Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Gadis Sumber Informasi


__ADS_3

Saat ini hari sudah siang. Di langit tidak tampak gumpalan awan. Matahari bersinar sangat terik sekali. Hawa panas menyelimuti alam mayapada.


Sekarang masuk musim kemarau, pada musim ini, cuaca memang selalu panas.


Cakra Buana sedang berada di sebuah rumah sederhana. Lebih tepatnya berada di sebuah ruangan kecil yang mirip dengan kamar. Di tempat itu tiada sesuatu apapun kecuali hanya satu buah bangku dan satu buah meja. Di atas meja ada arak keras yang baru dibuka.


Cawan arak di hadapannya sudah terisi oleh air kata-kata itu. Malah tampak masih penuh. Cakra Buana tidak meminumnya. Tidak pula memegang atau bahkan memandanginya.


Sepasang matanya sedang menatap tirai kain warna putih di hadapannya. Tirai itu hanya terpaut dua sampai lima langkah dari Cakra Buana.


Kenapa Pendekar Tanpa Nama terus memandangi tirai tersebut? Apa alasannya?


Ternyata alasannya hanya satu.


Dia sedang menunggu seseorang.


Tapi, kira-kira siapakah orang yang sedang ditunggu olehnya?


Tiba-tiba tirai tersingkap. Seseorang berjalan perlahan ke arahnya. Dia seorang gadis berumur sekitar dua puluh empat sampat dua puluh lima tahunan. Wajahnya sangat cantik. Caranya berjalan sangat anggun.


Gadis itu mempunyai postur tubuh tinggi semampai. Bentuk tubuhnya sangat sempurna. Sepasang matanya jernih. Bola matanya sangat hitam. Hitam seperti bola mata bayi yang baru lahir.


Senyumannya manis. Lebih manis daripada senyuman si dia.


Tanpa sadar Cakra Buana dibuat terbuai olehnya. Semuanya mendaak sirna dari pandangan matanya. Pemuda tersebut tidak melihat apa-apa kecuali hanya gadis itu saja.


Apakah setiap pria bakal merasakan hal seperti itu jika, dia melihat sedang seorang gadis maha cantik?


Gadis itu sudah duduk tepat di hadapan Cakra Buana. Tangan kanannya mengambil arak lalu segera menuangkannya ke dalam guci. Cara kerjanya amat perlahan. Seolah dia tidak mau melakukan kesalahan apapun.


Pada saat itu, tanpa sengaja Cakra Buana melihat kulit tangannya. Ternyata kulit itu sangat putih bersih. Putih bagaikan salju nun jauh di sana. Selain putih, kulit itu juga halus. Halus seperti belaian seorang kekasih.


Cawan arak sudah penuh. Gadis itu langsung meminumnya secara perlahan juga.


Selama kejadian itu, Cakra Buana terus memperhatikannya tanpa berkedip. Dia sangat menikmati kejadian singkat namun mengesankan ini.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," kata gadis tersebut.

__ADS_1


Suaranya merdu bagaikan kicau burung kenari di pagi hari. Sangat nyaring, menenangkan jiwa dan raga. Malah menurut Cakra Buana sendiri, hanya dari suara itu saja, gadis tersebut sudah mampu membetot sukma seorang pria.


"Tidak mengapa. Jangankan menunggu satu atau dua jam, andai disuruh menunggu satu minggu pun, aku tentu tidak keberatan," jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah.


Sudah tentu dia tidak keberatan. Bahkan kalau kau menjadi Cakra Buana pun, mungkin kau akan memberikan jawaban yang sama.


Sekalipun harus menunggu lama, menghadapi rasa bosan dan lelah, tapi semuanya akan langsung terganti begitu kau melihat wajah cantiknya itu.


"Terimakasih, ternyata kau pemuda yang cukup romantis,"


"Kau bisa saja. Aku hanya berkata apa adanya,"


"Baiklah, berarti kau sudah mengetahui siapa aku?"


"Sudah. Kau adalah si Gadis Sumber Informasi" jawab Cakra Buana.


