
"Tapi, Pangeran …, bukankah ini akan menjadi beban berat bagi Pangeran?" tanya Kakek Sakti sambil perlahan mengangkat kepalanya.
Raut wajah yang sudah tua itu, sekarang menjadi lebih tua beberapa tahun. Kerutan di wajahnya bertambah semakin jelas.
"Memang berat. Tapi kalau dibandingkan dengan tugas utama yang nanti bakal aku tanggung ketika sudah menjadi Raja, tentunya tugas sekarang belum ada apa-apanya," jawab tegas Cakra Buana.
Kakek Sakti kembali terdiam. Lagi-lagi, ucapan pemuda itu sangat benar dan sesuai.
Saat menjadi seorang penguasa di sebuah negeri yang luas, tanggungjawab dan beban yang dia tanggung memang sangat-sangat berat. Bagaimana tidak? Mulai dari hal terkecil hingga hal terberat berada di atas pundaknya.
Bukan cuma Cakra Buana, bahkan siapapun pasti seperti itu.
"Kalau begitu, hamba tidak bisa berkata lagi," jawabnya lirih.
Kakek tua itu bingung harus bicara apa lagi. Kalau tuannya sudah memutuskan sesuatu, memangnya dia dapat mencegah ataupun melarangnya? Tentu saja siapapun tidak bisa.
Keputusan seorang calon penguasa, ataupun yang sudah menjadi penguasa tidak bisa diubah kecuali hanya oleh dirinya sendiri.
"Apakah Kakek bersedia membantuku?" tanya Cakra Buana dengan ekspresi wajah yang semakin serius lagi.
"Tentu, tentu saja sangat bersedia Pangeran," jawab Kakek Sakti dengan cepat.
Seraut wajah yang tadinya kelam seperti gelapnya malam itu, sekarang mendadak cerah kembali. Seulas senyuman penuh harapan terpancar di wajah tua itu.
"Apakah Kakek bisa memasukkan Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap ke dalam lingkungan Istana Kerajaan?"
"Tentu saja, Pangeran. Sangat bisa, hal ini bisa hamba atur sedemikian rupa," jawabnya tanpa berpikir terlebih dahulu.
Jangankan hanya memasukkan dua gadis cantik itu ke dalam lingkungan Istana Kerajaan, bahkan kalau ditanya apakah dia bisa berenang di tengah lautan api sekalipun, maka Kakek Sakti bakal menjawab bisa.
Demi membuktikan sebuah kesetiaan, demi memperlihatkan baktinya kepada Kerajaan, maka orang tua itu siap melakukan sesuatu apapun.
__ADS_1
Sekalipun taruhannya nyawa, dia siap menempuhnya.
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih sebelumnya. Selain itu, aku juga minta tolong kepada Kakek agar mencarikan informasi tentang seseorang yang menjadi dalang dibalik semua kejadian ini,"
"Apakah maksudnya termasuk juga majikan Maling Sakti Seribu Wajah?"
"Tepat sekali,"
"Hal ini akam hamba usahakan sebisa mungkin," jawabya penuh rasa hormat.
"Terimakasih. Aku rasa untuk sekarang hanya itu dulu. Ah, satu lagi, kalau ada informasi terbaru tentang Kerajaan, mohon Kakek beritahukan kepadaku. Selain itu, aku juga minta supaya Kakek tidak menyebarkan tentang keberadaanku. Aku tidak ingin ada seorangpun tahu kalau Pendekar Tanpa Nama adalah Cakra Buana,"
Pemuda itu harus menyembunyikan diri dari khalayak ramai. Dia ingin menyelidiki misteri yang sedang terjadi ini, oleh sebab itulah latar belakang dirinya tidak ingin diketahui oleh siapapun. Bahkan termasuk oleh pamannya sendiri, Prabu Katapangan Kresna.
"Baik Pangeran. Semua titah Pangeran akan hamba lakukan semaksimal mungkin," katanya sambil memberikan hormat.
Cakra Buana hanya mengangguk. Tanpa berkata lagi, kedua orang itu langsung pergi dan kembali ke restoran di mana Nenek Sakit, Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap sudah menunggunya.
###
"Sudah," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.
Mereka sudah duduk kembali. Hidangan yang sudah dingin itu mulai disantap oleh keempat orang tersebut.
