnya si kakek tua. Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi.
Mereka semua memandang dengan wajah bengis. Jelas, tujuan utama mereka kemari adalah untuk membunuhnya.
Posisinya benar-benar tidak menguntungkan. Sepertinya malam ini adalah malam yang sial baginya.
Sepertinya dia bersama Li Guan memang dijebak. Dan sekarang keduanya benar-benar terjebak. Jangan harap bisa keluar secara mudah. Apalagi telah dikepung dari setiap sudut. Tak ada celah untuk mereka berdua melarikan diri.
"Kau tahu siapa yang dua orang itu?" tanya Li Guan.
"Tidak," jawab Cakra Buana sambil menggelengkan kepalanya.
"Yang satu si Kepalan Besi, dan yang satu lagi si Macan Kumbang Cakar Rembulan. Walaupun mereka bukan pendekar terkuat, tetapi keduanya termasuk ke dalam jajaran jago kelas satu. Semua ini sepertinya sudah direncanakan, entah apa tujuan sebenarnya orang di belakang layar ini. Yang jelas, sepertinya dia sudah berhasil menghasut orang-orang ini untuk membunuhmu," ucap Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Cakra Buana hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Pula, tak ada lagi caranya untuk pergi dari sana. Kecuali bertarung sampai mati, selain itu, apalagi yang bisa dia lakukan?
Ketagangan mulai terlihat di wajahnya. Sekuat-kuatnya dia, tetap saja Cakra Buana adalah manusia. Jangankan dirinya, sekalipun yang ada di posisi itu si Iblis Tua Langit Bumi, nisacaya dia pun akan merasakan hal yang sama.
Jurusnya memang dahsyat dan mengerikan, tapi apakah benar jurusnya bisa langsung meratakan puluhan orang secara sekaligus? Apalagi di sana banyak tokoh terkemuka.
Kalau yang mengepungnya hanya anggota atau pendekar kelas bawah, itu masih dibilang mendingan. Cakra Buana masih mempunyai keyakinan untuk membebaskan diri. Tetapi jika keadaannya seperti sekarang, dia sendiri tidak memiliki keyakinan untuk meloloskan diri dari tempat tersebut.
Namun walaupun begitu, si Buta Yang Tahu Segalanya masih terlihat tenang. Wajahnya sama sekali tidak menggambarkan rasa takut. Bahkan dia masih tetap tersenyum hangat kepadanya.
__ADS_1
Apakah rasa takutnya sudah hilang? Ataukah memang pada dasarnya dia tidak memiliki rasa takut?
"Tenanglah. Kita masih bisa bebas dari sini, kita tidak akan mati. Yang perlu kau lakukan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa malam ini, tidak perduli berapa banyak musuh yang mengepung, kita akan keluar hidup-hidup," ucap Li Guan sambil menepuk pundak Pendekar Tanpa Nama.