
Suasana hening lagi. Pemakaman kuno itu kembali dicekam kesunyian yang amat sunyi. Tempat yang semula terasa biasa saja, sekarang mendadak terasa jauh lebih menyeramkan lagi.
Puluhan nyawa manusia terkapar saling tumpuk. Mereka ada yang tewas di pinggir makam, di tengah makam, bahkan di atas batu nisan.
Pemandangan seperti sekarang ini, bukankah sangat mengerikan?
Sembilan Harimau Pengepung merasa ingin muntah. Mulutnya mual, perutnya seperti dipelintir.
Mereka biasa membunuh, biasa menyiksa manusia dengan kejam, tapi seumur hidupnya, sembilan orang itu sama sekali belum pernah melakukan apa yang sudah dilakukan oleh Pendekar Tanpa Nama sekarang.
Pemuda itu benar-benar kejam.
Menurut sembilan tokoh tersebut, yang sanggup melakukan hal sekejam sekarang hanyalah iblis. Kalau manusia, rasanya tidak mungkin.
Lantas, apakah Pendekar Tanpa Nama merupakan iblis?
"Sekarang semuanya sudah selesai. Tinggal giliran kalian yang akan segera menyusul mereka," kata Cakra Buana dengan dingin.
"Keparat. Lihat serangan …" teriak si gendut.
Meskipun tubuhnya bulat seperti bola, tapi ternyata ilmu meringankan tubuhnya sangat sempurna. Terbukti saat ini, baru saja mulutnya selesai berteriak, tubuh yang belum itu telah tiba di hadapan Pendekar Tanpa Nama.
Kalau tidak menyaksikan secara langsung, siapapun pasti tidak akan ada yang percaya akan hal ini.
Wushh!!! Wushh!!!
Melihat seorang rekannya bergerak menerjang lawan, delapan tokoh lainnya ternyata tidak tinggal diam. Mereka pun turut melakukan hal yang sama.
Sembilan Harimau Pengepung telah mengambil bagiannya masing-masing. Meskipun mereka belum mengeluarkan Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala, namun ternyata serangan tunggal mereka tidak boleh dipandang sebelah mata.
Empat tusukan tajam dilayangkan oleh seorang lawan dari sebelah kiri. Sabetan dahsyat melesat dari arah depan. Serangan lainnya tiba dari masing-masing penjuru mata angin.
Semuanya merupakan serangan kelas atas. Seluruh kekuatan mereka telah dikerahkan, kalau sudah seperti ini, maka pertarungan yang akan berlangsung pasti bakal lebih seru dan sengit lagi.
Wushh!!! Trangg!!! Trangg!!!
Benturan nyaring terdengar beberapa kali. Suara itu menyebabkan telinga mendengung dan tubuh bergetar. Percikan bunga api tampak indah di tengah udara malam.
Pendekar Tanpa Nama telah bergerak di tengah badai serangan dari semua lawannya. Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk sudah dikerahkan.
Wushh!!!
Semuanya hilang. Semuanya lenyap ditelan ketiadaan.
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk sekarang sudah jauh lebih sempurna lagi. Jurus itu bukanlah sebuah jurus yang rumit, jurus tersebut justru merupakan jurus yang sangat sederhana.
Tanpa perubahan. Tanpa kembangan. Tapi sangat mematikan.
__ADS_1
Pedangnya lenyap dari penglihatan lawan. Tubuh pemiliknya juga sama. Keduanya seakan menghilang begitu saja seperti hantu di dalam dongeng.
Srett!!
Seorang lawan Pendekar Tanpa Nama langsung melompat mundur pada saat merasakan luka di bagian tubuhnya.
Pahanya telah tergores cukup dalam. Darah mulai merembes keluar.
Tokoh itu kemudian menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Lukanya dia ikat dengan sebuah kain putih.
Di arena pertarungan, delapan rekannya belum berhenti bergerak. Mereka masih menyerang Cakra Buana dengan ganas. Delapan kilatan senjata pusaka menghujani tubuh pemuda itu.
Trangg!!!
Percikan api tiba-tiba membentuk lingkaran. Delapan senjata yang mencoba meraih tubuh Cakra Buana langsung disambar secara bersamaan.
Pertarungan mendadak berhenti saat itu juga.
Semua tokoh Sembilan Harimau Pengepung ternganga dengan mulut setengah terbuka.
Mereka masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
Bagaimana pemuda itu bisa sekuat sekarang? Bukankah beberapa hari yang lalu dia tidak seperti ini?
