Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Adu Ilmu Pedang dan Ilmu Golok


__ADS_3

Semua orang kaget. Mereka tidak mengetahui kapan dan bagaimana caranya pendekar muda itu meloloskan pedang.


Terlebih lagi, ada kekuatan besar yang terkandung di dalam senjata pusaka tersebut. Sinar merah terus memancar. Padahal pedangnya belum dicabut.


Namun, siapapun pasti sudah dapat menduga bahwa senjata si pendekar muda, pastilah senjata pusaka kelas satu. Terlihat gagangnya sangat indah. Apalagi sarungnya.


Begitu pedang diloloskan, sinar merah yang lebih terang segera menyeruak untuk sesaat.


Pedang Naga dan Harimau.


Pendekar Tanpa Nama tahu bahwa dua lawan itu mempunyai kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh. Sehingga dia langsung mengeluarkan senjata pusaka andalannya.


Anak muda itu kembali membuat semua orang terkejut. Terlebih lagi Dua Setan Pelabuhan Lemah Jawi. Mereka kaget setengah mati.


Siapapun tahu nama pedang pusaka itu. Dan siapapun sudah mulai tahu, siapa pemiliknya sekarang.


"Pendekar Tanpa Nama …" gumam Dua Setan Pelabuhan Lemah Jawi secara bersamaan.


"Kau mengenalku?"


"Tentu saja, sudah lama sekali aku mencarimu anak muda," kata Pedang Ombak Mengamuk, suaranya tidak sgaarang tadi. Wajahnya juga tidak terlihat kesal seperti sebelumnya.


"Aku rasa kita tidak mempunyai masalah sebelumnya, kenapa kau mencariku?"


"Aku penasaran dengan ketenaran namamu. Sekarang kebetulan kita berjumpa,"


"Kalau sudah berjumpa, memangnya mau apa?"


"Aku ingin berduel denganmu untuk beradu ilmu pedang," tantang Pedang Ombak Mengamuk.


"Baik. Aku terima tantanganmu," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan tenang.


"Bagus. Sekarang, mari kita mulai,"


Pedang Ombak Mengamuk langsung menerjang Cakra Buana. Pedang pusaka yang dia genggam mengeluarkan pamor cukup mengejutkan orang.


Sabetan pertama dia lancarkan. Arah tujuannya ke leher, namun dengan tenangnya Pendekar Tanpa Nama menghadapi serangan tersebut.


Pedang Naga dan Harimau dia angkat untuk menangkis pedang lawan.


"Trangg …"


Bunyi benturan senjata pertama terdengar.

__ADS_1


Pedang Ombak Mengamuk tidak berhenti, dia melepaskan kembali serangan lainnya. Gempuran sabetan pedang langsung dia keluarkan ke arah Cakra Buana.


Setiap pedangnya bergerak, selalu menimbulkan sinar hitam yang membelah udara.


Semua orang yang menyaksikan pertarungan ini menahan nafas mereka. Bahkan berkedip pun rasanya tidak. Seolah mereka tidak ingin kehilangan adegan pertarungan yang luar biasa tersebut.


Ini adalah pertarungan kelas atas. Semua orang pasti ingin menyaksikan jalannya pertarungan.


Pendekar Tanpa Nama mulai bergerak mengimbangi setiap serangan Pedang Ombak Mengamuk. Tubuh kedua tokoh itu terbungkus oleh sinar yang mereka ciptakan karena dahsyatnya jurus serangan.


"Ombak Mengamuk di Tengah Samudera …"


"Wushh …"


Jurus terkuat yang dia miliki sudah keluar. Jurus ini adalah jurus yang mengangkat namanya hingga menjadi penguasa di Pelabuhan Lemah Jawi. Jurus pedang tersebut mengandalkan kecepatan dengan serangan kilat yang ringan namun mematikan.


Gerakannya seperti ombak yang menggempur batu karang di lepas pantai. Datang bergulung-gulung tanpa henti dan tanpa ampun.


Seperti juga saat ini. Pedang itu mengurung Pendekar Tanpa Nama dari segala sisi. Bentakan nyaring keluar dari mulutnya mengiringi jalannya pertarungan.


Cakra Buana tidak mau kalah, apalagi lawan sudah menantangnya di depan banyak orang. Jurus dahsyat segera dia keluarkan saat itu juga.


"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"


Pedang Naga dan Harimau seperti terlihat ribuan banyaknya di mata lawan. Sinar pedang memotong sinar yang dihasilkan dari senjata lawan.


