Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kabar Menggemparkan


__ADS_3

Cakra Buana sudah berada jauh dari kota yang sebelumnya menjadi pertarungan pertama melawan Ou Lin, salah satu kepala perampok dari Tujuh Perampok Berhati Kejam.


Sekarang dia sedang berada di restoran yang cukup mewah. Dia juga menyewa kamar. Sebab selain restoran, tempat itu juga menyediakan penyewaan kamar bagi para tamunya.


Saat ini malam hari. Udara sangat dingin karena mulai masuk musim salju. Rembulan menghilang. Bintang yang biasanya bertaburan di angkasa, sekarang tidak ada satu pun yang menampakkan diri.


Seolah mereka juga merasakan kedinginan yang sama seperti yang dirasakan oleh Cakra Buana.


Suasana dingin ini, sudah pasti arak dan daging lah yang sangat cocok untuk menemani. Di restoran tersebut masih saja ramai pengunjung. Padahal waktu sudah hampir larut malam, sepertinya tempat ini memang buka 24 jam.


Cakra Buana duduk di tengah-tengah. Dia hanya sendirian, berbeda dengan para pengunjung lain yang membawa serta rekan ataupun kekasih mereka.


Tetapi walaupun sendiri, pemuda itu tampak sangat menikmati hidangannya. Dua guci arak sudah habis. Tetapi masih kurang, sehingga dia memutuskan untuk memesan lagi.


Kondisinya sudah setengah mabuk. Tetapi semua inderanya masih berjalan dengan normal. Walaupun matanya kadang terbuka kadang terpejam, tapi telinganya masih tajam.


Yang hadir di restoran tersebut kebanyakan dari kalangan para pendekar. Cerita yang keluar dari masing-masing mulut pun tentunya meliputi dunia persilatan.


"Hei, apakah kalian sudah mendengar berita?" kata salah seorang berpakaian hitam ringkas. Di pinggangnya terselip sebatang golok tajam.


"Berita apa Kakak Ang?" tanya orang yang berada di dekatnya.


Orang yang dipanggil Kakak Ang itu tidak langsung bercerita. Dia meneguk guci araknya kemudian baru melanjutkan bicaranya.


"Beberapa waktu yang lalu, negeri kita kedatangan seorang pemuda asing. Katanya si dia berasal dari Tanah Pasundan. Namanya Cakra Buana, dengar-dengar, kemarin malam dia telah membunuh satu dari Tujuh Perampok Berhati Kejam,"


"Apa?" serentak orang-orang yang di dekatnya terkejut. Bahkan beberapa pengunjung lain pun ikut menengok saat mendengar kabar tersebut. Termasuk Cakra Buana sendiri.

__ADS_1


"Apakah yang Kakak Ang bicarakan itu benar?"


"Tentu saja benar, buat apa aku berbohong?"


"Lalu, bagaimana hal itu bisa terjadi?"


"Katanya si Ou Lin mencuri uang milik pemuda asing itu. Singkat ceritanya, si pemuda itu telah berhasil menemukan markas mereka. Nah malam harinya, pemuda itu menjebol atap markas Ou Lin, mereka sempat bertempur hebat di sana. Sepuluh anggotanya tewas, Ou Lin sendiri juga tewas. Semua korbannya mengalami nasib yang sama. Mereka tewas dalam keadaan mengenaskan," ucap si Kakak Ang melanjutkan ceritanya.


Semua orang merasa terkejut atas berita itu. Sebab mereka sudah tahu bagaimana sakti san bahayanya Tujuh Perampok Berhati Kejam. Walaupun bukan pendekar kelas pilih tanding, tetapi namanya sudah terkenal sekali. Apalagi di daerah sekitar kekuasaan mereka.


Selain itu, orang-orang dunia persilatan takut kepada Tujuh Perampok Berhati Kejam dikarenakan mereka mempunyai jaringan yang sangat luas sekali. Menurut kabar yang beredar, lima datuk sesar dunia persilatan merupakan teman baik mereka. Tujuh perampok tersebut suka memberikan jatah kepada masing-masing datuk.


Tujuannya supaya mereka mendapatkan perlindungan khusus dari para datuk itu apabila mendapat masalah.


