
Sekarang tubuh Dewi Bercadar Merah sudah terkepung oleh dua serangan musuhnya yang lihai. Tiada jalan keluar bagi dirinya. Semua celah untuk menyerang juga tertutup.
Dua serangan dengan jurus berbeda itu ternyata saling melengkapi satu sama lain. Semakin lama menyerang, semakin rapat pula serangan yang diberikan kepada lawan.
Sian-li Bwee Hua memutar otak. Sesakti dan secerdas apapun dirinya, hakikatnya dia tetaplah manusia yang bisa saja menemui jalan buntu dalam menghadapi sebuah persoalan.
Seperti saat ini contohnya. Kalau dia mundur, cambuk yang lemas dan dipercaya mengandung racun itu sudah siap melilitnya. Jika memilih maju, hal itu sama saja bohong. Sebab tombak berantai milik lawan sudah siap memberikan tusukan maut kepadanya.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Apakah Ling Ling harus menyerah?
Tidak. Tidak mungkin. Kata menyerah tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Bagi Sian-li Bwee Hua, lebih baik dia mati daripada harus mengucapkan sepatah kata itu.
Bagi sebagian orang, kata menyerah adalah ucapan yang paling pantang untuk dikatakan.
"Hiatt …"
Tiba-tiba gadis cantik itu membentak keras. Tubuhnya membumbung tinggi ke atas bagaikan seekor elang yang menyongsong matahari disaat senja. Gerakannya sangat cepat. Siapapun tidak ada yang dapat melihatnya dengan jelas.
Sringg!!!
Bunyi nyaring seperti pedang diloloskan terdengar keras. Cahaya kuning laksana tumpukan emas yang terkena sinar matahari langsung menyeruak. Malam itu menjadi terang benderang untuk beberapa saat.
Wutt!!! Wushh!!! Wushh!!!
Sinar kuning terang tampak berkelebat secepat angin berhembus. Hanya sesaat, lalu semuanya segera kembali seperti semula. Sinar itu langsung sirap. Menghilang entah ke mana.
Dua orang lawannya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dalam waktu singkat itu. Hanya saja, begitu keduanya menatap senjata pusaka masing-masing, mereka langsung kaget setengah mampus.
Cambuk lemas yang panjang itu telah ditebas kutung hingga lebih dari setengahnya. Dan tombak berantai yang sangat tajam tadi juga mengalami nasib yang serupa.
Pertarungan langsung berhenti. Dua orang itu saling pandang dengan tatapan mata yang sulit untuk dijelaskan. Bagaimanapun juga, mereka tidak bakal mengerti tentang apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Dua senjata pusaka yang sudah menggetarkan jagat persilatan Tanah Pasundan selama beberapa tahun belakangan, ternyata kini harus rela kutung tanpa sebab yang dapat diketahui.
Kalau kau berada di posisi dua orang itu, kira-kira bagaimana perasaanmu?
Keringat dingin sudah membasahi seluruh punggung dua orang itu. Keringat sebesar biji kedelai juga mulai turun dari keningnya masing-masing. Mereka sudah melewati pertarungan hidup dan mati yang tidak terhitung lagi banyaknya.
Tapi belum pernah dia mengalami satu kejadian seaneh dan seganjil ini. Sampai kapan pun keduanya tidak akan melupakan kejadian malam ini.
Tapi sebagai tokoh kelas atas, maka mereka tentunya tidak mau menyerah begitu saja.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia meluncur dengan deras ke depan sana. Berbarengan dengan itu, kutungan senjatanya masing-masing turut dilemparkan pula ke depan. Keduanya bermaksud untuk mengelabui Dewi Bercadar Merah.
Sayangnya, perhitungan mereka lagi-lagi salah.
Gadis yang disangka bakal terkecoh itu ternyata sudah mengetahui maksudnya.
Dengan jurus Burung Elang Berkelit, Dewi Bercadar Merah ternyata mampu menghindari lemparan dua kutungan senjata itu. Bahkan dia bergerak dengan mudah tanpa halangan apapun.
Wushh!!!
Bukk!!! Bukk!!!
Jurus Tapak Dewi Kwan Im kembali dilayangkan dengan segenap kemampuan. Hawa panas dan hawa dingin kembali terasa di sekitar tempat pertarungan itu.
