
Pendekar Tanpa Nama sudah menduga akan hal ini. Dia yakin kalau pertarungan antara dirinya dan Sri Ningsih tidak bisa terhindarkan lagi.
Dan ternyata tebakannya itu memang benar.
Crapp!!! Crapp!!!
Tiba-tiba dua batang jarum bambu kuning milik Sri Ningsih sudah berada di jepitan kedua jari tangan Pendekar Tanpa Nama. Entah bagaimana dia melakukan hal itu, bahkan sampai-sampai Sri Ningsih sendiri tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Gerakan Cakra Buana sangat cepat. Dan caranya menangkis sanggup membuat setiap orang terkejut.
Mimpi pun Sri Ningsih tidak pernah kalau dirinya bisa mengalami kejadian seperti sekarang ini.
"Apakah sekarang kau sudah percaya akan semua ucapanku?" tanya Pendekar Tanpa Nama secara tiba-tiba kepadanya.
Seulas senyuman hangat dia layangkan dalam waktu bersamaan. Bagi orang lain, senyuman itu sangat manis sehingga mendatangkan rasa nyaman. Namun bagi Sri Ningsih malah sebaliknya.
Amarahnya semakin berkobar. Dia marah bukan hanya karena Pendekar Tanpa Nama saja, gadis cantik itu marah akibat dirinya juga.
Sebelum berhadapan langsung dengan Cakra Buana, dia selalu yakin akan kemampuannya. Namun sekarang setelah berhadapan dengannya, keyakinan itu entah pergi ke mana.
"Sepertinya kita harus saling bunuh," ujar Sri Ningsih.
Ucapannya terdengar sinis. Wajahnya juga tidak menampilkan ekspresi apapun.
"Memang sudah seharusnya kita seperti itu," jawab Pendekar Tanpa Nama acuh tak acuh.
"Baik. Mungkin kau benar, kita memang harus saling bunuh. Biar aku perlihatkan bagaimana kemampuan Ratu Jarum Sutra kepadamu," katanya lantang.
Selesai berkata, Sri Ningsih atau yang mengaku berjuluk Ratu Jarum Sutra itu segera melancarkan serangan pertamanya dengan serius. Cahaya putih bersih segera melesat secepat angin ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Hanya sesaat saja tubuhnya telah mencapai ke tempat tujuan. Tanpa tanggung-tanggung, seluruh kemampuannya langsung dari keluarkan.
Dua belas pukulan berantai yang datang bagaikan hujan deras segera mengurung tubuh Pendekar Tanpa Nama. Tenaga sakti tak kasat mata menggulung menerjang ke arah pemuda itu.
Pukulannya amat keras dan dahsyat. Jangankan manusia, kalau saja pukulan itu diarahkan ke sebuah batu sebesar kerbau sekalipun, niscaya batu tersebut bakal hancur berkeping-keping.
Pendekar Tanpa Nama yang mengetahui kemampuan lawan amat tinggi, dirinya tidak mau main-main lagi. Tujuh bagian tenaga dalamnya yang murni itu langsung disalurkan ke seluruh tubuh.
__ADS_1
Plakk!!! Plakk!!!
Benturan keras antara dua tangan kekar itu terjadi. Tubuh keduanya bergetar. Bahkan Ratu Jarum Sutra tersentak mundur satu langkah ke belakang. Dia semakin kaget mendapati kenyataan ini. Ternyata kemampuan Pendekar Tanpa Nama yang sekarang sudah meningkat jauh dibandingkan dengan dahulu.
Wushh!!!
Ratu Jarum Sutra menghentakkan kedua tangannya ke depan. Segulung hawa sakti yang datang bagaikan badai itu menerjang kembali. Pendekar Tanpa Nama menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras. Setelah itu dia melompat tinggi lalu turun menukik sambil memberikan enam pukulan dahsyat.
Blarr!!! Blarr!!!
Ledakan dahsyat terdengar lagi. Pertarungan dua tokoh kelas atas itu berjalan semakin sengit. Masing-masing tubuh mereka tergulung dalam jurus-jurus yang dahsyat sehingga tiada seorangpun yang dapat menyaksikan jalannya pertempuran dengan jelas.
Suasana hutan itu langsung berubah total. Beberapa batang pohon dibuat roboh akibat hentakan tenaga dalam yang tidak mengenai sasaran.
Lewat dua puluh jurus, Pendekar Tanpa Nama sudah bertekad untuk segera menyelesaikan pertarungannya. Namun sebelum dirinya mengambil langkah, ternyata Sri Ningsih sudah mendahuluinya.
