
Sepuluh orang itu ingin sekali tidak percaya atas ucapan si pemuda asing tersebut. Apalagi semua tahu bahwa racun yang dimasukkan ke dalam arak tersebut adalah racun yang terbilang sudah banyak memakan korban.
"Ternyata dia benar-benar lain daripada yanh lain," gumam seorang di antara mereka.
Sebenarnya Cakra Buana sendiri pada awalnya tidak mengetahui kalau arak itu beracun. Namun begitu dia sudah meminumnya sampai habis, mulailah perutnya serasa di pelintir. Seluruh tubuhnya panas dingin karena menahan sakit yang demikian hebatnya.
Kalau diibaratkan, rasa sakitnya mungkin sama ketika dulu saat dia menerima serangan ganas dari Dewa Tapak Racun yang hampir saja merenggut nyawanya.
Jika membayangkan kejadian itu, rasanya sungguh sangat kesal. Dia ingin segera kembali ke tanah airnya lalu mencari mereka.
Karena mereka lah salah satu musuh besarnya. Mereka juga yang sudah membunuh pujaan hatinya.
Di saat seperti itu, buru-buru dia melakukan semedi untuk mengetahui jenis racun apa yang telah dia minum. Dia menghimpun hawa murni lalu berusaha menundukan racun tersebut. Setelah berhasil, dia langsung menggabungkan racunnya dengan tenaga dalam sendiri.
Kalau Cakra Buana tidak salah, racun yang dia minum bernama Racun Penghancur Organ.
Racun tersebut memang racun yang mengerikan. Sebab begitu masuk ke perut, reaksinya langsung akan segera terlihat.
Perut terasa dipelintir. Ibarat kain basah yang dipelintir hingga benar-benar melintir. Rasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum juga sempat dia rasakan.
Untungnya Cakra Buana yang sekarang bukankah yang dulu. Dengan dibantu tenaga dalamnya yang sangat sempurna, pada akhirnya dia berhasil menawarkan racun tersebut.
Setelah racun berhasil ditawarkan, dia segera keluar lewat jendela karena tahu ada sesuatu yang tidak beres.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya seorang pria gendut.
"Aku rasa kalian sudah tahu siapa aku. Jadi pertanyaan ini sungguh tidak penting sekali," jawab Cakra Buana.
"Hemm, benar-benar pemuda sombong,"
"Siapa gurumu?"
"Kalian belum pantas untuk tahu siapa guruku,"
"Bangsat. Cari mampus kau, jangan pernah berharap bisa menjagoi dunia persilatan Tionggoan," bentak si cekinh marah.
"Aku tidak ada niat dan tidak berminat sama sekali. Apalah artinya jika sudah menjadi jago dunia persilatan tetapi masih mau disuruh oleh orang lain," kata Cakra Buana menyindir orang-orang tersebut.
Seketika wajah mereka merah padam seperti udang rebus. Sepuluh orang tersebut jelas merasa sangat marah karena sindiran barusan.
"Benar-benar bosan hidup," bentak si pria kekar.
"Serang!!!" teriaknya kepada dua belas orang yang memegang golok.
__ADS_1
"Aku harap kalian jangan membuang nyawa percuma. Mereka belum pantas melawanku," jawab Cakra Buana cepat sehingga menghentikan pergerakan mereka.
Pria tadi sangat marah. Dia membentak kembali memberikan perintahnya dengan suara menyeramkan.
Kali ini dua belas orang tersebut tidak bisa membantah lagi. Mereka segera bergerak secara bersamaan menerjang Cakra Buana.
Kilatan golok terlihat di mana-mana. Kilatan itu mengurung dirinya. Walaupun mereka hanya termasuk pendekar kelas bawah, tetapi kerja samanya cukup lumayan juga.
Sayangnya mereka masih benar-benar belum pantas menjadi lawan Pendekar Tanpa Nama yang sekarang.
"Trangg …" terdengar dua belas kali bunyi yang sama.
Cakra Buana bergerak setelah jarak mereka sangat dekat. Begitu terdengar suara nyaring barusan, semua orang kaget.
Golok yang mereka genggam kini tinggal separuhnya saja. Ujung goloknya telah berhasil dipatahkan dalam gerakan kilat yang sangat cepat.
