
Cakra Buana duduk menanti di atas dahan pohon. Di tangan kanannya terdapat satu guci arak yang isinya tinggal setengah lagi. Dia belum bergerak. Sebagai tokoh tanpa tanding, Pendekar Tanpa Nama harus memastikan dulu segalanya sebelum mengambil sebuah tindakan.
Keadaan di sekitar itu sangat hening. Hawa juga semakin dingin.
Tiga orang tadi masih menatap tajam dalam jarak beberapa langkah saja.
Wushh!!!
Tanpa bicara lebih dulu, orang berbaju hijau tua tiba-tiba menyerang si resi dengan senjatanya yang berupa sebatang tombak setengah depa. Serangan pertama itu sangat cepat sekaligus mematikan.
Tusukan yang amat berbahaya.
Cahaya hitam legam melesat secepat kilat di tengah kegelapan malam yang dingin ini. Untungnya si resi sudah mengira akan hal tersebut.
Dengan gesitnya dia menghindari serangan itu. Tubuhnya menggeser sedikit ke samping sebelah kanan. Tangan kirinya segera memapak tusukan tombak.
Tapi belum selesai serangan yang satu, telah datang kembali serangan lainnya.
Sinar kuning terang tiba-tiba menyambar dirinya.
Wutt!!! Blarr!!!
Untuk kedua kalinya si resi tua itu berhasil menghindari serangan lawan.
Pertarungan segera dilanjutkan kembali. Si resi tua mulai membalas serangan dari kedua lawannya. Dua tangan yang tua renta itu ternyata mempunyai tenaga dahsyat.
Kebutan dari kain pakaiannya juga mampu mendatangkan angin yang menderu-deru dengan keras.
Hawa kematian bertambah pekat. Pertarungan berjalan semakin sengit.
Dua orang berpakaian biru dan hijau tua terus melayangkan berbagai macam serangan tanpa berhenti. Posisi si resi tua sebentar terdesak sebentar lepas dari tekanan.
Pertarungan mereka bertiga memasuki belasan jurus. Kerja sama dua orang itu patut diacungi jempol. Setiap gerakan mereka dilakukan dengan sempurna. Sepertinya dua orang tersebut sudah terbiasa melakukan hal serupa di hari-hari sebelumnya.
Si resi tua mendadak membentak nyaring pada saat pertarungan mencapai dua puluhan jurus. Secara tiba-tiba, keadaan mendadak terbalik.
Dia yang sebelumnya berada dalam posisi terdesak, sekarang justru malah berada di atas angin. Dua tangannya bergerak cepat seperti bayangan. Serangan yang dilancarkan amat ganas sekaligus kejam.
Dua orang berbaju biru dan hijau tua itu dibuat kelabakan. Namun hal tersebut hanya terjadi beberapa saat saja, karena selanjutnya, mereka pun langsung mengeluarkan jurus dahsyat miliknya.
Tombak menusuk dan menyabet dengan ganas. Keris ditusukkan secepat kilat. Sesekali keris itu mengeluarkan sinar kuning kembali lalu selanjutnya ledakan akan terdengar kalau sinar tersebut tidak mengenai targetnya.
Selama jalannya pertarungan tersebut, Cakra Buana alias si Pendekar Tanpa Nama hanya duduk sambil tetap menonton. Wajahnya tenang. Setenang air di danau sana.
__ADS_1
Dalam hatinya, dia sendiri memuji kerja sama dua orang tersebut. Mereka benar-benar ahli dalam memainkan setiap gerakannya.
Waktu terus berlalu. Pertarungan masih berlanjut. Semakin lama, posisi si resi tua semakin terdesak hebat.
Pendekar Tanpa Nama memutuskan untuk turun tangan ke arena pertarungan itu. Bagaimanapun juga, dia seorang pendekar pembela kebenaran. Melihat pertarungan orang lain yang tidak seimbang, bagaimana mungkin dirinya akan tenang-tenang saja sambil memperhatikan?
Apapun yang terjadi, setiap kali menghadapi situasi seperti sekarang ini, maka Pendekar Tanpa Nama siap untuk mengulurkan tangannya.
Wushh!!!
Bayangan hitam melesat. Guci arak yang sebelumnya digenggam oleh Cakra Buana telah dilemparkan dengan kecepatan tinggi.
Prakk!!!
