
Suasana hening seketika. Hanya semilir angin yang terdengar lirih meniup tubuh Pendekar Tanpa Nama.
Pertarungan hebat melawan lima tokoh Perkampungan Raja Harimau sudah selesai. Dia hanya berharap agar tidak ada lagi tokoh-tokoh lainnya yang akan menghadang jalannya.
Naas, baru saja Cakra Buana membalikkan badannya, seorang yang tidak dia kenal telah berdiri tepat lima langkah darinya.
Siapa orang itu? Kapan dan dengan cara apa orang tersebut hadir di sana?
Sebagai pendekar yang disejajarkan dengan tokoh kelas atas, sudah tentu kemampuan Pendekar Tanpa Nama dalam hal mendeteksi musuh tidak perlu diragukan lagi. Siapapun mengakui kemampuannya dalam hal ini.
Tapi kenapa saat ini dia tidak dapat mendeteksi orang tersebut?
Orang yang ada di hadapannya saat ini sudah tua. Usianya mungkin memasuki enam atau tujuh puluh tahunan. Sepasang alis matanya tebal seperti golok. Alis itu sudah berwarna putih, seperti juga rambut, kumis dan jenggotnya.
Postur tubuhnya tinggi kecil, matanya cekung dan hidungnya bangir. Mata orang itu memandang tajam kepadanya, persis seperti seekor rajawali yang sedang mengincar manhsa. Mulutnya mengulum senyuman mengejek kepada Pendekar Tanpa Nama.
Dia memakai pakaian hijau tua dengan ikat kepala hijau pula. Di punggungnya terdapat sebatang pedang pusaka bersarung hitam. Di lihat dari luar saja, siapapun dapat memastikan bahwa pedang tersebut merupakan pusaka kelas atas.
"Jurus yang sangat bagus," kata orang tua tersebut.
"Memang bagus,"
"Seumur hidupku, baru sekarang aku melihat ada seorang pemuda berkemampuan tinggi seperti dirimu," pujinya dengan tulus.
Pendekar Tanpa Nama sudah sangat sering mendapat pujian seperti itu. Hampir setiap orang yang baru pertama bertemu dengannya, biasanya mereka selalu mengatakan hal yang sama.
Kalau orang lain yang mendapat pujian tersebut, mungkin mereka akan merasa sangat senang dan bangga. Sayangnya yang mendapat pujian itu adalah pemuda bernama Cakra Buana.
Saat menerima suatu pujian, dia tidak pernah terlalu senang dan bangga. Pemuda itu selalu biasa saja. Karena dibalik pujian seseorang, dia sudah mengerti pasti ada maksud tersendiri.
"Terimakasih,"
Hanya itu saja kata yang terlontar dari mulutnya.
Matanya masih memandang penuh selidik. Meskipun tubuhnya tampak tenang, namun dia telah siap akan segala kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja.
"Malam-malam begini kemari, apa yang sebenarnya dicari oleh saudara muda?" tanyanya masih berusaha tersenyum.
"Kalau sudah tahu, untuk apa bertanya lagi?" tanya balik Cakra Buana.
__ADS_1
Suaranya mulai dingin. Wajahnya juga demikian. Dia merupakan tipe orang yang tidak suka berpura-pura. Cakra Buana benci jika ada orang seperti orang tua di hadapannya saat ini.
"Hemmm, pemuda yang angkuh,"
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Cakra Buana tidak menghiraukan ucapan si orang tua.
"Alis Golok Mata Rajawali," jawab si orang tua dengan nada dingin. Dingin sedingin es. Dalam perkataannya juga terdapat nada bangga.
Dia memang bangga dengan julukannya tersebut. Setiap orang yang mengetahui siapa julukannya, biasanya mereka akan merasa jeri atau minimal bakal kaget sedikit.
Tapi hal itu tidak berlaku untuk saat ini. Pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama itu tidak nampak jerj, juga tidak kaget. Sedikitpun tidak.
"Oh, rupanya kau,"
Hanya perkataan itu saja yang keluar dari mulutnya.
Si Alis Golok Mata Rajawali langsung terlihat kesal seketika. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Tatapan matanya tampak jauh lebih dingin dari sebelumnya.
"Kau tahu siapa aku?" tanyanya memastikan.
