
Gerak serangannya teramat cepat. Pukulan itu bagaikan kilat. Datangnya tidak terkira, perginya tanpa disangka. Kekuatan yang terkandung lebih dahsyat daripada letusan gunung.
Tokoh pilih tanding yang menjadi lawan si Jalak Putih mati kutu. Dia tidak dapat memberikan balasan apapun. Hakikatnya memang tidak bisa menghindari setiap serangan yang diberikan oleh si Jalak Putih.
Hanya beberapa kejap saja, semuanya telah selesai. Musuh Jalak Putih telah mampus. Tokoh itu tewas mengenaskan. Seluruh titik penting ditubuhnya hancur akibat terkena pukulan jurus Dua Belas Pukulan Burung Jalak Sutera.
Berbarengan dengan kejadian tersebut, di sisinya, di Gagak Bodas juga sedang bertempur melawan musuhnya. Orang tua itu tampak gagah. Meskipun usianya sudah terbilang lanjut, namun semangatnya tidak kalah oleh para kaum muda.
Dia bertarung dengan segenap kemampuan. Seluruh kekuatan yang sudah dia kuasai dikeluarkan tanpa memandang rendah sedikitpun kepada lawannya.
Sekarang pertarungan dua orang tokoh angkatan tua itu hampir mencapai akhir. Lawan Gagak Bodas mengeluarkan jurus pamungkas yang selalu diandalkan. Begitu juga dengan dia sendiri.
Jurus Kepakan Gagak Menyibak Tabir Kelam yang merupakan jurus andalannya sudah digelar. Angin puyuh menderu-deru. Arena pertarungan keduanya diselimuti oleh bebatuan dan dedaunan yang bergulung-gulung.
Mereka seperti menyatu dalam sebuah pusaran dahsyat. Tidak ada yang dapat melihat pertarungan keduanya dengan jelas kecuali hanya mendengar benturan keras dan ledakan dahsyat.
Blarr!!! Blarr!!!
Beberapa pepohonan robin akibat jurus-jurus yang tidak mengenai sasaran. Suasana semakin menegangkan. Pertarungan juga semakin sengit.
Bukk!!! Bukk!!!
Sebuah pukulan hebat dilayangkan. Dua sosok manusia terlempar ke belakang. Yang satu terlempar hampir sepuluh tombak jauhnya. Sedangkan satu lagi hanya enam atau tujum tombak saja.
Jalak Putih memburu satu sosok yang terlempar itu. Ternyata Gagak Putih mengalami luka. Pundak bagian kanan tampak gosong. Malah mengepulkan sedikit asap putih.
"Duduklah. Biar aku obati lukamu ini. Kalau dinanti-nanti, aku khawatir kondisimu malah bertambah parah," kata Jalak Putih dengan ekspresi wajah serius.
Gagak Bodas tidak menjawab. Dia hanya mengangguk lalu segera duduk bersila membelakangi saudaranya tersebut.
Sedangkan Jalak Putih langsung ikut bersila pula. Dia lantas menyalurkan hawa murni kemudian difokuskan pada telapak tangan. Rasa hangat dan nyaman segera memasuki tubuh Gagak Bodas. Awalnya orang tua itu tampak baik-baik saja. Tapi sesaat kemudian, dia meringis menahan sakit.
Sepertinya luka pada Gagak Bodas tidak ringan. Karena itulah dirinya mulai menderita rasa sakit.
Sementara itu, orang tua yang menjadi lawan Gagak Bodas pun sudah tewas. Orang tua itu mampus karena terkena serangan dahsyat dari jurus Kepakan Gagak Menyibak Tabir Kelam.
__ADS_1
Darah segar terus keluar dari mulutnya. Wajahnya amat pucat. Kondisinya sungguh mengiris hati.
Kentongan ketiga hampir tiba. Pertempuran di hutan Kerajaan juga hampir selesai. Kedua belah pihak mulai tampak kelelahan.
Korban yang berjatuhan semakin banyak. Hampir semua tokoh tanpa tanding di pihak lawan sudah tewas. Prajurit yang mereka bawa pun mampus. Yang tersisa hanya tinggal beberapa orang saja.
Angin dingin yang berhembus membawa bau amis darah. Kalau tidak biasa, orang-orang itu pasti akan muntah karena saking amisnya bau tersebut.
Daun-daun rontok. Beberapa suara binatang malam terdengar kembali. Tapi suaranya kali ini berbeda, suara itu seperti membawa kesedihan.