"Hemm, kasian sekali pemuda asing itu. Baru saja tiba di negeri orang, sudah mendapatkan masalah yang besar. Tapi menurutku, para datuk tidak akan turun tangan secara langsung. Apalagi sekarang dunia persilatan sendiri sedang kacau," kata seorang lainnya.


"Kau benar. Aku setuju denganmu. Namun meskipun datuk sesat tidak turun tangan, tetap saja akan sulit jika menghadapi mereka sekaligus,"


Orang-orang tersebut masih terus membicarakan terkait masalah Cakra Buana dan Tujuh Perampok Berhati Kejam. Bagi mereka, ini adalah berita yang akan membuat kaget siapapun.


Ada yang merasa kagum karena keberanian Cakra Buana, ada juga yang menyumpah serapah lalu mengatakan bahwa dia sangat bodoh sekali karena telah berani mencari masalah dengan Tujuh Perampok Berhati Kejam.


Namun yang pasti, orang-orang tersebut tidak tahu bahwa orang yang sedang mereka bicarakan sejak tadi, sebenarnya ada di tempat itu juga. Bahkan orang itu mendengar semua pembicaraan mereka.


Cakra Buana sebenarnya kaget, dia tidak menyangka sama sekali bahwa Ou Lin atau lebih tepatnya Tujuh Perampok Berhati Kejam, ternyata mempunyai nama seterkenal ini. Bahkan dia juga tidak menyangka bahwa mereka mempunyai jaringan yang luas.


Walaupun begitu, Cakra Buana tetap tidak akan merasa gentar.

__ADS_1


Pria sejati adalah dia yang berani bertindak, maka berani pula bertanggungjawab.


Dan Cakra Buana adalah pria sejati.


Dia tidak memusingkan masalah dirinya yang akan menjadi buronan orang-orang dunia persilatan. Toh sebelumnya dia sudah mengalami hal yang serupa.


Justru yang sedang Cakra Buana pikirkan adalah pusaka dan kitab apa yang mereka bicarakan tadi. Bahkan menurut penuturan orang-orang tersebut, gara-gara, dua pusaka ini, dunia persilatan dibuat kacau. Dan katanya beberapa bulan lagi akan ada pertemuan besar di sebuah tempat.


Pemuda itu merasa tertarik atas berita barusan. Dia sudah berniat untuk menghadiri pertemuan tersebut sekedar ingin tahu dan melihat bagaimana pertarungan pendekar kelas atas di sini.


Cakra Buana sudah merasa sangat pusing. Dia memutuskan untuk segera masuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Untungnya saat dia berjalan, tidak ada satupun orang-orang itu yang melihatnya.


Setidaknya dia aman untuk saat ini. Tetapi harus selalu waspada. Sebab kapanpun, nyawanya bisa melayang secara tiba-tiba.


Keesokan harinya, Pendekar Tanpa Nama mencari kuil dan panti asuhan untuk memberikan kepingan emas hasil rampasan dari Ou Lin. Dia tidak mau mengambil semuanya. Toh perbekalan yang dia bawa sudah melebihi cukup untuk hidup beberapa bulan ke depan.


Penampilannya sekarang berubah. Dia kembali memakai pakaian serba putih polos dan ringkas. Dia berjalan membagi-bagikan kepingan emas juga kepada para pengemis yang meminta sumbangan.


Hanya dalam waktu yang singkat saja, tempat tersebut menjadi gempar. Seorang pemuda asing membagi-bagikan kepingan emas kepada siapapun yang memintanya, menjadi perbincangan hangat pagi ini.


Dia sendiri sama sekali tidak mengetahui. Karena setiap selesai membagikan kepingan emas, Cakra Buana akan langsung beranjak pergi dari tempat tersebut.


Dan sekarang dia sedang berada di tengah pasar. Pengemis di sana ternyata banyak sekali. Dua kali lebih banyak daripada yang dia temui sebelumnya. Namun sama seperti tadi, dia tetap membagikan kepingan emas kepada para pengemis yang meminta.


Mendadak perhatian Cakra Buana tertuju kepada seorang pengemis muda sepantaran dirinya. Usianya paling sedikit lebih tua. Bajunya hitam lusuh. Namun tubuhnya masih tampak sehat dan bugar.


"Mohon sumbangannya Tuan dermawan. Sudah tiga hari saya belum makan," kata pengemis muda itu kepada Cakra Buana.

__ADS_1


__ADS_2