Benturan senjata terdengar nyaring membuat bising telinga. Pedang Ombak Mengamuk mulai berada dalam tekanan serangan Pendekar Tanpa Nama. Telinganya mendengar begitu banyak ledakan halilintar. Matanya melihat kilat menyambar ke arahnya.


Serangan mereka semakin ganas. Mencapai jurus ketiga puluh sembilan, Pedang Naga dan Harimau dia benturkam dengan senjata lawan.


"Trangg …"


Pedang milik lawan patah menjadi dua bagian. Detik berikutnya, Pendekar Tanpa Nama memberikan tusukan yang tepat mengarah ke jantung, titik paling mematikan dalam tubuh manusia.


"Slebb …"


Pedang itu tembus hingga ke belakang. Kutungan pedang yang masih digenggam sebelumnya, mendadak terlepas.


"Ka-kau menang. Aku bangga bisa tewas di tangan pendekar sepertimu," gumam Pedang Ombak Mengamuk, suaranya kurang jelas karena mulutnya penuh dengan darah segar.


Setelah pedang dicabut, si Golok Penggetar Sukma telah melompat lalu mengatakan hal yang sama seperti Pedang Ombak Mengamuk.


Dia ingin beradu ilmu golok dengan ilmu pedang lawan.

__ADS_1


Bedanya, orang tua gemuk itu langsung mengeluarkan jurus tertinggi yang dia kuasai.


"Golok Hitam Menarik Sukma …"


Babatan golok langsung keluar mengincar batok kepala Cakra Buana. Serangannya jauh lebih hebat dan sangat cepat. Walaupun tubuhnya gemuk seperti gajah, tetapi nyatanya hal tersebut tidak mempengaruhi gerakannya.


Justru dengan tubuhnya yang gemuk, si Golok Penggetar Sukma dapat bergerak lebih dari apa yang sudah dibayangkan.


Tubuhnya melompat lalu mendaratkan sabetan golok dari samping kanan ke samping kiri.


Saat itu Pendekar Tanpa Nama masih menggunakan jurus yang sama. Jurus Hujan Kilat Sejuta Pedang.


Sehingga dia tidak merasakan kesulitan sama sekali. Pedangnya langsung menyambar golok lawan. Benturan terjadi, namun dia segera melancarkan serangan berikutnya.


Sabetan pedang terlihat membungkus tubuh lawan. Desingan angin tajam yang dapat merobek kulit segera tercipta. Si Golok Penggetar Sukma merasakan sebuah tekanan yang sangat dahsyat.


Gerakannya melambat. Setiap serangan yang dia berikan selalu dapat dicegah dengan mudah oleh Pendekar Tanpa Nama.


Pertarungan keduanya telah mencapai jurus ketiga puluh delapan.


Serangan dari dua belah pihak semakin menggila. Golok yang tajam menyapu keadaan di sekitar. Pedang pusaka yang luar biasa menebarkan hawa kematian.


Cakra Buana menggempur tanpa ampun. Lima jurus berikutnya, tubuhnya berputar di udara sambil tetap melancarkan serangan.


"Crashh …"


Satu kepala menggelinding ke bawah. Si Golok Penggetar Sukma tewas tanpa kepala.


Darah menyembur ke tempat sekitar. Tetapi tidak ada darah yang menempel pada batang Pedang Naga dan Harimau.


Tak ada suara jeritan. Tak ada kata terakhir dalam pertarungan.


Sebab sebelum dia sempat berkata, nyawanya telah melayang lebih dulu meninggalkan raganya.


Debu masih mengepul menghalangi pandangan mata. Cakra Buana keluar dari kepulan debu tersebut dengan langkah ringan dan wajah yang dingin.


Walaupun dua pertarungan berjalan dengan dahsyat hingga menyebabkan korban jiwa, tetapi nyatanya pakaian pendekar muda itu sama sekali tidak terkena noda darah.


Bahkan pedangnya sudah berada di punggung kembali dan telah dibungkus oleh kain putih.


Setelah dua lawannya tewas, Pendekar Tanpa Nama segera pergi lagi ke kedai makan untuk menghabiskan arak yang tadi masih tersisa.


Satupun tidak ada yang berani menghalanginya. Jangankan begitu, yang bicara saja tidak ada yang berani. Semua orang langsung menyingkir dan menundukkan kepalanya saat Cakra Buana lewat di hadapan mereka.

__ADS_1


Mereka takut menyinggung perasaan Pendekar Tanpa Nama. Apalagi, kekesalan jelas tergambar di wajahnya.


__ADS_2