
Di sana, Kakek Sakti yang menyamar menjadi Dewi Bercadar Merah sedang berdiri bersama Dewi Bercadar Biru.
Melihat kedatangan mereka, kedua orang itu merasa senang. Orang-orang tersebut kemudian segera masuk ke dalam kamar sebelum diketahui oleh orang lain.
"Hahh … akhirnya selesai juga tugasku ini," kata Kakek Sakti sambil menghela nafas.
Dia belum menyadari kalau di sana juga ada Ratu Ayu yang kini sudah sembuh. Hanya saja memang wajahnya berbeda karena telah diubah oleh Kakek Penyaru. Nenek Sakti yang beberapa hari belakangan ini terbaring pun langsung bangun dengan cepat.
"Aku malah tidak ingin cepat-cepat selesai," timpal Nenek Sakti sambil tertawa.
"Kenapa kau tidak ingin segera selesai?"
"Karena aku ingin bisa terbaring dan hidup enak lebih lama lagi," jawabnya kemudian kembali tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan menyuruh beberapa orang pelayan untuk mengurusi Sepasang Kakek dan Nenek Sakti," ucap Ratu Ayu tiba-tiba bicara.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tersentak kaget. Mereka baru menyadari kalau di dalam kamar itu juga ada junjungan mereka, Ratu Ayu Kencana Nirmala Putri.
Keduanya saling pandang dengan tatapan mata membingungkan. Dua orang tua itu merasa malu, juga merasa sangat tidak enak. Mereka merasa kalau dirinya benar-benar bodoh dan sudah pikun sehingga baru menyadari akan hal ini.
"Ti-tidak Ratu, kami …, kami hanya bercanda. Sungguh," kata Kakek Sakti gugup.
"Bercanda atau tidak bercanda terkadang kan sama saja. Nanti aku akan menyuruh beberapa pelayan untuk kalian," katanya sambil tersenyum manis.
"Ta-tapi …"
"Ucapan seorang Ratu itu harus di bagaimanakan?"
"Di-dituruti …" jawab Nenek Sakti.
"Nah, kalau begitu kalian berdua harus menuruti ucapanku,"
"Ta-tapi …"
"Tidak ada kata tapi-tapian,"
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti langsung membungkam mulutnya masing-masing. Mereka merasa serba salah jika sudah seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Ba-baiklah," jawab Kakek Sakti semakin kikuk.
Meskipun keduanya tahu kalau Ratu Ayu tidak marah, malahan tersenyum, tapi bagaimanapun juga kedua orang tua itu tetap merasa tidak enak hati.
Suasana di kamar itu mendadak sunyi. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas orang-orang di dalam sana semuanya terdiam membisu.
"Dia telah datang …" kata Dewi Bercadar Merah secara tiba-tiba.
"Siapa?" tanya semua orang yang ada di dalam kamar mewah itu hampir secara bersamaan.
"Aku …" sahut seseorang dari luar kamar.
Sedetik kemudian orang itu sudah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Ternyata yang masuk bukan orang asing, dia bukan lain adalah Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama.
Seulas senyuman manis terpampang di mulutnya yang memang selalu tersenyum itu. Langkahnya tenang. Tatapan matanya memberikan kehangatan bagi siapapun yang memandangnya.
"Apakah kau berhasil membereskan semua tamu tak diundang itu?" tanya Dewi Bercadar Merah sambil tersenyum.
"Semuanya sudah beres. Bahkan sampai-sampai si pemilik jarum bambu kuning pun sudah aku bereskan pula," jawab Pendekar Tanpa Nama.
Semua orang tersentak mendengar ucapan yang terakhir itu. Terlebih lagi Dua Dewi. Keduanya sudah tahu betapa hebat dan berbahayanya jarum unik tersebut bahkan tak dapat dipungkiri lagi kalau keduanya pun merasa sedikit jeri.
"Kau sungguh berhasil membereskannya?" tanya Dewi Bercadar Biru sedikit tidak percaya.
"Aku rasa kau juga tahu kalau diriku tidak pandai berbohong,"
Sinta menganggukkan kepalanya. Yang lainnya juga sama. Siapapun tahu, Pendekar Tanpa Nama bukanlah orang yang biasa berbohong. Kecuali dalam keadaan tertentu, selamanya, Cakra Buana tidak akan melakukan perbuatan yang kadang dipandang rendahan itu.
