
"Tepat sekali. Jauh lebih besar karena tokoh yang hadir juga semakin banyak. Bagaimana tidak, pusaka yang bakal diperebutkan nanti berjumlah dua. Dan masing-masing dari pusaka itu mempunyai keistimewaan tersendiri, kaum persilatan mana yang tidak ingin memilikinya? Bakal banyak kejadian yang tidak terduga juga pantas. Apalagi kita berempat tahu rencana apa yang ada di balik pertemuan ini," kata Huang Pangcu menambahkan informasi lengkapnya.
Ketiganya mengangguk. Mereka juga mengerti terkait apa yang dikatakan oleh Huang Pangcu barusan.
Pertemuan besar yang akan berlangsung pasti bakal berjalan meriah. Bukan meriah karena hiburan. Tapi melainkan meriah karena pertarungan.
Pertarungan yang akan terjadi pastinya bukan pertarungan kelas bawah. Pertarungan tersebut sudah pasti kelas atas. Pertarungan antar tokoh. Pertarungan hidup dan matinya seseorang.
"Apakah Huang Pangcu dan Tian Bengcu sudah menyiapkan segala persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti?" tanya Pendekar Tanpa Nama setelah beberapa saat hanya diam mendengarkan.
"Kau tenang saja. Anggota Kay Pang Pek sudah aku siapkan seluruhnya. Mereka bakal mencari informasi penting terkait bencana yang bisa saja terjadi," kata Huang Pangcu.
"Saudara Cakra tidak perlu khawatir. Akupun sudah menyiapkan semuanya. Orang-orangku telah disebar di berbagai penjuru. Semua persiapan sudah sedia. Hanya saja kita belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," timpal Tiang Bengcu.
"Pertemuan ini akan menjadi ajang pertempuran dahsyat," desis si Buta Yang Tahu Segalanya.
Tiga sahabatnya tidak ada yang bersuara. Sekalipun ucapan itu belum tentu terbukti kebenarannya, namun mereka tetap percaya sepenuhnya. Karena yang bicara adalah si Buta Yang Tahu Segalanya.
Apa yang belum diketahui oleh orang lain, pemuda itu bisa tahu lebih dulu. Apa yang tidak dimengerti oleh orang lain, dia bisa mengerti lebih dulu.
Suasana di ruangan tersebut mendadak hening. Masing-masing dari mereka sedang membayangkan sesuatu yang mulai bermunculan dalam benaknya.
"Silahkan masuk," kata Huang Pangcu secara tiba-tiba.
Di sana tidak ada suara apapun. Juga tidak ada tanda-tanda apapun. Tapi kenapa Huang Pangcu berkata demikian?
Ternyata tokoh lainnya telah datang. Ada tiga sosok yang kini berdiri di pintu masuk tersebut.
Empat tokoh yang sudah ada di sana tersenyum menyapa mereka. Ketiganya adalah Nenek Tua Bungkuk bersama Liu Bing, Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma, maha guru dari Perguruan Rajawali Sakti, dan yang terakhir adalah si Orang Tua Menyebalkan.
"Aii, ternyata para tokoh ternama yang datang kemari. Mari, mari, silahkan duduk," kata Tiang Bengcu mempersilahkan ketiga tokoh itu untuk duduk.
Kursi yang tadinya tersedia empat buah, sekarang telah bertambah lagi menjadi tujuh buah. Entah kapan kursi itu ada di sana, yang jelas semua itu dikerjakan oleh orang-orang kepercayaan Tiang Bengcu.
"Mereka memang patut dipuji," desis Huang Pangcu.
Ketujuh tokoh ternama itu segera duduk di sana. Guci arak telah bertambah kembali. Mereka semua rata-rata tokoh yang doyan arak, karena itulah jumlah arak harus ditambah.
__ADS_1
Liu Bing memilih untuk duduk bersama Mei Lan. Dua gadis cantik itu pernah bertemu sebelumnya, hanya saja pada saat itu mereka masih malu-malu sehingga belum pernah bercerita.
Berbeda dengan keadaan sekarang. Keduanya tampak lebih akrab.
"Apa kabar kalian semua?" tanya Tiang Bengcu kepada ketiganya.
"Kami baik-baik saja, bagaimana dengan Tiang Bengcu sendiri?" tanya si Kakek Tua Menyebalkan.
Meskipun orang tua itu suka membuat orang lain sebal kepadanya, namun kalau sedang serius seperti sekarang, maka dia akan sangat serius. Sifat konyolnya lenyap. Meskipun memang hanya sementara.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan?" tanya Tiang Bengcu.