Guci arak itu tiba-tiba pecah menjadi serpihan kecil pada saat tiba di hadapan ketiga orang yang sedang melangsungkan pertarungan tersebut.
Seketika itu juga pertarungan langsung berhenti. Tiga orang tersebut menatap ke arah datangnya guci.
Mereka melihat ada seorang pemuda sedang duduk dengan santainya di sebuah dahan pohon. Bahkan lucunya lagi, pemuda itu tidak memasang wajah bersalah. Justru dia malah tersenyum seperti orang tidak tahu apa.
"Bangsat mana yang berani mencampuri urusanku. Turun kau!!!" teriak si orang berpakaian hijau tua.
Wushh!!!
Begitu tiba di bawah, dia langsung berjalan menghampiri ketiganya. Jalannya masih tenang dan santai. Wajahnya juga sama.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau berani mencampuri urusan kami?" bentaknya lagi.
"Pendekar Tanpa Nama …" jawabnya masih dengan julukan yang sama.
Cakra Buana sengaja berlaku demikian. Karena kalau dia sampai memberitahukan nama aslinya, sedikit banyak orang-orang persilatan akan mengenali dirinya. Khususnya lagi di Tanah Pasundan ini.
Kalau sampai hal tersebut terjadi, maka dia tidak bisa lagi menyelidiki keadaan negerinya sendiri.
Dia memang sudah lama tidak pulang. Semua orang mungkin lupa akan wajahnya, karena sekarang dirinya bertambah kekar, tampan dan juga sakti. Tapi kalau menyangkut sebuah nama, rasanya semua orang tidak bakal lupa.
Di Tanah Pasundan, selain dirinya, memangnya siapa lagi yang bernama Cakra Buana? Sudah tentu hanya dia seorang.
Sang Pangeran dari Kerajaan Kawasenan.
Walaupun belum semua orang tahu keturunan dia sebenarnya, tapi jika hal itu sampai tembus ke lingkungan kerajaan, maka cerita yang akan terjadi nantinya pasti berbeda lagi.
"Hemm, apakah kau komplotan tua bangka ini?"
__ADS_1
"Bukan. Aku malah tidak kenal dia,"
"Kalau kau tidak kenal, menyingkirlah. Biarkan kami membunuhnya," bentak si orang berpakaian biru.
Sementara itu, selama Cakra Buana dan dua orang tersebut bertengkar, secara diam-diam si resi tua beranjak pergi dari sana.
Caranya melarikan diri sangat ahli. Selain itu, ilmu meringankan tubuhnya juga terbilang sebagai tokoh kelas pilih tanding.
Tiga orang itu tidak menyadari bahwa dia telah pergi. Sebab si resi tua tidak mengeluarkan suara apapun pada saat menjalankan aksinya tersebut.
"Bertarung boleh saja. Asalkan dengan adil dan jantan. Benarkan Pak tu-…" Cakra Buana tidak melanjutkan perkataannya lagi.
Sebab begitu dia menengok ke belakang, ternyata sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
"Ke mana dia?" tanyanya celingukan sambil menatap ke arah dua orang di depannya.
"Mana aku tahu. Bukankah tadi dia di belakangmu?" tanya balik orang berpakaian hijau tua.
"Aku sendiri tidak melihatnya,"
"Dia telah kabur. Bangsat, semua ini gara-gara kau pemuda sialan. Gara-gara kau Maling Tua Seribu Wajah itu dapat melarikan diri. Padahal capek-capek kami menemukan penyamarannya," ucap orang berpakaian biru sambil menggerutu tidak karuan.
"Mampus kau!!"
Wushh!!!
Orang berpakain hijau tua tiba-tiba menyerang Cakra Buana dengan ganas. Tusukan tombak yang sebelumnya pernah dia lihat, sekarang terlihat lagi.
Tusukannya semakin cepat. Juga semakin berbahaya lagi.
Tombak yang tadinya hitam legam, sekarang tiba-tiba berubah menjadi merah membara. Hawa panas yang teramat sangat keluar dari seluruh batang tombak.
Belum tiba serangan pertama, disusul kemudian dengan serangan lainnya lagi. Orang berpakaian biru tidak mau kalah, dia pun turut menggerakan keris sakti di tangannya.
Wutt!!!
Sinar kuning emas menerjang ke arah Pendekar Tanpa Nama.
Ledakan terdengar lagi karena sinar tadi tidak mengenai sasaran.
Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
Plakk!!! Plakk!!!
__ADS_1