Apakah binatang-binatang itu sedih karena melihat tingkah laku manusia di tempat mereka?
Suara dentingan nyaring mulai sirna satu persatu. Bentakan dan benturan mulai tidak terdengar lagi. Sepertinya keadaan mulai kembali seperti semula.
Tetapi, apakah benar begitu? Benarkah keramaian ini akan selesai sekarang juga?
Wushh!!! Wushh!!!
Tiba-tiba puluhan bayangan manusia beraneka warna datang tanpa diduga. Lesatan bayangan terus terlihat. Semuanya berada dalam kecepatan yang sama. Hembusan angin yang tercipta karena lesatan bayangan itu sanggup mematahkan ranting pohon.
Bayangan itu terus terlihat silih berganti. Mereka berdiri di atas dahan-dahan pohon cukup besar. Ada juga yang berdiri di atas dedaunan yang rimbun.
Sungguh pemandangan ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam yang sudah sempurna.
Hanya beberapa saat saja, tempat yang mulai sepi itu, sekarang telah dipenuhi kembali oleh orang-orang yang baru saja datang tersebut.
Pendekar Tanpa Nama melihat dengan jelas orang-orang tersebut. Begitu juga dengan Sian-li Bwee Hua. Dua orang itu saling pandang sekejap. Mereka sama-sama mengerutkan keningnya masing-masing.
Siapa lagi orang-orang tersebut? Lawan? Atau kawan?
Pertanyaan semacam itu belum bisa terjawa sekarang. Semuanya butuh penjelasan. Apapun juga butuh yang namanya kepastian.
Wushh!!!
Tiba-tiba tokoh pilih tanding yang tadi disuruh pergi oleh si Tongkat Seribu Bayangan sudah berada di hadapan pihak Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Wajahnya mengulum senyuman kemenangan. Dia berjalan perlahan namun pasti. Setiap langkah kakinya memperlihatkan kesombongan yang tiada tanding.
Tokoh tua itu bernama Karmalaya. Setiap orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan pasti pernah mendengar dan tahu siapa itu Karmalaya.
Karmalaya adalah seorang tokoh pilih tanding yang kejam. Licik. Licin. Sekaligus mempunyai banyak tipu muslihat. Oleh sebagian tokoh aliran putih, malah dirinya disebut si Ahli Menipu karena saking banyaknya tipu muslihat yang dia kuasai.
Dia baru berumur sekitar lima puluhan tahun. Tubuhnya tinggi sedang. Badannya cukup kekar. Kumisnya melintang dan jambang yang tumbuh juga sangat tebal. Sekilas tampangnya itu mirip seperti setan. Di kala tersenyum, siapapun pasti bakal merasa muak.
Begitu juga Pendekar Tanpa Nama. Dalam hatinya, timbul niatan untuk merontokkan gigi orang tersebut.
Karmalaya sudah berhenti berjalan. Jaraknya dengan pihak Pendekar Tanpa Nama tidak kurang hanya terpaut dua atau tiga tombak saja.
"Kau kalah …" katanya secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil mengerutkan keningnya.
Bagaimana mungkin pihaknya kalah? Bukankah sudah jelas kalau pihak musuh lebih banyak yang menjadi korban? Lalu kenapa Karmalaya bisa berkata demikian?
"Apakah kau tahu siapa yang datang itu?" tanyanya sambil memandangi orang-orang tersebut sekaligus tersenyum.
Pendekar Tanpa Nama mengikuti pandangan mata Karmalaya. Setiap pasang mata manusia itu ternyata memandang penuh dendam ke arahnya.
Hati Cakra Buana semakin tercekat ketika menyadari kalau yang hadir di sana ternyata bukan saja tokoh dari luar. Malah termasuk panglima, senopati, dan kepala prajurit Kerajaan juga hadir.
Apa maksud semua ini? Kenapa mereka bisa mengepung pihaknya di sini?
"Apakah mereka orang-orangmu?" tanya Pendekar Tanpa Nama lebih lanjut lagi.
"Kalau mereka orang lain, rasanya tidak mungkin orang-orang itu mau meluruk kemari pada saat malam-malam seperti ini,"
Benar juga. Kalau mereka orang lain, pasti tidak mungkin mereka sudi mendatangi hutan belantara ini.
Pendekar Tanpa Nama mulai paham tentang keadaan sekarang. Namun dirinya tidak habis pikir, kenapa semua ini bisa terjadi?
###
__ADS_1
Hari ini satu dulu ya. Biasa, mengistirahatkan pikiran hihi …☕