"Di dunia persilatan dewasa ini, siapa yang tidak tahu dan tidak pernah mendengar julukan si Alis Golok Mata Rajawali?"
"Kenapa pula aku harus kaget? Bukankah kau masih makan nasi? Kalau iya, kenapa harus takut pula?" tanya Pendekar Tanpa Nama sambil tersenyum mengejek.
"Tadinya aku masih makan nasi. Kebetulan sekarang juga aku merasa lapar, tapi sepertinya saat ini aku tidak ingin makan nasi,"
"Lalu mau makan apa?"
"Makan batok kepalamu …"
Wushh!!!
Tanpa banyak bicara lagi, si Alis Golok Mata Rajawali langsung memburu ke depan menerjang Pendekar Tanpa Nama.
Pedang tajam bersarung hitam yang ada di punggungnya langsung diloloskan dengan kecepatan yang sangat kilat. Caranya melolos pedang pasti tidak akan ada yang melihat karena saking cepatnya.
Satu tusukan membawa maut langsung dilancarkan saat itu juga. Orang tua itu merupakan pendekar pedang, kemampuannya dalam memainkan senjata tajam itu sudah diakui oleh semua orang.
Selama ini, dia jarang menemukan tandingan. Hanya cukup bertarung selama tiga puluhan jurus, biasanya si Alis Golok Mata Rajawali sudah dapat membunuh musuhnya. Perduli musuh itu tua atau muda, dalam puluhan jurus itu, orang tersebut pasti bakal mampus di ujung pedangnya.
__ADS_1
Lalu apakah sekarang dia dapat melakukan hal yang sama?
Tusukan maut itu sudah hampir tiba di depan mata Cakra Buana. Jaraknya hanya tinggal dua jari saja. Saat ini adalah saat-saat paling menentukan apakah dia sanggup membunuh langsung pemuda iti atau tidak.
Trangg!!!
Pedangnya mendadak terpental ke atas. Hampir saja senjata pusaka tersebut terlempar, untungnya dia memegang gagang pedang dengan sangat erat. Kalau tidak, mungkin sekarang dia sudah tidak bersenjata.
Apa yang sudah terjadi? Kapan pemuda itu meloloskan pedangnya?
Alis Golok Mata Rajawali kebingungan setengah mati. Dia sama sekali tidak melihat kapan pemuda itu bergerak. Tak disangka, ternyata saat ini dirinya telah menemukan lawan yang sebanding.
Pedang Naga dan Harimau sudah digenggam erat dan berada di depan matanya. Cakra Buana hanya tersenyum dingin. Dia tidak mengucapkan kata sedikitpun.
Wushh!!!
Satu tusukan dahsyat langsung dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Nama. Cahaya merah berkelebat seperti harimau menerjang mangsa. Serangan pertama itu merupakan serangan maut.
Kalau tidak segera bergerak, bukan mustahil bahwa nyawanya akan melayang saat itu juga.
Alis Golok Mata Rajawali bukan pendekar kelas teri, setelah mengetahui betapa dahsyat dan hebatnya serangan pemuda itu, dia pun langsung bergerak saat itu juga.
Tubuhnya melejit ke atas lalu bersalto beberapa kali sambil memberikan ancaman menggunakan kakinya. Pedang tajam yang selalu dia andalkan memberikan tebasan dan tusukan yang tidak kalah hebatnya.
Begitu kakinya sudah menjejak ke tanah, dia kembali meluncur ke depan. Jurus simpanan yang selama ini selalu dia gunakan untuk mengkahiri sebuah pertarungan telah dikeluarkan.
Jurus Pedang Menusuk Nyawa Tertarik menerjang Pendekar Tanpa Nama dengan ganas.
Jurus tersebut mengandalkan kecepatan. Saking cepatnya sampai-sampai lawan tidak akan melihat luncuran pedang itu, lawan hanya dapat melihat kelebatan sinar perak yang melesat ke arahnya.
Selama ini, jurus Pedang Menusuk Nyawa Tertarik belum pernah mengalami kegagalan. Setiap kali dia melancarkan jurus itu, pasti akan berhasil.
Pasti.
Wushh!!! Srett!!!
Setelah bertarung beberapa belas jurus kemudian, suara robekan kain terdengar cukup keras. Kedua belah pihak pasti mendengar suara itu.
Darah menyembur seperti kabur merah yang menyelimuti alam raya.
__ADS_1