Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Musuh Sekaligus Sahabat


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama masih berdiri di hadapan jasad Maling Sakti Seribu Wajah. Dia berdiri tegak bagaikan sebatang tombak yang ditancapkan dengan dalam ke dasar bumi.


Cakra Buana tidak bergerak sedikitpun. Rambutnya yang panjang meriap-riap tertiup hembusan angin. Pakaiannya yang merah berkembang naga dan harimau juga berkibar dengan kencang.


Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini. Tubuhnya tetap diam, seolah tiada sesuatu apapun di dunia ini yang mampu membuat tubuh itu bergerak.


Saat ini, hatinya merasa amat sayang sekali. Cakra Buana memang menyayangkan kematian Maling Sakti Seribu Wajah.


Menurut pendapat pribadinya, Maling Sakti Seribu Wajah sebenarnya adalah orang yang baik. Dia selalu bicara jujur kepada siapapun, sikapnya terhitung Setia dan gagah perkasa.


Hanya saja dia telah salah memilih jalan. Namun hal itu bukan berarti sifat-sifat kemanusiaannya hilang. Sifat itu masih ada. Justru terbawa sampai dia mati.


Apakah setiap orang yang selalu bicara jujur termasuk ke dalam jajaran orang baik? Lantas kenapa pula orang-orang baik selalu mati lebih cepat daripada orang jahat?


Pendekar Tanpa Nama menghela nafas. Sudah cukup lama dia berdiri tak bergeming. Dia tidak mau berlarut-larut dalam perasaannya sendiri. Yang jelas toh dirinya sudah melakukan apa yang harus dilakukan.


Cakra Buana berjalan ke dalam hutan sambil membawa jasad Maling Sakti Seribu Wajah. Langkahnya tetap tenang. Dia tahu di sana sudah ada banyak orang, tapi pemuda itu juga yakin bahwasanya tidak ada seorangpun yang berani menghentikannya.


Setelah menemukan tempat yang diduga cocok, Cakra Buana segera menurunkan jasadnya. Kemudian dia langsung menggali tanah sebagai tempat peristirahatan terakhir Maling Sakti Seribu Wajah.


Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, hanya sesaat saja, pemuda itu telah menyelesaikan pekerjaannya. Cakra Buana kemudian memasukkan jasadnya. Setelah menimbun dengan tanah kembali, dia lantas membuat tulisan di atas sebuah kayu yang sebelumnya sudah dibuat.


"Sahabat Pendekar Tanpa Nama …"


Hanya empat patah kata itu saja. Tidak ada kata yang lain lagi.


Kenapa dia menuliskan empat kata itu? Apakah Cakra Buana menganggapnya sahabat? Bukan seorang musuh?


Memang, kepada siapapun, selama orang itu gagah dan perkasa, maka Cakra Buana bakal menganggapnya sebagai sahabat. Apalagi kalau orang tersebut merupakan pria.


Pria memang banyak, tapi pria sejati tidaklah banyak.


Dia berjalan kembali untuk keluar dari hutan. Beberapa saat kemudian, dia menghentikan langkahnya.


Tak kurang dari lima belas pendekar yang tadi berusaha mengejar Maling Sakti Seribu Wajah sudah menunggunya. Mereka berjejer membentuk setengah lingkaran.


Wajah semua orang tenang dan santai. Seseorang tiba-tiba maju ke depan.


"Apakah jasad yang kau kubur itu adalah orang yang sedang kami cari?" tanya orang tersebut.


Dia adalah pria tua berumur sekitar enam puluhan tahun. Rambutnya sudah memutih. Begitu juga dengan alis matanya. Pakaiannya berwarna putih dengan ikat pinggang dari kain hitam.


Di belakang punggungnya ada sebatang pedang beronce merah.

__ADS_1


"Tidak salah lagi," jawab Pendekar Tanpa Nama.


"Dia sudah mati?"


"Kalau masih hidup, tidak mungkin aku kubur,"


"Kenapa dia bisa mati? Siapa yang membunuhnya?"


"Aku,"


"Kau? Apakah kau punya masalah dengannya?"


"Tentu saja,"


Orang itu mengangguk pelan. Kemudian segera melanjutkan pertanyaannya.


"Sebenarnya siapakah dia sebenarnya?"


"Apakah kau tidak tahu?"


"Kami hanya tahu kalau dia seorang kakek tua renta yang suka mencuri,"


"Memang benar, tapi dia bukanlah kakek tua renta biasa,"


"Maling Sakti Seribu Wajah …" jawab Pendekar Tanpa Nama dengan tenang.


