
Liu Bing segera makan dengan lahapnya. Semua hidangan yang tersedia di meja itu, dia coba satu-persatu. Caranya melahap hidangan seperti seseorang yang tidak menemukan nasi setelah beberapa hari.
Seperti orang kelaparan.
Tapi bukannya risih, justru Cakra Buana malah tersenyum melihat tingkah lakunya. Kadang-kadang dia membantu mengambilkan makanan yang tersedia di meja tersebut.
Berbagai macam jenis makanan telah memenuhi mulut Liu Bing. Jangankan untuk bicara, memasukan satu hidangan lain pun rasanya sudah sangat sulit sekali.
"Pelan-pelan makannya. Toh tidak akan ada orang yang berani menggangumu," kata Cakra Buana sambil menahan tawa.
"Eumm, eumm …" Liu Bing hanya bisa menjawab seperti demikian sambil menganggukan kepalanya.
Tangannya meraih-raih minum. Cakra Buana mengambilnya. Setelah minum, barulah dia bisa bicara.
"Makanan ini sungguh enak, oleh sebab itu aku tidak sabar ingin mencoba semuanya. Maklum, baru kali ini aku makan seperti ini," katanya sambil tertawa.
"Yasudah lanjutkan saja makanmu,"
"Kau tidak makan?"
"Tidak. Aku hanya ingin minum arak dan makan daging sebagai temannya. Kau habiskan saja semua makanan ini," ujarnya sambil tertawa.
Liu Bing melototkan matanya kepada Cakra Buana.
"Kau tidak makan? Hidangan seenak ini kau tidak kau mencobanya?" tanyanya terkejut.
"Tidak, kau saja yang makan,"
"Jangan marah kalau makanannya aku habiskan,"
"Tidak, habiskan saja," katanya tersenyum.
Liu Bing seperti kesenangan. Dia segera makan kembali.
Cakra Buana hanya melihatnya sambil terus-menerus menahan tawa.
Tetapi saat matanya memandang keluar, pemuda itu sedikit terkejut. Ternyata orang yang tadi telah dihajar olehnya, benar-benar datang kembali. Bahkan kali ini mereka membawa empat orang lainnya.
"Kau tunggu aku di sini, habiskan saja makanmu. Nanti kalau aku belum kembali, kau jangan pergi," kata Cakra Buana.
"Kau mau ke mana?" tanya Liu Bing bingung.
"Aku akan menemui sahabatku,"
"Kau tidak bohong kan? Pasti akan kembali lagi kan?"
"Kau jangan khawatir. Aku bukan pria yang suka mengingkari janji. Baik-baiklah di sini," ujarnya sambil mengusap kepala gadis itu.
Setelah berkata demikian, Cakra Buana langsung keluar untuk menyambut orang-orang tersebut. Tujuan dia melakukan semua ini karena dirinya tidak mau kesenangan Liu Bing diganggu oleh kedatangan mereka.
__ADS_1
Cakra Buana melompat sambil berjumpalitan. Dia mendarat tepat di hadapan tiga belas orang tersebut.
"Kau mencari Liu Bing?"
"Benar. Di mana gadis itu?"
"Ikut aku,"
Pemuda itu segera pergi menjauhi restoran. Dia membawa orang-orang tersebut ke tempat yang agak sepi. Tepatnya di pinggir hutan.
Sekarang mereka sudah berhadapan kembali. Di sini tidak ada siapa-siapa lagi kecuali mereka saja.
"Apakah gadis itu ada di sekitar sini?" tanya seseorang yang pernah dia tampar wajahnya.
"Tidak ada. Di sini tidak ada siapa-siapa,"
"Lalu di mana gadis itu?" tanyanya. Meskipun dia merasa kesal, tetapi untuk sekarang tidak berani lagi bertindak kurang ajar.
"Di restoran tadi,"
"Kalau dia di sana, kenapa kau mengajak kami kemari?"
"Karena aku tidak mau kesenangannya terganggu oleh kehadiran kalian,"
"Hemm, orang luar berani ikut campur masalah seperti ini,"
"Penyakitku dari dulu memang itu,"
"Senang ikut campur terhadap urusan orang lain,"
Empat orang yang baru saja bertemu dengannya mendengus. Usia mereka sudah terbilang tua. Bahkan mungkin mencapai lima puluhan tahun. Tingginya hampir sama, begitu juga dengan bentuk tubuhnya. Hanya seorang saja yang berbeda, orang itu lebih gendut daripada tiga rekannya.
