Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Nenek Murah Senyum dan Delapan Setan Berdarah Dingin


__ADS_3

"Hahaha … katanya kedua bocah ini lihai dan sangat berbahaya. Kemampuannya sangat tinggi, tapi siapa sangka, mereka dengan mudahnya bisa berhasil kita lumpuhkan,"


Suara tawa itu ternyata berasal dari seorang pengunjung kedai. Dia merupakan pria yang memakai baju petani dan membawa cangkul yang digantungkan di pundak sebelah kirinya.


Pada saat tertawa, sekarang wajahnya terlihat jelas bahwa dia mempunyai kumis tebal. Sorot matanya memancarkan tajam seperti mata seekor serigala kelaparan.


Orang itu kemudian berdiri lalu perlahan-lahan mendekati ke arah Cakra Buana dan Ling Ling yang masih tidak sadarkan diri.


Melihat satu orang rekannya sudah membongkar rahasia mereka, serentak ketujuh orang lainnya melakukan hal yang sama. Delapan orang melangkah dengan perlahan ke meja kedua target sasarannya.


Si nenek tua yang bungkuk itu ternyata tidak mau kalah. Dia pun berjalan dengan lambat, hanya saja setiap langkahnya sangat bertenaga. Tanah yang dipijak langsung amblas beberapa senti. Wajah ramahnya mendadak berubah menjadi bengis.


Namun hal itu hanya terjadi dalam sekejap. Karena berikutnya, wajah tua itu kembali menampilkan senyuman yang ramah.


Di antara semua orang yang ada di sana, sepertinya hanya tatapan mata si nenek bungkuk ini yang paling tajam. Sorot mata itu seolah-olah dapat menembus apa saja yang dipandangnya.


"Bocah-bocah ini ternyata sangat bodoh. Kenapa pula dia harus berhenti dan makan di sini, padahal keluar dari hutan ini pun ada kedai yang mewah dan lebih ramai," kata si nenek bungkuk sambil menghela nafas.


Seolah dalam nada bicara itu mengandung perasaan sayang karena Cakra Buana dan Ling Ling berhenti di tempatnya.


"Nenek Murah Senyum, memang pandai sekali bicara. Padahal dalam hatinya memang kejadian seperti ini yang diharapkan," kata si pria yang membawa cangkul.


"Aii, Delapan Setan Berdarah Dingin pun sangat ahli sekali dalam menyamar. Kalau aku jadi mereka, mungkin aku pun tidak akan tahu bahwa sebenarnya kalian ini manusia-manusia yang dapat membunuh orang tanpa berkedip," timpal si Nenek Murah Senyum.


Suaranya kalem. Senyuman ramah itu tidak pernah lenyap dari wajahnya.


"Hehehe, soal meracuni orang memang kami jagonya. Terutama sekali Kakang Adiluhung ini, racun apapun dia bisa membuatnya," jawab si pria itu lagi yang ternyata bernama Baiksa.

__ADS_1


"Bocah bernama Adiluhung ini memang benar-benar hebat, apakah racun ini pun kau yang buat?" tanya si Nenek Murah Senyum kepadanya.


"Benar, aku sudah beberapa kali menggunakan Racun Penghilang Kesadaran, mereka yang menjadi korban bakal tidak sadarkan diri selama dua hari. Meskipun tidak sampai mampus, tapi korban dipastikan tidak akan sadar. Selain itu, seluruh tenaga dan kesaktiannya juga pasti sirna," kata Adiluhung dengan bangga.


Tujuh orang rekannya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum puas. Mereka tahu bahwa ucapan Adiluhung tidak berbohong, apalagi mereka menyaksikannya sendiri. Dengan mata kepala sendiri.


Kalau bicara masalah racun, memang Adiluhung jagonya.


Si Nenek Murah senyum malah tersenyum semakin lebar. Dia pun tahu betul bahwa pria di hadapannya tidak dusta. Sedikit banyak, orang tua itu pernah mendengar sepak terjang Delapan Setan Berdarah Dingin.


Diluar kedai, kegelapan malam sudah menyelimuti muka bumi. Desiran angin dingin perlahan mulai terasa menusuk tulang. Obor tampak bergoyang-goyang. Keadaan sepi sunyi. Hal ini menjadikan kedai itu bertambah seram.