Semua orang tersentak. Hampir saja jantung mereka copot karena mendengar julukan itu.


Memangnya manusia mana yang tidak tahu kepada Maling Sakti? Siapapun pasti tahu.


Meskipun kemunculannya belum lama, namun apa yang dia lakukan beberapa waktu belakangan ini telah menggemparkan jagat persilatan.


Bagaimana tidak? Memangnya siapa yang bisa mencuri barang pusaka di Istana Kerajaan? Selain Maling Sakti Seribu Wajah, rasanya tiada seorangpun lagi yang sanggup melakukannya.


"Apakah benar kakek tua itu adalah Maling Sakti Seribu Wajah?" tanya orang tersebut memastikan kembali.


"Aku bukan orang yang pandai berbohong,"


"Aku percaya. Kalau begitu, di mana barang pusaka yang telah dia curi dari Perguruan Awan Putih?"


"Ada pada seseorang. Semua hal yang dia lakukan selama ini juga demi seseorang itu,"


"Apakah ucapannya ini bisa dipercaya?"

__ADS_1


"Sangat bisa. Karena selamanya, Maling Sakti Seribu Wajah adalah orang yang selalu bicara jujur,"


Orang tadi tidak ingin percaya. Dia bermaksud untuk bicara, tapi sebelum itu, seseorang telah menyambung ucapan Cakra Buana barusan.


"Benar, dia memang orang jujur. Sekalipun jalannya salah, tapi sifatnya patut dipuji,"


Orang itu mempunyai penampilan yang sama. Hanya saja wibawa yang terpancar dari tubuhnya lebih kentara dari orang sebelumnya. Usianya sangat tua, mungkin sekitar tujuh atau delapan puluh tahunan.


Pendekar Tanpa Nama mengangguk. Dia pun setuju akan ucapan tersebut.


"Apakah aku sedang bicara dengan Maha Guru Perguruan Awan Putih?" tanyanya menerka.


"Benar, kisanak. Perkenalkan, aku biasa disebut Aki Mega Bodas," katanya sambil menjura.


Cakra Buana balas menjura. Di hadapan seorang seperti dirinya, dia bakal berubah menjadi pemuda yang penuh dengan sopan santun.


"Aku Pendekar Tanpa Nama. Kalau boleh tahu, barang apakah yang telah dicuri olehnya, Ki?"


"Sebuah pusaka berupa Tombak. Tombak Awan Kajayaan, lambang dari perguruan kami," jawabnya dengan tenang.


"Aihh, ternyata bukan barang biasa. Kalau begitu, izinkan aku untuk membantu kalian menemukan benda ini,"


"Maaf, kami telah merepotkan Tuan,"


"Tidak jadi soal. Kalau aku sudah menemukan orang yang dimaksud lalu menemukan pula barangnya, aku berjanji akan segera mengembalikannya kepada Perguruan Awan Putih,"


"Sebelumnya kami ucapkan terimakasih,"


Cakra Buana tersenyum simpul. Dia suka dengan seseorang yang mempunyai kepribadian seperti Aki Mega Bodas ini.


"Aki tidak perlu sungkan, kalau begitu aku pergi dulu. Masih banyak persoalan yang harus aku selesaikan,"


"Silahkan, Tuan,"


"Ah, satu lagi. Tolong jangan biarkan siapapun yang berani mengganggu peristirahatan terakhir Maling Sakti Seribu Wajah. Dia adalah musuhku, juga sahabatku. Siapapun yang berani mengganggu, maka orang itu akan berurusan denganku,"


Angin berhembus. Debu mengepul tinggi. Sesaat yang lalu, pemuda itu masih ada di hadapan orang-orang tersebut. Tapi begitu selesai bicara dan keadaan seperti semula, ternyata Pendekar Tanpa Nama telah menghilang dari pandangan mata.


"Sungguh kemampuan yang sangat tinggi. Kabar yang beredar ternyata bukan berita kosong," gumam Aki Mega Bodas sambil mengelus-elus jenggotnya.


Dia membalikkan badannya ke belakang lalu kemudian memberikan perintah kepada semua orang agar segera pergi dari sana.


Tanpa diperintah dua kali, semua orang itu langsung pergi. Mereka kembali sambil membawa pertanyaan yang terus menghantui benaknya. Tak terkecuali dengan Aki Mega Bodas sendiri.

__ADS_1


Sebenarnya, pada siapakah barang pusaka mereka berada?


__ADS_2