"Jadi dia juga hadir di sana?" kali ini yang bersuara adalah Dewi Bercadar Merah.
Gadis cantik itu tidak menyangka kalau pemilik jarum bambu kuning juga datang.
"Ya, sejak awal dia memang sudah ada. Semua rencana tadi pun merupakan idenya sendiri. Awalnya dia yakin dengan kemampuannya untuk membunuhku, tapi setelah berhadapan denganku, keyakinan itu mendadak hilang begitu saja," jawab Cakra Buana dengan jujur.
Kalau orang lain yang bicara, pasti siapapun tidak akan percaya. Tapi jika yang bicara itu adalah Pendekar Tanpa Nama, tentu saja mereka bakal percaya.
"Siapapun yang berhadapan denganmu, selama pengalaman bertempurnya sudah teramat banyak, pasti dia juga akan merasakan hal yang sama," timpal Dewi Bercadar Merah.
__ADS_1
Di antara orang-orang itu, yang paling memahami dalam hal ini tentu saja adalah dirinya sendiri.
Bukankah pada saat di Tionggoan dulu, sebelum datangnya perasaan cinta itu, Sian-li Bwee Hua pernah menjadi musuh utama Pendekar Tanpa Nama?
Mendengar ucapan Dewi Bercadar Merah, Pendekar Tanpa Nama tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum simpul lalu menganggap gadis itu tidak berkata apa-apa tentangnya.
"Eh, apakah kalian sudah mengucapkan selamat kepada Ratu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Mengucapkan apa?"
"Aii, benarkah mata kalian sudah lamur? Apakah kalian tidak menyadari kalau Ratu sudah kembali normal seperti sedia kala?"
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti serta Dewi Bercadar biru saling pandang. Ketiganya kebingungan untuk sesaat. Namun selanjutnya, mereka terkejut kembali.
Ketiga orang tersebut baru sekarang menyadari kalau Ratu Ayu sudah sembuh dan kembali normal seperti sedia kala.
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti langsung berlutut di hadapan Ratu Ayu. Begitu juga dengan Dewi Bercadar Biru.
"Ti luhur sausap rambut, ti handap sadampal suku (dari atas seusap rambut, dari bawah setelapak kali), kami bertiga benar-benar mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kalau Ratu ingin menghukum kami karena kelancangan ini, kami siap menerimanya dengan senang hati," ujar Nenek Sakti dengan sungguh-sungguh.
Ratu Ayu merasa terharu melihat ketiga orang yang terkenal di kalangan persilatan itu ternyata masih sangat menghormatinya, hatinya tersentuh. Hampir saja wanita agung tersebut meneteskan air matanya.
"Bangunlah. Jangan mempermasalahkan hal ini lebih lanjut lagi. Melihat kalian masih sangat menghormati dan bahkan mau menyembuhkan aku, sungguh, hal itu jauh lebih menggembirakan daripada apapun," katanya jujur.
Dia langsung berjalan sedikit ke depan. Tiga tokoh dunia persilatan yang sedang berlutut di hadapannya itu segera dibangunkan dengan lemah lembut.
"Tapi Ratu, kami benar-benar pantas untuk dihukum …" kata Kakek Sakti tetap merasa tidak enak.
"Sudah, Kek. Tidak mengapa. Lebih baik untuk sekarang kita membahas langkah selanjutnya saja,"
"Maksud Ratu?" tanyanya tidak mengerti.
"Ya, kita akan membongkar rahasia besar ini. Aku sudah memutuskan untuk bergabung dengan kalian. Oleh sebab itulah, aku juga akan membantu rencana kalian semua,"
Ketiga orang tersebut dibuat terkejut kembali. Tapi mereka segera dapat menguasai dirinya. Orang-orang itu langsung mengerti maksud dari ucapan Ratu Ayu barusan.
"Jadi …"
__ADS_1
"Ya," potong Ratu Ayu dengan cepat. "Akupun sudah gemas melihat kekacauan di dalam Istana Kerajaan ini,"