
Pendekar Tanpa Nama benar-benar telah bergerak. Kalau sudah seperti ini, kemungkinan besar siapapun bakal tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kedua tangannya diangkat untuk menangkis dua serangan yang amat cepat dan dahsyat itu. Dua tangan Pendekar Tanpa Nama seperti dua ekor naga yang sedang mengamuk.
Berbagai macam tangkisan dia keluarkan. Tubuhnya miring ke sebelah kanan. Kedua tangannya melancarkan totokan dahsyat ke bagian pergelangan lengan lawan.
Gerakan ini dilakukan dalam waktu sekejap mata sehingga membuat dua penyerangnya terkejut. Jika mereka melanjutkan serangannya, maka akibatnya cukup mengerikan. Kalau bukan senjata mereka yang terampas, minimal pergelangan tangan yang memegang senjata itu akan patah.
Wuttt!!!
Dua orang tersebut menarik kembali serangannya. Mereka tidak mau terlalu mengambil resiko, apalagi jika melawan pendekar pilih tanding seperti Cakra Buana.
Keduanya adalah pendekar yang mahir menggunakan senjata. Jika senjata mereka terampas, bukankah keduanya tidak berbeda jauh dengan tikus yang mengantar nyawa?
Dua orang tersebut berjumpalitan di udara. Begitu mendapatkan posisi terbaik, serangan selanjutnya langsung dilayangkan kembali. Dua tendangan hebat yang membawa desira angin berhawa panas sudah dilancarkan ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Tendangan mereka tidak kalah berbahayanya.
Plakk!!! Plakk!!!
Dua kali telapak tangan Cakra Buana menangkis. Dua orang terpundur saat itu juga. Dia sendiri merasa tubuhnya sedikit bergetar hebat. Tak disangka, ternyata tenaga dalam yang terkandung dalam dua tendangan itu hebatnya bukan main.
Darah dalam dirinya langsung bergolak hebat. Pendekar Tanpa Nama segera menyalurkan hawa murni untuk melindungi seluruh tubuhnya.
Wushh!!!
Pemuda Tanah Pasundan itu memutuskan untuk bergerak lebih dulu. Serangan yang dia layangkan sangat cepat, lebih cepat dari semua serangan sebelumnya.
Kakek Kipas Badai bersama tiga orang rekannya masih melihat pertarungan di pinggir arena. Mereka yakin bahwa kedua rekannya yang maju lebih dulu mampu menghadapi Pendekar Tanpa Nama. Karena alasan itulah orang-orang tersebut belum memutuskan untuk turun tangan.
Plakk!!! Plakk!!!
Dua kali suara benturan terdengar. Dua sosok terlempar jauh ke belakang. Entah apa yang sebenarnya sudah terjadi. Yang jelas, kejadian barusan sangat diluar dugaan.
Dua rekan Kakek Kipas Badai terkapar.
Mereka telah sekarat!!!
__ADS_1
Dari masing-masing mulutnya keluar darah kehitaman yang sedikit menggumpal. Mata mereka melotot ke atas. Keduanya kelojotan sebentar sebelum benar-benar mampus.
Tidak ada luka yang terlihat. Bahkan kedua senjata mereka pun masih tergenggam erat di tangan kanannya. Seluruh kondisi tubuh dua orang itu masih seperti sedia kala.
Tidak ada luka. Tidak ada sesuatu apapun yang mencurigakan.
Bagi orang awam mungkin sangat aneh. Tapi bagi tokoh kelas atas seperti mereka yang hadir di sana, hal tersebut sudah menjadi hal lumrah.
Justru yang aneh adalah bagaimana cara pemuda itu melakukannya?
Kedua rekan mereka adalah tokoh kelas atas. Bagaimana mungkin tokoh seperti mereka bisa mampus hanya dalam waktu yang sangat singkat? Jurus apa yang digunakan pemuda keparat itu?
"Mereka benar-benar mampus," dengus salah seorang rekan Kakek Kipas Badai.
"Mereka memang sudah mampus," jawab Cakra Buana dengan sinis.
Walaupun ucapan orang itu pelan, tapi di telinga Pendekar Tanpa Nama, ucapan itu justru terlalu keras.
Empat orang tokoh yang tersisa langsung memandang ke arahnya dengan pandangan penuh dendam. Hawa kematian langsung menyelimuti seluruh tempat tersebut.
"Jurus yang aneh dan mengerikan," gumam Kakek Kipas Badai.
