
Ratu Ayu terdiam sesaat. Sepertinya dia sedang mengingat-ingat kejadian waktu itu. Namun setelah mencoba mengingat beberapa kali, dia tetap tidak dapat menemukan hasil tambahan lagi.
"Siapa orangnya aku tidak tahu. Selain karena aku berada dalam kondisi setengah sadar, saat itupun kedua mataku terasa seperti tidak bisa dibuka. Hanya saja, telingaku mendengar ada orang lain yang bicara,"
"Apa yang dikatakan oleh orang tersebut?"
"Orang itu mengatakan kalau racun yang sudah berada dalam tubuhku tidak bisa dihilangkan. Dia juga berkata jika apa yang dilakukan oleh si pelaku kepadaku, selamanya tetap tidak bisa diobati. Menurut orang tersebut, pelaku itu mempunyai totokan yang tiada tanding. Juga dia mempunyai kepandaian dalam ilmu racun yang sangat tinggi. Orang-orang dunia persilatan Tanah Pasundan pasti tidak ada yang menandinginya," kata Ratu Ayu menjelaskan menurut apa yang didengar oleh kedua telinganya.
Dewi Bercadar Merah dan Dewi Bercadar Biru manggut-manggut. Sedangkan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti mengerutkan kening. Kedua orang itu tampak sedang berpikir.
Tapi apa yang mereka pikirkan?
"Kalian kenapa?" tanya Ratu Ayu sambil mengawasi keduanya.
"Kami seperti mengenal siapakah orang yang dimaksudkan oleh Ratu barusan. Tapi sayang sekali, kami sudah tua sehingga ingatan pun tidak berjalan seperti apa yang kami harapkan," jawab Nenek Sakti.
Lain mereka, lain lagi Pendekar Tanpa Nama. Seluruh tubuh pemuda itu sedikit bergetar. Terutama sekali dalamnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dan tidak karuan. Hatinya mendadak diliputi oleh semacam perasaan yang tidak bisa diungkapkan.
Apa yang terjadi dengannya? Apakah dia juga mengenal siapakah orang yang dimaksud oleh Ratu Ayu barusan?
"Tuan, apa yang telah terjadi denganmu?" tanya Ratu Ayu mendadak curiga kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Aku tahu siapa pelakunya," jawab pemuda itu dengan suara yang dalam.
Semua orang langsung bangkit dari tempat duduknya. Mereka sama memandang tajam ke arah Cakra Buana.
"Benarkah yang kau katakan itu?" tanya Nenek Sakti.
"Sudah aku katakan kalau aku tidak pandai dan tidak suka berbohong,"
__ADS_1
"Kalau memang tahu, lalu siapa orang yang kau maksud itu?"
"Dewa Tapak Racun, salah satu anggota dari Empat Desa Sesat. Murid langsung dari Penguasa Kegelapan (nama-nama itu disebut di novel pertama) …" ujarnya dengan serius.
Setiap patah kata yang dia ucapkan itu, dilakukan dengan perlahan dan penuh penekanan sehingga siapapun dapat mendengarnya dengan jelas sekali.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti terkejut setengah mampus. Begitu juga dengan Ratu Ayu. Ketiganya sungguh kaget. Mereka baru ingat akan hal tersebut.
Di Tanah Pasundan ini, rasanya memang tiada seorangpun yang dapat menandingi Dewa Tapak Racun kalau membahas masalah racun. Sampai sekarang, hampir setiap orang percaya kalau dia tetap unggul dan berada di urutan pertama.
Kemampuan Dewa Tapak Racun memang bukan omong kosong belaka. Setiap orang-orang dunia persilatan Tanah Pasundan tahu akan hal ini. Apalagi kalau diingat juga bahwa dia merupakan murid dari Penguasa Kegelapan.
Seorang tokoh tua aliran sesat yang diyakini merupakan pemimpin dari golongan hitam. Seorang gembong iblis yang tiada duanya dalam kurun waktu sepuluhan tahun terakhir ini.
Kekuatan kegelapannya jangan ditanya lagi. Ilmu sesatnya tiada seorangpun yang sanggup menghadapinya. Konon menurut berita yang beredar, Penguasa Kegelapan diibaratkan dapat melemparkan gunung dan mengeringkan lautan dalam waktu yang bersamaan.
