
"Bagus kalau begitu. Akhirnya aku bisa juga pergi melancong ke negeri yang indah," seru Sin Jin lalu segera meneguk habis arak dalam cawannya.
Cakra Buana pun tertawa. Melihat orang lain bahagia, dia selalu turut bahagia. Meskipun terdapat banyak rasa curiga dalam dirinya, dia tidak mau mengemukakan kecurigaannya itu. Atau lebih tepatnya belum.
Karena jika kau ingin mengemukakan sebuah kecurigaan terhadap seseorang, minimal kau harus mempersiapkan segalanya. Bukti-bukti kuat misalnya, atau lain sebagainya.
"Kenapa kau terlihat begitu gembira?"
"Melihat orang lain bahagia, aku selalu bahagia," jawab Cakra Buana sejujurnya.
"Benarkah?"
"Benar, apalagi kau mirip seseorang," sorot matanya langsung muram.
Dia sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa mempunyai perasaan aneh seperti itu. Sampai sekarang, Cakra Buana tidak tahu pasti perasaan apakah itu.
"Seseorang yang saat ini sedang kau rindukan?" tanya Sin Jin sambil menatapnya penuh dengan selidik.
Cakra Buana lebih dibuat bingung. Benarkah dia rindu orang itu? Kalau benar, apakah orang itu juga rindu kepadanya?
Mending kalau sama-sama merindu. Kalau hanya rindu bertepuk sebelah tangan, bagaimana?
Bertepuk sebelah tangan, tiga kata yang pendek. Tapi sakit yang bisa diakibatkan olehnya sangat dalam.
Jika ada sebagian orang yang pernah tersakiti oleh kata itu, maka orang tersebut pasti tahu bagaimana sakitnya.
"Aku tidak tahu,"
"Kenapa kau tidak tahu akan perasaanmu sendiri?"
"Karena aku sendiri tidak mengerti,"
"Kenapa kau tidak mengerti? Bukankah itu perasaanmu sendiri? Kalau kau tidak mengerti perasaanmu pribadi, bagaimana kau akan mengerti perasaan orang lain?"
Perkataan itu langsung menusuk relung hati Cakra Buana. Apa yang dikatakan oleh Sin Jin adalah kebenaran yang nyata.
Jika dirinya saja tidak dimengerti, bagaiamana mungkin orang lain akan mengerti? Kalau tidak mengerti kepada perasaan hati sendiri, bagaimana bisa mengertikan perasaan hati orang lain?
Pemuda itu terus merenungkan kata-kata tersebut. Sepasang matanya menatap nanar ke depan sana. Dia menatap samudera biru yang sedang ditutup oleh tirai hitam kegelapan malam.
Apakah pemuda itu sedang berusaha menyelami perasaannya sendiri?
"Yang jelas aku takut," katanya dengan suara lirih.
"Apa yang kau takutkan?"
__ADS_1
"Aku takut jika aku rindu, dia justru tidak rindu,"
"Dia pasti juga rindu kepadamu,"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku tidak bisa menjelaskan. Namun yang pasti, aku sangat yakin bahwa orang yang kau maksud juga rindu kepadamu,"
"Kalau tidak bisa menjelaskan, kenapa kau memastikan?"
"Karena aku tahu bahwa di dunia ini ada banyak kejadian yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata,"
Cakra Buana langsung membungkam mulutnya saat itu juga. Dia cukup mengerti tentang perkataan itu.
Di dunia ini, memang terdapat banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak bisa dipecahkan oleh kata-kata. Sekeras apapun kau berusaha, kejadian itu tetap tidak akan bisa dipecahkan hanya dengan bicara.
Ada kalanya beberapa macam kejadian hanya bisa dipecahkan oleh hati dan perasaan.
Apakah rasa rindu dan cinta juga termasuk ke dalamanya?
Malam semakin larut. Hawa pun semakin dingin menusuk tulang. Cakra Buana dan Sin Jin sudah menghabiskan beberapa guci arak. Ternyata takaran minum sahabat barunya itu lumayan besar juga.
Padahal keduanya sudah minum sejak tadi, tapi hingga sekarang belum ada yang mabuk di antara mereka.
Suasana di kapal semakin sepi. Para pengunjung lainnya sudah terlelap bersama mimpi-mimpi mereka. Selain anak buah kapal, nakhoda, dirinya dan Sin Jin, rasanya tiada manusia lain yang masih membuka matanya.