Hari sudah malam. Langit semakin kelam. Rembulan telah lenyap dari pandangan mata. Suara decitan kelelawar yang melintas memecahkan kesunyian di sana.
Pertemuan di antara mereka sudah selesai. Sepasang Kakek dan Nenek Sakti telah menghilang dari sana. Tiada yang tahu ke mana dua orang tua itu pergi.
Restoran sudah mulai tutup. Tiga kekasih tersebut mencari sebuah penginapan yang masih buka. Di tengah perjalanan, Cakra Buana mulai membicarakan maksud dan tujuannya kepada dua orang kekasihnya tersebut.
Di mana dirinya ingin mereka berdua untuk berdiam di lingkungan Istana Kerajaan untuk beberapa saat lamanya. Pemuda itu menginginkan kalau kedua kekasihnya menyelidiki bagian dalam istana. Sedangkan dia sendiri akan menyelidiki bagian luar istana.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, dalam hal ini dibutuhkan kerja sama dari beberapa orang yang sudah ahli dalam memecahkan sebuah misteri.
Sian-li Bwee Hua sangat senang jika dirinya diikutsertakan dalam persoalan semacam ini. Oleh sebab itulah Ling Ling menyetujui tanpa harus berpikir lebih lama lagi.
Sedangkan Bidadari Tak Bersayap hanya mengikuti saja. Kalau mereka berdua sudah setuju akan rencana ini, bagaimana bisa dirinya tidak setuju?
"Baiklah kalau begitu Kakang. Kami siap menjalankan rencanamu ini. Semoga saja apa yang kita lakukan tidak sia-sia," kata Bidadari Tak Bersayap sambil tersenyum.
###
Pagi hari sekali, Sepasang Kakek dan Kakek Sakti sudah kembali ke Istana Kerajaan. Tapi sekarang mereka tidak berdua, sebab Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap ikut juga bersamanya.
Para penjaga Istana Kerajaan Tunggilis membungkuk menghormat ketika melihat kedatangan dua orang tokoh tua tersebut.
Walaupun semua penjaga merasa heran terhadap dua orang gadis yang ikut bersama Sepasang Kakek dan Nenek Sakti itu, tapi tidak ada satupun di antara mereka yang berani bertanya.
Selain itu, para penjaga tersebut juga tahu kalau setiap apa yang dilakukan oleh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti, selamanya mempunyai alasan kuat tersendiri.
Hal ini tidak dapat dipungkiri. Sebab semua orang-orang Istana tahu seperti apakah sosok dua orang tua tersebut.
Sekarang empat orang itu sudah tiba di sebuah ruangan yang besar. Puluhan prajurit Istana Kerajaan berdiri di setiap sudut ruangan itu. Di tengah ruangan ada belasan tempat duduk. Setiap tempat duduk sudah diduduki oleh satu orang tokoh kelas atas dunia persilatan yang mengabdi kepada Kerajaan.
Di depan sana ada satu singgasana besar dan mewah. Beberapa orang dayang sedang menjalankan tugasnya masing-masing. Ada yang mengipas, memijit, bahkan ada pula yang menyuapi makanan ataupun minuman.
Ruangan yang dimaksud bukan lain adalah ruangan utama di mana sang Raja berdiam. Walaupun usianya bertambah tua, tapi Prabu Katapangan Kresna masih terlihat gagah.
Bahkan kegagahan itu semakin menjadi. Seluruh tubuhnya mengeluarkan semacam aura kewibawaan dari seorang penguasa. Di sisi sebelah kanannya ada seorang pria tampan, dia tidak lain adalah Raden Kalacakra Mangkubumi. Putra tunggal dari Prabu Katapangan Kresna.
Sedangkan di sisi kiri ada seorang selir yang usianya terpaut sedikit di bawah sang Prabu. Di belakang selir itu ada sepasang pendekar yang selalu memakai topeng. Penampilan mereka kereng, keduanya memandang tajam kepada dua gadis yang dibawah oleh Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.
Apakah itu selir yang bernama Anjani Saraswati? Dan benarkah dua pendekar di belakangnya adalah Sepasang Pendekar Bertopeng?
__ADS_1
"Sampurasun Prabu. Semoga Prabu panjang umur dan selalu diberkahi oleh Sang Hyang Widhi …" katanya Kakek Sakti sambil memberikan hormatnya.