Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Duel Maha Dahsyat


__ADS_3

Harimau belang kuning yang mempunyai ukuran sedikit lebih besar daripada harimau pada umumnya. Kedua taring harimau itu mempunyai panjang hampir satu jengkal. Sepasang matanya merah menyala terang.


Harimau tersebut mengaum sangat keras. Aumannya dapat menggetarkan tubuh Selir Anjani. Malah auman tersebut juga bisa menciptakan hembusan angin kencang yang menerbangkan bebatuan di sekitar halam Kerajaan.


Saat ini semua orang mempunyai pemikiran yang sama. Berbagai macam pertanyaan mereka pun serupa.


Harimau siapa itu? Dari mana datangnya? Kenapa Cakra Buana bisa seperti itu?


Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut di benak masing-masing tokoh yang hadir. Akan tetapi mereka tidak bisa menjawab.


Yang bisa menjawabnya hanyalah Pendekar Tanpa Nama sendiri.


Wushh!!! Wushh!!!


Tanpa membuang waktu lagi, Cakra Buana langsung melesat ke depan sana. Tubuhnya meluncur bagaikan kilat di tengah malam. Cakra Buana meluncur, si harimau ikut menerjang.


Keduanya langsung berhadapan dengan Selir Anjani yang pada saat ini masih berada di posisi belum benar-benar siap.


Meskipun begitu, nyatanya tidak percuma juga dia menerima warisan tenaga dalam dari Penguasa Kegelapan. Terbukti sekarang, sekalipun belum siap, nyatanya dia masih bisa berkelit dengan mudah. Wanita itu mengambil tindakan tepat pada waktunya.


Serangan Pendekar Tanpa Nama dan terjangan harimau di sisinya gagal mengenai sasaran. Mereka hanya menyerang tempat kosong. Menyerang angin.


Tapi bukan berarti benar-benar gagal. Karena bertepatan ketika Selir Anjani bergerak, manusia dan harimau itupun segera mengubah gaya serangannya. Keduanya memutarkan tubuhnya ke belakang lalu kemudian menyerang dengan ganas.


Si harimau mencakar. Kuku tajamnya berkilat di tengah tempaan cahaya bulan purnama.


Sedangkan Pendekar Tanpa Nama sendiri memberikan serangan yang teramat cepat dan dahsyat. Jurus Tanpa Nama digelar. Tubuhnya mendadak menghilang dari pandangan semua orang. Detik berikutnya, debu tebal segera menutupi jalannya pertempuran.


Auman dari harimau yang besar itu terus terdengar menggelegar bagaikan bunyi guntur di saat hujan badai. Benturan pukulan dan tendangan juga beradu.


Hawa di sana terasa begitu menakutkan. Dari semua pertarungan di malam hari ini, rasanya baru kali ini semua orang merasa amat tegang dan takut. Hal itu tak lain adalah karena hawa yang diberikan dari akibat pertempuran sekarang benar-benar kentara. Semua orang bisa merasakannya dengan sangat kelas.

__ADS_1


Sementara itu, di sisi lain, Prabu Katapangan Kresna, Ratu Ayu dan empat datuk dunia persilatan baru saja menyelesaikan meditasi mereka. Sebelumnya orang-orang itu memang sempat duduk bersila dan melakukan meditasi untuk menyalurkan hawa murni sekaligus tenaga dalam ke seluruh tubuhnya masing-masing.


Hal ini mempunyai tujuan agar luka dalam yang mereka terima karena kesaktian Selir Anjani dan dua pusaka yang digenggamnya bisa diminimalisir. Sehingga luka-luka itu tidak menyebar luas. Sebaliknya, justru akan sirna karena ditekan oleh hawa murni yang berasal dari tubuh.


Sekarang enam orang tokoh tanoa tanding itu sudah berdiri sejajar kembali. Mereka ikut menyaksikan pertarungan amat dahsyat ini dengan seksama. Semua orang menahan nafas. Di antara mereka berusaha sebisa mungkin agar tidak berkedip.


Seolah orang-orang itu tidak mau kehilangan kesempatan terbaik dari pertarungan sengit ini.


"Apakah kita harus membantunya?" tanya Dewi Bercadar Biru.


Dia merasa cemas. Bagaimanapun juga, Cakra Buana adalah kekasihnya. Pujaan hatinya. Memangnya ada wanita yang akan tinggal diam saat menyaksikan kekasihnya bertarung mati-matian?