Waktu terus berjalan. Entah berapa lama mereka semua terdiam dalam keheningan. Sembilan Harimau Pengepung telah lengkap. Sepasang mata mereka memancarkan api dendam membara yang tidak akan pernah padam.
Wushh!!!
Setelah melangsungkan pertarungan sengit, akhirnya mereka mengeluarkan jurus gabungan terdahsyat yang beberapa hari lalu hampir membunuh Pendekar Tanpa Nama.
Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala telah dikeluarkan kembali.
Wushh!!! Wushh!!!
Sembilan orang itu langsung bergerak dengan lincah. Gerakannya lebih dahsyat dari pada beberapa hari lalu itu. Sembilan serangan langsung mengurung kembali Pendekar Tanpa Nama.
Hanya sesaat, pemakaman kuno itu telah ramai kembali. Sembilan bayangan manusia melesat ke sana kemari dengan cekatan.
Gerakan mereka mirip seperti seekor harimau yang menerjang mangsanya. Kerja sama Sembilan Harimau Mengepung Serigala semakin terlihat kehebatannya.
Tubuh Cakra Buana berada dalam kurungan kekuatan yang sulit dibayangkan ini.
Wushh!!!
Cahaya merah tiba-tiba bergerak.
Sebuah tusukan tiada tanding melesat dengan dahsyat ke arah satu orang lawannya.
__ADS_1
Crashh!!! Srett!!!
Darah menyembur tiba-tiba. Dua tokoh dari Sembilan Pengepung meregang nyawa dalam waktu bersamaan. Yang satu terpenggal kepalanya. Hanya sekali tebas, kepala itu terlempar jauh ke samping kanan.
Sedangkan satu korban lainnya tergores di bagian punggung belakang. Sebuah luka lebar tampak dari sisi kanan hingga ke sisi kiri.
Dua tubuh manusia jatuh ke tanah.
Setelah kematian dua tokoh tersebut, kehebatan dari Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala langsung menurun drastis.
Sekarang Cakra Buana mengerti, ternyata kehebatan barisan itu hanya ketika jumlahnya kumplit saja. Saat jumlahnya berkurang, meskipun itu misalnya hanya dua orang, ternyata kehebatannya telah berkurang sangat drastis.
Kenyataan ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Cakra Buana, melihat kekuatan lawan menurun, pemuda itu lantas menyerang lebih ganas lagi.
Cahaya merah semakin menyilaukan mata. Tempat di sana berubah terang oleh sinar merah membara tersebut.
Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan kembali jurus yang dahsyat itu.
Pertarungan berlangsung lebih sengit lagi.
Wushh!!!
Srett!!! Crashh!!! Slebb!!!
Beberapa kali suara menyeramkan itu terdengar. Beberapa kali pula suara erangan kesakitan menggelegar di telinga.
Pertarungan dahsyat langsung berhenti saat itu juga. Semuanya kembali seperti semula. Tapi keadaannya sudah jauh berbeda dari sebelumnya.
Sembilan Harimau Pengepung telah berubah menjadi seonggok tubuh tanpa nyawa. Mereka semua tewas di tangan pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama.
Darah masih mengalir dari masing-masing tubuh mereka. Darah itu masih hangat. Darahnya juga masih merah. Merah pekat.
Cakra Buana menghela nafas dalam-dalam. Pedang Naga dan Harimau sudah disarungkan kembali. Matanya memandang ke sekeliling pemakaman kuno tersebut. Setelah dipastikan tempat itu aman, Cakra Buana kemudian melangkah pergi dari sana.
Pertarungan hebat akhirnya usai. Sembilan Harimau Pengepung, sekarang sudah tiada lagi di dunia ini. Untuk ke depannya tidak akan ada lagi yang bakal mendengar kehebatan nama dan kehebatan barisannya.
Semuanya tinggal nama.
Perlahan namun pasti, tubuh Cakra Buana telah berada jauh dari area pemakaman kuno tersebut. Pemuda itu tidak mengambil jalan yang sama seperti pada saat dia berangkat, Cakra Buana mengambil jalan lain.
Dia mengambil langkah tersebut bukan karena takut. Melainkan sengaja karena tidak ingin mendapatkan masalah yang jauh lebih sulit lagi.
Bagaimanapun juga, Cakra buana harus menyiapkan segalanya. Dia mesti menyiapkan tenaganya semaksimal mungkin. Belum lagi hati dan pikirannya.
Sebab pertarungan yang beberapa kali jauh lebih hebat telah menanti di depan matanya.
Tujuannya sekarang tentu ke Gunung Hua Sun. Di sana, sahabat-sahabatnya sudah menanti kedatangan dirinya.
__ADS_1