"Ada," jawab Nenek Tua Bungkuk.
"Terkait apakah itu?"
"Pertemuan besar ini,"
"Memangnya kenapa?" tanya Tiang Bengcu ingin mengetahui lebih lanjut lagi.
"Kami mempunyai firasat tidak baik. Orang-orang dari golongan hitam telah mulai bergerak. Mereka datang ada yang dari tempat jauh," ujar Cio Hong.
Pertemuan ini memang bebas dihadiri oleh siapapun dan dari kalangan apapun. Tidak ada larangan sama sekali. Bahkan tidak harus mengeluarkan biaya pula.
Asal mau menempuh perjalanan, maka kau akan disuguhkan oleh sesuatu yang menegangkan.
"Memang benar, hanya saja pergerakan mereka sangat ganjil. Bahkan di perjalanan, kami pun sempat mendengar kabar bahwa mereka telah membuat kekacauan,"
"Kalian tahu siapa mereka itu?" tanya Tiang Bengcu dengan mimik wajah yang serius.
"Tidak. Mereka memakai pakaian dan cadar hitam. Semuanya memakai pakaian yang sama,"
"Kalian tidak mendapatkan petunjuk lainnya?"
"Dapat,"
"Apa?"
__ADS_1
"Suatu ketika, di sebuah hutan, mereka pernah berteriak bahwa Organisasi Naga Terbang pasti akan berjaya di tanah Tionggoan," ujar Cio Hong lebih serius lagi.
Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut setengah mati. Bahkan Tiang Bengcu sendiri ikut terkejut. Malah Huang Pangcu menyemburkan kembali arak yang telah masuk ke mulutnya. Arak itu tepat mengenai wajah Orang Tua Menyebalkan.
Kabar yang baru saja mereka dengar benar-benar suatu kabar yang diluar dugaan. Kalau benar ucapan Cio Hong itu, maka pertempuran besar tidak dapat dihindarkan lagi.
"Ternyata Organisasi Naga Terbang telah berani menampakkan diri secara terang-terangan," ucap Tiang Bengcu.
"Tapi bukankah anggota mereka hanya tujuh orang saja?" tanya Pendekar Tanpa Nama kebingungan.
"Memang tujuh orang. Namun bukankah sebelumnya juga pernah aku katakan bahwa mereka mempunyai kekuasaan besar yang sulit dibayangkan? Jangankan pendekar kelas bawah, tokoh kelas atas sekalipun bisa mereka peralat dengan mudah. Apalagi tokoh kelas bawah?" jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Tapi dengan apa mereka memperalat orang-orang itu?" tanya Mei Lan ikut angkat bicara.
"Tentunya dengan kekuatan. Dalam dunia persilatan, yang kuat yang menang, yang lemah yang kalah. Yang kuat berkuasa, yang kuat harus rela tertindas," jawab Tiang Bengcu yang mendapat anggukan dari semua tokoh lainnya.
Semua tokoh yang hadir terdiam. Tanpa perlu dibicarakan lebih lanjut pun, mereka sudah paham bahwa bencana sudah di depan mata. Bisa jadi pertemuan besar ini sebagai langkah pertama untuk mereka menguasai Tanah Tionggoan.
"Apakah tidak ada cara untuk mencegat gerakan mereka?" tanya Pendekar Tanpa Nama.
"Ada," jawab Huang Pangcu.
"Dengan cara apa?"
"Berduel hidup dan mati,"
"Benar. Mungkin hanya cara itu saja yang dapat meminimalisir jumlah korban jiwa kalau sampai pertempuran akan terjadi nanti," timpal Cip Hong membenarkan.
"Baiklah. Untuk sementara kita harus waspada dulu. Jangan sampai mereka berbuat leluasa," perintah Tiang Bengcu.
"Kami mendengarkan," jawab para tokoh serempak.
Pendekar Tanpa Nama memandang cawan arak yang digenggam tangan kanannya. Pemuda itu menguatkan tekadnya. Bagaimanapun juga, dia harus bisa mendapatkan ginseng seribu tahun agar dirinya bisa mencapai puncak kesempurnaan.
Tapi apakah perkiraan mereka akan terjadi? Benarkah pertempuran dahsyat bakal berlangsung?
Tidak ada yang tahu terkait hal tersebut. Namun yang pasti, pertemuan para tokoh untuk mendapatkan benda pusaka, akan diwarnai dengan banjir darah.
__ADS_1
Alasannya tentu karena berbagai macam tokoh dari aliran tertentu akan bertemu. Mungkin di pertemuan nantilah mereka akan melampiaskan dendamnya masing-masing.