Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kepergian Para Tokoh


__ADS_3

Suasana kembali gempar. Kematian empat pemimpin Tujuh Perampok Berhati Kejam benar-benar membuat siapapun terkejut. Belum lagi kematian seorang ketua cabang Kay Pang Hek.


Kejadian ini sudah pasti akan menjadi berita besar yang akan cepat menyebar di dunia persilatan. Apalagi yang membunuh meraka berlima merupakan seorang yang buta. Dan usianya juga masih terbilang sangat muda.


Kalau tidak melihatnya secara langsung, niscaya siapapun orangnya pasti tidak akan percaya.


Cakra Buana sendiri masih terpaku di tempatnya. Dia belum percaya seratus persen. Apakah kejadian yang baru saja berlangsung di depan matanya adalah suatu kenyataan? Atau hanya mimpi?


Cakra Buana tahu jelas bahwa kejadian barusan adalah sesuatu yang nyata. Hanya saja dia belum percaya bahwa sahabatnya itu mampu membunuh lima orang tokoh besar hanya dalam waktu yang bisa dibilang singkat.


Bukan berarti merendahkan sahabatnya, hanya saja menurutnya, mustahil orang buta seperti itu dapat melakukan hal tersebut. Tapi terlepas apapun itu, Pendekar Tanpa Nama Tetap merasa bangga terhadap si Buta Yang Tahu segalanya.


Suasana mendadak hening lagi. Bau amis darah tercium terbawa angin malam.


Dua pertarungan yang menegangkan hati setiap orang sudah selesai. Yang tersisa hanyalah kengerian dalam hati masing-masing. Yang ada hanyalah rasa tidak percaya atas apa yang sudah terjadi.


Para tokoh yang ada di pihak Huang Yang Qing merasa girang hatinya. Alasannya karena mereka menyadari bahwa dunia persilatan Tionggoan telah mempunyai pendekar tangguh yang masih berusia muda.


Jelas, mereka sudah menaruh harapan besar kepada Li Guan si Yang Buta Yang Tahu Segalanya.


Bagi mereka, ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Tetapi bagi pihak musuhnya, hal ini adalah kabar yang membuat mereka merasa gelisah.


Sebab dua pemuda itu, pada suatu saat nanti pasti akan membuat kejadian-kejadian yang menggemparkan dunia persilatan lagi.


Sehingga dalam hatinya masing-masing, kini sudah tertera sebuah dendam kesumat yang teramat dalam. Lebih dalam dari pada samudera. Lebih dalam dari pada apapun itu.


Diam-diam mereka sudah bertekad, dua pemuda itu harus tewas. Bagaimanapun caranya.


Bibit dendam yang baru sudah kembali muncul di hati orang-orang yang ada di sana.


Untuk sekarang dan ke depannya, nama Pendekar Tanpa Nama dan si Buta Yang Tahu Segalanya akan selalu diingat oleh semua orang. Begitu juga dengan jurus-jurusnya yang sanggup menggetarkan kolong langit.

__ADS_1


Apalagi Pendekar Tanpa Nama membunuh tiga tokoh kelas atas sekaligus angkatan tua secara bersamaan.


Seperti yang diketahui bahwa Tiga Tosu Sesat merupakan jago-jago dunia persilatan. Sudah pasti ketiganya mempunyai banyak kenalan dari berbagai macam kalangan. Bahkan mungkin tidak sedikit juga sahabat-sahabatnya yang merupakan tingkatan sekelas mereka.


'Kekuatan dua bocah itu benar-benar di atas manusia normal. Hemm, sungguh beruntung aku bisa menyaksikan ilmu mereka yang menggemparkan,' gumam Orang Tua Menyebalkan sambil memandangi Cakra Buana dan Li Guan secara bergantian.


Cakra Buana berjalan mendekati ke arah Li Guan. Sahabatnya itu sudah berdiri sambil tersenyum ke arahnya.


"Kau sungguh hebat. Aku sama sekali tidak percaya kau mempunyai ilmu yang demikian dahsyatnya. Aku jadi takut jika harus bertarung denganmu," kata Pendekar Tanpa Nama tertawa sambil memegangi pundak si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Tidak berani, tidak berani. Itu hanya suatu kebetulan saja. Mereka sempat lengah dan merendahkanku, sehingga aku mempunyai kesempatan untuk membunuhnya. Coba kalau mereka tidak memandangku sebelah mata, mana mungkin aku bisa membunuh mereka," kata Li Guan merendah di depan sahabatnya.