Dua bayangan manusia melayang ke belakang secepat batu yang dilemparkan. Dua orang musuh Dewi Bercadar Merah telah tergeletak di tanah. Mereka muntah darah cukup banyak.
Darah merah kehitaman telah membasahi seluruh pakaiannya. Keadaan mereka sungguh mengenaskan. Tak ubahnya seperti manusia yanh sedang menunggu kematian.
Dan kenyataannya memang demikian. Dua orang itu sedang menunggu ajal. Sayang, Malaikat Maut tidak kunjung menghampiri mereka.
Pelan-pelan Ling Ling berjalan menghampiri keduanya. Wajahnya dingin. Tatapan matanya setajam ujung mata pedang. Bibirnya tersenyum sinis kepada dua orang tersebut.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan kesempatan hidup kepada kalian, tapi kalian malah menyia-nyiakannya," katanya dengan dingin.
Mereka ingin menjawab ucapan Ling Ling, tapi sayangnya tidak bisa. Sebab seluruh tenaganya telah sirna entah ke mana. Bahkan sekalipun ada tenaga, dua orang itu tetap bakal diam.
Alasannya tak lain adalah karena pada saat ini mereka sedang merasakan sakit yang tiada duanya. Seumur hidup, orang-orang itu tidak pernah merasakan sakit seperti saat ini.
Sakitnya tiada duanya. Mereka hanya bisa merintih sambil berharap kalau kematian segera datang menjemputnya.
Terkadang langsung mati itu jauh lebih baik daripada menunggu datangnya kematian.
"Sekarang kalian tidak bisa apa-apa lagi. Sebenarnya aku ingin menanyakan beberapa hal penting, tapi sayang sekali kalian berdua tidak bisa diajak bicara. Oleh sebab itulah …"
Belum habis suaranya, tiba-tiba saja Dewi Bercadar Merah mengayunkan tangannya ke depan. Dua buah sinar hitam melesat sangat cepat ke arah dua orang tersebut.
Detik berikutnya, mereka telah mampus karena tenggorokannya telah ditusuk oleh jarum. Jarum hitam milik Sian-li Bwee Hua.
Selamanya, jarum itu tidak akan pernah mengecewakan pemiliknya.
Kalau ada orang lain yang melihat kejadian barusan, niscaya orang itu pasti tidak akan percaya kalau seorang gadis cantik sepertinya ternyata begitu kejam. Kekejamannya mungkin tak pernah dibayangkan oleh siapapun.
Ling Ling membalikkan badan. Dia berniat untuk memeriksa keadaan di dalam kamar. Tapi belum lagi kakinya melangkah lebih jauh, tiba-tiba tiga orang asing kembali sudah mencegahnya.
Kali ini yang mencegahnya itu merupakan wanita. Ya, ketiganya benar-benar wanita. Wanita cantik berumur sekitar tiga puluhan tahun. Memakai pakaian putih bersih. Sekilas pandang, setiap pria pasti akan tergoda karena melihat kecantikannya.
Tubuhnya ramping padat. Pakaiannya ketat. Dua buah dada terlihat sekal dan menonjol. Pinggulnya berisi. Siapapun orangnya, selama dia laki-laki, bisa dipastikan kalau dirinya bakal merasa seperti sedang melihat Dewi khayangan yang turun dari langit.
Diam-diam Ling Ling sendiri merasa kaget. Sungguh tidak pernah disangka olehnya kalau di Tanah Pasundan juga terdapat wanita secantik ini. Tak bisa dipungkiri lagi, dia pun merasa kagum.
Wanita cantik memang banyak. Malah tidak terhitung banyaknya. Yang lebih cantik dari tiga wanita berpakaian putih itu juga tidak sedikit.
Tapi selama ini, belum pernah Ling Ling bertemu dengan wanita yang mempunyai keanggunan dan keistimewaan tersendiri seperti mereka ini.
Siapakah mereka sebenarnya? Apa pula tujuannya?
__ADS_1
Ling Ling memasang wajah dingin. Seorang wanita, kalau bertemu dengan wanita yang lebih cantik darinya, bisa dipastikan kalau dirinya bakal merasa minder. Perasaan itu selalu ada meskipun hanya sedikit saja.
"Siapa dan apa tujuan kalian kemari?" tanyanya dengan nada datar. Sedikitpun tidak ada perasaan lain dalam nada bicaranya itu.