
Tubuh itu langsung ambruk ke tanah. Sebelum jatuh, sepasang mata Coa In menatap lebih tajam kepada Cakra Buana. Entah itu tatapan dendam, ataupun tatapan kaget. Sesungguhnya tiada yang mengetahui arti dari tatapan tersebut kecuali dia sendiri.
Pendekar Tanpa Nama menghela nafas. Dia amat menyesali kejadian yang singkat ini.
Kenapa banyak sekali manusia yang mempertaruhkan nyawanya demi sebuah ambisi? Kenapa banyak dari mereka yang tidak menyadari sampai di mana kemampuannya sendiri?
Cakra Buana berjalan kembali. Meskipun wajahnya tenang, tapi benaknya masih dipenuhi tanda tanya. Dia belum menemukan otak pelaku penyerangan saat di kedai arak tadi.
Pemuda itu yakin, Coa In tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian tersebut. Oleh sebab itulah hingga detik ini Cakra Buana masih merasa sangat penasaran.
Malam semakin larut. Rembulan mulai lenyap tertutup oleh gumpalan awan kelabu. Suasana semakin sunyi. Tiada seorang manusiapun yang terlihat oleh Cakra Buana.
Ke mana mereka semua? Gunung Hua Sun yang biasanya ramai, kenapa sekarang jadi sunyi sepi?
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama melesat. Dia berniat untuk menuju ke tempat yang sudah dijanjikan sebagai markas sementara bersama sahabat-sahabatnya pada saat mereka pertama bertemu di Gunung Hua Sun beberapa hari lalu.
Tempat yang dimaksud hanya merupakan sebuah goa. Goa tua yang sudah dipenuhi oleh lumut hijau. Di lihat dari luar, goa tersebut sangat menyeramkan. Rumput liar telah tumbuh di seluruh bagian goa, semak belukar lainnya turut melengkapi tempat tersebut.
Cakra Buana masuk ke dalam. Ternyata di sana juga tiada orang lain kecuali hanya satu sosok.
Sosok berpakaian putih dengan sepasang mata tertutup. Dia sedang menghadap keluar goa. Di tangannya ada guci arak yanh hampir habis.
Si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Kau sudah kembali?" tanyanya pada saat Cakra Buana sudah berdiri di hadapan Li Guan.
"Sudah,"
"Aku sudah menduga bahwa kau mampu mendapatkan ginseng pusaka itu," kata Li Guan secara tiba-tiba.
Cakra Buana tersentak. Bagaimana mungkin sahabatnya yang satu ini tahu? Siapa yang sudah memberitahunya?
__ADS_1
Kalau tidak mendengar dengan telinganya sendiri, pemuda itu sudah tentu tidak akan percaya bahwa Li Guan mengetahui apa yang sudah dia lakukan.
"Bagaimana kau tahu akan hal itu?" tanya Cakra Buana sambil duduk di sebuah batu yang tersedia di sana.
"Kau jangan lupa, aku ini si Buta Yang Tahu Segalanya," katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Cakra Buana ingin sekali menampar wajah pemuda itu. Apalagi senyumannya mengandung ejekan. Sayangnya saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan tersebut. Mereka cukup tahu kapan waktu untuk bercanda dan kapan waktu untuk serius.
"Apakah yang lain juga mengetahui akan hal ini?"
"Tidak. Kecuali aku dan orang yang memberitahumu, tiada yang tahu lagi terkait hal ini. Kau jangan khawatir," kata Li Guan mulai berlaku serius kembali.
"Syukurlah kalau begitu. Aku harap kau bisa menjaga rahasia terkait masalah ini," ucapnya sambil menghela nafas.
Tangan kanannya langsung meraih guci arak milik si Buta Yang Tahu Segalanya. Tanpa mengucapkan kata apapun, dia langsung menenggak arak tersebut.
"Apakah yang lainnya sudah kembali lagi ke sini?" tanya Cakra Buana setelah dia selesai minum arak.
"Mereka sudah kembali sebelum kau kemari. Hanya saja mereka pergi lagi, dunia persilatan mulai dilanda bencana. Sepertinya apa yang kita bicarakan dulu pada saat di gedung Bulim Bengcu mulai terjadi," kata Li Guan serius.