Pemuda itu seperti tidak mau melepaskan Cakra Buana begitu saja. Kalau dirinya belum mendapatkan sesuatu yang ingin didapat, agaknya dia benar-benar tidak akan mau melepaskannya.
Di sisi lain, Sin Jin tidak perlu menanyakan apakah yang sedang dirindukan oleh Cakra Buana itu pria atau wanita, sebab dia sendiri sudah tahu jawabannya.
Kalau bukan rindu seorang wanita, mana mungkin pemuda tampan sepertinya bisa dibuat murung begitu rupa?
"Sangat cantik. Seperti bunga bwee yang sedang mekar di musim semi," jawab Cakra Buana tetap dalam tatapan nanar yang sama.
"Bunga bwee sangat cantik sekali,"
"Seperti itulah gambaran dirinya. Bahkan postur tubuhnya pun sangat mirip denganmu," kata Cakra Buana sambil melirik sekejap ke arah Sin Jin.
Pemuda itu terbelalak kaget. Hampir saja dia berteriak, untungnya tidak jadi.
"Be-benarkah?"
"Aku tidak suka berbohong,"
"Siapa nama wanita itu?"
__ADS_1
"Ling Ling Sian-li Bwee Hua," ucap Cakra Buana dengan suara dalam.
Sin Jin semakin tersentak. Perubah di wajahnya semakin terlihat dengan jelas. Untunglah pada saat itu Cakra Buana tidak dapat melihat dengan jelas.
Tiba-tiba pipi Sin Jin memerah. Merah seperti buah tomat.
Dia lantas minum arak beberapa cawan hingga akhirnya cegukan.
"Sepertinya kau sudah mulai mabuk. Kedua pipimu sudah merah," kata Cakra Buana tersenyum hangat.
"Mungkin benar. Aku mulai mengantuk, aku tidur dulu," kata Sin Jin sambil bangkit berdiri.
"Di mana kau akan tidur?"
"Tentu saja di kamarku,"
"Baiklah. Kau tidur saja lebih dulu, aku belakangan,"
Sin Jin tidak menjawab. Dia hanya melirik sebentar ke arahnya sambil melemparkan sebuah senyuman.
Senyuman hangat. Senyuman yang mampu menggetarkan hatinya. Seperti senyuman seorang Dewa yang sanggup menggetarkan langit dan bumi.
Kenapa yang ada pada diri Sian-li Bwee Hua bisa ditemui pula pada diri Sin Jin seluruhnya?
Cakra Buana tidak mengerti. Dia hanya mampu menghela nafas lalu segera melanjutkan minumnya lagi.
Di dalam kamar, Sin Jin langsung rebah di pembaringan. Dia tidak membuka pakaiannya satu pun. Pemuda itu segera tidur. Tapi sebelum tidur, matanya sempat memandang langit-langit kamar sambil tersenyum-senyum seorang diri.
Wajahnya menampilkan raut bahagia.
Dia memeluk guling dengan erat. Tak lama kemudian, Sin Jin mulai terlelap.
Rembulan sudah tertutup oleh mega yang kelabu. Rasa kantuk juga mulai menghampiri Cakra Buana.
Empat guci arak yang sudah kosong ada di pinggirnya, Cakra Buana sudah tidak kuat berdiri lagi. Tanpa sadar, diapun segera tidur lelap di tempat duduknya.
Kapal yang ditumpangi oleh Cakra Buana terus melaju tanpa berhenti. Perlahan namun pasti, kapal itu telah berada di tengah samudera kembali.
Siang dan malam, kapal itu tidak pernah berhenti kecuali hanya untuk mengisi bahan bakar ataupun membetulkan kerusakan di dalamnya.
Tanpa terasa, waktu yang sudah dilalui oleh mereka cukup lama juga. Sepertinya beberapa hari lagi akan segera tiba di tempat tujuan.
Selama di perjalanan, Cakra Buana selalu menghabiskan waktu bersama Sin Jin. Kalau tidak, pemuda itu bakal diam di dalam kamarnya sambil tetap melatih tenaga dalam miliknya.
Meskipun benar ilmunya sudah sangat tinggi dan telah mencapai tahap kesempurnaan, namun diapun tetap harus melatihnya walau hanya beberapa jam selama satu hari.
__ADS_1
Sebab kalau tidak dilatih sama sekali, maka bisa jadi kemampuannya akan jauh berkurang. Tidak seperti sebelumnya.