Jawabannya pasti tidak ada.


Karena itulah, Bidadari Tak Bersayap merasa sangat wajar dirinya kalau menanyakan hal tersebut.


"Tidak boleh. Tiada seorangpun yang boleh turun tangan untuk membantu Pendekar Tanpa Nama," jawab Ratu Ayu dengan mimik muka serius.


"Karena pada saat ini Pendekar Tanpa Nama sedang berada dalam keadaan setengah sadar setengah tidak. Seluruh kekuatan dan ilmu yang dia timba selama ini sedang berada di puncaknya. Itu artinya, kita tidak boleh mengganggunya. Karena kalau sampai hal itu terjadi, bukan saja akan membahayakan nyawanya, malah kita juga telah menyia-nyiakan harapan yang ada," jelas Ratu Ayu dengan suaranya yang lantang dan berwibawa.


Semua orang langsung membungkam mulutnya. Termasuk Dewi Bercadar Biru sendiri. Setelah penjelasan Ratu Ayu barusan, akhirnya dia mengerti kenapa kekasihnya bertindak sedikit aneh. Tidak seperti biasanya.


Semua orang yang berada di sisinya juga mengangguk sebagai tanda setuju. Meskipun tidak dijelaskan secara mendalam, namun karena mereka semua merupakan tokoh kelas atas, tokoh tanpa tanding, maka dengan sendirinya orang-orang itu paham.


"Untuk saat ini lebih baik kita melakukan penjagaan ketat. Setiap orang yang dicurigai, bawa dan amankan. Jika semuanya sudah selesai, maka pihak Kerajaan akan segera memberikan hukuman yang sesuai," perintah Prabu Katapangan Kresna kepada semua orang yang hadir di sana.


"Baik …" para prajurit menjawab serempak. Begitu juga dengan para tokoh.


Di gelanggang pertarungan, kedua belah pihak belum terlihat. Debu yang menutupi semakin tebal. Bagaikan kabut di tengah laut pada tengah malam. Jangankan bayangan, sedikit cahaya pun tidak akan terlihat.


Hanya saja semua orang sudah tahu bahwa sekarang adalah waktu yang sangat-sangat menentukan. Di dalam debu tebal itu, mungkin kedua belah pihak sedang berusaha dengan kekuatanya masing-masing.

__ADS_1


Mereka berlomba-lomba untuk menjadi seorang pemenang.


Blarr!!! Duarr!!!


Dua ledakan maha dahsyat terdengar. Dua buah sinar melesat secepat kilat. Pada saat itu, seorang bayangan manusia juga meluncur deras menuju ke dua benda tersebut.


Prabu Katapangan Kresna telah mengambil tindakan tepat. Dia bergerak sesuai dengan keadaan.


Tapp!!! Tapp!!!


Begitu dua benda sudah berada di kedua genggaman tangannya, Sang Raja langsung segera turun ke tanah kembali.


Pusaka Tri Tunggal Maha Dewa dan Kujang Dewa Batara telah kembali kepada pihak yang seharusnya!


Kejadian ini membuat semua orang terkejut setengah mati, sekaligus juga membuat mereka merasakan kebahagiaan yang teramat sangat.


Sesuatu yang sangat berharga,segelah selama ini menghilang, lalu akhirnya kembali lagi, bukankah hal itu merupakan saat-saat yang sangat bahagia?


Ibarat seorang kekasih pujaan hati yang dulu sempat pergi, lalu sekarang secara tiba-tiba telah kembali ke dalam pelukanmu, bukankah bagimu pada saat itu kau sangat bahagia?


Begitu juga dengan orang-orang yang sekarang berada di halaman Istana Kerajaan. Semua bahagia. Mereka gembira. Kedua hal itu sudah tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata lagi.


Blarr!!!


Ledakan kembali terdengar. Debu tebal yang tadi menutupi pemandangan, sekarang sudah sirna secara keseluruhan.


"Ka-kau … ju-jurus apa itu? Kenapa aku tidak bisa melawan dan melihatnya?" suara kesakitan terdengar menyayat hati.


Ternyata di arena pertarungan sudah ada satu sosok tubuh yang terkapar.


Selir Anjani.

__ADS_1


Ya, yang terkapar memang dirinya. Wanita kejam itu sudah tidak bisa apa-apa lagi. Dia hanya dapat berbaring di tanah dengan darah yang terus keluar dari setiap lubang di tubuhnya.


__ADS_2