
"Aku sendiri sudah menggeledah Pendekar Tanpa Nam. Dan hasilnya nihil. Satu pun tidak aku temukan adanya benda pusaka yang sedang diperebutkan saat ini," jawab Tiang Bengcu masih tenang.
"Itukan Bengcu yang memeriksanya, bukan kami. Selain itu, kami tidak menyaksikannya sendiri. Kalau benar dia tidak memegang dua benda pusaka itu, bagaimana jika kami menggeledahnya sendiri?" tanya seorang pemimpin barisan yang satu lagi.
Tiang Bengcu hanya tersenyum. Tapi sahabat Cakra Buana yang lainnya mulai menunjukkan reaksi tidak senang. Terlebih lagi Huang Pangcu dan si Buta Yang Tahu Segalanya.
Pada saat orang barusan selesai berkata, dia langsung maju ke depan melangkah ke arah Pendekar Tanpa Nama. Tapi baru saja beberapa langkah, secara tiba-tiba Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya sudah berada di hadapan pemuda itu.
"Selangkah lagi kau maju ke depan, aku pastikan kepalamu akan hancur seperti batu ini," tegas si Buta Yang Tahu Segalanya sambil meremas sebuah batu kerikil seukuran jempol kaki.
Debu langsung mengepul akibat leburnya batu tersebut. Sepertinya pemuda itu tidak main-main. Dia amat serius dengan perkataannya barusan.
Si pemimpin langsung menghentikan langkahnya saat itu juga. Tubuhnya langsung diam seperti sebuah patung yang tidak berguna.
"Banyak bicara …"
Wushh!!!
Satu bayangan dari arah belakang langsung menerjang ke depan. Kecepatannya cukup lumayan.
Orang itu sepertinya sudah bosan hidup.
Prakk!!!
Darah muncrat ke segala arah. Isi kepala langsung berhamburan ke segala penjuru mata angin.
Belum sempat orang tadi mencapai sasarannya, secara singkat kepalanya sudah pecah berhamburan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya.
Kejadian itu benar-benar membuat semua tokoh yang hadir terkejut setengah mati. Siapapun merasa kaget, termasuk dengan tiga datuk dunia persilatan dan dua pemimpin barisan itu sendiri.
Si Buta Yang Tahu Segalanya telah membuktikan ucapannya yang baru saja selesai dia katakan.
Brugg!!!
Tubuh orang tadi langsung ambruk ke tanah. Darah masih mengucur dari bekas kepalanya.
__ADS_1
Suasana langsung dicekam oleh keheningan. Setiap orang-orang yang hadir di sana tidak ada yang berani bicara. Mereka mengunci mulutnya masing-masing. Para tokoh tersebut masih terbengong dengan apa yang dilakukan oleh si Buta Yang Tahu Segalanya barusan.
Pertemuan ini hanya dihadiri oleh para tokoh kelas atas dunia persilatan. Semuanya merupakan tokoh pilih tanding. Bahkan ada beberapa yang hampir mencapai tahap tanpa tanding.
Bicara sampai di sini, siapapun pasti sudah mengerti bahwa di padang rumput Gunung Hua Sun sekarang, semuanya orang-orang berkemampuan tinggi. Untuk membunuh salah satu dari mereka bukankah suatu hal yang mudah.
Tapi kenapa pemuda berjuluk si Buta Yang Tahu Segalanya justru dapat membunuh seorang di antara mereka dengan sangat mudah? Bahkan dia membunuhnya dalam waktu yang sangat singkat.
Sebenarnya sampai di mana kemampuan pemuda bernama asli Li Guan itu?
"Sekarang kalian percaya kalau ucapanku sebelumnya bukan sebuah candaan? Kalau masih tidak ada yang percaya, jika masih ada yang ingin mencobanya, silahkan kalian melakukan hal yang sama," kata si Buta Yang Tahu Segalanya sambil memandangi setiap tokoh satu persatu.
Mereka tidak ada yang berani menjawabnya. Apa yang baru saja terjadi sudah cukup untuk menjadikan sebuah jawaban nyata bahwa ucapan pemuda itu bukan isapan jempol belaka.