Mereka berpakaian biru tua. Di belakang punggungnya ada dua golok yang tersoren menyilang. Ada juga yang membawa sebilah pedang. Dua orang memakai senjata golok kembar, dua orang lagi memakai senjata sebilah pedang.
"Bagus, bagus. Sepertinya kau harus mendapatkan pelajaran supaya tidak mencampuri urusan orang lain lagi,"
"Hemm, sayangnya percuma. Penyakit itu sudah mendarah daging dalam tubuhku,"
"Sekalipun golok bersarang di lehermu?"
"Benar. Apapun yang terjadi, penyakitku yang satu ini tidak akan pernah bilang dan tidak bisa dihilangkan oleh siapapun. Dan dengan cara apapun," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.
Tangan kirinya yang memegang arak segera meneguknya.
"Sepertinya kau memang cari mati,"
"Tepat. Sayangnya, aku sudah mencari ke mana-mana, ke berbagai macam toko dan segala tempat, ternyata aku tidak bisa menemukan mati. Padahal aku sedang mencarinya," jawab Cakra Buana seenaknya.
Semua orang itu sebenarnya ingin tertawa sekencang mungkin. Mereka tentunya menganggap pemuda itu sudah gila. Hanya saja karena situasinya berbeda, perasaan ingin tertawa mereka malah kalah dengan perasaan marah yang meluap.
__ADS_1
"Sekalipun kau mencari ke tokoh di seluruh dunia, kau tidak akan menemukan mati,"
"Lalu di mana aku bisa menemukannya?"
"Di ujung pedangku," teriak seseorang dengan sangat marah.
Selesai berucap, orangnya langsung mencabut pedang lalu secara tiba-tiba menyerang Cakra Buana dengan ganas.
Pedang itu menusuk. Ujung pedangnya bergetar sehingga terlihat menjadi beberapa bayangan pedang.
Walaupun gerakannya terlihat sederhana, tetapi serangannya justru sangat merepotkan. Datangnya sangat cepat, sekali bergerak langsung melancarkan enam tusukan berbahaya.
Desiran anginnya terasa tajam menusuk udara.
Cakra Buana hanya berkelit ke samping. Pedang yang menusuk ke arah lehernya lewat di sisi. Tapi belum selesai serangannya, orang tersebut segera menarik pedang lalu mengganti arah serangan menjadi ke pundak.
Pendekar Tanpa Nama tidak diam lagi. Dia menyentil pedang milik lawan sehingga tergetar. Orag tersebut langsung kaget saat merasakan tangannya kesemutan. Dia menarik keseluruhan serangannya.
"Pedang yang bagus. Hanya saja pemiliknya tidak sepasang dengan senjatanya," ejek Cakra Buana.
"Banyak mulut. Sebutkan siapa dirimu,"
"Kalian belum pantas untuk mengetahui siapa aku,"
"Bangsat kecil. Kalau kau tidak mampus, rasanya aku sangat penasaran sekali,"
"Kalau begitu, kenapa kau tidak mencobanya?"
"Baik. Lihat serangan!!!
Wushh!!!
Kali ini yang menyerang telah bertambah satu orang. Seorang lagi yang bersenjata pedang telah ikut menerjang ke arahnya.
Dua pedang bergerak seperti dua ekor naga yang sedang mengamuk. Tampak cahaya keperakan menyilaukan mata saat terkena tempaan sinar matahari.
Yang satu menebas, satu menusuk. Keduanya bergerak dalam irama yang sama dengan gerakan berbeda.
Cakra Buana masih tenang. Dia hanya perlu menghindar dengan cara berkelit ke samping atau melompat mundur. Kadang juga dia menangkis dengan guci arak miliknya.
Melawan orang-orang seperti mereka, rasanya tidak perlu jika harus mengeluarkan Pedang Naga dan Harimau.
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama bergerak. Tangan kanannya segera menyentil kembali batang pedang milik lawan. Kejadian seperti sebelumnya terulang lagi. Keduanya segera mundur dan merasakan tangannya seperti tersetrum.
"Bukankah kalian Empat Golok Dua Pedang?" tanya Cakra Buana sambil menyelidik.
"Tak kusangka kau juga kenal kepada kami,"
__ADS_1
"Tentu saja. Siapa yang tidak kenal dengan kemampuan Empat Golok Dua Pedang yang buruk? Aku rasa semua orang juga mengenalnya," ejek Cakra Buana.
Merah padam wajah empat orang tersebut. Baru kali ini dia mendapatkan sebuah hinaan yang dalam. Malah pelakunya seorang pemuda pula.