Gambaran tersebut sangat luar biasa. Siapapun bakal mengerti maksudnya.
"Ah, benar. Aku baru ingat. Memang kemampuannya dalam soal racun adalah yang nomor satu," kata Kakek Sakti secara tiba-tiba.
"Tepat sekali, aku juga sependapat. Akupun baru ingat kalau dia juga yang dulu membunuh Ling Zhi, bukan?" tanya Nenek Sakti kepada Cakra Buana.
Pemuda itu hanya mengangguk satu kali sebagai jawaban. Setelah itu, Cakra Buana segera menjawab pertanyaan Ratu Ayu.
"Benar Ratu. Memang mereka lah yang membawa lari tiga pusaka Kerajaan itu,"
"Aii, tak kusangka sama sekali kalau dia lah pelaku yang telah membuat junjungan kita sangat menderita," sahut Nenek Sakti.
Suasana seketika berubah sepi senyap. Malam ini sangat gerah. Tapi meskipun hawa panas, hati Pendekar Tanpa Nama justru sangat dingin. Dinginnya tidak ada sesuatu apapun yang mengalahkannya.
__ADS_1
Sebab rasa dingin itu bukan datang dari cuaca. Bukan pula dari hembusan angin.
Perasaan dingin yang dirasakan oleh Cakra Buana sekarang datang dari sebuah dendam. Dendam membara yang lebih tinggi dari langit dan lebih dalam dari tengah samudera.
Bagaimana mungkin dia tidak dendam? Dulu, Ling Zhi, kekasihnya yang teramat sangat dia cintai, tewas di tangan orang tersebut. Kemudian tiga pusaka Istana Kerajaan juga dibawa lari oleh Penguasa Kegelapan dan muridnya, Empat Dewa Sesat pada saat perang besar. Beberapa waktu kemudian, giliran dirinya yang hampir mati di tangan orang-orang itu.
Kalau kau berada di posisi Cakra Buana sekarang, benarkah kau tidak menaruh dendam barang sedikitpun?
Sepasang tangannya mengepal kencang. Tatapan matanya berubah setaham pedang.
Orang-orang di dalam kamar tidak ada yang memahami tentang perasaaannya. Tapi mereka semua tahu kalau pada saat ini, Pendekar Tanpa Nama sedang marah besar.
Sebab mereka pun juga merasakan hal yang sama dengannya.
"Kalau benar yang meracuni Ratu adalah Dewa Tapak Racun, itu artinya, secara tidak langsung dia punya hubungan khusus dengan selir baru yang misterius itu," ucap Dewi Bercadar Merah lebih lanjut.
"Kenapa bisa demikian?" tanya Kakek Sakti kurang paham.
"Kalau Dewa Tapak Racun tidak mempunyai hubungan erat dengan selir itu, rasanya tidak mungkin dia bakal masuk ke dalam Istana Kerajaan. Walaupun belum bertemu langsung, tapi aku yakin bahwasannya dia dan yang lain bukanlah orang yang menyukai jabatan," kata Pendekar Tanpa Nama menjawab pertanyaan Kakek Sakti.
Sebenarnya dia sangat yakin akan hal tersebut. Apalagi pemuda itu sudah pernah bertemu beberapa kali, bahkan sempat bertaring habis-habisan pula.
Hanya saja dia sengaja bicara demikian supaya Ratu Ayu tidak menaruh curiga kepadanya.
"Sepertinya masalah ini tidak mudah," kata Ratu Ayu menghela nafas berat.
"Memang benar. Masalah ini sangat rumit. Lebih rumit dari dugaan kita sebelumnya," sambung Dewi Bercadar Biru.
Pendekar Tanpa Nama menuang arak ke dalam cawan. Kemudian dia meminumnya dengan perlahan. Pemuda itu terus melakukan hal yang sama untuk beberapa kali.
__ADS_1
Orang lain mungkin akan kebingungan, tapi orang-orang yang di sana tidak. Seorang setan arak, biasanya bakal mempunyai ide cemerlang kalau dia sudah meminum banyak air kata-kata (minuman alkohol/kata itu sering diucapkan dalam novel wuxia klasik seperti karya Gu Long dan lainnya) itu.
"Aku punya ide …" katanya sambil menggebrak meja setelah minum beberapa cawan.