
Kalau tidak melihat kejadian ini secara langsung, siapa yang akan percaya?
Suasana masih hening. Hawa kematian masih terasa pekat. Nafsu pembunuhan masih kental terasa di seluruh batang Pedang Naga dan Harimau.
Pendekar Tanpa Nama berdiri. Sedikitpun tubuhnya tidak bergerak. Jubahnya melambai-lambai tertiup angin malam. Sepasang matanya tidak berkedip. Mata itu masih tajam layaknya mata seekor harimau.
"Jurus yang sangat dahsyat," puji seorang anggota Sembilan Harimau Pengepung.
Orang itu berbadan gempal. Dia tidak tinggi, juga tidak pendek. Lemak yang diakibatkan karena banyaknya makan terlihat di semua anggota tubuh. Sekilas, orang tersebut mirip dengan sebuah bola.
Di tangan kanannya menggenggam sebatang trisula emas. Cahaya kuning menyilaukan tercipta saat terkena sinar rembulan.
"Memang dahsyat. Tapi belum sedahsyat Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala," jawab Pendekar Tanpa Nama dengan jujur.
Ciri seorang pendekar gagah perkasa, pendekar yang memegang teguh kebenaran, adalah mereka yang selalu bicara jujur. Cakra Buana termasuk dalam jajaran para pendekar tersebut, oleh sebab itulah dirinya berkata dengan jujur.
"Itu sudah pasti. Tapi aku yakin tadi kau tidak mengeluarkan seluruh kemampuanmu," timpal seorang lainnya.
"Memang tidak,"
"Kau sengaja menyimpan sisa tenagamu untuk menghadapi kami?"
"Kurang lebih seperti itu,"
Sekalipun pemuda itu tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi dia percaya bahwa mereka sudah tahu semuanya. Oleh sebab itulah, lagi-lagi Cakra Buana tidak dapat mengelak.
"Kalau kau mati, apa kau sudah siap?" ejek anggota Sembilan Harimau Pengepung.
"Kapanpun aku siap. Bukankah resiko menjadi orang-orang dunia persilatan memang seperti itu? Kalau tidak membunuh, maka akan dibunuh?"
Ucapan pemuda itu sesuai dengan kenyataan. Jika kau ingin menjadi seorang pendekar, resiko terbesarnya adalah kau bisa mati kapan saja.
Ibarat kata, kalau kau tidak membunuhku lebih dulu, maka aku yang akan membunuhmu.
Siapa cepat, dia dapat.
Kalau kau kuat, maka kau akan hidup. Kalau kau lemah, maka kau akan mampus.
"Benar-benar pendekar muda yang patut dipuji,"
"Terimakasih, lalu kenapa kalian tidak segera memulai pertarungan ini?"
"Hemm, baik. Kami akan memulainya sekarang juga,"
Sembilan tokoh kelas atas itu langsung berpencar. Mereka segera membagi posisinya masing-masing. Hanya sesaat, sembilan orang tersebut sudah berada di tempat yang seharusnya.
__ADS_1
Sembilan macam senjata pusaka telah dihunus. Saat sinar rembulan menyorot kepada masing-masing senjata itu, terlihat jelas bagaimana tajamnya gaman tersebut.
Sembilan orang telah siap melakukan pertarungan yang lebih dahsyat lagi.
Cakra Buana juga sudah bersiap. Tubuhnya masih di posisi semula. Begitu juga dengan pedangnya.
Hawa murni segera disalurkan ke seluruh tubuh. Seluruh tenaga dalamnya langsung dikeluarkan saat itu juga. Pemuda Tanah Pasundan itu tahu, pertarungan ini adalah penentuan.
Penentuan apakah dia akan berhasil membawa pulang benda pusaka atau tidak. Penentuan apakah dia masih bisa terus hidup atau bakal mampus.
Udara di dalam ruangan tersebut berubah total. Semua orang-orang itu masih diam di tempatnya masing-masing. Belum ada yang bergerak di antara mereka. Seakan para tokoh tersebut sedang mengukur apakah pihaknya bakal menang atau kalau.
Wushh!!!
Tepat setelah Cakra Buana menggerakan sedikit Pedang Naga dan Harimau, sembilan orang tokoh itu langsung bergerak secara bersamaan.
Sembilan orang manusia berilmu sangat tinggi telah melesat cepat ke arahnya. Sembilan batang senjata pusaka yang ketajamannya tidak perlu diragukan lagi sudah menerjang dari segala penjuru.
Serangan dahsyat telau dilancarkan. Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala seketika itu juga langsung dikeluarkan.
