Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Formasi Tiga Puluh Hantu


__ADS_3

Cakra Buana sudah berjalan kembali di tengah pasar sambil terus memberikan sumbangan bagi mereka yang memang membutuhkan. Dia tidak lagi memikirkan bagaimana nasibnya In Sin dan rekan-rekannya.


Pemuda serba putih itu terus menjelajahi isi pasar hingga ke pelosok desa untuk memberikan bantuan. Karena semua yang dia lakukan tanpa pamrih, maka namanya dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru.


Seorang pemuda asing berbaju putih. Dermawan dan tanpa pamrih.


Sedangkan di bangunan bobrok tadi. In Sin dan empat belas pengemis lainnya masih saja tertegun atas apa yang barusan terjadi di hadapan mereka.


Lima belas orang pengemis itu masih bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah yang mereka lihat tadi adalah nyata? Apakah yang baru saja terjadi bukan mimpi?


In Sin sadar dari lamunan lebih cepat. Dia memerintahkan pengemis lainnya untuk membawa jasad rekan mereka ke hadapan sang ketua.


"Sekarang kita harus cepat meninggalkan tempat ini. Laporkan kepada ketua apa yang sudah terjadi sebenarnya. Aku akan menyelidiki ke mana perginya orang itu," kata In Sin memberikan perintah kepada pengemis yang lain.


Mereka menjawab serentak. Lima mayat itu langsung di bawa. Bahkan kepalanya juga turut di bawa sebagai bukti bagi ketua cabang.


Setelah rekan-rekannya pergi, dia juga segera melesat pergi dari bangunan bobrok tersebut. Tujuannya tentu untuk mencari jejak Cakra Buana.


###


Cakra Buana sekarang sedang dikelilingi oleh puluhan orang yang tak dikenal. Dia berada di pinggir hutan sebuah desa. Masalah siapa puluhan orang tersebut, dia tidak tahu sama sekali.


Karena mereka tiba-tiba mengepungnya saat Cakra Buana membagikan kepingan emas kepada warga. Karena puluhan orang tersebut sudah mencabut senjata, al hasil keadaan di sana langsung riuh.


Para warga lari sejauh mungkin. Anak-anak yang sedang bermain di depan rumah, di tarik oleh orang tua mereka untuk bersembunyi. Tentu saja semua orang sudah mengerti. Dan bagi warga di sana, hal-hal seperti ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari.


Setiap hari, selalu saja ada pertarungan antara pendekar melawan pendekar lainnya. Antara satu partai dengan partai lain. Atau antara perguruan ini, dengan perguruan itu.


Untungnya kaum dunia persilatan sudah membuat peraturan resmi. Setiap orang yang tidak bisa silat, dilarang dibunuh. Peraturan tersebut ternyata dapat diterima walaupun tidak semua pendekar mematuhinya.


Suasana di desa seketika menjadi kosong melompong. Tiada bedanya dengan sebuah desa mati.


Dalam hatinya Cakra Buana tidak merasa terkejut sama sekali. Apalagi sebelumnya dia sudah mengetahui bahwa dirinya memang telah ditetapkan menjadi buronan oleh sekelompok orang.


Dia juga tidak perlu bertanya siapa pengepung-pengepung itu. Sebab setelah diingat kembali, pemuda itu telah tahu jawabannya.

__ADS_1


Bukankah beberapa waktu lalu dia sudah mencari masalah dengan Tujuh Perampok Berhati Kejam?


Sekarang ada puluhan orang mengepung dirinya dengan berbagai macam senjata yang sudah diacungkan. Kalau bukan anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam, siapa lagi?


"Di mana pemimpin kalian?" tanya Pendekar Tanpa Nama dengan suaranya yang lantang.


"Pemimpin kami terlalu suci untuk turun tangan membunuh manusia rendahan sepertimu," jawab seorang pengepung.


"Benarkah pemimpin kalian suci? Hemm, lalu apakah kalian pikir sanggup untuk membunuhku. Jangankan puluhan orang, seratus orang sekalipun rasanya masih belum cukup,"


"Pemuda asing yang tidak tahu sopan santun. Mulutmu sungguh pedas sekali. Kalau memang kau hebat, coba tembus Formasi Tiga Puluh Hantu ini," ucap orang yang diduga sebagai pemimpin para pengepung tersebut.


"Lakukan sesuka hati kalian kalau memang ingin mampus. Aku tidak akan segan-segan lagi," tegasnya dingin.


