
Tidak berapa lama kemudian, si Walet Putih sudah tiba di belakang Cakra Buana. Dia tidak langsung bicara. Matanya memandang ke sekeliling. Dalam hatinya, orang tua itu sendiri merasa kaget melihat keadaan sekitar yang kacau balau.
Terlebih lagi saat melihat ke arah kereta kuda. Meskipun tidak memeriksa, namun si Walet Putih dapat menebak apa yang sudah terjadi di tempat itu.
Rembulan semakin bergeser ke Barat. Semilir angin lirih mengibarkan jubah kedua pendekar tersebut.
"Apakah Lima Bayangan Kelam juga benar-benar tewas?" tanya si Walet Putih kepada Cakra Buana untuk memastikan.
"Kalau si Gendut Yang Pintar sendiri tewas, bagaimana mungkin Lima Bayangan Kelam masih hidup?"
Walet Putih tidak menjawab perkataan Pendekar Tanpa Nama. Dia sedang memikirkan siapa yang membunuhnya dan juga karena alasan apa dia bisa dibunuh.
Namun terlepas alasan apa dan siapa yang membunuh si Gendut Yang Pintar serta lima pengawal pribadinya, Walet Putih sangat yakin bahwa pelakunya pastilah bukan pendekar biasa.
Hanya pendekar kelas pilih tanding yang bisa membunuh mereka dalam waktu sekejap mata. Jika hanya pendekar kelas satu saja, jangan harap bisa membunuhnya secepat ini.
"Menurutmu, siapa yang sudah membunuh si Gendut Yang Pintar dan Lima Bayangan Kelam?" tanya si Walet Putih.
Orang tua itu yakin dan tahu bagaimana sifat serta bagaimana luasnya pengetahuan Pendekar Tanpa Nama. Karena itulah dia bertanya demikian dengan harapan bisa menemukan sebuah jawaban yang dapat diandalkan.
Namun siapa yang akan menyangka, ternyata Walet Putih justru mendapatkan sebuah jawaban yang sama sekali tidak dia inginkan. Cakra Buana hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku belum bisa memastikan siapa pembunuh yang sebenarnya. Hanya saja, aku menemukan sebuah petunjuk kecil. Tapi menurutku, dalam keadaan seperti ini, petunjuk yang kecil justru bisa menjadi petunjuk yang besar," jawab Cakra Buana tanpa ekspresi.
Walet Putih tidak menjawab. Belakangan ini, dirinya memang belum berkata banyak. Dalam menghadapi suatu masalah yang sangat misterius, dia hanya bisa diam sambil mencari-cari sebuah jawaban pasti.
Cakra Buana berjalan ke arah kereta kuda. Dia melihat jasad dari si Gendut Yang Pintar beserta kusir dan kudanya. Setelah itu, Cakra Buana juga berjalan menghampiri mayat Lima Bayangan Kelam.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu telah kembali ke posisinya semula. Caranya berdiri dan caranya memandang memandang masih sama seperti sebelumnya.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya si Walet Putih.
"Aku tidak mendapatkan apa-apa. Aku hanya memastikan petunjuk kecil yang aku temukan sebelumnya," jawab Cakra Buana.
"Petunjuk apa yang kau maksud?"
__ADS_1
"Luka yang diderita mereka sama. Di masing-masing keningnya ada luka sayatan sepanjang satu buku jari. Di tenggorokannya ada juga satu luka bekas tusukan. Bentuknya bulat kecil,"
"Apakah sebuah luka bisa dijadikan sebuah petunjuk?"
"Sangat bisa. Asal kau berlaku teliti,"
Walet Putih terdiam. Cakra Buana juga sama.
"Kau tahu siapa tokoh kelas pilih tanding yang memakai trisula dan pisau?" tanya Cakra Buana.
Si Walet Putih termenung sebentar. Sepertinya dia sedang mengingat-ingat siapa tokoh yang dimaksud oleh Cakra Buana.
"Ada," jawabnya setelah beberapa saat mengingat.
"Siapa?"
"Si Trisula Pisau Bersatu. Tapi seingatku dia bukanlah tokoh pilih tanding. Dia tak lebih dari seorang kakek tua yang kurus kering. Bahkan sekilas tidak nampak bahwa dia bisa bertarung,"
"Tidak masalah. Nanti aku akan mencarinya,"
"Bisa iya, bisa tidak. Yang jelas, aku akan mencari dia beberapa waktu ke depan ini,"
"Lalu, apakah kita masih tetap akan pergi untuk membunuh si Tuan tanah?"