"Siapa yang bakal menyia-nyiakan kesempatan terbaik seperti sekarang ini? Kalau aku ada di pihak mereka, maka akupun akan melakukan hal yang sama,"
Cakra Buana mengangguk perlahan. Dia pun cukup mengerti akan hal tersebut. Tiada manusia yang akan menyia-nyiakan kesempatan terbaik. Bagi mereka berdua, hanya orang bodoh saja yang bakal menyia-nyiakan hal tersebut.
"Berarti setelah kepergianku, pertarungan besar terus terjadi di Gunung Hua Sun ini?"
"Hal itu sudah pasti. Bahkan beberapa pertarungan yang tiada akhir juga sudah terjadi setiap waktu. Banyak pendekar yang sudah menjadi korban. Tapi meskipun begitu, pertempuran yang sesungguhnya justru baru akan dimulai,"
"Apakah pertempuran itu diakibatkan karena kabar yang tersiar secara luas di kalangan dunia persilatan?"
"Benar. Oleh sebab itulah untuk sekarang kau harus jauh lebih berhati-hati lagi," ucap Li Guan mengingatkan.
Cakra Buana tidak menjawab. Dia cukup tahu bagaimana dirinya sekarang. Sembunyi di manapun, pergi ke manapun, nasibnya akan tetap sama.
__ADS_1
Dia menjadi buronan umat persilatan.
"Kenapa harus aku yang selalu menjadi sasaran? Kenapa bukan kau atau yang lainnya? Padahal kalau dipikir secara mendalam, siapa aku ini sebenarnya? Toh aku hanya seorang pemuda yang mengembara ke daratan Tionggoan ini hanya untuk menyelesaikan tugas dari guruku. Tidak kurang dan tkdak lebih," kata Pendekar Tanpa Nama sedikit mengeluh atas berbagai macam masalah yang selalu menimpanya.
Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya cukup mengerti posisi sahabatnya tersebut. Kalau dia berada di posisi Pendekar Tanpa Nama, mungkin dirinya juga akan merasakan hal yang sama.
Setiap manusia memang sudah tentu punya masalah tersendiri. Tapi, manusia manakah yang akan tahan jika didera oleh berbagai macam macam masalah rumit yang tidak pernah selesai?
"Karena kau hebat. Semakin hebat seseorang, maka semakin banyak masalah juga yang akan menghampirinya," jawab Li Guan seenaknya.
"Kehebatanku masih berada di bawahmu. Bagaimana mungkin aku bisa dikatakan hebat?"
"Dalam hal mendapatkan informasi dan segala pengetahuan, mungkin kau memang kalah telak dariku. Tapi jika bicara soal kemampuan bertarung, jelas aku kalah darimu. Apalagi sekarang kau sudah meminum air rebusan Ginseng Seribu Tahun,"
Cakra Buana tidak menjawabnya. Dia kembali terdiam. Selain diam dan menerima kenyataan, memangnya apalagi yang dapat dia lakukan? Menentang takdir yang dikehendaki oleh langit?
Tentu saja hal itu tidak mungkin sanggup dia lakukan.
"Kau masih penasaran dengan kejadian di kedai arak tadi?" tanya Li Guan tiba-tiba.
"Benar, kau tahu yang sebenarnya?"
"Tentu saja tahu. Karena kebetulan aku melihat keadaan di sana setelah berhasil mencuri arak yang ada di tanganmu itu," ucapnya tertawa bangga.
"Siapa dalang di balik penyerangan itu?" tanya Pendekar Tanpa Nama tidak menghiraukan guraian si Buta Yang Tahu Segalanya.
"Ming Tian Bao si Raja Racun Tiada Obat, dia merupakan datuk sesat dunia persilatan bagian Timur," jawabnya dengan nada serius.
"Ming Tian Bao si Raja Racun Tiada Obat?kenapa dia menyerangku?"
"Aii, apakah kau sudah lupa? Dia menyerangmu tentu saja karena kabar yang mengatakan bahwa dua benda pusaka itu ada padamu,"
"Keparat!!! Siapa pula orang yang sudah menyebarkan kabar bohong ini. Gara-gara masalah sialan ini, aku kembali menjadi buronan untuk yang kesekian kalinya," keluh Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
"Tenanglah, sekarang aku akan berada di sampingmu lagi," kata si Buta Yang Tahu Segalanya lalu bangkit berdiri.