Meskipun serangan mereka belum tiba, tapi Pendekar Tanpa Nama sudah merasakan bahwa tubuhnya sulit digerakkan. Dia menggertak gigi, sebisa mungkin berusaha untuk lepas dari belenggu tekanan mengerikan itu.
Wushh!!!
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk melesat menyambut serangan lawan.
Dentingan senjata tajam terdengar sangat keras. Sepuluh sosok manusia bergerak seperti bayangan. Sangat cepat, sangat menakutkan.
Lima orang menyerang dari atas. Empat orang lainnya menyerang dari bawah.
Serangan mereka sangat kompak. Kerja sama para tokoh itu patut diacungi jempol.
Seumur hidup, selama mengembara dalam dunia persilatan, belum pernah Cakra Buana menemui kerja sama dan serangan serentak sehebat mereka.
Semua serangan mengincar titik penting di setiap tubuhnya. Sedikitpun tidak ada celah untuk menghindar.
Pertarungan sengit sudah berjalan belasan jurus. Serangan demi serangan dilancarkan tanpa ampun. Tubuh Pendekar Tanpa Nama bersalto beberapa kali di udara, niatnya ingin membebaskan diri.
Siapa sangka, yang terjadi kemudian justru malah sebaliknya. Begitu kakinya menjejak tanah, serangan lainnya telah tiba di hadapan wajahnya.
Trangg!!!
Pedang Naga dan Harimau bergetar hebat saat menangkis satu tebasan keras.
Wushh!!!
__ADS_1
Dua senjata tajam lainnya tiba-tiba turut menerjang dari sisi kanan dan sisi kiri. Belum lagi enam pusaka lainnya.
Brett!!! Srett!!!
Beberapa tebasan yang dilayangkan dengan cepat telah berhasil melukai tubuh Pendekar Tanpa Nama. Darah kental menyembur dengan deras.
Pemuda itu langsung tersungkur ke belakang. Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk yang tadi dilancarkan ternyata menemui kegagalan.
Biasanya, jurus tersebut setidaknya dapat membunuh satu orang lawan jika dia sedang dikeroyok. Tak nyana, sekarang justru tiada satupun lawan yang menjadi korban.
Nafas Cakra Buana tersengal-sengal. Tenaga dalamnya hampir habis. Hawa sakti yang biasanya mudah untuk dihimpun, sekarang justru tidak dapat dihimpun sama sekali.
Barisan Sembilan Harimau Mengepung Serigala ternyata memang sesuai dengan namanya.
Selama pengembaraannya di rimba hijau, baru kali ini dia menemukan sebuah barisan sekuat itu. Selama belakangan ini, baru sekarang saja Pendekar Tanpa Nama menemui kegagalan. Bahkan mungkin baru sekarang juga dirinya terluka parah setelah melebur kekuatan saat di goa dulu.
Wushh!!!
Tiba-tiba sembilan tokoh tersebut kembali menyerangnya dengan ganas. Sepertinya mereka tidak sudi untuk melepaskan dirinya.
Pada saat itu, posisi Cakra Buana sedang terduduk di belakang dinding.
Tanpa sengaja, telapak tangan kanannya menyentuh sebuah batu yang sedikit menonjol. Kejadian diluar dugaan terjadi.
Ruangan itu bergetar cukup hebat. Selanjutnya, sebuah lubang cukup besar tercipta. Lubang itu sangat gelap, seperti sebuah jurang tanpa dasar.
Cakra Buana kebingungan. Apakah dia harus melompat ke dalam? Atau dia harus memaksakan diri untuk melawan mereka?
Melawan tiada tenaga. Melompat tiada harapan.
Wushh!!!
Ternyata pemuda itu berpikir dari pada harus mati konyol di tangan lawan, dia malah memilih untuk mati di lubang yang hitam itu. Tubuhnya seketika masuk ke dalam. Dia meluncur ke bawah dengan deras.
Brakk!!!
Tubuh Cakra Buana jatuh di sebuah benda. Benda tersebut langsung hancur berkeping-keping.
Ternyata benda yang ditindihnya adalah sebuah meja usang yang sudah sangat tua.
Pendekar Tanpa Nama tidak langsung bangun. Pemuda itu beberapa kali menggeliatkan tubuhnya karena merasa sangat sakit sekali.
Rasa sakit, rasa perih, dan berbagai macam rasa lainnya telah menyatu. Kalau orang lain, mungkin sudah pingsan. Untung semua luka tersebut menimpa dirinya.
Sesakit apapun, selagi dia sanggup menerimanya, maka dia tidak akan pernah menyerah.
__ADS_1
Hidup bukan untuk menyerah. Hidup itu untuk berjuang. Berjuang hingga titik penghabisan.