Gadis Sumber Informasi. Dia adalah seorang gadis yang tahu segala macam sumber informasi. Berita apapun, kabar apapun, bahkan isu bagaimanapun, dia pasti tahu. Segala macam pertanyaan yang kau ajukan, pasti dapat dia jawab.


Siapa dan bagaimana latar belakangnya tiada seorangpun yang tahu. Orang-orang cuma mengetahui kalau dia adalah si Gadis Sumber Informasi. Tidak kurang dan tidak lebih.


Kemunculannya dalam dunia persilatan memang belum lama ini. Namun karena kemampuannya itu, banyak para pendekar yang sudah mengenal si Gadis Sumber Informasi tersebut.


Diam-diam Cakra Buana menguping, hingga akhirnya memutuskan untuk menemuinya seorang diri.


Alasan Pendekar Tanpa Nama menemuinya bukan lain adalah karena dirinya memang sedang membutuhkan orang semacam gadis tersebut.


Saat ini, pemuda itu sedang mencari-cari jejak keberadaan Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat, kalau mencari seorang diri, rasanya tidak mungkin. Sebab Cakra Buana tidak ahli dalam hal melacak informasi seseorang, oleh sebab itulah dia sengaja datang kemari.


"Hahaha, orang-orang itu terlalu berlebihan tentangku," ujarnya sambil tertawa. Tawa yang manis. Tawa yang mampu membuat segalanya menjadi indah.


"Bukan mereka yang berlebihan, tapi karena kau sendiri yang terlalu merendahkan diri,"


Si Gadis Sumber Informasi tidak mau menanggapi. Dia hanya tersenyum simpul sambil menunggu Cakra Buana berkata lebih lanjut.


"Sebenarnya aku kemari karena ingin mencari informasi tentang keberadaan seseorang,"


"Apakah yang kau maksudkan adalah Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat?"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang mencari mereka?" tanyanya sedikit terkejut.


Dara muda di hadapannya tersenyum kembali. Kemudian dia berkata, "Jangan lupa, aku adalah Gadis Sumber Informasi,"


"Ah, benar. Mungkin aku terlalu banyak pikiran sehingga melupakan hal itu," jawab Cakra Buana tertawa masam.


Waktu terus berjalan. Arak dalam guci itu sudah habis. Sekarang keduanya tampak lebih dekat. Seperti seorang sahabat yang sedang bicara dengan sahabatnya sendiri.


"Jadi, apakah kau tahu di mana keberadaan guru dan murid itu?" tanya Cakra Buana lebih lanjut lagi.


"Tentu saja aku tahu di mana keberadaan mereka,"


"Di mana?" tanya Pendekar Tanpa Nama dengan cepat.


Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui di mana keberadaan pastinya gembong iblis itu. Kalau saja benar dia dapat menemukannya, niscaya salah satu tujuannya sudah tercapai.


"Kalau aku memberitahu keberadaan mereka kepadamu, benarkah kau akan langsung percaya?"


"Tentu saja aku bakal percaya,"


Benar, Pendekar Tanpa Nama memang pasti percaya. Justru karena alasan itulah dia datang kemari.


Kalau tidak percaya, memangnya untuk apa Cakra Buana susah-susah mencarinya?


"Baiklah kalau begitu. Sekarang guru dan murid yang kau cari itu sedang berada di Istana Kerajaan Kawasenan,"


"Benarkah?"


Cakra Buana terkejut. Malah sangat-sangat terkejut. Sepasang bola matanya seperti hendak melompat keluar.


Di Istana Kerajaan? Benarkah? Bagaimana mungkin mereka bisa berada di sana?


Bukankah Istana Kerajaan adalah salah satu tempat paling aman di muka bumi ini?


Pengamanan di sana sangat-sangat ketat. Jangankan orang luar, malah orang dalam, termasuk rakyat yang ada di sekitarnya pun tidak bisa sembarangan masuk.


Lantas bagaimana mereka bisa masuk?

__ADS_1


Otak Cakra Buana langsung bekerja dengan cepat. Tapi sayang sekali, kalau sedang kalut seperti sekarang ini, selalu saja otaknya itu tidak bisa diajak bekerja sama.


Untuk beberapa saat lamanya kedua orang itu saling diam. Belum ada yang bicara di antara mereka berdua.


__ADS_2