Dua belas orang tersebut ketakutan setengah mati. Lutu mereka terasa lemas.
"Menyingkirlah. Aku tidak ingin membunuh kalian," katanya dingin.
Serentak mereka menuruti perintah dengan penuh rasa terimakasih.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Cakra Buana lebih lanjut.
Dia mengatakan hal itu seperti apa yang diperintahkan oleh si nona sebelum bergerak. Tentu saja ada tujuan lain di balik semua itu, hanya saja untuk sekarang, cuma si nona sendiri yang tahu.
"Bagus. Kalau memang merasa mampu membunuhku, lakukan sekarang," tantang Cakra Buana dengan sorot mata tajam.
"Lihat serangan …" bentak si gendut menyerang pertama kali.
Walaupun tubuhnya seperti bola, ternyata ilmu meringankan tubuh yang dia miliki sudah tinggi. Sehingga sebelum selesai ucapannya, dia sudah tiba di hadapan Pendekar Tanpa Nama.
"Trangg …"
Pedang Naga dan Harimau sudah diloloskan. Pedang pusaka itu berbenturan dengan kakak persk yang sangat tajam.
"Senjata yang bagus," puji Cakra Buana. "Sayangnya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan pedangku,"
Pendekar Tanpa Nama mementalkan si gendut. Sembilan orang lainnya segera menyerang pula dari segala penjuru. Sembilan kilatan senjata tajam berkilat di tengah malam.
Desingan angin terasa dari segala sisi.
Cakra Buana melakukan perlawanan. Dia bergerak lebih cepat di bawah sergapan semua lawannya. Pedang Naga dan Harimau berputar keras menggulung si gendut tadi.
__ADS_1
Sembilan rekannya tidak terima. Melihat serangan pertama mereka gagal total, serentak semuanya maju kembali untuk mengurung pemuda itu.
Dentingan senjata tajam mulai terdengar memecah keheningan malam. Angin yang tadinya sepoi-sepoi sekarang berubah menjadi badai.
Sembilan senjata mencecarnya tanpa jeda. Semua senjata itu berdatangan silih berganti. Gagal satu, yang lain segera maju. Kadang juga mereka melakukannya secara serentak.
Jika di lihat dari cara bagaimana mereka menyerang, jelas bahwa orang-orang ini merupakan ahli di bidang senjatanya masing-masing.
Tongkat berputar mendatangkan angin ribut. Pedang menusuk memberikan kematian. Sementara kipas mengaburkan pandangan karena debu berterbangan.
Suasana di sana langsung berubah menjadi medan pertarungan hanya dalam sekejap mata.
Dentingan nyaring mulai sering terdengar. Mereka sangat terkejut ketika menyadari bahwa pemuda itu tidak terluka sama sekali.
Padahal siapapun tahu bahwa serangan mereka merupakan serangan yang amat mematikan.
Tak disangka, seorang pemuda bernama Cakra Buana justru berhasil menghindari serangan dengan sangat mudah.
Sekarang dia masuh berdiri tenang di hadapannya. Serangan gabungan tadi sama sekali tidak menimbulkan efek apapun.
"Mampuss kau!!!"
Si wanita tua melesat melancarkan serangan dengan kipas besi miliknya. Meskipun usianya tua, tetapi justru gerakannya sangat cepat dan berbahaya.
Hal seperti sebelumnya terjadi lagi. Sembilan orang rekannya tidak tinggal diam.
Mereka segera mengeroyok Pendekar Tanpa Nama dengan jurus ampuhnya masing-masing.
Cahaya putih memunhi angkasa. Jurus demi jurus sudah jeluar, tapi belum ada yang berhasil menembus jantung Pendekar Tanpa Nama.
Di saat gempuran serangan berhenti untuk beberapa saat, Pendekar Tanpa Nama langsung melancarkan serangan balasan yang lebih ganas dan dahsyat daripada sepuluh orang itu.
"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"
"Wushh …"
Cahaya putih terlihat lebih menyilaukan sebelumnya. Aura pembunuhan terasa menakutkan.
Pedang Naga dan Harimau segera menusuk cepat ke arah lawan. Belum lagi serangan tiba, terpaksa dia harus menarik kembali karena serangan lain datang daru sisi kanannya.
###
Yang ngga like, harus like ya😜
__ADS_1