Buntelan pakaian sudah dia ikatkan di pundak. Pedang Naga dan Harimau sudah digenggam di tangan kiri. Meskipun kain putihnya belum dia lepas, tetapi pamornya sudah cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.


"Bersiaplah pemuda sombong,"


"Dengan senang hati. Biar aku tunjukkan bahwa Tanah Pasundan bukan kaleng-kaleng," kata Cakra Buana sambil tersenyum sinis.


Serentak tiga puluh orang itu membuat sebuah formasi. Formasi itu bisa dibilang sangat baik. Karena setelah Cakra Buana amati beberapa saat, tidak ada kekurangan sama sekali, kecuali sedikit. Semua lini berhasil dikuasai. Kelemahan bisa ditutupi. Satu sama lain saling membantu.


Formasi sudah dibentuk. Sekarang tiba saatnya untuk memulai pertempuran melawan seorang pemuda asing yang sombong.


Sepuluh orang serentak maju secara bersamaan. Segala sisi diisi oleh dua orang. Sepuluh sinar golok menembus udara membelah angin.


Cakra Buana masih belum bergerak. Dia menatap sepuluh sinar tersebut dengan sebuah tatapan buas mirip seekor harimau.


Dan memang dia harimau.


Begitu kesepuluh orang tersebut sudah dekat jaraknya, Pendekar Tanpa Nama bergerak.


Pedang Naga dan Harimau sudah tercabut. Dia bukan untuk menyerang serius. Tetapi hanya memancing supaya tahu bagaimana jalannya Formasi Tiga Puluh Hantu ini.


Dua orang menjadi sasaran pedang pusaka tersebut. Tetapi mendadak muncul empat orang di belakangnya yang balas menyerang. Dua orang tadi mundur ke belakang.

__ADS_1


Cakra Buana berpindah ke sisi lainnya. Ternyata hasilnya sama. Dia berputar ke seluruh penjuru, hasilnya tetap serupa.


Dia berhasil mengambil kesimpulan. Berarti dua orang tadi hanya merupakan pancingan. Sedangkan serangan sebetulnya terletak di empat orang yang nantinya akan menyusul. Dua surut ke belakang, empat maju ke depan.


"Hemm, menarik. Baiklah, mari kita lihat," gumam Pendekar Tanpa Nama.


"Naga Terbang di Angkasa …"


"Kilat Mengejar Mangsa …"


Dua jurus maut dari masing-masing kitab sakti sudah dia keluarkan dengan segera. Pendekar Tanpa Nama mengandalkan kecepatan unruk menembus formasi hebat ini.


Karena memang cara itulah yang bisa diandalkan untuk menjebol formasi tersebut.


Dengan kecepatan.


Kalau mengandalkan kekerasan, justru dia sendiri yang akan babak belur. Hanya dengan kecepatan lah Formasi Tiga Puluh Hantu bisa dipecahkan.


Cakra Buana melesat cepat mengelilingi tiga puluh orang itu. Cahaya putih berkelebat seperti setan gentayangan di siang bolong. Dia belum menyerang serius hanya mencoba untuk mengalihkan perhatian saja.


Dan ternyata hasilnya memang sesuai dengan harapan. Formasi Tiga Puluh Hantu mulai goyah. Mereka kehilangan konsentrasi karena merasa pusing. Kesalahan orang-orang tersebut adalah karena mengikuti gerakan cepat Pendekar Tanpa Nama.


Begitu melihat ada kesempatan, serangan berbahaya langsung dilancarkan.


Sinar merah menembus benteng pertahanan. Dua kali berkelebat, satu kepala menggelinding ke tanah. Darah menyembur.


Formasi semakin kacau.


Pendekar Tanpa Nama semakin serius dalam menjalankan aksinya. Pedang Naga dan Harimau berputar cepat dalam jurus Kilat Mengejar Mangsa.


Betapapun lawannya menghindari serangan tersebut, tetap saja pedang pusaka itu selalu mengikutinya dari arah manapun.


Bahkan sekilas bukan terlihat seperti pedang.


Tetapi terlihat seperti malaikat. Malaikat Sang Pencabut Nyawa.

__ADS_1


Sinar putih nampak lagi. Jeritan tertahan terdengar menyayat hati.


Dua orang roboh dengan perut terluka parah. Jeroan perut segera tergerai keluar berceceran.


__ADS_2