Siapa yang ingin mampus seperti orang tadi? Siapa yang berani mempertaruhkan nyawanya hanya demi melakukan sebuah kebodohan?
Setiap orang pasti tidak ingin mempertaruhkan nyawa. Hanya saja, sampai sekarang masih ada juga orang yang melakukan perbuatan bodoh itu. Buktinya saja orang tadi.
"Kalau kalian tidak percaya kepada Tiang Bengcu, hal itu sama saja bahwa kalian pun sudah tidak percaya lagi kepada Tiang Bengcu," tegas si Buta Yang Tahu Segalanya.
Tiang Bengcu memberikan isyarat dengan menganggukkan kepalanya kepada pemuda serba putih itu. Li Guan membalas anggukan tersebut, dia sudah mengetahui apa yang harus dilakukan olehnya.
"Baik, tapi sebelumnya aku ingin tahu siapa namamu," kata Li Guan kepadanya.
"Namaku Meng Yi si Pedang Kelam," jawabnya dengan nada bangga.
"Nama yang bagus. Julukan yang sesuai," puji Li Guan.
"Terimakasih," jawabnya.
Pemuda yang tidak dapat melihat itu lantas segera menyuruh Cakra Buana untuk maju ke depan. Kemudian dia langsung memeriksanya. Si Buta Yang Tahu Segalanya menggeledah seluruh tubuh Pendekar Tanpa Nama di hadapan semua tokoh yang ada.
Cukup lama dia menggeledahnya, setelah dipastikan semua bagian sudah di geledah, pemuda serba putih itu baru menyelesaikannya.
"Sekarang kalian percaya bukan?"
__ADS_1
"Hemm, mungkin sebelumnya pemuda keparat itu sudah menyembunyikan dua benda pusaka tersebut," ejek Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi.
Pendekar Tanpa Nama mulai geram. Begitu juga dengan sahabat yang lainnya. Di antara mereka, yang masih terlihat tidak terburu emosi hanyalah Tiang Bengcu seorang.
Pemimpin dunia persilatan itu benar-benar patut diacungi jempol. Di rimba hijau dewasa ini, selain sang Kaisar, mungkin hanya dirinya saja yang dapat setenang itu.
"Bangsat tua bangka. Sudah jelas kau melihatnya sendiri, bagaimana mungkin Cakra Buana menyembunyikannya lebih dulu?" teriak Orang Tua Menyebalkan yang sudah merasa sangat emosi.
Tian Hoa tersenyum licik. Wajahnya menampilkan ekspresi bengis yang sulit untuk diceritakan.
"Bisa saja dia sudah memperkirakan apa yang saat ini sedang terjadi," ejeknya.
"Semakin lama, ucapanmu malah semakin ke mana saja. Apakah kau sudah bosan hidup?" tanya Huang Pangcu angkat bicara.
Orang tua itu sudah tidak kuat menahan rasa sabarnya. Sejak tadi dia diam, sejak tadi pula dia menahan kesabaran. Sekarang setelah perilaku Tian Hoa semakin parah, maka amarah ketua Kay Pang Pek itu sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Kau pikir aku takut? Jangan bermimpi. Aku tidak takut sama sekali kepadamu,"
"Hemm, baik. Aku juga sudah lama ingin menghajar batok kepalamu," bentak Huang Pangcu.
Belum sempat dia bergerak lebih jauh, tiba-tiba saja si Buta Yang Tahu Segalanya sudah memegangi tangan orang tua itu.
"Tahan kesabaranmu sedikit. Masalah ini biar aku yang menghadapi," katanya sambil berbisik.
Huang Pangcu mendelik ke arahnya, setelah merasa puas, dia kemudian menghela nafasnya.
"Baiklah. Maafkan aku yang terbawa emosi,"
Li Guan tersenyum. Kemudian dia mengangguk. Pemuda itu segera melangkah ke depan. Langkahnya tenang. Ekspresi wajahnya penuh percaya diri.
"Sekarang apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyanya kepada Tian Hoa.
"Aku ingin pemuda asing itu menyerahkan dua benda pusaka yang sedang kita cari-cari,"
"Baik. Aku akan menunjukkan benda pusaka itu asalkan kalian berlima dapat mengalahkan aku dan dirinya," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya dengan tenang.
__ADS_1