
Tiga lawannya tewas dalam waktu yang sangat-sangat singkat. Tidak ada yang lebih mendingan dari pada kematian mereka bertiga. Semuanya tewas mengenaskan.
Kalau ada orang biasa yang melihat kejadian ini, mungkin mereka akan langsung muntah-muntah karena melihat banyaknya darah yang menggenang di tanah. Bau amisnya langsung terbawa angin malam yang dingin.
Jika tidak melihat secara langsung, siapapun tidak akan percaya bahwa di dunia ini, ada jurus yang demikian aneh.
Si Tubuh Pedang juga tersentak sedikit. Dia yang terkenal tanpa perasaan saja, mendadak menelan ludahnya saat melihat bagaimana Pendekar Tanpa Nama membunuh tiga kawannya tersebut.
Hatinya sedikit tergetar untuk sesaat. Tapi berikutnya, senyuman tersinggung di bibirnya. Walaupun tampak kaku, tapi siapapun dapat menebak bahwa senyuman itu adalah senyuman kepuasan.
Seperti senyuman di Walet Putih saat menjelang ajal kematiannya. Dia puas karena pada akhirnya bertemu dengan lawan yang setimpal.
Pusaran angin yang menelan debu serta segala yang ada di sekitarnya telah sirna. Pendekar Tanpa Nama tampak berdiri dengan tenang. Kokoh dan tanpa ekspresi.
Wushhh!!!
Bayangan manusia melesat. Sesaat kemudian, si Tubuh Pedang sudah berpindah tempat. Sekarang dia telah berada di hadapan Pendekar Tanpa Nama. Jarak antara keduanya paling-paling hanya sekitar sepuluh atau lima belas langkah.
Pendekar Tanpa Nama tidak merasa kaget sedikitpun. Dia sudah dapat mengira sampai di mana kemampuan orang cacad ini. Meskipun satu kakinya disambung memakai bambu, tapi kaki itulah yang harus diperhitungkan.
Kaki itu justru lebih berbahaya daripada pedang tajam. Lebih mengerikan dari pada hantu gentayangan. Dan lebih menakutkan dari pada ditinggal kekasih hati.
Keduanya menatap dalam diam. Belum ada yang berbicara di antara mereka berdua. Kedua pasang mata saling bertemu. Yang satu terlihat dingin tanpa perasaan. Yang satu lagi terlihat tajam bagaikan ujung mata pisau yang siap menusuk kapan saja.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Bahkan terasa terhenti untuk beberapa saat. Dedaunan kering jatuh melayang di dekat mereka. Angin berhembus mengibarkan pakaian keduanya. Tapi dua manusia itu masih belum bergerak. Sedikitpun tidak.
Si Tubuh Pedang sedikit tersentak juga. Baru kali ini dia menemukan seorang pemuda yang berani beradu tatapan sedemikian lamanya. Biasanya, tidak ada seorang pun lawan yang berani menatapnya selama itu.
Kebanyakan dari mereka akan merasa ciut saat melihat kedua mata yang dingin dan tanpa perasaan itu. Namun, si Tubuh Pedang harus mengakui bahwa pemuda yang ada di hadapannya saat ini, merupakan pemuda yang berbeda dari pada pemuda lainnya.
"Jurus yang hebat," puji si Tubuh Pedang dengan nada datar dan ekspresi yang kaku.
"Terimakasih," jawab Cakra Buana singkat.
"Mereka telah melakukan kesalahan,"
__ADS_1
"Benar, karena itulah mereka tewas,"
"Seharusnya tiga manusia bodoh itu mengetahui bahwa kau mempunyai jurus simpanan yang mengerikan,"
"Sayangnya mereka tidak sepintar dirimu. Sehingga ketiganya merasa yakin bisa membunuhku, padahal buktinya, mereka hanya mengantarkan nyawa sendiri,"
"Ternyata selain tampan, kau merupakan pemuda yang kejam juga,"
"Aku memang seperti ini,"
"Sepertinya ini akan menjadi pertarungan terakhir,"
"Benar. Memang begitu kenyataannya. Kalau bukan aku yang tewas, maka kau yang harus mampus,"
"Tepat sekali,"
Tidak ada rasa takut di wajah kedua orang itu. Masing-masing dari mereka bersifat tenang. Setenang air di sungai.