"Selaksa Jarum Pemutus Nyawa …"
Gadis cantik tersebut berteriak keras. Tubuhnya berputar cepat seperti gasing. Kedua lengannya direntangkan.
Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!
Inilah jurus terdahsyat yang dikuasai oleh Sri Ningsih atau si Ratu Jarum Sutra itu.
Jurus Selaksa Jarum Pemutus Nyawa adalah jurus tingkat tinggi yang jarang menemui tandingan. Selama ini, entah sudah berapa banyak nyawa manusia yang mampus di bawah keganasannya.
Jurus yang dahsyat sekaligus kejam. Tiada seorangpun yang tahu dari mana gadis itu mempunyai jurus tersebut.
Hati Pendekar Tanpa Nama tergetar. Tidak dapat dipungkiri lagi, Cakra Buana memang sedikit jeri kalau melihat jarum bambu kuning. Kalau sebatang saja sudah membuatnya demikian, apalagi jika sedemikian banyaknya?
Wushh!!!
Hawa sakti yang tidak bisa dilukiskan segera memenuhi seluruh tempat itu. Cahaya merah menyeruak bagaikan kabut yang menyelimuti alam semesta.
Jurus Tanpa Bentuk akhirnya keluar juga.
Jurus milik Ratu Jarum Sutra yang demikian dahsyatnya itu tiba-tiba saja seperti lenyap tak berbekas. Jurus itu ibarat sebuah perahu yang terperangkap di tengah samudera biru nan luas.
__ADS_1
Sebesar apapun perahunya, maka selamanya perahu itu tetap tidak akan dapat memberikan akibat apa-apa kepada samudera biru.
Begitu juga dengan jurus Sri Ningsih sekarang. Setelah jurus terdahsyat miliknya tidak bisa membantu dia walau sedikitpun, lantas apa lagi yang dapat dilakukan olehnya?
Wushh!!! Blarr!!!
Langit seperti berguncang keras. Dan bumi bagaikan bergetar dengan hebatnya.
Tubuh Sri Ningsih terlempar ke belakang. Tubuh yang cantik molek itu meluncur deras seperti anak panah yang dilepaskan dengan segenap kemampuan.
Brugg!!!
Tubuhnya baru berhenti setelah membuat tiga batang pohon beringin besar roboh.
Lalu entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Pendekar Tanpa Nama sudah berdiri pula di hadapannya.
Cakra Buana hanya diam. Mulutnya tidak bicara walau sepatah katapun. Memangnya manusia mana yang bisa bicara dengan seorang mayat?
Lalu, apakah Ratu Jarum Sutra telah tewas?
Hal itu tentunya tidak perlu ditanyakan lagi. Memangnya manusia mana yang bisa bertahan hidup setelah dirinya terkena Jurus Tanpa Bentuk?
Tidak ada. Ya, jawabannya hanya dua patah kata itu saja. Tidak ada. Sekalipun ada, pasti hanya sedikir sekali jumlahnya.
"Kau itu cantik. Bakatmu juga bagus, tapi sayang sekali kau malah salah memilih jalan hidupmu," gumamnya pelan sambil menghela nafas.
Wushh!!!
Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Tanpa Nama langsung pergi dari sana. Hanya satu kedipan mata, pemuda itu telah lenyap dari pandangan mata.
Untuk sekarang dan nanti, tidak akan ada lagi jarum bambu kuning. Tidak ada pula julukan Ratu Jarum Sutra. Sebab keduanya sudah pergi. Pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak akan kembali lagi.
Hutan itu kembali diselimuti oleh hawa dingin. Di sana tidak apapun lagi kecuali hanya suara-suara binatang liar di kedalaman hutan.
Sementara itu, Ratu Ayu dan Dewi Bercadar Merah sudah berhasil memasuki Istana Kerajaan. Keduanya masuk tanpa hambatan apapun.
Meskipun sudah tengah malam, ternyata keadaan di sana masih ramai. Malah penjagaan juga bertambah ketat daripada saat siang hari.
__ADS_1
Apakah bahaya di malam hari jauh lebih besar daripada saat siang hari?
Setelah beberapa saat menelusuri jalan di dalam Istana, akhirnya sampailah dua orang itu di tempat tujuan utamanya. Kamar yang selama ini ditempati oleh Ratu Ayu dijaga oleh dua orang yang sudah sangat dikenal olehnya.