"Kenapa tidak? Sekarang juga, kita pergi ke sana,"
"Bagaimana dengan mayat mereka?"
"Kita kubur dulu,"
Si Walet Putih mengangguk. Keduanya segera menguburkan mayat si Gendut Yang Pintar bersama mayat-mayat lainnya. Hanya beberapa saat, pekerjaan itu telah selesai.
Sekarang mereka langsung melesat untuk pergi ke markas si Tuan tanah. Keduanya menggunakan ilmu meringankan tubuh hingga mencapai titik tertinggi.
###
__ADS_1
Rumah itu berdiri di tengah perkampungan. Di perkampungan tersebut, tidak ada rumah yang semewah dan seluas tempat yang ada di hadapan Cakra Buana saat ini.
Lentera di pasang di setiap sudut. Terangnya seperti pancaran sinar mentari di pagi hari. Bangunannya menjulang tinggi seperti akan menembus cakrawala.
Halaman luas yang membentang di tanami berbagai macam tumbuhan. Bunga-bunga yang harum tumbuh dengan subur. Keadaan di sana terlihat sunyi.
Namun walaupun begitu, Cakra Buana dan Walet Putih tahu betul bahwa kesunyian itu bisa berubah menjadi keramaian hanya dalam beberapa saat. Keduanya juga sadar bahwa di sini adalah tempatnya naga mendekam harimau bersembunyi.
Salah langkah sedikit saja, maka akibatnya akan sulit untuk dibayangkan. Karena itulah, begitu tiba di sekitar sana, Cakra Buana dan Walet Putih tidak mau bertindak gegabah. Mereka juga tahu bahwa di sekitaran bangunan rumah yang mewah itu, terdapat banyak sekali anggota-anggota lawan yang akan di hadapi.
Keduanya bergerak dalam kesunyian dan keheningan yang mencekam. Mereka melompat dari satu atap ke atap lainnya. Bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.
Sekarang, keduanya sudah berdiri di sebuah dahan pohon yang rimbun. Sekitar jarak dua puluh tombak di depannya, ada empat penjaga gerbang yang bolak-balik tanpa berhenti. Di lihat sekilas saja, setidaknya mereka bukanlah penjaga biasa.
Wushh!!!
Empat daun kering melesat sangat cepat ke arah empat penjaga. Walaupun hanya berupa daun, tapi jika dipegang oleh Pendekar Tanpa Nama, maka daun itu akan berubah menjadi sebuah senjata yang mampu untuk membunuh mangsa.
Pemuda itu sadar bahwa pekerjaan ini sangat beresiko sekali. Karena alasan tersebut, maka Cakra Buana memutuskan untuk mempersingkat waktu. Dia berniat mengeluarkan tenaga dalam hingga ke titip puncaknya.
Clapp!!! Clapp!!!
Terdengar empat kali bunyi yang sama. Empat penjaga gerbang terkapar di tanah. Mereka tewas karena jantungnya ditembus oleh daun yang telah disaluri tenaga dalam tinggi.
Si Walet Putih melesat turun dari dahan pohon. Kecepatannya yang sekarang lebih cepat daripada sebelumnya. Hanya beberapa saat saja, dia sudah tiba di hadapan empat mayat penjaga gerbang.
Dia langsung membawa keempat mayat itu lalu menyembunyikannya di tempat yang gelap. Hal ini memang sengaja dia lakukan agar pergerakannya tidak sampai ketahuan oleh musuh.
Cakra Buana juga melesat turun ke bawah. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, pemuda itu telah tiba di hadapan si Walet Putih. Orang tua itu dibuat kaget saat melihat bagaimana kehebatan ilmu meringankan tubuh Pendekar Tanpa Nama.
Sekarang, dia benar-benar yakin bahwa Cakra Buana memang mempunyai kekuatan jauh dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan melompati gerbang. Mereka langsung bergerak masuk ke dalam. Namun sebelum pergerakan mereka lebih jauh lagi, puluhan desingan angin tajam terdengar dari segala penjuru menerjang ke arahnya.
__ADS_1