Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Terkepung di Hutan Kerajaan


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama adalah seorang Pangeran. Malah dia Pangeran yang mewarisi langsung posisi seorang Raja. Cakra Buana adalah penerus ayahandanya. Kelak, dia pun bakal menjadi seorang Raja.


Sebagai calon Raja, tentunya dia bebas melakukan apapun juga. Jangankan hal sepele, malah hal berat saja boleh dia lakukan.


Jangankan salah membunuh, bahkan kalau dia sengaja membunuh orang tak bersalah pun, kasarnya hal tersebut diperbolehkan.


Memangnya sesuatu apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Raja?


Sudah jamak di dunia ini kalau yang mempunyai kekuasaan bisa melakukan apapun. Kalau yang berpangkat rendah saja bisa melakukannya, bagaimana mungkin yang pangkatnya sangat tinggi tidak bisa?


Pendekar Tanpa Nama mengencangkan tali cadarnya. Dia pun membenarkan atribut yang dikenakan. Setelah selesai, Cakra Buana siap melakukan semuanya.


Namun sebelum hal itu dilaksanakan, mendadak puluhan titik hitam meluncur deras dari dalam hutan tepat ke arahnya.


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Desingan angin tajam mengancam tubuh Pendekar Tanpa Nama. Suaranya sangat menyeramkan. Persis seperti desisan seekor ular yang sedang marah besar.


Wutt!!!


Pendekar Tanpa Nama bergerak dengan cepat. Tubuhnya berputar seperti baling-baling.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Bunyi nyaring terdengar tiada henti. Sesaat kemudian, puluhan anak panah sudah rontok di tanah. Satu pun tidak ada yang berhasil mengenai tubuhnya. Jangankan melukai, malah menyentuh rambutnya pun tidak ada.


Semuanya dipatahkan tepat sebelum anak panah itu tiba dalam jarak setengah tombak dari tempat Pendekar Tanpa Nama berdiri.


Grrr!!!


Bumm!!!


Pendekar Tanpa Nama menggeram keras. Suaranya sangat menyeramkan. Persis seperti suara seekor naga dan harimau yang sedang mengamuk. Seluruh hutan Istana Kerajaan bergetar dibuatnya. Daun-daun berguguran. Beberapa ranting pohon seukuran lengan patah menimpa ranting di bawahnya.


Tanah juga bergetar. Bagaikan dilanda sebuah gempa bumi yang sangat hebat.


Wushh!!!


Titik hitam memanjang kembali nampak. Tapi kali ini jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Mungkin banyaknya hingga dua atau tiga kali lipat.


Pendekar Tanpa Nama kembali melakukan gerakan sama seperti sebelumnya. Tubuhnya berputar lebih cepat. Pusaran angin tercitpa. Tiba-tiba saja lebih dari sebagian titik hitam itu kembali lagi ke arahnya semula.

__ADS_1


Luncurannya jauh lebih cepat lagi. Sedetik kemudian mulai terdengar suara teriakan seseorang. Suara itu sambung menyambung tiada henti.


Satu orang, dua orang, tiga orang, hingga pada akhirnya sepuluh orang manusia serba hitam jatuh dari dahan pohon di sekitar tempat itu. Semuanya langsung tewas.


Mereka mampus karena ada anggota tubuhnya yang terkena senjatanya sendiri. Ada yang dadanya tertusuk oleh anak panah, ada pula yang tenggorokannya tertusuk oleh pisau. Malah sebagian korban ada pula yang lehernya tertembus oleh jarum kecil.


Senjata makan tuan.


"Keluar!!!" bentak Pendekar Tanpa Nama.


Suaranya menggelegar bagaikan guntur di tengah hujan badai. Binatang malam yang tadi hadir di sana langsung melarikan diri. Suara-suara hewan seperti jangkrik dan sebagainya seketika sirap tanpa jejak.


Seolah semua makhluk merasa sangat takut karena mendengar suara Pendekar Tanpa Nama barusan.


Suara itu lebih mengerikan daripada raungan para iblis di neraka. Malah lebih menyeramkan daripada suara ledakan lahar gunung berapi.


Wushh!!! Wutt!!!


Hutan yang sepi sunyi itu tiba-tiba ramai. Puluhan manusia bercadar hitam telah mengelilingi Pendekar Tanpa Nama. Ada yang muncul dari balik dahan pohon, ada pula yang muncul dari belakang tubuhnya.


Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang banyaknya.


Wushh!!!


Tatapan mata itu menggambarkan kebencian, kemarahan, dan juga kekesalan.


Hanya dari situ saja, siapapun bisa menduga kalau orang-orang tersebut pastinya menginginkan kematian Pendekar Tanpa Nama.


Sekarang semua orang sudah berkumpul di tempat itu. Pendekar Tanpa Nama telah dikelilingi oleh puluhan orang manusia iblis. Mereka siap untuk membunuhnya. Malam ini, orang-orang itu pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk mencabut nyawanya.


Siapa mereka? Kenapa bisa berada di sini?


Dan pertanyaan yang paling penting, kenapa musuh Pendekar Tanpa Nama banyak sekali? Apakah mereka tidak habis-habis?


Pertanyaan seperti itu pasti muncul dalam benak semua orang yang mengetahui tentang petualangan dirinya.


Dan untuk pertanyaan tersebut, jawabannya hanya satu.


Membunuh satu orang Pendekar Tanpa Nama, jauh lebih sulit dibandingkan dengan membunuh seratus tokoh pilih tanding. Malah akan jauh lebih mudah membunuh seribu prajurit Kerajaan daripada harus membunuh manusia seperti Cakra Buana.


Itulah alasan kenapa banyak sekali musuh-musuhnya.

__ADS_1


Mereka semua bersatu hanya demi membasmi seorang Pendekar Tanpa Nama. Demi membunuh dirinya, orang-orang aliran hitam rela melakukan apapun juga. Jangankan harta, malah mereka tidak segan-segan menyerahkan nyawanya pula.


Yang penting, apapun itu, Pendekar Tanpa Nama harus mampus. Sebab kalau dia sudah tiada di dunia ini, maka rencana para manusia iblis untuk menguasai dunia dapat tercapai dengan mudah.


Tapi benarkah orang-orang itu sanggup membunuhnya?


Cakra Buana memandang ke arah semua orang yang hadir di sana. Dia membalas tatapan mata yang diberikan oleh orang-orang tersebut.


Dirinya saat ini ibarat seekor harimau yang terjerat di antara kawanan pemburu kelaparan.


"Kaukah Pendekar Tanpa Nama?"


Seorang kakek tua berusia sekitar tujuh puluh tahun melangkah ke depan. Pakaian kakek ini warna hijau tua. Rambutnya gimbal dan acak-acakan. Wajahnya penuh keriput. Kalau dia tersenyum, maka akan tampak deretan gigi yang menghitam.


Ikat kepalanya berwarna hitam pekat terbuat dari kain sutera. Di tangan kirinya ada tongkat bambu warna kuning.


"Kalau sudah tahu, untuk apa bertanya lagi?" jawab Pendekar Tanpa Nama dengan suara datar.


"Hahaha … bagus, bagus sekali. Meskipun sudah dikepung, ternyata kau masih punya nyali juga," jawab kakek tua itu sambil tertawa bergelak.


"Sedikitpun aku tidak gentar,"


"Kau memang patut dipuji,"


"Tapi aku tidak butuh pujianmu,"


"Hahaha, benar-benar pemberani. Pendekar Tanpa Nama memang tidak pernah mengecewakan,"


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Cakra Buana.


Dia merasa heran sebab dirinya baru bertemu dengan kakek tua itu. Tapi di sisi lain, Cakra Buana tidak heran kenapa dirinya saat ini bisa dikepung.


Sedikit banyaknya dia sudah dapat membaca kalau rencananya sudah bocor dan diketahui oleh musuh. Terlepas bagaimana mereka bisa tahu, pemuda tersebut tidak mau memikirkannya.


Karena Cakra Buana juga sudah tahu kalau setiap pergerakannya pasti diketahui musuh. Hal itu tak lain karena ke mana pun dia pergi, pasti ada saja mata-mata musuh yang mengikutinya.


"Aku Wirahma Sukanta. Si Tongkat Seribu Bayangan,"


"Kau pemimpin dari curut-curut ini?"


Mendengar pertanyaan tersebut, semua orang yang ada di sana langsung mendengus. Mereka menatap Pendekar Tanpa Nama semakin bengis.

__ADS_1


Sepertinya orang-orang itu tidak mau berlama-lama lagi.


__ADS_2