Sembilan orang tersebut ingin segera melancarkan aksinya yang terakhir. Namun siapa sangka, pada saat demikian tiba-tiba sesuatu yang sama sekali jauh diluar dugaan mereka telah terjadi.


"Benarkah?"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Sembilan orang itu membelalakkan mata mereka masing-masing. Kalau saja tidak ada urat syaraf, mungkin sepasang bola mata itu akan melompat keluar karena saking kagetnya.


Kepalanya langsung diangkat kemudian memandang wajah orang-orang itu. Mulutnya menyunggingkan senyuman hangat. Tatapan matanya tenang. Sama sekali tidak terlihat ketakutan.


"Apakah ucapanmu dapat dipercaya?"


Belum hilang rasa terkejut yang pertama, sekarang Delapan Setan Berdarah Dingin dan Nenek Marah Senyum kembali dibuat terkejut untuk yang kedua kalinya. Mata yang sudah melotot hampir keluar, sekarang malah makin keluar lagi.


Ling Ling melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Cakra Buana sebelumnya.


Malah gadis itu memberikan sebuah senyuman manis. Semanis madu. Semanis senyuman kekasih pujaan hati.

__ADS_1


"Ka-kalian, ba-bagaimana kalian bisa tidak terpengaruh oleh Racun Penghilang Kesadaran?" tanya Adiluhung sambil menuding dengan jari telunjuknya. Jari itu tampak bergetar, seperti juga mulut dan suaranya.


Cakra Buana tidak langsung menjawab. Dia berjalan ke depan lalu mengambil satu guci tuak yang sebelumnya sempat diminum ramai-ramai oleh Delapan Setan Berdarah Dingin.


Setelah mengambil tuak tersebut, dia duduk kembali di bangkunya semula. Cakra Buana menenggak langsung guci itu sebelum menjawab pertanyaan Adiluhung.


"Karena kami sudah menduga sebelumnya. Oleh sebab itulah, sebelum kami menyantap makanan yang dihidangkan, secara diam-diam telah minum penangkal racun. Sehingga pada saat makan tadi, kami bisa menikmatinya tanpa takut terpengaruh oleh racun yang ada di dalam makanan," jawab Cakra Buana dengan tenang dan santai.


Sembilan orang itu terlihat sangat putus asa. Untuk sekarang orang-orang tersebut bingung. Mereka bingung haru bersikap bagaimana. Apakah harus menangis? Atau harus menyesali kebodohannya sendiri?


"Berarti kalian pun sudah menduga bahwa kami bukan seorang petani?" tanya Baiksa yang sejak tadi diam.


"Itu sudah pasti, memangnya ada seorang petani yang mempunyai perawakan kekar seperti kalian? Lagi pula, kalau kalian seorang petani, kenapa pakaian kalian masih tampak bersih? Tidak ada tanah ataupun kotoran sama sekali, bukankah ini sebuah keanehan?" tanya Ling Ling dengan tatapan mata penuh selidik.


Betul juga, sekarang mereka baru menyadari akan kebenaran tersebut. Seorang petani, bagaimana mungkin pakaiannya tidak kotor walau sedikit? Lagi pula, bagaimana bisa seorang nenek tua yang selalu berada di dapur, tapi pakaiannya tidak bau asap? Pastinya tidak mungkin bukan?


"Rencana yang telah disusun dengan sangat matang dan dipastikan akan berhasil ternyata telah gagal total," keluh Nenek Murah Senyum.


"Haishh, benar-benar sial. Sekarang apa maumu?" tanya Adiluhung kepada Cakra Buana.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Karena apapun yang kalian mau, maka aku akan menurutinya,"


"Hemm, masalah sudah terlanjur rumit. Mundur tidak ada jalan, menghindar apalagi. Lebih baik terus maju dan berusaha sekuat tenaga," kata orang lainnya yang bernama Curaweda.


Wushh!!!


Selesai berkata seperti itu, tiba-tiba dia melemparkan kapak yang sejak tadi telah digenggam erat di tangan kanannya.

__ADS_1


Luncuran kapan sangat cepat. Sayangnya gerakan menghindar Pendekar Tanpa Nama jauh lebih cepat lagi.


Cakra Buana dan Ling Ling melayang keluar kedai. Mereka tidak mau bertarung di dalam sana. Bagaimanapun juga, sebuah pertarungan akan lebih leluasa kalau dilaksanakan di tempat terbuka.


__ADS_2