Cakra Buana tersenyum lembut. Inilah salah satu alasan kenapa dia bangga mempunyai sahabat sepertinya. Dalam hal apapun, Li Guan selalu merasa rendah. Bahkan sekarang pun masih sama. Padahal semua orang melihat pertarungannya.


"Hebat, aku salut padamu," kata Cakra Buana kembali.


Si Kakek Tua Tongkat Hijau maju beberapa langkah ke depan. Dia berdiri di hadapan dua pendekar muda itu.


"Sekarang pertarungan telah selesai. Dendam di antara mereka sudah selesai juga. Kini sudah saatnya kalian untuk segera kembali ke tempat masing-masing," ujarnya kepada semua orang.


Tanpa diperintah dua kali, orang-orang tersebut mulai melangkahkan kaki untuk pergi dari sana. Terlebih lagi meraka yang datang hanya untuk menonton saja.


"Tua bangka, terimakasih sudah mengamankan pertarungan tadi. Kalau tidak ada dirimu, mungkin orang-orang itu akan melakukan hal-hal diluar dugaan," kata Huang Pangcu kepada Iblis Tua Langit Bumi.


Siapapun tahu bagaimana watak orang-orang aliran sesat. Mereka sudah terkenal tidak mau tunduk kepada peraturan dunia persilatan. Sehingga bukan tidak mungkin setiap pertarungan, orang-orang aliran sesat pasti akan melakukan hal-hal curang.


"Kau jangan terlalu sungkan kepadaku bau tanah. Aku sendiri sampai terpukau oleh dua pertarungan tadi," jawab Iblis Tua Langit Bumi sambil tertawa.


Walaupun keduanya merupakan orang yang bersebrangan, tetapi karena mengingat kedudukan mereka sebagai datuk dunia persilatan, sudah pasti masing-masing menaruh hormat.


Terlebih lagi Tian Hoa si Iblis Langit Bumi, dia sendiri sedikit merasa jeri terhadap Huang Pangcu. Apalagi jika disuruh harus menghadapi 18 Jurus Tongkat Hijau Penghancur Alam Raya.

__ADS_1


Menurut cerita, sampai sekarang masih belum banyak orang yang mampu bertahan dari rangkaian jurus tersebut. Tian Hoa sendiri baru bisa bertahan hingga jurus keempat belas saja. Yang bisa bertahan dari 18 jurus andalan itu, paling hanya seorang datuk yang berjuluk Dewa Pedang Langit Bayangan Kematian saja.


"Baiklah, kalau ada waktu kita minum arak bersama,"


"Baik. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai berjumpa lagi bau tanah," kata Iblis Tua Langit Bumi.


"Silahkan tua bangka,"


Satu persatu tokoh kelas atas aliran sesat telah kembali lagi. Kini yang ada di sana tinggal anggota dari Tujuh Perampok Berhati Kejam dan Kay Pang Hek.


"Bawa mayat pemimpin kalian. Sekaligus bawa juga Tiga Tosu Sesat," perintah Huang Pangcu.


Serentak puluhan anggota tersebut langsung menuruti perintah Huang Pangcu untuk membawa mayat-mayat itu.


"Pangcu, kalau begitu kami juga turut undur diri," kata si Kakek Janggut Kambing.


"Kami juga Pangcu," ucap Nenek Tua Bungkuk.


"Ak …"


"Kau tunggu di sini," ujar Huang Pangcu memotong bicara si Orang Tua Menyebalkan.


"Aii, baik-baik, aku di sini," jawabnya sambil menghela nafas.


"Terimakasih karena kalian sudah datang kemari. Suatu saat kalau ada persoalan, beritahu aku," kata Huang Pangcu kepada yang lainnya.


"Huang Pangcu tidak perlu terlalu sungkan. Sudah sepantasnya kita melakukan pekerjaan bersama seperti ini," ucap Kakek Janggut Kambing tertawa.


Mereka tersenyum. Para tokoh saling menjura sebelum akhirnya lenyap dari pandangan. Hanya dalam waktu singkat, kini tokoh-tokoh kelas atas yang datang bersama Huang Pangcu telah menghilang semuanya bagaikan ditelan kegelapan malam.


Sekarang yang ada di sana hanyalah Hang Pangcu, si Buta Yang Tahu Segalanya, Orang Tua Menyebalkan dan Pendekar Tanpa Nama. Tidak lupa juga puluhan anggota Kay Pang Pek hadir di luar tembok.

__ADS_1


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Li Guan.


"Makan, aku sudah sangat lapar. Pokoknya aku mau makan," ucap Orang Tua Menyebalkan sambil membuang muka.


__ADS_2