Dua orang pendekar itu hampir mencapai tingkat tanpa tanding, maka dari itu tidak heran jika keduanya mempunyai ketenangan yang lain dari pada orang lain.
Wushh!!!
Trangg!!!
Satu pedang mendadak muncul. Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama telah keluar.
Menghadapi pendekar pedang yang tangguh seperti si Tubuh Pedang, Cakra Buana tentunya tidak mau bermain-main lagi. Meskipun kemampuannya sudah di atas rata-rata, tapi bukan tidak mungkin jika dirinya masih bisa dikalahkan oleh lawan.
Percikan api membumbung tinggi lalu menghilang terbawa angin. Kedua pedang pusaka bergetar hebat. Setelah beberapa saat pedang masing-masing menempel, kedua pendekar tersebut mendadak mundur ke belakang.
Mereka kembali menutul kakinya ke tanah. Serangan berikutnya sudah dilayangkan. Tusukan dan tebasan beradu cepat satu sama lainnya. Siapa yang cepat, dia yang akan mendapat untung.
Tapi ternyata, hasilnya justru malah diluar dugaan kedua orang itu. Serangan mereka lagi-lagi tiba secara bersamaan. Si Tubuh Pedang yang paling terkejut. Dia baru menemukan lawan seperti Pendekar Tanpa Nama ini.
Tanpa banyak membuang waktu lagi, si Tubuh Pedang telah melayangkan serangan yang lebih ganas. Pedangnya berputar sambil memberikan tusukan dan sabetan yang saling susul menyusul. Pedang itu memancarkan sinar bianglala yang indah namun mematikan.
__ADS_1
Tenaga dahsyat terasa memenuhi arena pertarungan keduanya.
Cakra Buana mengangkat Pedang Naga dan Harimau. Dia menangkis semua serangan lawan dengan mudah. Sembilan bagian tenaga dalam langsung dia keluarkan.
Menghadapi lawan seperti si Tubuh Pedang, memang tidak perlu main-main. Dia harus berlaku sangat serius. Sebab jika tidak begitu, maka dipastikan nyawanya sendiri yang akan melayang.
Dua pendekar sudah bertarung sengit. Keduanya melancarkan jurus demi jurus. Sabetan demi sabetan dan tusukan dilancarkan tiada hentinya. Gerakan dua orang itu bertambah cepat semakin bertambahnya jumlah jurus yang mereka keluarkan.
Si Tubuh Pedang mendadak berjumpalitan di udara. Tubuhnya di miringkan lalu dia datang melancarkan sebuah tusukan mematikan. Tusukan itu sangat cepat, jika lawannya bukan Pendekar Tanpa Nama, mustahil kalau dia mampu menghindarinya.
Untungnya kali ini, dia menemukan lawan yang seimbang. Cakra Buana memiringkan badannya untuk menghindari serangan si Tubuh Pedang.
Setelah itu dia segera memutarkan tubuhnya lantas melancarkan serangan balasan dengan segera.
"Hujan Kilat Sejuta Pedang …"
Wushh!!!
Serangan dahsyat keluar. Jurus terakhirnya telah menunjukkan taring.
Pedang itu berubah menjadi sangat banyak. Ledakan dan kilatan petir membayangi kedua mata si Tubuh Pedang.
Dalam hatinya dia sendiri kaget, tak disangkanya ternyata pemuda itu mempunyai jurus pedang yang mengandung ilusi.
Hampir saja tubuhnya terkena sayatan pedang, untungnya dia bukan lawan sembarangan. Sehingga begitu mengetahui bagaimana ganasnya serangan musuh, si Tubuh Pedang juga turut mengeluarkan jurus dahsyat miliknya.
"Pedang Berkilat Kematian Menghampiri …"
Wushh!!!
Pedang berkelebat. Bayangan pedang memenuhi angkasa dan membawa kabar kematian dari neraka. Serangannya bertambah hebat dan cepat.
Dua jurus kelas atas beradu satu sama lain. Pertarungan mereka semakin sengit. Mustahil orang lain mampu melihat pertarungan mereka dengan jelas.
Benturan pedang terus terjadi. Dentingan nyaring terus terdengar seiring keduanya mengadu jurus.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama dan si Tubuh Pernah melayang di udara. Keduanya bertarung tanpa menjejakkan kakinya ke tanah. Dua orang itu seperti Dewa, mereka bertempur tanpa berheri walau sekejap.