"Sekarang aku percaya bahwa Pendekar Tanpa Nama bukanlah pendekar sembarangan,"
"Terlambat. Percaya atau tidak percaya, kau tetap harus percaya. Kalian akan mampus di tanganku,"
Wushh!!!
Tiga orang mendadak melesat secepat kilat menyambar. Mereka adalah rekan dua orang yang sebelumnya telah tewas di tangan Cakra Buana.
Tiga batang senjata berbeda telah dicabut keluar dari sarungnya masing-masing. Satu pedang, satu golok, dan satu lagi tongkat besi pendek berkepala ular.
Wuttt!!!
Tebasan pedang datang mengincar leher. Sepertinya orang itu sudah bernekad untuk menebas kepala Pendekar Tanpa Nama. Tusukan golok datang ke arah lambung, datangnya tusukan ini lebih cepat dari perkiraan siapapun.
Wushh!!!
__ADS_1
Uap hitam mendadak mengepul. Tongkat besi berkepala ular itu menyemburkan uap beracun yang cukup ganas. Tongkatnya sendiri dihantamkan ke bagian atas kepala Pendekar Tanpa Nama.
Tapi pemuda itu masih diam menanti. Seakan-akan dia tidak melihat tiga serangan maut tersebut. Seakan-akan dia tidak menyadari bahwa kematian sudah menanti di depan wajahnya.
Pemuda itu masih berdiri dengan tenang. Setenang air yang ada di tengah danau. Kedua tangannya masih berada di belakang. Dia tidak berkedip sama sekali. Cahaya yang ditimbulkan dari tiga pusaka seakan tak mampu membuat matanya berkedip walau sekali pun.
Trangg!!!
Entah bagaimana caranya. Siapapun tidak ada yang sempat melihatnya dengan jelas. Sekarang posiis Pendekar Tanpa Nama mendadak berubah secepat kilat. Di tangan kanannya telah tergenggam sebilah pedang.
Pedang yang sangat tajam. Pedang yang indah dengan ukiran naga dan harimau di sarungnya. Pedang yang membawa kematian bagi setiap lawannya.
Pedang Naga dan Harimau.
Pedang itu telah menahan tiga serangan berbeda dari tiga senjata yang berbeda pula.
Bagaimana dia bisa melakukan hal tersebut?
Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan itu. Semua orang terbengong melihat pedang yang amat antik itu.
Wajah Pendekar Tanpa Nama tidak memperlihatkan ketakutan. Dia justru bertambah tenang dari sebelumnya.
Gerakan semua orang berhenti saat itu juga. Mereka masih memikirkan tentang bagaimana caranya Pendekar Tanpa Nama bisa bergerak secara cepat dan menangkis serangan secara sederhana.
Tiga senjata pusaka dengan bentuk dan nama yang berbeda seakan menempel pada pedang yang baru muncul itu. Seolah ada satu kekuatan besar yang menyedot pusaka mereka masing-masing.
Trangg!!!
Benturan terjadi. Sebuah kerikil dilemparkan oleh Kakek Kipas Badai sehingga membuat pusaka yang menempel itu lepas.
Tiga rekannya segera melayangkan serangan selanjutnya. Mereka bersatu dalam satu serangan. Jurusnya bertambah cepat sekaligus hebat.
Tiga cahaya yang berbeda warna seperti tiga ekor naga yang melilitkan dirinya menjadi satu ekor naga. Suara mendengung terdengar menyeramkan.
Jika serangan masing-masing dari mereka saja sangat berbahaya, tentu saja serangan yang sekarang jauh lebih berbaya lagi. Sebab ini adalah serangan gabungan, bukan serangan tunggal.
Tiga cahaya memenuhi alam semesta. Pendekar Tanpa Nama terkurung dalam cahaya tersebut. Dia tidak bisa untuk menghindari serangan itu. Sebab datangnya serangan terasa dari segala penjuru.
__ADS_1
Jika seorang pendekar menghadapi serangan gabungan seperti yang diperlihatkan oleh tiga orang tersebut, niscaya pendekar itu akan sedikit merasa takut dan bahkan kebingungan.
Tapi apa yang diperlihatkan oleh Pendekar Tanpa Nama ini justru kebalikannya. Dia terlihat tersenyum, sama sekali tidak merasa takut. Wajahnya berseri seperti bunga mekar di malam hari, sama sekali tidak berubah pucat seperti orang kebanyakan.